Berpisahnya Bunyi dari Instrumen Musiknya di Era Digital

Dy Murwaningrum

Pendiri & Editor RI2030.com

 

Siapa yang berani menyangsikan keterkuncian ikatan antara bunyi dan alat musiknya? Alat musik terbentuk karena kehendak menghasilkan bunyi. Namun, bunyi tidak hanya muncul dari alat musik. Dengan kata lain, bunyi bukan milik musik saja.

Menggali kembali makna bunyi, dia bukanlah benda, tak diam dan tak bisa dikejar. Bunyi hanya melintas di telinga kita, bukan menetap tapi bunyi bisa sangat termemori. Bunyi adalah event, sebuah kejadian. Christoph Cox, dalam tulisannya “Sonic Philosophy”, mendefinisikan bahwa bunyi itu bersifat mengalir, event dan efek.

Artinya jika seketika dia ada, lalu dua detik kemudian bisa jadi tak terdengar lagi. Seperti sebuah peristiwa yang terjadi kemudian berlalu, atau kilatan cahaya yang mengganggu. Bunyi juga merupakan efek dari sebuah kejadian sebelumnya. Meski tak dipungkiri bunyi pun selanjutnya akan direspon pula.

Sebagian manusia mampu menangkap bunyi, namun tak banyak yang mampu menirukannya. Meski terdengar hanya sebentar saja, bunyi tetap bisa diingat sebagai penanda, atau diingat karena maknanya. Selanjutnya manusia akan menjadikannya simbol atas suatu hal yang pernah berkesan.

Ketakmampuan manusia menyimpan dan menirukan kembali bunyi-bunyian yang didengarnya bukan hanya terbentur pada persoalan nada (frekuensi), namun juga pada timbre (warna suara) yang berbeda antar bunyi.

Manusia dengan teknologinya mengkondisikan alat-alat yang dapat menyimpan dan menyampaikan kembali bunyi. Diawali dari penemuan phonograph, sebuah alat yang digunakan untuk meneliti gelombang suara. Ditemukan oleh Thomas Alfa Edison sekitar tahun 1850-an dan menjadi cikal bakal alat rekam nantinya.

Phonograph atau gramophone menjadi sebuah alat yang digunakan para sarjana musik untuk menyimpan bunyi-bunyi musikal dari pedalaman Amazon, Afrika, Asia Barat, dan lain-lain. Kemudian, bunyi lambat laun dapat ditangkap, direkam, dan dibunyikan ulang oleh teknologi yang kian canggih, hingga hari ini.

Instrumen Musik Baru untuk Aneka Bunyi

Perjalanan cepat industri yang mulai pesat, perlahan menggulung kebutuhan-kebutuhan riset menjadi sebuah produksi musik industri murni. Bunyi-bunyi musikal kian tak dikenali asalnya lagi dalam balutan musik-musik hybrid dan dominasi hiburan. Layaknya menjual kacang tanpa kulitnya, meski tetap nikmat.

1983 kurang lebih menjadi tahun-tahun pergerakan baru bagi dunia teknologi musik. MIDI (musical instrument digital interface) menjadi satuan global yang ada di berbagai jenis keyboard di dunia. Dave Smith dikenal sebagai bapak midi dunia. Beliau adalah penggagas sistem bahasa midi tersebut.

Saya ingat betul bagaimana para pensiunan berbahagia karena bisa memainkan berbagai iringan lagu dengan sebuah disket saja. Bahwa sebuah keyboard dapat memainkan semua iringan, termasuk dangdut koplo, tak perlu dipikirkan.

Namun kesadaran mengenai beralihnya bunyi inilah yang perlu disadari. Bunyi instrumen kendang, angklung, saron dan lainnya kini dapat kita temukan pada tombol-tombol datar. Cukup drag dan atur sesuai kebiasaan dan kemampuan rasa musikal kita.

Beberapa pelaku musik digital merasa tak seberapa perlu paham dari mana bunyi itu berasal. Bahkan mulai banyak buku yang menawarkan “bermusik tanpa alat musik” atau “tak perlu bisa main musik untuk bikin musik”.

Satu sisi hal tersebut menegaskan kembali bahwa elemen musik bukan hanya nada namun juga bunyi itu sendiri. Tentu hal-hal tersebut merupakan salah satu dampak dari bunyi yang sudah dilepaskan dari wadah aslinya.

Selera Musik Bukan Wangsit

Metronom yang menjadi kepastian berjalannya instrumen di atas mesin-mesin produksi, dan musik-musik midi merupakan salah satu konsekuensi dari teknologi. Kemudahan digital memang jelas berdampak pada peng-copy-an yang mudah sehingga mudah pula menyebar. Kemudahan menyebar yang artinya kemudahan merebut hati pendengar.

Selera pun mudah terpengaruh oleh peredaran musik. Selera orang hampir serupa. Serupa dengan musik yang banyak beredar. Orang-orang agaknya sulit menangkap kebahagiaan pada tempo lambat, kadang bentuk-bentuk musik yang sangat teratur dan tepat metronom menjadi pilihan utama.

Bambang Sugiharto, dalam essai berjudul “Musik dan Misterinya”, mengetengahkan cara medengarkan musik. Di antaranya adalah penilaian tentang enak dan tidak enak (sensuos), suka dan tidak suka yang dapat dikondisikan (afektif) dan mencoba memahami musik itu sendiri (intelektual). Ketiga cara tersebut dapat membantu kita mengkategorikan bagaimana kita mendengarkan musik.

Menyanyilah Maka Aku (Tak) Mengenali Asalmu

Konon, bunyi-bunyi musikal mewakili asal budaya anak-anak suku bangsanya. Namun pada suatu waktu, semua mungkin telah lebur. Kita akan menemui bunyi dari Madagaskar di Jawa, bunyi alat musik Sunda di Timur Tengah, tanpa tahu pasti dari budaya mana dia berasal.

Sebagian pemusik mungkin menuangkan bunyi dalam musiknya karena maknanya. Namun, ada juga yang sekadar menggunakan bunyi karena terperangah dengan keeksotisan bunyi yang belum pernah didengarnya.

Teknologi telah membantu lepasnya bunyi-bunyi dari tubuhnya. Hal ini menjadi nilai baru yang berdiri sendiri. Estetika baru bagi musik-musik digital sudah mulai perlu dipikirkan.

Alat musik yang dapat usang, tak ringkas, bisa jadi suatu waktu akan ditinggalkan, saat estetika musik digital telah mantap dirumuskan atau jika robot-robot telah hampir menyerupai rasa musikal manusia.

Namun, akankah manusia rindu pada alat musik yang telah menghasilkan bunyi-bunyian itu suatu hari nanti? Ataukah cukup hanya dengan mendengar bunyi tanpa tahu dari mana asalnya?

Advertisements

Merindukan Ruang Untuk Anak

Dy Murwaningrum

Pendiri & Editor RI2030.com

 

Tahun 2030, jika waktunya datang, siapa yang berdiri paling tegap? Tentu saja generasi yang hari ini masih sibuk bermain dengan keceriaannya. Atau, remaja yang berkejaran dengan cinta monyet di balik seragam putih birunya.

Apa yang sempat kita bekalkan untuk generasi yang suatu hari nanti akan menyangga dunia kita? Membekalinya dengan pengetahuan, mental yang tak gampang remuk, kreativitas, kepatuhan pada agama, semua itu bukan tanggung jawab satu atau dua lembaga namun seluruh masyarakat.

Setelah kita puas mengais-ngais berita tentang tahun-tahun runtuhnya sebuah Negara atau malah tentang kiamat, akhirnya 2030 tetap menjadi angka penasaran setelah 1999 atau 2012, bukan?

Ada pertanyaan di lintasan pikiran kita tentang tahun 2030. Di mana kita? Bagaimana anak-anak kita? Amunisi kecakapan bagi generasi kecil ini, tentu perlu dipersiapkan dari sekarang. Melalui media, ataupun interaksi langsung.

Jika menilik kembali media-media kita baik radio, televisi, ataupun koran, dominasi kepentingan dewasa memang jauh lebih banyak daripada urusan anak-anak. Orang dewasa punya banyak kolom-kolom di koran yang bicara tentang kepentingannya.

Politik, harga saham, perceraian artis, TTS, iklan kecik, dan lain-lain. Begitu juga dengan televisi yang bertabur sinetron pada malam hari, gosip di pagi dan sore hari. Radio juga dipenuhi oleh koleksi lagu-lagu dewasa atau komunikasi dua arah melalui telepon antara penyiar dan pendengar dewasa.

Sedikitnya tontonan yang mendidik bagi anak-anak, mungkin memang dimaksudkan agar anak-anak fokus belajar. Namun, kenyataannya banyak sekali anak-anak yang super aktif mengikuti gosip atau sinetron yang minim muatan edukasi bagi anak.

Majalah untuk anak-anak terlebih majalah dan bacaan berbahasa lokal seolah tak pernah disarankan oleh orangtua bagi anak-anaknya. Anak-anak lebih suka membeli komik horor bermuatan agak dewasa, yang dijual oleh penjaja mainan seharga Rp 1500 tiap eksemplarnya.

Cerita atau dongeng lokal yang bertujuan mengangkat imajinasi kanak-kanak, akhir-akhir ini justru sering terbentur dengan berbagai dogma. Cerita khayal tak disarankan, namun cerita horor mendapat respon yang berbeda.

Media hiburan untuk anak rasanya tak sebanyak dulu di era 90-an, saat marak boneka tangan, boneka yang digerakkan dengan benang, atau belajar menggambar bersama pak Tino Sidin. Ketika itu televisi menjadi corong informasi dan pengetahuan, pengantar gambar bergerak terluas dalam format elektronik.

Televisi sudah bukan lagi menjadi sahabat anak hari-hari ini, khususnya anak-anak desa yang masih terengah-engah untuk mendapatkan koneksi internet. Atau sebaliknya, anak desa yang justru tergagap-gagap dengan teknologi, duduk seharian di warung wifi hingga bolos sekolah.

Tak jauh juga nasib anak-anak dan musiknya. Agaknya artis cilik Indonesia tidak lagi dikenal secara nasional. Musik anak di televisi atau radio, proporsinya makin mengikis. Kita hanya bisa berharap, pada tukang Odong-odong yang lewat setiap sore atau mangkal pagi hari di pasar kaget, menanti anak-anak menikmati Odong-odong yang dikayuhnya sambil manggut-manggut mendengar lagu anak Nusantara.

Pesimis memang jika melihat minimnya perhatian kita pada generasi yang nantinya akan kita titipi berlangsungnya masa depan. Namun, optimisme juga timbul seketika kita melihat laju literasi telah menjangkau pelosok tanah air akhir-akhir ini.

Informasi dan pengetahuan bisa kita hantarkan melalui buku-buku bersayap. Kesadaran mulai tumbuh justru bukan dari lembaga-lembaga besar, namun dari individu-individu, komunitas bebas di masyarakat. Gejala ini menjadi harapan baru, menyala dan menguat karena benar tumbuh dari kesadaran, bukan anjuran pemerintah.

Memang, tak mudah meminta ruang-ruang hiburan atau informasi yang dikelola oleh industri yang bicara laba melulu. Namun kita bisa bicara langsung dari interaksi atau lewat karya di bidang masing-masing.

Geliat film anak, animasi edukatif makin banyak di akun media online. Meski belum meluas namun ada harapan. Komik, cerita bergambar dan novel yang sarat edukasi anak mulai muncul dengan harga yang relatif terjangkau. Hal lain, ternyata banyak juga teman-teman yang menyelenggarakan nonton film bareng di pelosok.

Komunitas-komuntas kecil yang bekerja dalam senyap maupun lantang, makin menjamur dan bergerak serentak. Inilah cahaya dan harapan bagi generasi kecil kita. Kesadaran dan bergerak adalah bahan bakar jangka panjang bagi nyala optimisme ini. Semoga pemerintah dapat memuluskan jalan yang telah dibuka oleh banyak pihak ini.*

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi