Anak-Anak dan Hari-harinya yang Hilang

Rena Asyari

Pendiri dan Pengelola Konten RI2030.com

Matahari hendak pulang kala riuh cicit burung bersahut-sahutan dengan gelak tawa ratusan anak-anak di istana kepresidenan. Mereka tampak bergembira, bermain dan berdendang. Celotehan riang dan teriakan antusias mengalir dari bibir mungil mereka tak henti-henti. Sesekali angin bertiup kencang memainkan anak rambut dan membuat suara anak-anak melengking. Ragam permainan tradisional turut diboyong ke istana. Seolah seperti benda langka, mereka berebut mainan, berpindah, melompat, berlari hingga tak terasa hari hampir habis. Ada perasaan yang membuncah melihat itu semua. Beberapa pasang mata orang dewasa yang hadir di Istana tampak memperhatikan gerak-gerik mereka sambil mungkin sesekali mengingat masa lalunya.

Hari itu, sehari menjelang tanggal 23 Juli 2018, bocah-bocah tersebut menjadi ‘raja’ kecil yang boleh melakukan apa saja. Hampir seluruh orang dewasa mendadak perhatian dan peduli. Televisi, radio, koran dipenuhi dengan para pemerhati anak. Di ruang maya bertebaran tagar selamat hari anak dibarengi uploadan foto tentang betapa ‘raja’ kecil itu sangat istimewa.

Sayang, selebrasi itu tak bertahan lama. Seperti tahun-tahun sebelumnya, dua atau tiga hari sesudahnya bocah-bocah itu tak lagi menarik. Konten-konten di dunia maya pun segera berganti dengan berita politik, korupsi, travelling, agama, bullying netizen, dan gegap gempita fenomena viral yang kebanyakan tidak mendidik bagi anak.

Orang-orang dewasa akan sibuk kembali berburu film terbaru di bioskop tanpa menyadari film anak sangat langka. Selama rentang waktu 2017 hingga Maret 2018 hanya ada 10% film dengan kategori semua umur, yang itupun tidak semuanya film anak. Langkah-langkah kaki kecil mereka kadang begitu saja melenggang ke ruangan bioskop yang sedang memutar film dewasa. Bukan karena mereka ingin, tapi tak ada pilihan lain.

Begitu juga dengan buku anak, jarang sekali ditemukan buku anak yang bermutu. Sementara, buku-buku untuk orang dewasa dicetak berulang kali, menjadi best seller dan dipampang didisplay paling luar meski kalender pendidikan menunjukkan sedang liburan sekolah. Seolah-olah lahir anggapan bahwa anak pergi ke toko buku hanya untuk berburu tempat pensil saja.

Bergantinya era menuju era digital mungkin menjadi salah satu faktor buku atau majalah anak kurang diminati. Dahulu, bocah-bocah berseragam putih merah bergantian membaca majalah Kuncung di perpustakaan, majalah khusus untuk anak yang terbit dari tahun 1950-an hingga mencapai masa kesuksesannya di tahun 1980-an dengan oplah mencapai ¼ juta eksemplar. Sayang, majalah Kuncung tutup usia di akhir 2000-an. Beruntung, majalah Bobo yang terbit dari tahun 1973 masih eksis hingga hari ini. Majalah Bobo pun menyesuaikan jaman, bentuk digitalnya bisa diakses dengan mudah.

Bagi anak-anak di perkotaan nasibnya lebih mujur. Ruang-ruang publik berupa taman bermain banyak dibangun. Perpustakaan anak dibuat semenarik mungkin hingga anak terasa betah berlama-lama membaca. Toko buku mudah dijangkau. Fasilitas olahraga pun kumplit. Tempat wisata edukasi, ruang-ruang kreativitas seperti sanggar banyak berdiri dan letaknya tak jauh dari rumah. Malangnya, tempat-tempat game online masih menjadi primadona anak laki-laki untuk menghabiskan waktunya.

Lain halnya dengan anak-anak di pedesaan. Nasib mereka mengenaskan. Tontonan perlahan menghilang. Hampir dua dekade lalu masih ada sedikit hiburan dari pabrik gula. Perkawinan tebu menjadi ajang yang ditunggu-tunggu. Enam bulan sekali, tiap musim panen, tebu-tebu diarak, diiringi musik dan puja-puji. Semarak, meriah, sekaligus mistis.

Tak hanya itu, belakangan sawah dan lapangan yang acapkali menjadi tempat bermain selepas pulang sekolah habis digerus oleh pembangunan. Arena bermain mereka telah berganti dengan wajah-wajah beton pabrik-pabrik industri yang sangar. Berbentuk kotak-kotak kubus menjulang, angkuh dan dingin.

Akhirnya, mau tak mau anak-anak di pedesaan melabuhkan dirinya pada warung wifi yang sedang menjamur, setelah sebelumnya ruang-ruang persewaan play station dan video game menjadi rumah kedua. Di beberapa wilayah di Jawa Barat, tarif warung wifi hanya Rp3.000,- per hari, anak-anak menjadi lupa waktu dan tak ada motivasi untuk belajar. Orang dewasa yang membuka bisnis ini menabur untung tanpa sedikitpun rasa peduli pada perkembangan mental anak.

Kabar-kabar tak sedap tentang anak kian hari kian banyak menghiasi layar kaca. Yang terbaru, publik dibuat terhenyak dengan berita dari Kalimantan Selatan tentang pernikahan anak. Data UNICEF menyebutkan Indonesia menempati urutan ketujuh dunia dan peringkat kedua tertinggi di Asia dalam kasus perkawinan anak. Faktanya, kita luput mengamati bahwa ada 1 dari 7 anak perempuan yang mengalami pernikahan anak.

Kasus kekerasan pada anak pun masih tinggi. Mata ini kian membelalak tatkala membaca laporan Global report 2017 : Ending Violance in Chilhood bahwa masih ada 73% anak mengalami kekerasan di rumah dalam bentuk fisik dan emosional. KPAI turut mencatat, ada 223 kasus kekerasan seksual anak dalam dua bulan di tahun 2018.

Angka-angka fantastis ini bukan hanya untuk dibaca dan disikapi sambil lalu oleh orang dewasa. Anak-anak, tangan kecil merekalah yang sepuluh tahun kemudian akan mengisi setiap sendi kehidupan dan segala kebijakan di negeri ini. Mereka harus tumbuh baik tidak hanya dalam satu hari saja, tanggal 23 juli. Bocah-bocah itu tak butuh perayaan. Mereka menunggu langkah dan tangan kita untuk terus mendampinginya dan menemaninya dalam setiap permainan.

Sudah seharusnya, setiap orang dewasa mengembalikan hari-hari mereka yang hilang. Turut merajutkan masa depan mereka, masa depan kita semua.*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s