Pendidikan untuk Generasi Z (dan Generasi Alpha)

Hendra Gunawan

Pendiri dan Pengelola Program RI2030.com

 

Baru-baru ini saya mengurus paspor pengganti karena paspor yang saya miliki tidak dapat dipakai lagi. Sambil menunggu di Kantor Imigrasi, saya mengamati seorang ibu dan anaknya yang duduk di depan saya. Sang ibu sedang mengisi formulir aplikasi paspor, sementara anaknya yang masih balita ‘memainkan’ ponsel cerdas ibunya. Saya amati sang anak ternyata bukan sedang ‘memainkan’ gawai ibunya, tetapi sedang menonton film di Youtube. Karena layarnya kecil, saya tidak bisa melihat jelas apa yang ditonton anak tersebut. Kemungkinan film kartun anak-anak yang dipilihkan sebelumnya oleh ibunya, mudah-mudahan begitu.

Pemandangan seperti di Kantor Imigrasi pada hari itu bukan pemandangan langka. Saya pernah mengamatinya juga di tempat-tempat umum seperti di restoran dan di bandara. Anda juga mungkin pernah menyaksikan kejadian serupa, bahkan mungkin di rumah Anda sendiri? Anak-anak Generasi α, yang lahir pada tahun 2010 (bersamaan dengan lahirnya iPad) atau sesudahnya, ‘tersebar’ di sekitar kita. Mereka diasuh oleh gawai atau ponsel cerdas.

Satu generasi sebelum Generasi α adalah Generasi Z, yang lahir pada akhir milenium ke-2 hingga tahun 2009 yang lalu. Saat ini, sebagian dari mereka sudah menempuh kuliah di perguruan tinggi. Sebagian besar lainnya bekerja di sektor informal atau berkeliaran di jalan, karena mereka telah putus sekolah sejak SMP atau SMA. Tetapi, hampir semuanya memiliki ponsel, menonton film di Youtube, dan berkomunikasi dengan Whatsapp atau Telegram.

Waktu seolah berjalan lebih cepat daripada sebelumnya, tetapi sekolah-sekolah masih disibukkan dengan pergantian kurikulum yang tidak jelas dan aturan penerimaan peserta didik baru dengan mission impossible-nya, yaitu memuaskan semua pihak. Pada awal tahun 2018 ini, di sebuah harian nasional ada orangtua yang mengeluhkan keberadaan bimbel di sekitar sekolah anaknya. Orangtua tersebut mungkin tidak menyadari bahwa di dunia maya keadaannya lebih mengerikan.

Bila di dunia nyata, khususnya di bumi Indonesia ini, gedung bimbel bertebaran di sekitar gedung sekolah, di Internet laman-laman bimbel juga jauh lebih banyak daripada laman sekolah. Di dunia maya pula, artikel-artikel yang ditulis oleh ‘guru’ bimbel mendominasi artikel yang ditulis oleh guru sekolah.

Pada suatu hari, saya melacak dokumen berbahasa Indonesia bertajuk ‘matematika’ yang tersebar di Internet. Apa yang saya temukan adalah sejumlah artikel dari berbagai lembaga bimbel. Apa yang ditulis oleh ‘guru’ bimbel bisa kita tebak: cara mudah untuk lulus pelajaran matematika, kupas tuntas materi pelajaran matematika SD, dan artikel-artikel semacam itu.

Hal serupa tidak akan kita temukan bila kita mencari dokumen bertajuk ‘mathematics’ yang berasal dari Malaysia, misalnya. Bila pembaca penasaran, sila periksa kebenaran fakta ini. Melalui media sosial, saya mengeluhkan keadaan di atas, berharap ada pelaku yang membaca keluhan saya dan tersadarkan.

Tetapi, tak lama setelah saya curhat, seorang rekan dosen berkomentar kurang-lebih sebagai berikut: “mengapa Anda tidak membuat blog matematika yang sesuai dengan harapan Anda?” Alih-alih membuat orang lain sadar, justru saya sendiri yang ‘tertembak’. Hari itu juga (saya masih ingat persis tanggalnya, yaitu 11 April 2016), saya membuat sebuah blog yang khusus saya dedikasikan untuk matematika — dan blog itu masih aktif hingga hari ini.

Saya menyadari bahwa dunia maya kita saat ini merisaukan, dan itu mencerminkan konstelasi, orientasi, dan mutu masyarakat kita (sebagaimana dipertontonkan setiap hari di layar televisi kita). Bila sekarang ini banyak yang menaruh harapan pada Generasi Z (dan Generasi α kelak), saya justru khawatir jangan-jangan yang kita miliki bukan Generasi Z yang terdidik, melek teknologi, dan berwawasan global, tetapi sekadar sebuah generasi yang hidup di Era 4.0. Kekhawatiran ini didukung oleh data statistik yang mengungkapkan aktivitas tak produktif masyarakat Indonesia di dunia maya.

Namun, di tengah kekelaman yang kita hadapi, ada secercah harapan. Berbeda dengan dunia fisik, sesungguhnya banyak yang kita bisa lakukan di dunia maya. Saya tidak bisa membangun sekolah fisik di dunia nyata untuk menyaingi bisnis bimbel, karena saya tidak memiliki dana yang cukup untuk itu. Andai sekalipun tersedia dana, lucu juga bila untuk meredam geliat bimbel kita dirikan sekolah sebanyak-banyaknya di sekitar gedung bimbel tersebut.

Di dunia maya, kita bisa membangun sekolah maya, dan itu yang saya lakukan. Blog matematika saya bukan blog pertama yang saya buat. Sejak tahun 2013, ketika ada gonjang-ganjing seputar Kurikulum 2013, saya juga membuat blog untuk memperkaya wawasan anak-anak tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya. Seperti kata pepatah, daripada mengutuk kegelapan, lebih baik kita nyalakan lilin.

Di dunia maya, konten negatif sulit diberantas. Yang dapat kita lakukan adalah memperbanyak konten positif. Siapa yang dapat berkontribusi? Saya berharap para pelaku pendidikan di Indonesia menyadari bahwa perannya dewasa ini bukan sekadar mengajar di ruang kelas yang ada di sekolah dan di kampus (fisik), tetapi juga di ruang-ruang diskusi yang tersebar di dunia maya. Masa depan bangsa ditentukan oleh apa yang kita lakukan saat ini.*

 

Ilustrasi: HG

Advertisements

One thought on “Pendidikan untuk Generasi Z (dan Generasi Alpha)

  1. Pak Hendra… Saya menyimak blog bapak dan saya selalu mengikuti tulisan bapak dan saya mohon jangan ditutup. Lilin ditengah kegelapan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s