Perpustakaan 2030

Rena Asyari

Pendiri & Pengelola Konten RI2030.com

 

Perpustakaan Nasional RI. Tahun 2030. Anak perempuan berusia sepuluh tahun menyebutkan judul buku yang ia ingini. “Hansen dan Gretel” buku dongeng anak yang berusia hampir 250 tahun yang lalu. Ada jeda untuk menunggu kira-kira lima menit, kemudian mesin pencari mengeluarkan buku Hansel dan Gretel. Mesinnya persis seperti mesin penjual minuman kaleng di pinggir jalan.

Pemandangan tersebut kerap kita jumpai di perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Pemerintah telah mempunyai mesin pencari khusus untuk buku. Pembaca tinggal menyebutkan judul buku, lalu tak sampai lima menit mencari mesin pencari buku akan menemukannya. Tentu saja, jika mesin pencari kewalahan, pembaca harus sabar dan menyebutkan beberapa keyword tambahan seperti penulis dan penerbit buku tersebut. Selain itu, perpustakaan telah berubah wujud, bukan lagi menjadi tempat “horor” tapi menjadi tempat yang menyenangkan untuk melakukan ragam kegiatan.

Ruang-ruang diskusi, seminar, kuliah umum penuh. Di salah satu sudut halaman perpustakaan ada taman bermain anak yang penuh dengan sarana edukasi, sudut lainnya dipenuhi oleh muda-mudi yang sedang belajar. Dengan konsep perpustakaan yang modern, kini mendatangi perpustakaan menjadi semacam kebutuhan, bukan lagi keterpaksaan.

Selain perpustakaan besar yang ada di kota, banyak perpustakaan-perpustakaan kecil di daerah, dari Sabang sampai Merauke yang berdiri hampir lima belas tahun lalu ketika ada gerakan literasi yang didukung penuh oleh pemerintah pada saat itu. Perpustakaan di daerah pun turut berubah wajah. Selain mendapatkan sumbangan berupa mesin pencari buku dari pemerintah, perpustakaan yang ada di daerah kini makin terawat, bangunannya layak huni, manajemennya perpustakaannya sudah dikelola baik, profesi pustakawan pun menjadi rebutan.

Di perpustakaan daerah, selain buku, di ruangan ada tambahan meja panjang yang di atasnya berjejer layar berukuran 5cm kali 10cm.  Ada ribuan buku yang bisa kita akses pada alat kecil tersebut. Buku-buku berubah menjadi bentuk digital. Layar berukuran mini tersebut tak membuat mata lelah membaca, bentuknya kecil dan ringan sehingga gampang dibawa kemana saja.

Jikalau ingin meminjam beberapa judul buku, pustakawan akan mengeluarkan sebuah benda bentuknya mirip telepon genggam. Kita tinggal menyebutkan buku apa yang ingin kita pinjam, lalu pustakawan dengan cekatan akan menambahkan judul buku pada alat yang akan kita bawa. Tak perlu khawatir barang tak kembali, perilaku para pembaca sudah berubah, mereka bertanggung jawab pada barang yang ia pinjam.

Indonesia, tahun 2030. Adalah sebuah negara yang maju, anak-anak mudanya menaruh minat yang tinggi pada literasi. Tempat-tempat komersil menjadi tempat yang sangat ramah literasi, mesin-mesin pencari buku ada di setiap kafe dan supermarket.

Anak perempuan tadi sudah berhasil mendapatkan buku yang ia ingini, buku “Hansel and Gretel” di tentengnya. Ia menuju kafe terdekat, matanya sibuk melihat anak-anak sebayanya juga menenteng buku dan membacanya di kafe, ya kafe! Ia kemudian hanyut dalam cerita “Hansel dan Gretel”. Di usianya yang masih belia ia tak perlu paham bagaimana negeri ini telah bertumbuh.*

 

Ilustrasi: HG

Advertisements

Mencapai Sasaran Pembangunan Berkelanjutan: Mungkinkah?

Hendra Gunawan

Pendiri & Pengelola Program RI2030.com

 

Berbicara tentang masa depan, ada buku “Physics of the Future” karangan Michio Kaku yang memprediksi peradaban hingga tahun 2100, dari sudut pandang kemajuan sains. Kaku adalah seorang fisikawan, namun ia tidak hanya berbicara tentang kemajuan dalam bidang fisika. Dalam bukunya, ia juga meramalkan apa yang akan terjadi dalam bidang komputer, robotika, kedokteran, dan perjalanan luar angkasa.

Selain buku Kaku, ada juga buku “The Next 100 Years” karangan George Friedman. Berbeda dengan Kaku, Friedman meramalkan apa yang akan terjadi pada negara-negara di berbagai belahan Bumi. Selain masalah geopolitik, Friedman juga menyoroti masalah ekonomi dan sosial, serta arah perkembangan teknologi di abad ke-21.

Membaca buku-buku seperti itu serasa membaca buku fiksi, walau kedua buku di atas bukan novel techno-thriller seperti “Ghost Fleet” karangan P.W. Singer. Pikiran kita bisa mengawang-awang, seolah sedang berada di masa depan.

Berada di Indonesia, yang statusnya saat ini masih merupakan “negara berkembang”, ramalan masa depan versi Kaku ataupun Friedman bak khayalan atau dongeng fiktif. Jangankan membayangkan apa yang akan terjadi 50 hingga 100 tahun ke depan, memikirkan apa yang akan terjadi pada pemilu yang akan datang pun sudah bikin puyeng.

Sialnya, pikiran kita di negeri tercinta ini seolah tak pernah lepas dari pemilu ke pemilu, dari pilpres ke pilpres, bahkan dari pilkada ke pilkada, dengan berbagai dramanya. Padahal, di luar sana, perubahan terjadi dengan amat cepat. Sejujurnya, berbicara perihal apa yang akan terjadi sepuluh tahun ke depan saja mungkin sulit.

Tengoklah misalnya Sasaran Pembangunan Berkelanjutan 2030 (SPB 2030) yang terdiri atas 17 sasaran dengan 169 indikator capaian yang terukur dan tenggat waktu tertentu, hingga tahun 2030. SPB tahun 2030 ditetapkan oleh PBB sebagai agenda pembangunan dunia untuk kesejahteraan manusia dan keberlanjutan planet Bumi.

Sebagai gambaran, di antara 17 sasaran tersebut, ada sasaran terhapusnya kemiskinan dan kelaparan di seluruh negara (Sasaran ke-1 dan ke-2). Kemudian ada sasaran tersedianya air bersih dan sanitasi layak, serta energi bersih dan terjangkau (Sasaran ke-6 dan ke-7). Terkait dengan lingkungan, ada sasaran penanganan perubahan iklim, ekosistem laut, dan ekosistem daratan (Sasaran ke-13, 14, dan 15).

Salah satu sasaran dalam SPB tahun 2030 yang menarik perhatian saya adalah terwujudnya pendidikan berkualitas dan kesempatan belajar seumur hidup bagi semua orang (Sasaran ke-4). Sebagaimana kita ketahui, rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia saat ini masih tergolong rendah, yakni 7,95 tahun (data BPS tahun 2016). Ini berarti bahwa siswa kita pada umumnya putus sekolah di jenjang SMP. Di beberapa provinsi, keadaannya lebih parah. Sila intip statistik rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah per provinsi yang telah dirangkum di

https://lokadata.beritagar.id/chart/preview/harapan-lama-sekolah-hls-dan-rata-rata-lama-sekolah-rls-menurut-provinsi

Pertanyaannya kemudian: Dapatkah, pada tahun 2030 nanti, rata-rata lama sekolah menjadi setidaknya 12 tahun dan para lulusan pendidikan menengah memiliki pengetahuan umum yang memadai, sehingga mereka dapat bekerja dan menghidupi dirinya sendiri? Lebih jauh, dapatkah para pemuda kita, setidaknya separuhnya, mengenyam pendidikan tinggi dan memiliki kemampuan yang cukup sehingga mereka dapat bersaing di era yang semakin ganas nanti?

Sebagai insan yang berkecimpung di dunia pendidikan, saya tentunya berharap hal itu dapat terwujud. Namun, saya tidak bisa duduk manis membayangkan hal itu terjadi dengan sendirinya. Sejak tahun 2013, saya membuat blog anakbertanya.com, untuk memperkenalkan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan keprofesian serta sosok-sosok anutan kepada anak-anak. Harapannya anak-anak akan terinspirasi, tetap sekolah, dan tidak berhenti belajar.

Dua belas tahun lagi, tahun 2030 itu tiba. Pada saat itu, nasib bangsa berada di tangan para pemuda yang akan menakhodai kapal Indonesia mengarungi masa, menuju era baru.

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi

Merindukan Ruang Untuk Anak

Dy Murwaningrum

Pendiri & Editor RI2030.com

 

Tahun 2030, jika waktunya datang, siapa yang berdiri paling tegap? Tentu saja generasi yang hari ini masih sibuk bermain dengan keceriaannya. Atau, remaja yang berkejaran dengan cinta monyet di balik seragam putih birunya.

Apa yang sempat kita bekalkan untuk generasi yang suatu hari nanti akan menyangga dunia kita? Membekalinya dengan pengetahuan, mental yang tak gampang remuk, kreativitas, kepatuhan pada agama, semua itu bukan tanggung jawab satu atau dua lembaga namun seluruh masyarakat.

Setelah kita puas mengais-ngais berita tentang tahun-tahun runtuhnya sebuah Negara atau malah tentang kiamat, akhirnya 2030 tetap menjadi angka penasaran setelah 1999 atau 2012, bukan?

Ada pertanyaan di lintasan pikiran kita tentang tahun 2030. Di mana kita? Bagaimana anak-anak kita? Amunisi kecakapan bagi generasi kecil ini, tentu perlu dipersiapkan dari sekarang. Melalui media, ataupun interaksi langsung.

Jika menilik kembali media-media kita baik radio, televisi, ataupun koran, dominasi kepentingan dewasa memang jauh lebih banyak daripada urusan anak-anak. Orang dewasa punya banyak kolom-kolom di koran yang bicara tentang kepentingannya.

Politik, harga saham, perceraian artis, TTS, iklan kecik, dan lain-lain. Begitu juga dengan televisi yang bertabur sinetron pada malam hari, gosip di pagi dan sore hari. Radio juga dipenuhi oleh koleksi lagu-lagu dewasa atau komunikasi dua arah melalui telepon antara penyiar dan pendengar dewasa.

Sedikitnya tontonan yang mendidik bagi anak-anak, mungkin memang dimaksudkan agar anak-anak fokus belajar. Namun, kenyataannya banyak sekali anak-anak yang super aktif mengikuti gosip atau sinetron yang minim muatan edukasi bagi anak.

Majalah untuk anak-anak terlebih majalah dan bacaan berbahasa lokal seolah tak pernah disarankan oleh orangtua bagi anak-anaknya. Anak-anak lebih suka membeli komik horor bermuatan agak dewasa, yang dijual oleh penjaja mainan seharga Rp 1500 tiap eksemplarnya.

Cerita atau dongeng lokal yang bertujuan mengangkat imajinasi kanak-kanak, akhir-akhir ini justru sering terbentur dengan berbagai dogma. Cerita khayal tak disarankan, namun cerita horor mendapat respon yang berbeda.

Media hiburan untuk anak rasanya tak sebanyak dulu di era 90-an, saat marak boneka tangan, boneka yang digerakkan dengan benang, atau belajar menggambar bersama pak Tino Sidin. Ketika itu televisi menjadi corong informasi dan pengetahuan, pengantar gambar bergerak terluas dalam format elektronik.

Televisi sudah bukan lagi menjadi sahabat anak hari-hari ini, khususnya anak-anak desa yang masih terengah-engah untuk mendapatkan koneksi internet. Atau sebaliknya, anak desa yang justru tergagap-gagap dengan teknologi, duduk seharian di warung wifi hingga bolos sekolah.

Tak jauh juga nasib anak-anak dan musiknya. Agaknya artis cilik Indonesia tidak lagi dikenal secara nasional. Musik anak di televisi atau radio, proporsinya makin mengikis. Kita hanya bisa berharap, pada tukang Odong-odong yang lewat setiap sore atau mangkal pagi hari di pasar kaget, menanti anak-anak menikmati Odong-odong yang dikayuhnya sambil manggut-manggut mendengar lagu anak Nusantara.

Pesimis memang jika melihat minimnya perhatian kita pada generasi yang nantinya akan kita titipi berlangsungnya masa depan. Namun, optimisme juga timbul seketika kita melihat laju literasi telah menjangkau pelosok tanah air akhir-akhir ini.

Informasi dan pengetahuan bisa kita hantarkan melalui buku-buku bersayap. Kesadaran mulai tumbuh justru bukan dari lembaga-lembaga besar, namun dari individu-individu, komunitas bebas di masyarakat. Gejala ini menjadi harapan baru, menyala dan menguat karena benar tumbuh dari kesadaran, bukan anjuran pemerintah.

Memang, tak mudah meminta ruang-ruang hiburan atau informasi yang dikelola oleh industri yang bicara laba melulu. Namun kita bisa bicara langsung dari interaksi atau lewat karya di bidang masing-masing.

Geliat film anak, animasi edukatif makin banyak di akun media online. Meski belum meluas namun ada harapan. Komik, cerita bergambar dan novel yang sarat edukasi anak mulai muncul dengan harga yang relatif terjangkau. Hal lain, ternyata banyak juga teman-teman yang menyelenggarakan nonton film bareng di pelosok.

Komunitas-komuntas kecil yang bekerja dalam senyap maupun lantang, makin menjamur dan bergerak serentak. Inilah cahaya dan harapan bagi generasi kecil kita. Kesadaran dan bergerak adalah bahan bakar jangka panjang bagi nyala optimisme ini. Semoga pemerintah dapat memuluskan jalan yang telah dibuka oleh banyak pihak ini.*

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi

Masih Ada Gelap di Antara Nyala Terang Kartini

Rena Asyari

Pendiri & Pengelola Konten RI2030.com

 

Hampir saja buku berjudul Door Duisternis Tot Licht terjatuh dari tangannya. Turbulensi pesawat membuat Sinta berkali-kali menegakkan duduknya, ia harus sabar setidaknya lima jam lagi untuk mendarat di Bandara Amsterdam.

Sinta kembali mengingat rentetan peristiwa yang menguras emosi. Ia tak pernah menduga ibunya menjadi salah satu dari sekian banyak TKW ilegal yang pulang tanpa nyawa.

Lima tahun lalu, dengan alasan ekonomi ibunya meninggalkan seluruh kehidupannya di tanah air. Pergi ke Suriah. Negeri dengan konflik agama yang tak kunjung usai.

Dua tahun berlangsung tanpa kabar, membuat Sinta tak banyak berharap, hingga ia mendapati kenyataan bahwa ibunya mengalami kekerasan dari majikannya.

Mayat ibunya datang dengan banyak luka lebam di sekujur tubuh, tepatnya 2015 lalu. Seluruh impian ibunya untuk dapat hidup lebih baik, ikut terkubur dalam tempurung kepalanya yang lembek karena berkali-kali terkena hantaman benda tumpul.

Para pejabat memenuhi rumahnya yang sempit di sebuah desa kecil di Jawa Barat. Kakaknya, Sumiyati datang tergopoh-gopoh. Tangisnya pecah ketika melihat mayat ibunya. Sumiyati susah payah meminta izin kepada kepala pabrik tempat ia bekerja untuk cuti satu hari, karena ingin melihat ibunya di kali terakhir.

Sumiyati menjadi bagian dari ratusan ribu perempuan yang menggantungkan harapan di pabrik. Sumiyati tak pernah tahu kapan ia harus mengakhiri seluruh ritme hidupnya yang monoton.

Kerja delapan jam dengan satu posisi, yaitu mencabuti benang dari pakaian-pakaian setengah jadi. Aktivitas yang telah dilakoninya empat tahun terakhir. Ia dan teman-temannya kadang bertekad untuk keluar dari pabrik, tetapi selalu saja niat itu urung. Entah karena kebutuhan atau karena tiadanya pilihan.

Kebebasan yang didengung-dengungkan di gedung-gedung parlemen tak pernah berlaku untuk orang-orang macam Sumiyati. 21 April yang ditandai dengan gegap gempita atas bangkitnya hak-hak perempuan tak benar-benar ia nikmati. Ia dan ribuan temannya masih saja menjadi buruh, menghamba, harus seragam dan tak pernah mendapat ruang untuk bertanya.

Sinta menghela nafas panjang. Dua orang perempuan terdekatnya hidup penuh ketidakadilan. Ia kembali membuka buku Door Duisternis Tot Licht, kumpulan surat-surat gadis Jawa di penghujung abad ke-19.

Panggil aku Kartini saja begitulah gadis Jawa itu mengenalkan namanya. Seratus sembilan tahun lalu, untuk pertama kalinya pemikiran dan kegelisahan perempuan muda asal Jepara itu terdokumentasi.

Dalam suratnya tertanggal 25 Mei 1899 yang ditujukan kepada karibnya E.H Zeehandelaar, ia menulis: Sejak saya masih kanak-kanak, kata “emansipasi” belum ada bunyinya, belum ada artinya bagi telinga saya, dan tulisan serta karangan mengenai hal itu jauh dari jangkauan saya, timbul dalam diri saya keinginan yang makin lama menjadi makin kuat, yaitu keinginan akan kebebasan, kemerdekaan, berdiri sendiri”.

Kartini berumur dua puluh tahun kala itu. Hari-harinya dipenuhi dengan membaca dan menyimpan banyak pertanyaan. Budaya dan lingkungannya masih sangat feodal. Ia heran mengapa kakaknya Raden Mas Sosrokartono boleh bersekolah, sedangkan ia dan dua adik perempuannya harus dipingit. Mengapa pula berjalan harus dengan berjinjit dan menggunakan bahasa Jawa kromo inggil kepada yang lebih tua darinya.

Suratnya kepada Stella 18 Agustus 1899 mempertanyakan tentang etiket Jawa yang menurutnya tidak masuk akal tersebut. “…. akan kami ceritakan beberapa kisah nyata. Adik saya tidak boleh mendahului saya, kecuali dengan merangkak di tanah. Kalau adik duduk di kursi dan saya lewat, maka ia harus segera turun dan duduk di bawah dengan kepala tunduk, sampai saya jauh melewatinya….. Sinta bergidik membayangkan kehidupan Kartini. Tiba-tiba ia merasa beruntung.

Selain memperjuangkan kemerdekaan dan kesetaraan, Kartini pun ingin anak-anak perempuan Bumiputera mendapatkan pengajaran. Suratnya tertanggal 19 april 1903 untuk pemerintah Hindia Belanda terdengar sangat lantang, “Perempuan sebagai pendukung peradaban, juga di tanah matahari!” Perempuan Jawa harus dididik, harus diberi pelajaran, harus turut serta dalam pekerjaan raksasa: “pendidikan bangsa yang berjuta-juta!”.

Betapa besarnya perhatian Kartini pada pendidikan perempuan. Di suratnya yang lain tak luput ia menceritakan kegembiraanya tentang berdirinya sekolah Belanda swasta di pedalaman Priangan. Sekolah bersubsidi khusus untuk anak-anak bangsawan Bumiputera dan mempunyai murid gadis berjumlah dua puluh orang.

Ada bulir bening di sudut matanya, Sinta berterima kasih pada Kartini. Ia sudah tiga tahun mendapat beasiswa sekolah di Universitas Leiden, Belanda. Sinta teringat Kartini yang mengantongi surat lulus permohonan beasiswa dari pemerintah Hindia Belanda. Mengingat ayahnya Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara sudah memasuki usia senja dan sakit-sakitan, Kartini pun urung pergi.

Kartini dihantarkan pada pilihan untuk mewujudkan mimpinya bersekolah atau memenuhi baktinya pada orang tua di ujung waktunya. Kartini pun menyerahkan surat beasiswa itu kepada karibnya Agus Salim, seorang yang sangat cerdas.

Sejak surat-suratnya dikumpulkan dan diterbitkan tahun 1911 oleh Mr. J. H. Abendanon, suara-suara Kartini tak lagi membisu dalam kertas. Raganya boleh berumur pendek tetapi semangat dan pemikirannya terus hidup, menginspirasi setiap perempuan.

Kartini tak sendiri. Di lain tempat, beratus mill jarak darinya, dengan suara yang hampir tak terdengar ke pelosok negeri. Lasminingrat yang tinggal di Garut pun sudah berbicara tentang kesetaraan dan kebebasan di tahun 1875. Bukunya Hikayat Erman dan Warnasari menjadi tumpahan pemikirannya.

Langkahnya disusul Dewi Sartika tahun 1904 dengan mendirikan Sakola Istri di Bandung. Sekolah yang diperuntukkan untuk perempuan, agar perempuan mempunyai ragam keahlian, seperti menjahit, memasak, memotong rambut dan lainnya.

Di Bandung pula, Emma Poeradireja tahun 1927 mendirikan Dameskring. Organisasi yang diperuntukkan bagi perempuan muda terpelajar yang berasal dari beragam suku bangsa.

Emma juga menjadi salah satu dari tiga perempuan yang mengikuti Kongres Pemuda II tahun 1928. Nama Emma Poeradireja kini dikenal sebagai salah satu Rumah Sakit Bersalin di Bandung yang terletak di jalan Sumatera.

Melalui buku-bukunya Soewarsih Djojopuspito pun turut andil memberikan pandangan yang terbuka tentang bagaimana perempuan harus menghargai dirinya sendiri. Buku Soewarsih berjudul “Manusia Bebas” yang ditulisnya tahun 1939, berhasil memotret pergolakan batin perempuan di kala itu.

Sinta mendengar kiprah Lasminingrat, Kartini, Dewi Sartika, Emma Poeradiredja dan Soewarsih dari dosennya di Leiden. Mereka adalah sedikit dari banyak perempuan yang berjuang untuk memerdekaan dirinya. Pergerakan mereka tak main-main. Perempuan Indonesia hari ini, tinggal menikmati perjuangannya.

Mereka adalah para pelopor yang telah memberikan jalan sekaligus pilihan. Akankah kita terus bergerak menuju peradaban yang lebih baik dengan cara menghargai diri sendiri dan sesama? Memilih berdiam diri, abai dan cenderung bersembunyi dari ketidakadilan asalkan diri dan keluarga aman? Atau, malah beradu mulut yang tak kunjung henti dan menghakimi sesama perempuan?

Tak terasa, pesawat yang ditumpangi Sinta hampir mendarat di Bandara Amsterdam. Kenangan akan ibunya ia simpan rapat-rapat. Ia melihat layar smartphonenya, 21 April 2018. Udara sejuk mulai menyapa, bunga-bunga tulip yang bermekaran nampak dari kejauhan.*

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi

Tinggal 27 Jam Lagi

Hendra Gunawan

Pendiri & Pengelola Program RI2030.com

 

Pagi hari itu saya tiba di kantor untuk mengambil beberapa barang pribadi. Masih ada dua dus berisi buku yang tertinggal, dan beberapa foto, piagam, plakat, serta pernak-pernik lainnya yang belum saya bawa pulang.

Ya, hari itu adalah hari terakhir saya ke kantor. Setahun sebelumnya, saya telah memutuskan untuk pensiun lebih awal daripada batas usia pensiun. Alasannya sederhana, saya ingin menikmati sisa hidup saya untuk membaca buku-buku yang saya miliki (yang saya beli sejak lama tetapi tak pernah tuntas saya baca). Selain itu, saya juga ingin berkeliling Indonesia. Walau saya pernah ke beberapa kota di Sumatera, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua, masih banyak tempat di Indonesia yang belum pernah saya kunjungi.

Sambil menyortir barang-barang yang tersisa di kantor, saya mengamati foto-foto, piagam, dan plakat yang tersimpan di rak. Ingatan saya pun kembali ke masa-masa lampau. Ada sebuah foto bersama para mahasiswa tahun pertama. Foto bersama seusai kuliah terakhir di Gedung TVST.

Saya mencoba mengingat beberapa wajah di antara mereka. Dua orang di antaranya saya ingat persis. Yang pertama menjadi dosen di ITB, karenanya dengan mudah saya mengingatnya. Yang kedua adalah mahasiswa yang kemudian mengambil Tugas Akhir dengan saya, karenanya saya juga tidak pernah lupa dia. Belakangan, dia melanjutkan studi ke Australia, dan setelah mendapatkan gelar doktornya dia bekerja sebagai peneliti di Afrika Selatan, dan akhirnya menjadi dosen tetap di sana.

Di antara piagam yang ada di rak, salah satunya adalah piagam yang saya terima dari Himpunan Mahasiswa Matematika ITB pada tahun 2011. Mereka memberi saya piagam tersebut atas partisipasi saya sebagai pembicara dalam acara Latihan Kepemimpinan dan Organisasi Himatika ITB. Sebuah acara tahunan yang diadakan bagi para anggota baru Himatika ITB. Tertulis di piagam tersebut: “Leadership is action, not position.” (Mohon dimaklumi bahasa Inggrisnya.)

Beberapa poster masih menempel di pintu lemari dan di kaca jendela. Sambil mencopot poster-poster tersebut, saya pun tersenyum dan ingatan saya tersibak kembali ke masa-masa indah ketika saya bercengkerama dengan anak-anak SD dan menyaksikan mata mereka berbinar-binar mendengarkan cerita saya tentang bagaimana caranya mengukur jari-jari Bumi.

Tepatnya sejak 2011, saya banyak menyisihkan waktu untuk anak-anak. Saat itu, saya menyadari bahwa masa depan Indonesia ada di tangan anak-anak. Setiap saat saya menatap anak-anak, saya merasa sedang menatap Indonesia masa depan. Banyak yang mengatakan bahwa pada tahun 2030 Indonesia akan menikmati ‘bonus demografi’.

Ketika ada pro-kontra Kurikulum 2013, saya memutuskan untuk membuat blog anakbertanya.com, sebuah ruang tempat anak-anak bertanya tentang berbagai hal. Sebagai pengelola blog, saya kemudian mencarikan orang yang sesuai bidangnya untuk menjawab pertanyaan mereka.

Bukan sekadar blog, saya dan kawan-kawan juga mengadakan banyak acara khusus bagi anak-anak. Setiap tahun sejak 2015, saya dan kawan-kawan menggelar festival untuk anak-anak yang haus akan pengetahuan. Misi saya dan kawan-kawan adalah menginspirasi anak-anak Indonesia agar bercita-cita tinggi dan bekerja keras mewujudkan cita-citanya.

Pada awal semester lalu, ada seorang mahasiswa baru datang ke kantor saya. Ditanya apa keperluannya, dia bercerita bahwa dia hanya ingin menyapa saya. Ketika kecil, dia membaca buku Anak Bertanya Pakar Menjawab yang saya sunting. Sejak itu dia bertekad untuk belajar dengan rajin, dan akhirnya dia pun diterima di ITB di program studi yang diminatinya, yaitu Astronomi.

Tak terasa sudah setengah harian saya berada di kantor. Semua barang yang saya putuskan untuk dibawa pulang ke rumah telah berada dalam dus. Dibantu oleh seorang karyawan, barang-barang tersebut dibawa ke mobil. Kunci kantor pun saya titipkan kepadanya, karena hari itu hari libur — tidak ada dosen atau karyawan lain yang masuk. Tidak ada acara perpisahan khusus di FMIPA-ITB di hari terakhir seseorang bekerja, apalagi di waktu libur.

Malam harinya di rumah, saya menatap kalender — yang hanya tinggal satu lembar terakhir. Hari itu merupakan dua hari terakhir di tahun 2029. Di balik kalender itu, sudah terpasang kalender baru, kalender tahun 2030. Ada perasaan tak sabar menanti datangnya tahun baru yang tinggal 27 jam lagi.*

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi