Gotong Royong Pemerintah dan Gerakan Keorangtuaan Menangkal Radikalisasi

JC Pramudia Natal

Pemusik & Penulis Lepas

 

Terdapat satu benang merah yang sangat mencolok dari peristiwa pemboman bulan lalu di Surabaya, Wonocolo, dan Sidoarjo, yaitu para pelakunya merupakan satu keluarga batih; ayah, ibu, beserta anak-anak mereka.

Dalam bentuk yang paling tragis dan kejam, masyarakat Indonesia diberikan pelajaran bagaimana keluarga, terutama orangtua bagi anak-anak yang masih di bawah umur, memainkan peranan krusial dalam perkembangan kehidupan anak.

Hal ini tentu menjadi ironis karena justru selama lima tahun ke belakang, terutama dalam era Kabinet Kerja, keluarga justru dicoba untuk dikembalikan menjadi motor kebangkitan nasional, khususnya dalam sudut pandang pendidikan.

Dari perspektif Pemerintah, secara moril, dalam dukungan verbal yang dilontarkan Mendikbud I Kabinet Kerja Anies Baswedan atau langsung dalam implementasi kebijakan semacam program Direktorat Keorangtuaan dan Hari Pertama Sekolah, peran krusial keluarga sebagai salah satu dari trias pelaku pendidikan berusaha direvitalisasi oleh Pemerintah.

Dari perspektif akar rumput gerakan keorangtuaan, mulai dari yang bersifat psikososial dan berfokus kepada pembangunan suasana keluarga yang konstruktif sebagaimana ditunjukkan Keluargakita.id dan Komunitas Charlotte Mason Indonesia, hingga yang bersifat formal dalam bentuk sekolah dan pelatihan keluarga (homeschooling) sebagaimana dicontohkan oleh Rumahinspirasi.id dan Shine, semakin memperoleh perhatian khalayak luas.

Hal ini bukan hanya tercermin dalam jumlah peserta, namun juga perkembangan jumlah titik-titik kegiatan komunitas tersebut yang tidak hanya berskala kota, namun mulai merambah regional.

Lantas, bagaimana kita bersama perlu menyikapi isu radikalisasi keluarga ini? Walau terjadi pelaksanaan program keorangtuaan baik yang berbasis Pemerintah atau swadaya masyarakat sebagaimana diutarakan di atas, namun belum adanya payung gotong royong dan koordinasi menjadi satu aspek yang darurat untuk segera dibenahi.

Dengan segala prioritas dan program infrastruktur yang dimiliki kabinet kerja, bahkan Pemerintah lewat kepala KSP, Moeldoko, setengah mengakui bahwa baru pada tahun terakhir ini mereka akan menambah fokus kepada pembangunan manusia.

Dengan adanya perkembangan baru semacam radikalisasi keluarga, dalam bentuk pelaku bom bunuh diri, seyogianya Pemerintah tidak perlu malu untuk menggandeng komunitas-komunitas keorangtuaan di akar rumput yang nyata-nyata telah berkarya dan berbuah.

Salah satu sisi buta yang memperparah kelemahan gotong royong gerakan keorangtuaan itu sendiri adalah bahkan Pemerintah tidak bisa mengandalkan program pendidikan formalnya dalam membangun kerangka kebangsaan kepada anak.

Survei nasional Convey Indonesia Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah pada September-Oktober 2017 terhadap 2.181 responden beragama Islam, yang terdiri atas guru pendidikan Agama Islam, murid, dosen, dan mahasiswi/a, menyodorkan fakta yang tidak ramah kebhinekaan.

Dari hasil survei tersebut dan juga kasus pemboman di Jawa Timur dapat kita lihat bersama bahwa benih-benih kekerasan, nir-empati, dan intoleransi masih ada bahkan berkembang semakin pesat.

Dan cara yang lebih “sangkil-mangkus untuk menekan dan bahkan memulihkan kebangsaan Indonesia yang berbhineka adalah adanya gotong royong antara Pemerintah dengan gerakan keorangtuaan di akar rumput.

Sementara Pemerintah dapat mengadopsi kebaruan konsep, filosofi, dan praktik pendekatan kekeluargaan yang terkini dan konstruktif, untuk kemudian disosialisasikan di sekolah-sekolah; maka gerakan akar-rumput keorangtuaan bisa mendapatkan jejaring luas dalam aspek hukum, kemasyarakatan, dan bahkan memperkaya alternatif konsep, filosofi, dan praktik gerakan keorangtuaan dari gotong royong dan koordinasi ini.

Apabila pedagog John Hattie mengatakan bahwa pengembangan murid dapat pesat karena gotong royong antar-guru, maka dapat kita perluas bahwa pengembangan kebangsaan dapat lebih “sangkil-mangkus” jika terjadi gotong royong Pemerintah dan komunitas/gerakan keorangtuaan di akar rumput.*

 

Ilustrasi: Jelleke Vanooteghem | Unsplash

Advertisements

Taman Bacaan Masyarakat sebagai Ujung Tombak Majunya Literasi di Daerah 3T

Randy Homzi Romadhon

Guru Garis Depan Kabupaten Buru

 

Meski terlambat, saya membuat tulisan ini dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2018 yang gaungnya masih terasa hingga tulisan ini dibuat. Masih lekat di ingatan Sabtu 23 September 2017 ketika untuk pertama kalinya saya sampai di Desa Widit, tempat saya bertugas sebagai Guru Garis Depan (GGD) pada SD Negeri 9 Waelata, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru Provinsi Maluku. Desa Widit sendiri merupakan sebuah Desa Adat dengan sebagian besar penduduk adalah orang asli Pulau Buru, yang mayoritas beragama Islam dan sisanya beragama Katolik, Protestan, dan aliran kepercayaan (Adat).

Saat saya datang pada beberapa minggu pertama bertugas sebagai GGD di Desa Widit, saya mendapati banyak sekali anak, bahkan hingga kelas 4 SD, yang kurang bisa membaca lancar. Mengapa hal ini bisa terjadi? Setelah saya cermati permasalahannya bukan karena guru jarang masuk, namun kultur setempat yang dekat dengan area penambangan emas Gunung Botak. Banyak anak yang sering tidak masuk sekolah dengan alasan pergi ikut orangtua ke gunung atau karena pengawasan orangtua terhadap pendidikan anak yang kurang, sehingga proses belajar mengajar menjadi terganggu. Yang terjadi kemudian adalah tidak adanya kontinuitas dalam pembelajaran.

Hal lain yang saya temukan adalah sedikitnya buku bacaan yang tersedia. Terdapat beberapa novel terbitan Balai Pustaka yang saya anggap terlalu berat untuk siswa SD. Buku-buku lainnya yang ada di sekolah lebih banyak dalam bentuk buku teks pelajaran yang sifatnya kering dan terkesan njelimet, hingga siswa malas untuk membacanya di sekolah ataupun meminjamnya untuk dibaca di rumah. Buku-buku teks pembelajaran terlihat sangat membosankan bagi para siswa. Namun saya tahu ketika itu sebenarnya minat siswa untuk membaca sangat besar, namun terkendala pada kurangnya bahan bacaan yang tepat untuk mereka.

Sebagai data awal ketika saya mengajar di SD Negeri 9 Waelata Desa Widit, kecepatan rata-rata anak membaca di bawah 50 kata per menit, dengan ketentuan mereka membaca cepat dan belum tentu memahami apa yang dibaca. Bandingkan dengan kecepatan membaca normal yang berkisar 140-200 kata per menit. Seorang siswa kelas 2 SD masih kesulitan membedakan ejaan “nga” dengan “nya”. Padahal membaca, sebagaimana dikatakan oleh Najeela Shihab dalam buku “Semua Murid Semua Guru” (sebuah buku yang sangat berkesan bagi saya sebagai pendidik), adalah “memahami rangkaian makna bukan hanya mengeja bahan pustaka” (2017). Bagaimana siswa akan bisa memahami makna buku yang dibaca jika mereka sendiri tidak lancar membaca?

Itulah permasalahan yang saya hadapi di lapangan ketika itu. Selain itu, kendala bahasa juga menjadi kesulitan tersendiri bagi saya pada masa tersebut. Datang dari budaya berbeda serta pada masyarakat lokal yang masih banyak menggunakan bahasa ibu. Jikapun menggunakan bahasa Indonesia masih perlu beberapa saat bagi saya untuk mencerna karena perbedaan aksen dalam pengucapannya. Untuk masalah kedua, yaitu kendala bahasa dan budaya, berbekal pengalaman ketika mengikuti Program SM3T di pedalaman Papua saya bisa mensiasatinya dengan banyak berinteraksi dengan masyarakat dan siswa agar terjadi kesepahaman di antara saya dan mereka.

Masalah kecepatan membaca menjadi masalah utama dalam memajukan pendidikan anak di tempat saya bertugas. Untuk menyiasati masalah yang saya temukan di lapangan berkaitan dengan hal tersebut juga dalam rangka ikut berpartisipasi dalam memajukan pendidikan di daerah pinggiran khususnya gerakan literasi bagi masyarakat dan siswa, saya berinisiatif mendirikan taman bacaan masyarakat (TBM) di Desa Adat Widit dengan terlebih dahulu berkoordinasi dengan Kepala Sekolah dan rekan-rekan guru senior tempat saya bertugas. Saya juga mencoba berkoordinasi dan menyampaikan ide pembentukan TBM tersebut kepada semua tokoh masyarakat, agama, adat, termasuk juga pemerintah desa.

Saya bersyukur semua pihak mendukung penuh ide ini. Sejak bulan November 2017, TBM Widit mulai beroperasi. Dengan memanfaatkan program gratis ongkos kirim setiap tanggal 17 yang diselenggarakan oleh PT Pos Indonesia, pada akhir bulan November 2017 TBM Widit untuk pertama kalinya mendapatkan kiriman 15 dus buku dari donatur yang berasal dari berbagai penjuru negeri. Buku-buku sebanyak itu saya dapatkan dengan cara memaksimalkan serta memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan kebutuhan TBM.

Menumbuhkembangkan minat baca di daerah 3T tentu bukan hal yang mudah saya lakukan. Ketika informasi kiriman dari donatur sudah sampai saya tidak bisa langsung mengambilnya sebab layanan Pos tidak menjangkau ke daerah tempat saya bertugas. Saya masih harus mengambilnya sendiri ke Kantor Pos terdekat yang jaraknya lumayan jauh, belum lagi infrastruktur jalan yang masih berupa jalan tanah dan harus menyeberangi ponton penyebrangan yang membelah Sungai Waeapo. Modal sendiri selalu keluar terutama untuk biaya pengangkutan buku-buku tersebut setiap bulannya.

Ketika TBM berjalan dan donasi Buku sudah lancar kami terima, masalah selanjutnya adalah bagaimana agar program membaca tersebut berjalan berkesinambungan tidak seperti anak panah yang cepat di awal namun lambat laun melambat. Solusinya adalah berusaha mengikuti alur pikir untuk anak-anak serta masyarakat di tempat saya bertugas yang cenderung fleksibel dan tidak ingin terlalu dikekang.

Sampai sekarang terus terang TBM yang saya dirikan tidak mempunyai tempat atau sarana yang tetap. Bagi saya TBM tidak harus mempunyai bangunan yang tetap apalagi yang saya lakukan adalah sebuah TBM rintisan di Desa yang masih termasuk sebagai Desa Tertinggal. Yang bisa saya lakukan adalah menititpkan bahan bacaan di perpustakaan sekolah dan juga di rumah kos tempat saya tinggal. Bagi saya setiap rumah di Widit adalah TBM. Setiap ada buku yang datang, saya catat dalam daftar buku koleksi, kemudian siswa atau masyarakat dapat memanfaatkan langsung dengan membawanya ke rumah.

Karena setiap bulan kami mendapatkan kiriman buku yang banyak maka strategi saya ubah. Saya tak pernah memaksa siswa atau masyarakat yang memanfaatkan untuk mengembalikan tepat waktu, bahkan saya tak memarahi saat siswa SD di Desa Widit atau anak usia PAUD mengembalikan buku dalam kondisi sudah rusak, robek, atau ada coretan. Hal tersebut saya lakukan karena banyaknya stok buku serta sebagai upaya agar anak-anak akrab dengan buku bacaan. Nantinya harapan saya pelan tapi pasti: anak menjadi akrab dengan buku selain buku pelajaran, dan akhirnya mereka menghargai buku.

Biasanya setelah membaca buku bergambar, saya minta anak-anak untuk menceritakan kembali apa yang telah mereka baca. Sementara untuk anak PAUD saya meminta mereka menceritakan kembali apa yang telah mereka tangkap dari melihat gambar-gambar yang ada pada buku-buku tersebut.

Setelah enam bulan TBM berjalan dan dengan setiap bulan setidaknya lima dus berisi buku-buku baru yang datang (karena saya rajin promosi di media sosial baik grup WA, Blog, Facebook, dan sebagainya), ada kenaikan meski pelan namun pasti dalam kecepatan membaca siswa terutama siswa SD tempat saya bertugas. Dari yang semula hanya di bawah 50 kata per menit meningkat menjadi sekitar 80-an kata per menit.

Ke depannya jika suatu saat Desa Widit memiliki bangunan khusus untuk TBM, saya memimpikan TBM yang saya dirikan tidak hanya menjadi kegiatan membaca semata namun juga menjadi pusat kegiatan kebudayaan sekaligus pelestarian budaya lokal berlangsung, yang di dalamnya berisi pelatihan budaya lokal, tarian adat, pertunjukan seni, dan mungkin juga latihan drama. Pada akhirnya meski berada di daerah tertinggal, dari TBM inilah muncul suatu budaya literasi tidak hanya bagi para siswa namun juga masyarakat, sehingga Desa Widit kemudian menjelma menjadi sebuah Desa Literasi.

Saya juga membayangkan jika setiap Guru Garis Depan yang berjumlah lebih dari 6000 orang menginisiasi atau membuat satu taman bacaan di tempat tugasnya, maka generasi emas Indonesia menyambut momen 100 tahun kemerdekaan di tahun 2045 akan menjadi nyata dengan tampilnya pendidikan merata di seluruh tanah air. Tidak hanya pemuda hasil didikan guru di sekolah, namun juga membudayanya generasi melek aksara baik generasi muda maupun tua, yang dimulai dari daerah-daerah 3T di Indonesia.

Mengapa hal tersebut bisa saya simpulkan? Sebab di TBM lah proses interaksi, dialog antara pemuda, masyarakat, dan penulis buku melalui bukunya bisa terjadi. Dari interaksi tersebut timbul diskusi yang bersifat akademik yang setara, proses belajar yang terus menerus dan bermakna terjadi. Sebagaimana judul buku Najeela Shihab, hemat saya di TBM lah terjadi apa yang disebut sebagai “Semua Murid Semua Guru”.*

 

Ilustrasi: RHR

Pendidikan untuk Generasi Z (dan Generasi Alpha)

Hendra Gunawan

Pendiri dan Pengelola Program RI2030.com

 

Baru-baru ini saya mengurus paspor pengganti karena paspor yang saya miliki tidak dapat dipakai lagi. Sambil menunggu di Kantor Imigrasi, saya mengamati seorang ibu dan anaknya yang duduk di depan saya. Sang ibu sedang mengisi formulir aplikasi paspor, sementara anaknya yang masih balita ‘memainkan’ ponsel cerdas ibunya. Saya amati sang anak ternyata bukan sedang ‘memainkan’ gawai ibunya, tetapi sedang menonton film di Youtube. Karena layarnya kecil, saya tidak bisa melihat jelas apa yang ditonton anak tersebut. Kemungkinan film kartun anak-anak yang dipilihkan sebelumnya oleh ibunya, mudah-mudahan begitu.

Pemandangan seperti di Kantor Imigrasi pada hari itu bukan pemandangan langka. Saya pernah mengamatinya juga di tempat-tempat umum seperti di restoran dan di bandara. Anda juga mungkin pernah menyaksikan kejadian serupa, bahkan mungkin di rumah Anda sendiri? Anak-anak Generasi α, yang lahir pada tahun 2010 (bersamaan dengan lahirnya iPad) atau sesudahnya, ‘tersebar’ di sekitar kita. Mereka diasuh oleh gawai atau ponsel cerdas.

Satu generasi sebelum Generasi α adalah Generasi Z, yang lahir pada akhir milenium ke-2 hingga tahun 2009 yang lalu. Saat ini, sebagian dari mereka sudah menempuh kuliah di perguruan tinggi. Sebagian besar lainnya bekerja di sektor informal atau berkeliaran di jalan, karena mereka telah putus sekolah sejak SMP atau SMA. Tetapi, hampir semuanya memiliki ponsel, menonton film di Youtube, dan berkomunikasi dengan Whatsapp atau Telegram.

Waktu seolah berjalan lebih cepat daripada sebelumnya, tetapi sekolah-sekolah masih disibukkan dengan pergantian kurikulum yang tidak jelas dan aturan penerimaan peserta didik baru dengan mission impossible-nya, yaitu memuaskan semua pihak. Pada awal tahun 2018 ini, di sebuah harian nasional ada orangtua yang mengeluhkan keberadaan bimbel di sekitar sekolah anaknya. Orangtua tersebut mungkin tidak menyadari bahwa di dunia maya keadaannya lebih mengerikan.

Bila di dunia nyata, khususnya di bumi Indonesia ini, gedung bimbel bertebaran di sekitar gedung sekolah, di Internet laman-laman bimbel juga jauh lebih banyak daripada laman sekolah. Di dunia maya pula, artikel-artikel yang ditulis oleh ‘guru’ bimbel mendominasi artikel yang ditulis oleh guru sekolah.

Pada suatu hari, saya melacak dokumen berbahasa Indonesia bertajuk ‘matematika’ yang tersebar di Internet. Apa yang saya temukan adalah sejumlah artikel dari berbagai lembaga bimbel. Apa yang ditulis oleh ‘guru’ bimbel bisa kita tebak: cara mudah untuk lulus pelajaran matematika, kupas tuntas materi pelajaran matematika SD, dan artikel-artikel semacam itu.

Hal serupa tidak akan kita temukan bila kita mencari dokumen bertajuk ‘mathematics’ yang berasal dari Malaysia, misalnya. Bila pembaca penasaran, sila periksa kebenaran fakta ini. Melalui media sosial, saya mengeluhkan keadaan di atas, berharap ada pelaku yang membaca keluhan saya dan tersadarkan.

Tetapi, tak lama setelah saya curhat, seorang rekan dosen berkomentar kurang-lebih sebagai berikut: “mengapa Anda tidak membuat blog matematika yang sesuai dengan harapan Anda?” Alih-alih membuat orang lain sadar, justru saya sendiri yang ‘tertembak’. Hari itu juga (saya masih ingat persis tanggalnya, yaitu 11 April 2016), saya membuat sebuah blog yang khusus saya dedikasikan untuk matematika — dan blog itu masih aktif hingga hari ini.

Saya menyadari bahwa dunia maya kita saat ini merisaukan, dan itu mencerminkan konstelasi, orientasi, dan mutu masyarakat kita (sebagaimana dipertontonkan setiap hari di layar televisi kita). Bila sekarang ini banyak yang menaruh harapan pada Generasi Z (dan Generasi α kelak), saya justru khawatir jangan-jangan yang kita miliki bukan Generasi Z yang terdidik, melek teknologi, dan berwawasan global, tetapi sekadar sebuah generasi yang hidup di Era 4.0. Kekhawatiran ini didukung oleh data statistik yang mengungkapkan aktivitas tak produktif masyarakat Indonesia di dunia maya.

Namun, di tengah kekelaman yang kita hadapi, ada secercah harapan. Berbeda dengan dunia fisik, sesungguhnya banyak yang kita bisa lakukan di dunia maya. Saya tidak bisa membangun sekolah fisik di dunia nyata untuk menyaingi bisnis bimbel, karena saya tidak memiliki dana yang cukup untuk itu. Andai sekalipun tersedia dana, lucu juga bila untuk meredam geliat bimbel kita dirikan sekolah sebanyak-banyaknya di sekitar gedung bimbel tersebut.

Di dunia maya, kita bisa membangun sekolah maya, dan itu yang saya lakukan. Blog matematika saya bukan blog pertama yang saya buat. Sejak tahun 2013, ketika ada gonjang-ganjing seputar Kurikulum 2013, saya juga membuat blog untuk memperkaya wawasan anak-anak tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya. Seperti kata pepatah, daripada mengutuk kegelapan, lebih baik kita nyalakan lilin.

Di dunia maya, konten negatif sulit diberantas. Yang dapat kita lakukan adalah memperbanyak konten positif. Siapa yang dapat berkontribusi? Saya berharap para pelaku pendidikan di Indonesia menyadari bahwa perannya dewasa ini bukan sekadar mengajar di ruang kelas yang ada di sekolah dan di kampus (fisik), tetapi juga di ruang-ruang diskusi yang tersebar di dunia maya. Masa depan bangsa ditentukan oleh apa yang kita lakukan saat ini.*

 

Ilustrasi: HG

Ketika Sains Melangkah ke Arah yang Berbeda: Sebuah Kilasan dari Masa Depan

Dasapta Erwin Irawan

Periset Hidrogeologi ITB,  Ambassador Open Science Framework (OSF)

 

Prolog

Nama saya Erwin, profesor bidang hidrogeologi. Cerita ini saya tulis tanggal 17 April 2030, dengan laptop konvensional saya, menggunakan piranti zaman urdu bernama Emacs.

Ini sebenarnya bukan cerita tentang mesin waktu. Sebuah mesin yang berasal dari chasis Peugeot tua saya. Ya, Pug tua saya yang 12 tahun lalu masih mengisi halaman-halaman Facebook saya, sekarang sudah dimodifikasi menjadi mesin waktu. Mesin dan perangkat lainnya memang sudah lama tidak berfungsi. Tapi masih saya pertahankan, sampai kira-kira 5 tahun lalu ada perusahaan multinasional di Maluku yang memproduksi kit mesin waktu jinjing, mereknya “Re-Play”.

Berbeda dengan alat-alat sejenis yang dulu sering menjadi ide dasar sebuah film seperti “Back to the Future” (yang sampai sekarang alat itu masih fiksi), Re-play adalah alat augmented reality yang tidak akan memindahkan Anda ke masa lalu, tapi mampu menghadirkan kembali suasana secara menyeluruh seolah Anda ada di waktu itu. Uniknya, Replay menyediakan fitur pencarian berdasarkan topik, bukan hanya waktu. Jadi anda bisa saja kembali ke suatu pertandingan bola pada topik olahraga, atau pemilihan Presiden di era 2000-an misalnya, atau tentang sains terbuka.

Kita kembali ke topik. Artikel ini tidak menceritakan tentang mesin waktu saya. Mesin waktu ini akan menjadi alat pemutar ulang saja beberapa kejadian yang akan menjadi pembanding kondisi dulu dan sekarang, era penelitian di tahun 2030-an yang sedang saya alami sekarang. Yang akan saya ceritakan di sini adalah tentang riset dan publikasi, same old story :). Semoga tidak bosan.

2030: dampak dari letupan teknologi baru di era 2020

Saya menulis artikel ini di satu pagi di bulan April 2030. Saya baru saja masuk ke Pug-Replay (Replay in my Pug). Tak sengaja saya menemukan arsip berita oleh Dyna Rochmaningsih tanggal 22 Mei 2018. Isinya tentang rencana peraturan baru dari Pemerintah RI untuk memperketat aktivitas riset peneliti luar negeri di Indonesia. Kurang lebih bersamaan dengan itu, ada Lisa Matthias dari OpenAire, yang menulis artikel tentang Sains Terbuka di Indonesia.

Saat ini, mungkin anda tidak percaya, bahasa bukan lagi kendala. Peneliti dari negara-negara selatan (global south) tidak lagi minder saat menggunakan bahasanya, dan peneliti dan Eropa dan Amerika tidak lagi menganggap bahwa mereka adalah satu-satunya yang mengendalikan perkembangan sains. Itu semua berawal dari inisiatif bernama SpeakoScience (SoS) yang mempromosikan piranti lunak penerjemah yang berhasil membuat algoritma machine learning yang mampu menerjemahkan ribuan bahasa secara real time. Gerakan ini berawal dari jejaring sosial jutaan relawan yang mau membantu menerjemahkan bahasa dalam suatu riset. Setiap terjemahan kemudian direkam dan dicari polanya, agar di masa mendatang tidak perlu lagi ada peran serta translator.

Anda bisa bicara via Skype atau Zoom (ya mereka berdua bertahan), dengan bahasa asli Anda, dan SoS akan menerjemahkannya dengan tingkat kesalahan kurang dari 3%. Kalau komunikasi surel (juga masih bertahan), jangan ditanya lagi. Saya bahkan bisa berkirim surel dengan mitra warga asli Ethiopia menggunakan SoS.

Anatomycal technology | Sumber: Commons/Wikimedia

Sebentar saya perlu menjawab panggilan telepon. Saya akan lanjutkan nanti.

30 menit kemudian.

OK, kita lanjutkan ya.

Model publikasi riset

Dulu saya membayangkan bahwa publikasi dalam jurnal hanyalah salah satu upaya pelaporan hasil riset. Lebih luas dari itu, laporan riset sendiri saya bayangkan sebagai sesuatu yang dinamis, bahkan di saat riset itu sendiri telah selesai. Tentunya ini bukan bayangan saya saja, tapi bayangan jutaan saintis muda (saya juga pernah muda) atau pemula yang melihat ada dalam model implementasi sains saat itu. Dan saat ini, semua itu telah terlihat. Dimulai dengan berubahnya model bisnis mayoritas jurnal besar menjadi lebih berpihak kepada sains lima tahun lalu, juga dengan perubahan model penilaian kinerja riset dan staf yang lebih inklusif.

Kembali ke dua artikel di atas. Saat ini riset bersama sudah bisa berjalan lancar, berbasis kepercayaan. Salah satu penyebabnya yang saya tahu adalah berubahnya cara publikasi riset. Publikasi jurnal sudah bukan lagi satu-satunya cara mempublikasikan hasil telaah saintifik. Para peneliti memilih untuk mengurangi komponen kepemilikan (ownership) dalam authorship dan menambah komponen kolaborasi.

Ya betul, authorship konvensional zaman dulu telah berhenti digunakan sejak tahun 2025, karena dianggap kental dengan komponen prestise dan kepemilikan. Sementara sains dan data itu sendiri adalah barang milik publik (public goods). Jadi bagaimana bisa barang milik semua, kemudian menjadi barang milik penulis.

Satu hal lagi, sering kali dulu, urusan authorship muncul karena kurangnya inisiatif dari pihak peneliti Indonesia. Kenapa begitu? Mungkin karena kurang percaya diri, karena sudah punya stigma bahwa “semua terserah yand bawa uang’ (funder takes all). Kondisi seperti ini akan menambah tebal dan tinggi dinding psikologis dalam komunikasi riset.

Sumber: PhDComics

Tapi itu semua masa lalu, saat bahasa bukan lagi kendala, ada SoS.

Dulu banyak saintis menolak sains terbuka, karena itu akan mengurangi nilai kepemilikan dan prestise, individu, atau institusi. Peneliti yang benar masa kini, siapapun itu dan darimanapun, akan mencari kawan, bukan kepemilikan atas data atau informasi. Saat ini riset bersama adalah suatu kegiatan beberapa ilmuwan yang bergabung yang penuh ketidaktahuan dan kemudian mengakhirinya bersama dengan pengetahuan baru.

Mengenai metrik

Nah sekarang mengenai metrik. Anda semua pasti ingat, ada saatnya, Indonesia bergulat dengan metrik untuk meningkatkan peringkat. Tapi itu semua adalah masa lalu. Anda yang sudah menjadi dosen di era 2000an, pasti ingat, saya pernah menyebut-nyebut DORA dan Leiden Manifesto. Di era sekarang ini, seleksi memang lebih capek. Komunikasi dua pihak dan dua arah selalu dilakukan saat menilai suatu riset atau kepakaran seseorang. Beda dengan dulu, tinggal lihat angka h-index dan Impact Factor, maka semua beres. Dua metrik itu meredup sejak 2020, karena makin banyak pihak percaya bahwa angka itu rentan manipulasi.

Sumber: Flickr/dasaptaerwin, CC-0

Penutup

Begitulah sekilas refleksi saya. Saya tahu artikel ini akan terlihat aneh di tahun 2018, tapi percayalah itu akan terjadi. Usia saya sekarang 54 tahun, tidak ada gunanya saya berbohong. O ya, mungkin ada yang jeli. Ya saya mendapatkan gelar Guru Besar di tahun 2023. Sebuah gelar yang tidak pernah saya bayangkan akan saya dapatkan, melihat kondisi saat itu. Saya teringat stiker buatan kawan saya Jon Tennant. Dia pernah membuat stiker “Open science is just science done right”. Semoga Anda terinspirasi.*

 

Ilustrasi: DEI

Oh, Generasi

Venny Tania

Pendiri dan Editor RI2030.com

 

Waktu jenaka membentuk manusia. Mereka yang terikat satu kepingan era tertentu, berkelindan dengan berbagai peristiwa yang sama menjadi satu generasi. Ketika internet seolah mendekatkan yang jauh, persoalan generasi terangkat lebih masif.

Para ahli ingin lebih mudah membaca pergerakkan manusia. Memang parameter buatan manusia untuk mengukur kawanannya seringkali meleset. Cara kerja alam masih belum terselami. Apakah orang yang lahir di tahun yang sama memiliki sifat sama semua? Belum tentu. Parameter lain seperti zodiac, shio, psikologi, dan lain-lain sama saja. Tapi variabel seperti peristiwa, geografis, sosial, ekonomi, dan budaya pasti mempengaruhi.

Perbedaan perilaku antar generasi sering jadi sumber benturan dan ketidakcocokkan interaksi. Pertentangan generasi adalah resep membuat cerita lezat. Generasi tua kerap diposisikan benar dan paling tahu, sehingga generasi muda yang membangkang disudutpandangkan sebagai naif dan salah.

Coba nikmati kesenjangan pemikiran di film Eat, Drink, Man Woman (Ang Lee, 1994). Film ini menyajikan kehandalan seorang ayah sekaligus koki mengolah berbagai makanan tradisi. Selain memamerkan indahnya tampilan kuliner, keahlian tangan sang koki adalah penjara untuk tiga putrinya setiap pekan.

Menganut tradisi menikmati makanan secara kolektif, agenda terstruktur keluarga Taiwan saat itu adalah setiap anak harus ‘melaporkan’ perkembangan hidup di meja makan. Satu per satu anak meninggalkan rumah dan rutinitas feodalisme, memasuki fase baru yang lebih bebas. Di antara keputusan dan perubahan, makanan menjadi penyambung lidah, ilmu, dan filosofi hidup dua generasi.

Sudah banyak studi mengenai generasi manusia setelah abad ke-19. Bagi saya sebagai anggota klan milenial tua, ada yang kurang dalam komunikasi antar generasi saat ini, dan sulit diselesaikan melalui makanan saja. Apalagi milenial atau generasi Y (singkatan dari Youth) seolah menjadi isi roti antara generasi X (kelahiran tahun 1966-1980) dan generasi Z (kelahiran setelah tahun 2000).

Menurut sosiolog Karl Manheim, sebuah generasi di rentang tahun kelahiran tertentu terbentuk dari proses sejarah dan sosial yang serupa, sehingga memiliki cakupan pengalaman spesifik, karakteristik tertentu, serta cara merespon yang khas dan relevan [1].

Penelitian Bencsik, Csikos, dan Juhez menyebutkan generasi milenial takut menjadi dewasa dan bertanggung jawab, serta merasa dunia kejam dan menolak mereka [2]. Kemajuan teknologi membentuk mental Y menjadi mudah menerima perubahan dan asyik dengan habitatnya sendiri, walaupun singkat dan menghabiskan uang mereka. Milenial bertoleransi tinggi pada perbedaan budaya, kecuali nilai-nilai keluarga dan tradisional. Milenial hanya mau mengerjakan yang mereka sukai dan nikmati. Jika mulai terbatasi, Y akan segera menjauh.

Kami generasi milenial lebih mengikuti suara hati (yang kadang suka menipu ini), bukan tuntutan dan aturan. Memang terlihat egois dan semaunya, tapi itu karena kami melihat bagaimana generasi orang tua kami (baby boomers) diperbudak oleh pekerjaan dan diombang-ambing nasib. Waktu habis untuk dedikasi pekerjaan, yang hanya memberi secuil dana pensiun (kecuali golongan PNS). Tapi kalau semua bergantung menjadi PNS, dimana letak kemajuan Indonesia? Bukankah dulu kolonial Belanda juga membangun sekolah untuk mengisi tenaga kasar murah namun terdidik dan patuh?

Sebagian dari Y beruntung menempuh pendidikan tinggi bahkan sampai ke luar negeri. Berwirausaha bahkan mendirikan partai bukan hal mustahil bagi kami, meskipun dijuluki alay, sok tahu, ‘bocah kemarin sore’, serta dicaci ketika salah berpendapat. Meskipun masih dangkal pengetahuan dan pengalaman, tapi milenial terinspirasi oleh berbagai tokoh untuk mengubah dunia.

Karena media terus berevolusi, milenial makin mudah mengakses informasi dan memahami. Banyak generasi sebelumnya, yaitu generasi X (yang saat ini memegang posisi-posisi tinggi dan penting di berbagai sektor) terjangkit korupsi, kemunafikan, dan kemunduran pemikiran.

Seperti adik-adik generasi Z, milenial cukup defensif ketika berhadapan dengan generasi X, karena kami melihat dulu siapa, apa karyanya, serta kapabilitas dari orang yang berbicara. Apakah Anda generasi X yang cuma bisa ngebos tanpa menyadari keterbatasan sendiri? Apa betul Anda sehebat yang dicitrakan ke orang-orang? Apa Anda layak menduduki posisi saat ini? Kenapa Anda memaksakan tuntutan efisiensi yang tidak fleksibel dalam dinamika keseharian?

Menurut penelitian lain (Durbák, I, 2013), generasi milenial mengalami penolakan dan penghakiman sejak muda. Milenial melihat generasi X masih memaksakan kehendak pada anak-anaknya, si generasi Z; Semua pilihan hidup anak harus sesuai arahan otoriter orang tua yang merasa sudah makan asam garam. Saking gencarnya pemaksakan kehendak, buyarlah fungsi lembaga pendidikan sebagai pencetak generasi cerdas, kritis, dan manusiawi. Generasi Y dan Z dipaksa jadi penerus kapitalisme yang makin fasis dan materialistis.

Karena kenyataan tidak ramah, banyak milenial dan generasi Z membangun hidup di maya. Keduanya juga cukup menghindari generasi tua di internet, karena kemajuan teknologi tidak berbarengan dengan kebijaksanaan penggunanya.

Generasi X menunjukkan bahwa lulusan perguruan tinggi bukan jaminan cerdas berdigital. Setinggi apapun pendidikannya, generasi X kenyang berbagi info pemuas sepihak saja, termasuk hoax, gosip, dan propaganda.

Gara-gara perang dingin, Gen X Indonesia memilih profesi-profesi aman yang realistis dan meninggalkan kebiasaan intelektualisme kritis [3]. Ada kelebihan insinyur dan sarjana ekonomi terlahir di generasi X akibat doktrin pembangunan. Pendidikan di era milenial masih sulit mengubah pola pikir yang menganakemaskan eksakta. Sedangkan penganut eksakta, menurut beberapa pakar, lebih rentan menjadi pelaku fundamentalisme dan ekstrimisme [4].

Kekeraskepalaan dan glorifikasi masa lalu juga terlihat dari menurunnya keterbacaan jurnalisme kertas. Sebagian tetua media cetak membatasi diri dengan alasan media daring membuat pemikiran manusia jadi terpecah dan tidak linear [5]. Padahal memajukan literasi daring seharusnya tetap dilakukan, dengan strategi khusus yang mengefektifkan kemasan dan pesan,

Jika semua produk milenial dianggap dangkal, naif, manja, sok tahu, apatis, dan serba instan, maka tamatlah riwayat peradaban. Saya saja kecewa kala tidak mampu menikmati roti dari toko tua yang cuma menyediakan stok terbatas (sampai 2 jam setelah buka).

Jika pewarisan ilmu, pemikiran, dan inovasi tidak terakses luas dalam bahasa dan gaya yang relevan, maka 2030 akan menjadi tahun kebodohan massal, seperti film Idiocracy (2006). Tak mau kan kalau generasi penguasa jagat masa depan fasih berteknologi, namun makin kehilangan fungsi dasar kemanusiaannya?

Kami milenial sadar, banyak yang harus dibenahi. Dari penggemar yang menganggap Paul McCartney bakal terkenal karena Kanye West, sampai yang bilang Pramoedya Ananta Toer adalah penulis baru, semua karena keabsenan tanggung jawab di generasi sebelumnya. Perbedaan wilayah geografis kini bukan pemisah. Antar benua sudah seperti rukun warga. Keterbukaan informasi diharapkan jadi jalan melawan dampak represi dan buah-buahnya.*

Daftar Pustaka:

[1] Karl Mannheim, The Sociological Problem of Generations, 1952

[2] Bencsik Andrea, Horváth-Csikós Gabriella, Juhász Tímea, Y and Z Generations at Workplaces, 2016

[3] https://www.vice.com/id_id/article/pakmpn/gestapu-menghapus-satu-generasi-intelektual-indonesia

[4] https://www.liputan6.com/news/read/3100315/syafii-maarif-banyak-perguruan-tinggi-kebobolan-radikalisme

[5] http://yellowcabin.com/penjelasan-bre-redana-tentang-senjakala-media-cetak/

 

Pendidikan Bukan Sekolah

Antri Jayadi

Pendiri PKBM Lallatassisara

 

Bagiku pendidikan adalah upaya manusia dalam memanusiakan setiap mahluk yang berakal bukan malah mengakali setiap mahluk. Tak ada lagi pendidikan tinggi, pendidikan menengah, ataupun pendidikan dasar sebab jika setiap yang berakal paham akan dasar dari pendidikan maka saya yakin tak perlu ada sekolah.

Berlandaskan pengalaman saya mengamati bahwa dasar dan akar dari keterbelakangan pendidikan bangsa kita adalah sistem. Yah, bagi saya sistem kita hari ini terlalu berpendidikan sehingga yang diutamakan adalah matematika dan logika. Karena itu orientasi pendidikan mengarah pada kehidupan layak, sementara tidak semua siswa mau mengerti bagaimana sebenarnya kehidupan yang layak itu.

Sistem pendidikan mengarahkan sekolah menjadi mesin grading yang mampu memilah antara siswa yang pintar dan siswa yang bodoh, sehingga pendidikan terkesan hanya diperuntukkan bagi mereka yang pintar. Kupikir bukan menggeneralisir, tetapi fakta tentang seleksi-seleksi memasuki sekolah yang berkualitas baik (unggulan), sudah cukup mengubur mimpi anak-anak yang berniat menjadi orang yang pintar.

Tes-tes (UN) ketidakpercayaan atas bakat dan minat siswa sudah cukup menghabiskan anggaran setiap tahunnya yang output-nya pun sama sekali tidak menjamin bahwa yang lulus adalah mereka yang pintar. Dari sistem seleksi masuk dan seleksi keluar sudah terjadi kesenjangan atas tujuan dari pendidikan kita. Bagi saya hanya ada satu tes untuk pendidikan, yaitu denyut nadi (hidup).

Berikutnya adalah sistem pembelajaran (kurikulum) hari ini. Masih banyak sekolah yang jika ditanya menggunakan kurikulum apa, jawabannya adalah kurikulum campuran. Yah, alangkah kreatifnya guru-guru kita hari ini. Penyebabnya bukan pada kurikulumnya melainkan pelaksana kurikulum tersebut.

Fakta di daerah saya, sekitar 80% sekolah, baik dasar maupun menengah, tenaga pengajar atau gurunya berstatus sebagai tenaga kontrak dan honorer yang akrab disapa sebagai sukarelawan. Artinya orang-orang yang menjalankan kurikulum adalah mereka yang suka dan rela dalam artian tidak ada tanggung jawab moril secara administratif dalam menjalankan kewajibannya sebagai guru. Sebut saja mereka kalau suka dijalankan kalau tidak yah dihiraukan. Bahkan tak ada satupun dari mereka yang takut atau keberatan ketika diberhentikan (dipecat) sebab mereka tak pernah merasakan keadilan dalam menjalankan tugasnya. Sebagai saksi perih keadilan bagi mereka adalah pemberian THR dan gaji ke-13 di hari raya islam. Mereka hanya menjadi penoton atas kerja ikhlas mereka.

Berkiblat pada negara dengan sistem pendidikan terbaik sebut saja Finlandia, yang menerapkan upah guru dan dokter disetarakan (sama) sebab mereka tahu betul bahwa manusia yang baik adalah mereka yang terdidik dan sehat. Berkaca pada Nawacita, pemerintah kita sebenarnya sudah sejalan dalam pembangunan bangsa Indonesia terbukti menjadikan pendidikan dan kesehatan sebagai program prioritas. Tinggal bagaimana program ini sampai pada level terbawah, anggap saja pelaksana (guru/dokter). Pertanyaanya gaji guru dan dokter sudah setara atau belum? Silakan di jawab.

Di Negara Finlandia, profesi guru adalah profesi yang dianggap mahal atau mulia sebab tidak mudah menjadi seorang guru disana. Menjadi guru harus melalui serangkaian seleksi dan wajib bergelar Magister (S2). Mereka tahu betul bahwa nasib bangsanya terletak di tangan para guru yang akan mendidik generasi penerus mereka. Sementara di Indonesia siapa saja bisa menjadi seorang guru selama mereka memiliki keinginan bahkan berjiwa relawan. Artinya, masa depan generasi kita terletak di tangan mereka yang mau mendidik dengan ikhlas, bukan mendidik dengan tanggung jawab masa depan. Buktinya adalah guru-guru yang mengajar di pelosok-pelosok negeri ini. Silakan ditanya ijasahnya apa dan gajinya berapa?

Dari beberapa sistem yang saya kemukakan tersebut adalah berdasarkan keresahan pribadi akan bagaimana masyarakat kita hari ini melihat dan mendefinisikan pendidikan sebagai hal yang tidak begitu penting. Saya tidak melihat pendidikan dasar atau pendidikan menengah. Tetapi bagaimana kita mengubah paradigma masyarakat, khususnya orangtua, bahwa yang terpenting bukan pada tahap pendidikan dasarnya ataupun pendidikan menengahnya atau bahkan pendidikan di dalam keluarga, tetapi bagaimana para orangtua paham akan dasar dari pendidikan, bukan pendidikan sebagai dasar. Yang tak kalah pentingnya adalah pendidikan bukan saja sekolah.

Kalaupun ditanya bagaimana seharusnya sistem pendidikan yang baik untuk sekolah dasar dan menengah, saya ingin menantang Kementerian Pendidikan Tinggi bertukar peran dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Artinya, para dosen diposisikan mengajari anak usia dini sampai SMA/SMK dan sebaliknya para guru SD sampai SMA/SMK diposisikan sebagai dosen di perguruan tinggi. Setelah itu kita akan mendengar testimoni dari para guru dan dosen, begitupun testimoni dari para siswa dan mahasiswa.

Dari hasil evaluasi tersebut, saya yakin bahwa para guru akan mendapatkan komentar dan perhatian yang lebih banyak. Saya siap bekerja untuk membuktikan bahwa yang terpenting bukanlah pendidikan dasar ataupun pendidikan tinggi melainkan bagaimana menyampaikan dasar (roh/arwah) dari pendidikan yang sebenar-benarnya sejak dini. Kita belum terlambat.

Saya bermimpi pada tahun 2030 yang mengajar di sekolah mulai dari level PAUD dan SD hingga SMP dan SMA/SMK adalah para profesor dan doktor, bukan lagi apa kurikulumnya.*

 

Ilustrasi: PBI

Perpustakaan 2030

Rena Asyari

Pendiri & Pengelola Konten RI2030.com

 

Perpustakaan Nasional RI. Tahun 2030. Anak perempuan berusia sepuluh tahun menyebutkan judul buku yang ia ingini. “Hansen dan Gretel” buku dongeng anak yang berusia hampir 250 tahun yang lalu. Ada jeda untuk menunggu kira-kira lima menit, kemudian mesin pencari mengeluarkan buku Hansel dan Gretel. Mesinnya persis seperti mesin penjual minuman kaleng di pinggir jalan.

Pemandangan tersebut kerap kita jumpai di perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Pemerintah telah mempunyai mesin pencari khusus untuk buku. Pembaca tinggal menyebutkan judul buku, lalu tak sampai lima menit mencari mesin pencari buku akan menemukannya. Tentu saja, jika mesin pencari kewalahan, pembaca harus sabar dan menyebutkan beberapa keyword tambahan seperti penulis dan penerbit buku tersebut. Selain itu, perpustakaan telah berubah wujud, bukan lagi menjadi tempat “horor” tapi menjadi tempat yang menyenangkan untuk melakukan ragam kegiatan.

Ruang-ruang diskusi, seminar, kuliah umum penuh. Di salah satu sudut halaman perpustakaan ada taman bermain anak yang penuh dengan sarana edukasi, sudut lainnya dipenuhi oleh muda-mudi yang sedang belajar. Dengan konsep perpustakaan yang modern, kini mendatangi perpustakaan menjadi semacam kebutuhan, bukan lagi keterpaksaan.

Selain perpustakaan besar yang ada di kota, banyak perpustakaan-perpustakaan kecil di daerah, dari Sabang sampai Merauke yang berdiri hampir lima belas tahun lalu ketika ada gerakan literasi yang didukung penuh oleh pemerintah pada saat itu. Perpustakaan di daerah pun turut berubah wajah. Selain mendapatkan sumbangan berupa mesin pencari buku dari pemerintah, perpustakaan yang ada di daerah kini makin terawat, bangunannya layak huni, manajemennya perpustakaannya sudah dikelola baik, profesi pustakawan pun menjadi rebutan.

Di perpustakaan daerah, selain buku, di ruangan ada tambahan meja panjang yang di atasnya berjejer layar berukuran 5cm kali 10cm.  Ada ribuan buku yang bisa kita akses pada alat kecil tersebut. Buku-buku berubah menjadi bentuk digital. Layar berukuran mini tersebut tak membuat mata lelah membaca, bentuknya kecil dan ringan sehingga gampang dibawa kemana saja.

Jikalau ingin meminjam beberapa judul buku, pustakawan akan mengeluarkan sebuah benda bentuknya mirip telepon genggam. Kita tinggal menyebutkan buku apa yang ingin kita pinjam, lalu pustakawan dengan cekatan akan menambahkan judul buku pada alat yang akan kita bawa. Tak perlu khawatir barang tak kembali, perilaku para pembaca sudah berubah, mereka bertanggung jawab pada barang yang ia pinjam.

Indonesia, tahun 2030. Adalah sebuah negara yang maju, anak-anak mudanya menaruh minat yang tinggi pada literasi. Tempat-tempat komersil menjadi tempat yang sangat ramah literasi, mesin-mesin pencari buku ada di setiap kafe dan supermarket.

Anak perempuan tadi sudah berhasil mendapatkan buku yang ia ingini, buku “Hansel and Gretel” di tentengnya. Ia menuju kafe terdekat, matanya sibuk melihat anak-anak sebayanya juga menenteng buku dan membacanya di kafe, ya kafe! Ia kemudian hanyut dalam cerita “Hansel dan Gretel”. Di usianya yang masih belia ia tak perlu paham bagaimana negeri ini telah bertumbuh.*

 

Ilustrasi: HG