Ketika Sains Melangkah ke Arah yang Berbeda: Sebuah Kilasan dari Masa Depan

Dasapta Erwin Irawan

Periset Hidrogeologi ITB,  Ambassador Open Science Framework (OSF)

 

Prolog

Nama saya Erwin, profesor bidang hidrogeologi. Cerita ini saya tulis tanggal 17 April 2030, dengan laptop konvensional saya, menggunakan piranti zaman urdu bernama Emacs.

Ini sebenarnya bukan cerita tentang mesin waktu. Sebuah mesin yang berasal dari chasis Peugeot tua saya. Ya, Pug tua saya yang 12 tahun lalu masih mengisi halaman-halaman Facebook saya, sekarang sudah dimodifikasi menjadi mesin waktu. Mesin dan perangkat lainnya memang sudah lama tidak berfungsi. Tapi masih saya pertahankan, sampai kira-kira 5 tahun lalu ada perusahaan multinasional di Maluku yang memproduksi kit mesin waktu jinjing, mereknya “Re-Play”.

Berbeda dengan alat-alat sejenis yang dulu sering menjadi ide dasar sebuah film seperti “Back to the Future” (yang sampai sekarang alat itu masih fiksi), Re-play adalah alat augmented reality yang tidak akan memindahkan Anda ke masa lalu, tapi mampu menghadirkan kembali suasana secara menyeluruh seolah Anda ada di waktu itu. Uniknya, Replay menyediakan fitur pencarian berdasarkan topik, bukan hanya waktu. Jadi anda bisa saja kembali ke suatu pertandingan bola pada topik olahraga, atau pemilihan Presiden di era 2000-an misalnya, atau tentang sains terbuka.

Kita kembali ke topik. Artikel ini tidak menceritakan tentang mesin waktu saya. Mesin waktu ini akan menjadi alat pemutar ulang saja beberapa kejadian yang akan menjadi pembanding kondisi dulu dan sekarang, era penelitian di tahun 2030-an yang sedang saya alami sekarang. Yang akan saya ceritakan di sini adalah tentang riset dan publikasi, same old story :). Semoga tidak bosan.

2030: dampak dari letupan teknologi baru di era 2020

Saya menulis artikel ini di satu pagi di bulan April 2030. Saya baru saja masuk ke Pug-Replay (Replay in my Pug). Tak sengaja saya menemukan arsip berita oleh Dyna Rochmaningsih tanggal 22 Mei 2018. Isinya tentang rencana peraturan baru dari Pemerintah RI untuk memperketat aktivitas riset peneliti luar negeri di Indonesia. Kurang lebih bersamaan dengan itu, ada Lisa Matthias dari OpenAire, yang menulis artikel tentang Sains Terbuka di Indonesia.

Saat ini, mungkin anda tidak percaya, bahasa bukan lagi kendala. Peneliti dari negara-negara selatan (global south) tidak lagi minder saat menggunakan bahasanya, dan peneliti dan Eropa dan Amerika tidak lagi menganggap bahwa mereka adalah satu-satunya yang mengendalikan perkembangan sains. Itu semua berawal dari inisiatif bernama SpeakoScience (SoS) yang mempromosikan piranti lunak penerjemah yang berhasil membuat algoritma machine learning yang mampu menerjemahkan ribuan bahasa secara real time. Gerakan ini berawal dari jejaring sosial jutaan relawan yang mau membantu menerjemahkan bahasa dalam suatu riset. Setiap terjemahan kemudian direkam dan dicari polanya, agar di masa mendatang tidak perlu lagi ada peran serta translator.

Anda bisa bicara via Skype atau Zoom (ya mereka berdua bertahan), dengan bahasa asli Anda, dan SoS akan menerjemahkannya dengan tingkat kesalahan kurang dari 3%. Kalau komunikasi surel (juga masih bertahan), jangan ditanya lagi. Saya bahkan bisa berkirim surel dengan mitra warga asli Ethiopia menggunakan SoS.

Anatomycal technology | Sumber: Commons/Wikimedia

Sebentar saya perlu menjawab panggilan telepon. Saya akan lanjutkan nanti.

30 menit kemudian.

OK, kita lanjutkan ya.

Model publikasi riset

Dulu saya membayangkan bahwa publikasi dalam jurnal hanyalah salah satu upaya pelaporan hasil riset. Lebih luas dari itu, laporan riset sendiri saya bayangkan sebagai sesuatu yang dinamis, bahkan di saat riset itu sendiri telah selesai. Tentunya ini bukan bayangan saya saja, tapi bayangan jutaan saintis muda (saya juga pernah muda) atau pemula yang melihat ada dalam model implementasi sains saat itu. Dan saat ini, semua itu telah terlihat. Dimulai dengan berubahnya model bisnis mayoritas jurnal besar menjadi lebih berpihak kepada sains lima tahun lalu, juga dengan perubahan model penilaian kinerja riset dan staf yang lebih inklusif.

Kembali ke dua artikel di atas. Saat ini riset bersama sudah bisa berjalan lancar, berbasis kepercayaan. Salah satu penyebabnya yang saya tahu adalah berubahnya cara publikasi riset. Publikasi jurnal sudah bukan lagi satu-satunya cara mempublikasikan hasil telaah saintifik. Para peneliti memilih untuk mengurangi komponen kepemilikan (ownership) dalam authorship dan menambah komponen kolaborasi.

Ya betul, authorship konvensional zaman dulu telah berhenti digunakan sejak tahun 2025, karena dianggap kental dengan komponen prestise dan kepemilikan. Sementara sains dan data itu sendiri adalah barang milik publik (public goods). Jadi bagaimana bisa barang milik semua, kemudian menjadi barang milik penulis.

Satu hal lagi, sering kali dulu, urusan authorship muncul karena kurangnya inisiatif dari pihak peneliti Indonesia. Kenapa begitu? Mungkin karena kurang percaya diri, karena sudah punya stigma bahwa “semua terserah yand bawa uang’ (funder takes all). Kondisi seperti ini akan menambah tebal dan tinggi dinding psikologis dalam komunikasi riset.

Sumber: PhDComics

Tapi itu semua masa lalu, saat bahasa bukan lagi kendala, ada SoS.

Dulu banyak saintis menolak sains terbuka, karena itu akan mengurangi nilai kepemilikan dan prestise, individu, atau institusi. Peneliti yang benar masa kini, siapapun itu dan darimanapun, akan mencari kawan, bukan kepemilikan atas data atau informasi. Saat ini riset bersama adalah suatu kegiatan beberapa ilmuwan yang bergabung yang penuh ketidaktahuan dan kemudian mengakhirinya bersama dengan pengetahuan baru.

Mengenai metrik

Nah sekarang mengenai metrik. Anda semua pasti ingat, ada saatnya, Indonesia bergulat dengan metrik untuk meningkatkan peringkat. Tapi itu semua adalah masa lalu. Anda yang sudah menjadi dosen di era 2000an, pasti ingat, saya pernah menyebut-nyebut DORA dan Leiden Manifesto. Di era sekarang ini, seleksi memang lebih capek. Komunikasi dua pihak dan dua arah selalu dilakukan saat menilai suatu riset atau kepakaran seseorang. Beda dengan dulu, tinggal lihat angka h-index dan Impact Factor, maka semua beres. Dua metrik itu meredup sejak 2020, karena makin banyak pihak percaya bahwa angka itu rentan manipulasi.

Sumber: Flickr/dasaptaerwin, CC-0

Penutup

Begitulah sekilas refleksi saya. Saya tahu artikel ini akan terlihat aneh di tahun 2018, tapi percayalah itu akan terjadi. Usia saya sekarang 54 tahun, tidak ada gunanya saya berbohong. O ya, mungkin ada yang jeli. Ya saya mendapatkan gelar Guru Besar di tahun 2023. Sebuah gelar yang tidak pernah saya bayangkan akan saya dapatkan, melihat kondisi saat itu. Saya teringat stiker buatan kawan saya Jon Tennant. Dia pernah membuat stiker “Open science is just science done right”. Semoga Anda terinspirasi.*

 

Ilustrasi: DEI

Advertisements

One thought on “Ketika Sains Melangkah ke Arah yang Berbeda: Sebuah Kilasan dari Masa Depan

  1. Jadi tergelitik untuk bertanya ttg kisah masa lalu yg mungkin pernah ada. Bagaimana dgn dosen2 di suatu masa yg memberi ketetapan penerbitan makalah hrs menempatkan namanya sebagai penulis pertama, sementara semua dikerjakan mahasiswa. Konsekuensi si dosen di nama kedua adalah nilai maksimal B. Ada mahasiswa2 yg memilih untuk menerbitkan dgn nilai makksimal B. tp ada lebih banyak kekuatiran what if.. yg kemudian membuat mereka nurut. Dan tentunya di kemudian hari ada saja yg menerapkan pola yang sama…..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s