INDONESIA 2030: Jalan Berbelit Keluar dari Aneka Kontradiksi

Bambang Sugiharto

Guru Besar Filsafat di Unpar, ITB, dan UIN Bandung

 

Sebetulnya semakin hari semakin sulit bagi kita untuk menduga apa yang bakal terjadi di  masa depan. Sebabnya, perubahan di berbagai bidang berjalan demikian cepat dan radikal sehingga pola-pola penalaran konvensional kerap menjadi tidak relevan. Juga karena kini segala tendensi yang bertentangan muncul sekaligus, dengan sama kuatnya. Tulisan ini hanya akan berfokus pada tendensi-tendensi kontradiktif itu saja, dan konsekuensinya bagi konteks Indonesia.

Beberapa Kontradiksi Berat

Kontradiksi pertama adalah, di satu pihak kesadaran empatik kolektif bertumbuh kian mengglobal, di pihak lain kecenderungan etnosentris konservatif yang mengutamakan kepentingan kelompok semakin picik, serakah, dan brutal.

Kedua, komunitas virtual (lewat Facebook, Twitter, aneka lobi, asosiasi profesi, hobi, dan lain-lain) kian menandingi komunitas aktual, sedemikian hingga kategori-kategori kelompok konvensional berdasar agama, suku, ras, dan lain sebagainya tak lagi sepenuhnya bisa digunakan. Kelompok agama, ras, atau suku yang sama bisa terpecah ke dalam beragam kelompok kepentingan yang saling bertentangan, atau justru saling bercampuran.

Ketiga, kontrol sepihak versus kontrol semua pihak, yang bersifat dinamis dan plural. Dahulu orang bicara tentang dominasi, hegemoni, atau pun konspirasi, yang menunjuk pada dalang-dalang yang merekayasa segala peristiwa. Kini penguasaan linear macam itu disaingi oleh kinerja segala pihak yang bisa membawa pengaruh luas dan mendasar secara tak terduga. Segala hal mudah menjadi viral dan berdampak luas.

Keempat, segala bentuk sistem (agama, tradisi, sains, teknologi, dan sebagainya) dipertanyakan, diperkarakan, bahkan didekonstruksi oleh kesadaran kritis para warganya sendiri. Ortodoksi menjadi heterodoks. Namun tendensi sentrifugal ini ternyata harus berhadapan dengan tendensi sentripetal, yakni mereka yang secara radikal dan fanatik justru memperkeras sistem.

Konsekuensi bagi Indonesia

Bagi masa depan, agar segala kontradiksi di atas tidak menghancurkan diri sendiri (self-destructive),  transaksi-transaksi makna yang terjadi perlulah dijaga agar tetap “beradab” dan bertumbuh terus menuju kesadaran nilai lebih tinggi. Untuk itu barangkali unsur-unsur berikut menjadi penting: Kreativitas, Reflektivitas, Responsibilitas, dan Hospitalitas.

Kreativitas: karena situasi kini ditandai pertemuan-pertemuan yang merupakan proses penciptaan bersama terus menerus, dan karena itu masa depan adalah sesuatu yang sangat terbuka untuk dibentuk, maka pendidikan perlu memacu kemampuan-kemampuan kerjasama kreatif itu. Ini peluang bagus bagi bangsa manusia untuk saling menciptakan ulang dunianya (mutual transformation) melalui interaksi kreatif bersama.

Reflektivitas: Reflektivitas di sini adalah “reflektivitas-dialogis-kritis”: kesadaran diri  yang terus menerus dirumuskan dan dibongkar melalui hubungan dialogis dengan “Liyan” (Levinas). Reflektivitas dialogis penting dalam pendidikan agar tendensi egosentrisme natural berevolusi ke arah ‘worldsentrisme’ kultural-spiritual (Ken Wilber).

Responsibilitas: Ketika tekanan berlebihan kini diletakkan pada perbedaan dan hak individu, maka sikap bertanggungjawab atas dampak dari perilaku pribadi menjadi penting. Dan tanggungjawab terutama berkaitan dengan dampak negatif, khususnya dengan penderitaan yang ditimbulkan bagi keseluruhan lebih besar.

Hospitalitas: Ini adalah sikap fleksibel dan akomodatif yang terbuka dan ramah terhadap segala hal yang asing dan berbeda. Perbedaan bukanlah kesalahan, melainkan justru syarat pertumbuhan. Kini kita semua dalam proses saling berubah terus melalui yang lain, bertumbuh menuju peradaban baru yang lebih tinggi. Kita semua kini adalah  tuan rumah sekaligus tamu. Hospitalitas dalam arti keterbukaan dan keberanian menghadapi mereka yang tak sepenuhnya kita mengerti, menjadi penting dalam pendidikan.*

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi

Advertisements

2 thoughts on “INDONESIA 2030: Jalan Berbelit Keluar dari Aneka Kontradiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s