Rafdan dan Kisah Ada Fululu di Bawah Meja

Randy Homzi Romadhon

Guru Garis Depan Kabupaten Buru; Pengelola TBM Widit

 

Kami berani mengatakan bahwa revolusi mental yang paling berhasil ialah melalui program ini (Free Cargo Literasi/FCL).” (Nirwan Ahmad Arsuka, Pendiri Pustaka Bergerak Indonesia (PBI)).

Kalimat pembuka di atas adalah salah satu komentar Pak Nirwan pada salah satu postingan di Grup WA Pustaka Bergerak. Sependapat dengan Pak Nirwan, terutama hemat saya adalah pada point ketiga Nawacita Presiden Jokowi, yakni “Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.”

Program Free Cargo Literasi yang diinisiasi oleh Pustaka Bergerak bekerja sama dengan PT Pos Indonesia dalam program Kirim GRATIS Buku setiap tanggal 17 pada TBM atau Perpustakaan di seluruh Indonesia, sukses dalam menumbuhkan dan memunculkan semangat anak bangsa, jiwa-jiwa muda, untuk ikut menjadi motor penggerak literasi, terutama berbagi di antara penggiat literasi yang ada di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (3T) di Indonesia.

Mungkin manfaatnya baru akan dirasakan mutlak lima hingga sepuluh tahun lagi, tetapi itu pasti. Melalui program ini ada perubahan mental yang positif dan energi besar perubahan berfikir, yakni membaca itu mudah, murah dan menyenangkan.

Program FCL juga mempersatukan kita. Anda bisa menjadi seorang yang pro pemerintah atau selalu mencari celah untuk mengkritik, namun ada satu waktu yakni saat tanggal 17 setiap bulannya semua punya pemikiran yang sama yakni betapa pentingnya membaca dan pemerataan pendidikan khususnya daerah terluar yang selama ini sulit dijangkau. Jika pun ada harga buku yang sulit dan mahal karena berat di ongkos kirim, relawan, donator, penggiat literasi, dan penggerak Taman Bacaan Masyarakat bersatu antusias mengepak buku dan mengirim bahkan saling tukar koleksi buku bacaan.

Sebagaimana saya tulis di atas, Pustaka Bergerak Indonesia sukses mencetak dan mendata sekaligus mengaktifkan ribuan relawan, baik bertindak sebagai donator, penggiat literasi, atau pengurus TBM. Dalam rilis terbaru simpul Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) per 1 Desember 2018 tercatat 2.149 simpul dalam bentuk perpustakaan desa, Taman Bacaan, Rumah Belajar, Motor pustaka, dan sebagainya. Hal tersebut juga diramaikan oleh ratusan ton buku mengambang melalui tol laut mengalir setiap bulannya ke seluruh Indonesia. Tercatat dalam data resmi PBI periode Mei 2017-Agustus 2018 sebanyak 234.008 kg paket buku mengambang dengan pembiayaan totoal Rp 12,54 milyar.

TBM Widit yang saya kelola secara mandiri oleh seorang diri saja berhasil menjangkau setidaknya 4 sekolah dan 1 paud dengan usia emas perkembangan otak pada peserta didik. Mereka antusias membaca buku baru setiap bulannya, melahap buku sains Kuark yang menyenangkan, membaca majalah anak, atau mulai menyenangi membaca cerita dengan narasi agak panjang berupa buku dongeng dan sebagainya.

Anak-anak atau siswa juga kalangan dewasa menyenangi buku-buku dengan tema beragam mulai dari novel hingga biografi atau majalah. Semua tersedia karena sumbangan relawan atau juga saya beli karena bebas ongkos kirim.

Kecepatan membaca anak meningkat cepat karena banyaknya bahan yang dibaca. Anak-anak kecil di lingkungan dibantu agar tidak terlalu banyak memegang HP namun mulai belajar mengenal buku.

Saya punya cerita menarik. Putra rekan saya sesama Guru Garis Depan (GGD) di Pulau Buru yang baru berusia 3 tahun, Rafdan namanya, susah sekali makan sayur. Suatu hari ibunya meminjam buku dongeng berjudul “Ada Fululu di Bawah Meja” karya Arleen A. dan Adryana Putri, yang berkisah tentang Bob dan kakaknya.

Bob seorang anak kecil seusia paud. Semula Bob sulit sekali diajak untuk merapikan tempat tidur dan meja belajar kakaknya yang telah ia acak-acak. Bob malas menyikat gigi, makan sayur, dan belajar. Karena itu kakaknya melarang untuk bermain di tempat tidurnya dengan menakut-nakuti “Awas!!! Ada Fululu”.

Apa itu Fululu? Ia bukan binatang, bukan benda ataupun makhluk luar angkasa. Yang pasti Fululu punya gigi banyak. Begitu kakaknya menjelaskan. Bob tidak percaya, ia menaruh coklat di bawah meja dan ternyata ada yang menggigit coklat itu (tentu kakaknya lah yang menggigit).

Bob bertanya mengapa Fululu tidak menggigit Kakak? Kakak berkata karena ia suka makan sayur, rapi, rajin menggosok gigi dan mengerjakan PR. Jadi Fululu tidak mau menggigitnya. Semenjak itulah Bob berubah.

Dan Rafdan, semenjak mendengarkan kisah Fululu yang dibacakan sebelum tidur oleh bundanya (hingga kadang-kadang lebih dari 3 kali karena Rafdan menginginkannya diulang-ulang, sambil kadang berdialog dengan bundanya ) Putra rekan saya itu pun berubah.

Rafdan sekarang sudah mau makan sayur dan rajin menggosok gigi. Terakhir melihat status WA bundanya, Rafdan mulai belajar membantu ayahnya membersihkan halaman depan. Ikut membantu menyapu dan membuang sampah. Sesuatu yang dulu sulit Rafdan lakukan.

Foto Rafdan sedang bermain hujan-hujanan

Screenshoot status Bunda Rafdan tentang Rafdan yang mulai rajin membantu di rumah

Apa yang saya kisahkan mungkin bagi pembaca hanyalah sebuah kejadian nyata tapi kecil dan mungkin ada yang beranggapan tidak memiliki arti luas. Tetapi sesungguhnya menurut hemat saya, kisah Rafdan, rekan saya, dan Bunda Rafdan sendiri merupakan contoh penting betapa mendongeng, pengenalan buku pada anak usia dini, dibantu dengan pendampingan orangtua, akan mengubah kebiasaan, karakter, dan mentalitas anak.

Tidak ada alasan untuk menghentikan program FCL dan berharap program ini terus berlanjut. Bersyukur melalui TBM yang saya kelola dan sangat berterima kasih kepada donatur yang mengirimkan kisah “Ada Fululu di Bawah Meja”. Juga kepada Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) serta PT Pos Indonesia atas Program Free Cargo Literasi. Tanpa semua itu buku tersebut tak akan sampai ke Pulau Buru. Dan Rafdan sampai sekarang mungkin tetap tidak mau makan sayur. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s