Taman Bacaan Masyarakat sebagai Ujung Tombak Majunya Literasi di Daerah 3T

Randy Homzi Romadhon

Guru Garis Depan Kabupaten Buru

 

Meski terlambat, saya membuat tulisan ini dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2018 yang gaungnya masih terasa hingga tulisan ini dibuat. Masih lekat di ingatan Sabtu 23 September 2017 ketika untuk pertama kalinya saya sampai di Desa Widit, tempat saya bertugas sebagai Guru Garis Depan (GGD) pada SD Negeri 9 Waelata, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru Provinsi Maluku. Desa Widit sendiri merupakan sebuah Desa Adat dengan sebagian besar penduduk adalah orang asli Pulau Buru, yang mayoritas beragama Islam dan sisanya beragama Katolik, Protestan, dan aliran kepercayaan (Adat).

Saat saya datang pada beberapa minggu pertama bertugas sebagai GGD di Desa Widit, saya mendapati banyak sekali anak, bahkan hingga kelas 4 SD, yang kurang bisa membaca lancar. Mengapa hal ini bisa terjadi? Setelah saya cermati permasalahannya bukan karena guru jarang masuk, namun kultur setempat yang dekat dengan area penambangan emas Gunung Botak. Banyak anak yang sering tidak masuk sekolah dengan alasan pergi ikut orangtua ke gunung atau karena pengawasan orangtua terhadap pendidikan anak yang kurang, sehingga proses belajar mengajar menjadi terganggu. Yang terjadi kemudian adalah tidak adanya kontinuitas dalam pembelajaran.

Hal lain yang saya temukan adalah sedikitnya buku bacaan yang tersedia. Terdapat beberapa novel terbitan Balai Pustaka yang saya anggap terlalu berat untuk siswa SD. Buku-buku lainnya yang ada di sekolah lebih banyak dalam bentuk buku teks pelajaran yang sifatnya kering dan terkesan njelimet, hingga siswa malas untuk membacanya di sekolah ataupun meminjamnya untuk dibaca di rumah. Buku-buku teks pembelajaran terlihat sangat membosankan bagi para siswa. Namun saya tahu ketika itu sebenarnya minat siswa untuk membaca sangat besar, namun terkendala pada kurangnya bahan bacaan yang tepat untuk mereka.

Sebagai data awal ketika saya mengajar di SD Negeri 9 Waelata Desa Widit, kecepatan rata-rata anak membaca di bawah 50 kata per menit, dengan ketentuan mereka membaca cepat dan belum tentu memahami apa yang dibaca. Bandingkan dengan kecepatan membaca normal yang berkisar 140-200 kata per menit. Seorang siswa kelas 2 SD masih kesulitan membedakan ejaan “nga” dengan “nya”. Padahal membaca, sebagaimana dikatakan oleh Najeela Shihab dalam buku “Semua Murid Semua Guru” (sebuah buku yang sangat berkesan bagi saya sebagai pendidik), adalah “memahami rangkaian makna bukan hanya mengeja bahan pustaka” (2017). Bagaimana siswa akan bisa memahami makna buku yang dibaca jika mereka sendiri tidak lancar membaca?

Itulah permasalahan yang saya hadapi di lapangan ketika itu. Selain itu, kendala bahasa juga menjadi kesulitan tersendiri bagi saya pada masa tersebut. Datang dari budaya berbeda serta pada masyarakat lokal yang masih banyak menggunakan bahasa ibu. Jikapun menggunakan bahasa Indonesia masih perlu beberapa saat bagi saya untuk mencerna karena perbedaan aksen dalam pengucapannya. Untuk masalah kedua, yaitu kendala bahasa dan budaya, berbekal pengalaman ketika mengikuti Program SM3T di pedalaman Papua saya bisa mensiasatinya dengan banyak berinteraksi dengan masyarakat dan siswa agar terjadi kesepahaman di antara saya dan mereka.

Masalah kecepatan membaca menjadi masalah utama dalam memajukan pendidikan anak di tempat saya bertugas. Untuk menyiasati masalah yang saya temukan di lapangan berkaitan dengan hal tersebut juga dalam rangka ikut berpartisipasi dalam memajukan pendidikan di daerah pinggiran khususnya gerakan literasi bagi masyarakat dan siswa, saya berinisiatif mendirikan taman bacaan masyarakat (TBM) di Desa Adat Widit dengan terlebih dahulu berkoordinasi dengan Kepala Sekolah dan rekan-rekan guru senior tempat saya bertugas. Saya juga mencoba berkoordinasi dan menyampaikan ide pembentukan TBM tersebut kepada semua tokoh masyarakat, agama, adat, termasuk juga pemerintah desa.

Saya bersyukur semua pihak mendukung penuh ide ini. Sejak bulan November 2017, TBM Widit mulai beroperasi. Dengan memanfaatkan program gratis ongkos kirim setiap tanggal 17 yang diselenggarakan oleh PT Pos Indonesia, pada akhir bulan November 2017 TBM Widit untuk pertama kalinya mendapatkan kiriman 15 dus buku dari donatur yang berasal dari berbagai penjuru negeri. Buku-buku sebanyak itu saya dapatkan dengan cara memaksimalkan serta memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan kebutuhan TBM.

Menumbuhkembangkan minat baca di daerah 3T tentu bukan hal yang mudah saya lakukan. Ketika informasi kiriman dari donatur sudah sampai saya tidak bisa langsung mengambilnya sebab layanan Pos tidak menjangkau ke daerah tempat saya bertugas. Saya masih harus mengambilnya sendiri ke Kantor Pos terdekat yang jaraknya lumayan jauh, belum lagi infrastruktur jalan yang masih berupa jalan tanah dan harus menyeberangi ponton penyebrangan yang membelah Sungai Waeapo. Modal sendiri selalu keluar terutama untuk biaya pengangkutan buku-buku tersebut setiap bulannya.

Ketika TBM berjalan dan donasi Buku sudah lancar kami terima, masalah selanjutnya adalah bagaimana agar program membaca tersebut berjalan berkesinambungan tidak seperti anak panah yang cepat di awal namun lambat laun melambat. Solusinya adalah berusaha mengikuti alur pikir untuk anak-anak serta masyarakat di tempat saya bertugas yang cenderung fleksibel dan tidak ingin terlalu dikekang.

Sampai sekarang terus terang TBM yang saya dirikan tidak mempunyai tempat atau sarana yang tetap. Bagi saya TBM tidak harus mempunyai bangunan yang tetap apalagi yang saya lakukan adalah sebuah TBM rintisan di Desa yang masih termasuk sebagai Desa Tertinggal. Yang bisa saya lakukan adalah menititpkan bahan bacaan di perpustakaan sekolah dan juga di rumah kos tempat saya tinggal. Bagi saya setiap rumah di Widit adalah TBM. Setiap ada buku yang datang, saya catat dalam daftar buku koleksi, kemudian siswa atau masyarakat dapat memanfaatkan langsung dengan membawanya ke rumah.

Karena setiap bulan kami mendapatkan kiriman buku yang banyak maka strategi saya ubah. Saya tak pernah memaksa siswa atau masyarakat yang memanfaatkan untuk mengembalikan tepat waktu, bahkan saya tak memarahi saat siswa SD di Desa Widit atau anak usia PAUD mengembalikan buku dalam kondisi sudah rusak, robek, atau ada coretan. Hal tersebut saya lakukan karena banyaknya stok buku serta sebagai upaya agar anak-anak akrab dengan buku bacaan. Nantinya harapan saya pelan tapi pasti: anak menjadi akrab dengan buku selain buku pelajaran, dan akhirnya mereka menghargai buku.

Biasanya setelah membaca buku bergambar, saya minta anak-anak untuk menceritakan kembali apa yang telah mereka baca. Sementara untuk anak PAUD saya meminta mereka menceritakan kembali apa yang telah mereka tangkap dari melihat gambar-gambar yang ada pada buku-buku tersebut.

Setelah enam bulan TBM berjalan dan dengan setiap bulan setidaknya lima dus berisi buku-buku baru yang datang (karena saya rajin promosi di media sosial baik grup WA, Blog, Facebook, dan sebagainya), ada kenaikan meski pelan namun pasti dalam kecepatan membaca siswa terutama siswa SD tempat saya bertugas. Dari yang semula hanya di bawah 50 kata per menit meningkat menjadi sekitar 80-an kata per menit.

Ke depannya jika suatu saat Desa Widit memiliki bangunan khusus untuk TBM, saya memimpikan TBM yang saya dirikan tidak hanya menjadi kegiatan membaca semata namun juga menjadi pusat kegiatan kebudayaan sekaligus pelestarian budaya lokal berlangsung, yang di dalamnya berisi pelatihan budaya lokal, tarian adat, pertunjukan seni, dan mungkin juga latihan drama. Pada akhirnya meski berada di daerah tertinggal, dari TBM inilah muncul suatu budaya literasi tidak hanya bagi para siswa namun juga masyarakat, sehingga Desa Widit kemudian menjelma menjadi sebuah Desa Literasi.

Saya juga membayangkan jika setiap Guru Garis Depan yang berjumlah lebih dari 6000 orang menginisiasi atau membuat satu taman bacaan di tempat tugasnya, maka generasi emas Indonesia menyambut momen 100 tahun kemerdekaan di tahun 2045 akan menjadi nyata dengan tampilnya pendidikan merata di seluruh tanah air. Tidak hanya pemuda hasil didikan guru di sekolah, namun juga membudayanya generasi melek aksara baik generasi muda maupun tua, yang dimulai dari daerah-daerah 3T di Indonesia.

Mengapa hal tersebut bisa saya simpulkan? Sebab di TBM lah proses interaksi, dialog antara pemuda, masyarakat, dan penulis buku melalui bukunya bisa terjadi. Dari interaksi tersebut timbul diskusi yang bersifat akademik yang setara, proses belajar yang terus menerus dan bermakna terjadi. Sebagaimana judul buku Najeela Shihab, hemat saya di TBM lah terjadi apa yang disebut sebagai “Semua Murid Semua Guru”.*

 

Ilustrasi: RHR

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s