18, Bukan 17, Agustus

Ahmad Muchlis

Dosen Matematika ITB

 

Sebaiknya kita tidak lagi menjadikan 17 Agustus sebagai hari besar nasional. Sebagai gantinya, marilah kita memperingati kejadian pada tanggal 18 Agustus 1945.

Pada tanggal ini, Indonesia memiliki presiden dan wakil presiden untuk pertama kalinya. Lebih penting lagi, pada tanggal 18 Agustus 1945, negeri yang baru satu hari merdeka itu mengesahkan undang-undang dasarnya. Undang-undang ini kita kenal sebagai Undang-undang Dasar 1945.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945 memiliki arti khusus dalam diri rakyat Indonesia. Akan tetapi, arti khusus ini lebih bersifat emosional. Membuat pernyataan kemerdekaan merupakan langkah pertama yang bersifat terobosan.

Proklamasi kemerdekaan adalah sebuah lompatan perasaan dari keadaan terjajah kepada kebebasan. Undang-undang dasarlah yang memberikan makna untuk kemerdekaan dan kebebasan itu. Dengan undang-undang dasar, kebebasan menjelmakan dirinya: sebuah bangsa mengatur dirinya sendiri. Perayaan 18 Agustus berarti pindah dari dunia emosional ke dunia rasional.

Memindahkan peringatan dari 17 Agustus ke 18 Agustus juga berarti berpindah dari suasana pemikiran masa lalu ke suasana pemikiran masa kini. Proklamasi kemerdekaan adalah sebuah kejadian satu-kali yang terjadi di masa lalu. Orang-orang yang hidup belakangan, yang ketika lahir sudah menghirup udara merdeka, tidak dapat dengan sendirinya merasakan adanya kaitan langsung antara dirinya dengan kejadian itu. Pemahaman tentang kehidupan bernegara tidak memiliki makna konkrit bila dibangun dari kejadian proklamasi.

Sebaliknya, undang-undang dasar beserta semua turunannya mengikat semua orang, baik yang hidup ketika undang-undang dasar itu dibuat dan disahkan maupun yang datang belakangan. Menjadikan 18 Agustus sebagai sebuah hari besar nasional memberikan sebuah penegasan tentang keterikatan setiap orang kepada hukum yang berlaku.

Sistem hukum yang dibangun di atas landasan undang-undang dasar memberikan makna konkrit bagi kehidupan bernegara. Dalam situasi masa kini dimana kepatuhan kepada hukum merupakan masalah besar, peringatan 18 Agustus memberikan pendidikan yang penting kepada semua orang, bukan hanya kepada generasi muda.

Penghapusan 17 Agustus sebagai hari besar nasional tidak berarti mengerdilkan kepahlawanan kedua tokoh proklamator. Sebaliknyalah, memberikan kredit yang lebih besar kepada beliau berdua. Ir. Soekarno adalah Ketua Panitia Hukum Dasar (kemudian berganti nama menjadi Panitia Undang-undang Dasar) BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Panitia ini bertugas mempersiapkan rancangan undang-undang dasar. Pemikiran Drs. Mohammad Hatta berpengaruh besar dalam perumusan hal-hal yang berkaitan dengan perekonomian dan hak-hak warganegara pada UUD 1945. Kepahlawanan Soekarno dan Hatta bukan semata-mata karena keduanya adalah penandatangan naskah proklamasi.

Berdirinya negara Republik Indonesia pada dasarnya bukanlah usaha satu atau dua orang saja. Proklamasi kemerdekaan, penetapan undang-undang dasar dan pembentukan pemerintahan yang berlangsung di bulan Agustus 1945 adalah kulminasi dari sebuah proses panjang. Proses ini berlangsung intensif mulai bulan Mei 1945 dengan terbentuknya BPUPKI.

Badan yang beranggotakan 62 orang ini diketuai oleh dr. Radjiman Wedyodiningrat dengan wakil ketua R.P. Soeroso. Di dalam rapat-rapat badan inilah persiapan pembentukan negara Indonesia dilakukan. Undang-undang Dasar 1945 lahir dari embrio yang dipersiapkan oleh BPUPKI. Finalisasi dan pengesahan undang-undang dasar pada tanggal 18 Agustus 1945 dilakukan dalam sidang PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Panitia ini beranggotakan 27 orang dengan ketua ir. Soekarno dan wakil ketua Drs. Mohammad Hatta. Panitia ini juga yang memilih presiden dan wakil presiden untuk pertama kalinya, serta merumuskan bentuk awal pemerintahan negara. Dengan demikian, pendiri sebenarnya negara Republik Indonesia adalah para anggota BPUPKI dan PPKI itu.

Fakta sejarah di atas memberikan alasan terakhir tentang pentingnya tanggal 18 Agustus 1945 dalam sejarah Indonesia. Penetapan 18 Agustus sebagai hari besar nasional memberikan kredit yang lebih adil kepada para pendiri negara ini. Kita diingatkan bahwa negara Republik Indonesia ini adalah buah dari usaha kolaboratif banyak orang.

Mudah-mudahan ini juga dapat menumbuhkan kesadaran bahwa mempertahankan eksistensi negara Republik Indonesia memerlukan usaha bersama semua orang, bukan dipikulkan ke atas pundak segelintir orang.

[Artikel ini ditulis pada tahun 2009 dan tersimpan di Notes FB penulis.]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s