Kemerdekaan Perempuan Meningkatkan Produktivitasnya Menghadapi Tantangan Bonus Demografi

Bernard M

Ketua Peduli Bonus Demografi Riau

 

Kemerdekaan perempuan memilih peran aktifnya di tengah masyarakat dalam meningkatkan taraf hidup cenderung memiliki tantangan streotip tersendiri di tengah masyarakat. Terlebih jika dikaitkan dalam peran gandanya ketika akhirnya ia berkeluarga. Padahal, perempuan semakin memiliki peran penting dalam pembangunan nasional, khususnya dalam memaksimalkan potensi bonus demografi yang sebentar lagi akan merata di Indonesia. Peran yang dimaksud adalah terjunnya perempuan ke dalam dunia kerja.

Riset International Labour Organization (ILO) pada tahun 2015 memperlihatkan indikator bahwa jumlah perempuan yang menjadi pengangguran mencapai sekitar 6,2 persen, lebih besar dibandingkan dengan jumlah pria menganggur yang hanya sekitar 5,5 persen. Mirisnya lagi, pekerjaan perempuan cenderung lebih rendah kualitasnya dibandingkan dengan pekerjaan pria. Ini menjadi sebuah pekerjaan rumah besar bagi dunia kerja Indonesia.

Kabar baiknya, potensi perempuan dalam berkarier menunjukkan hal yang berbeda. Perempuan di Asia Tenggara justru diberikan kesempatan posisi strategis dalam sebuah perusahaan, yaitu sebesar 34 persen (Hasil Survei Grand Thorthon, 2015), sehingga ragam posisi penting perusahaan yang dapat diisi cenderung lebih terbuka terhadap perempuan.

Kedua hal diatas jelas memberikan suatu indikator bahwa peran krusial perempuan sebenarnya bisa lebih dimaksimalkan jika ruang kesempatan dibuka lebar. Pertanyaannya sekarang, bagaimana perempuan menjadi lebih memiliki kesempatan yang lebih baik dalam bursa kerja? Atau lebih tepatnya, bagaimana perempuan menjadi produktif?

Menjadi produktif dengan mandiri berwirausaha tentu saja menjadi solusi yang efektif. Berwirausaha tentu saja pilihan yang tepat apalagi gelombang penjualan dalam jaringan (daring) semakin terlihat deras saat ini dengan semakin bertebarannya atribut kanal-kanal seperti laman, media sosial, youtube, blog, dan berbagai market place gratis sebagai katalisator infomasi yang murah, mudah, efisien dan memiliki daya jangkau sosial dan pasar yang luas. Potensi ini juga semakin diperkuat dengan penetrasi Internet sekitar 143 juta jiwa, yang semakin besar setiap tahun di Indonesia berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII, 2017).

Menjadikan atribut kanal-kanal inovasi teknologi tersebut dalam berwirausaha lebih memungkinkan perempuan memiliki pendapatan yang lebih besar karena kontrol atas manajemen usaha dan alternatif segmen produk dan jasa yang memiliki variabel lebih dari satu jenis. Dalam hal ini pekerjaan yang cenderung berkualitas rendah dapat dihindari. Apalagi dalam memahami dan proses bagaimana mengembangkan model bisnis daring ini relatif cukup mudah dan tidak membutuhkan biaya yang terlalu besar. Informasinya juga tersebar di Internet dan kebanyakan tidak berbayar.

Hanya saja, untuk lebih memaksimalkan model ekonomi penjualan daring ini, jelas dibutuhkan sosialisasi dan edukasi dari pemerintah pusat dan perangkat daerah dalam melatih serta memaparkan peluang tersebut. Merinci potensi-potensi daerah yang bisa dijadikan objek usaha agar lebih jitu dan menyerap banyak minat kaum perempuan. Sebagai ilustrasi, potensi daerah yang lebih memiliki keistimewaan seni kriya, desain atau busana, lebih relevan jika mengutamakan penjualan hasil karya tersebut.

Dengan semakin banyaknya daerah-daerah yang memanfaatkan momentum pemasaran digital saat ini yang telah merambah ke banyak sektor ekonomi, akan tercipta banyak pengusaha srikandi yang tidak hanya memprioritaskan hidupnya untuk bekerja tapi juga produktif dengan berwirausaha. Partisipasi perempuan juga secara langsung akan meningkatkan pendapatan jika perempuan telah berkeluarga sehingga kualitas pendidikan dan kesehatan dapat lebih meningkat.

Menelisik rasio kewirausahaan terhadap total penduduk di Indonesia tahun 2017 sekarang memang sudah cukup tinggi, sekitar 3,1 persen. Namun kita masih kalah jauh dari Malaysia dan Singapura yang masing-masing memiliki rasio wirausahawan 5 persen dan 7 persen. Dari paparan data ini tersibak sebuah kesempatan, peran perempuan jika terjun dalam dunia usaha akan memaksimalkan rasio kewirausahaan menjadi lebih besar sehingga pertumbuhan ekonomi nasional jelas akan semakin signifikan.

Manifestasi perempuan dengan menempatkan dirinya menjadi mandiri dengan berwirausaha di era digital akan menimbulkan pemahaman serta dampak baru. Selain bekerja, ternyata terbuka sebuah peluang dalam berwirausaha yang memiliki fleksibilitas waktu dalam menjalankannya. Perempuan tidak lagi terkungkung dalam sebuah paradigma tradisional yaitu cukup bekerja dengan baik dan puas dengan karier tapi juga kepekaan mengaktualisasikan diri dalam meningkatkan peran gandanya dalam masyarakat dengan ikut menggerakkan ekonomi akar rumput karena ragam sektor ekonomi yang tersedia sangat variatif.

Produktivitas peran perempuan seperti inilah nantinya yang menjadi salah satu kunci memajukan pertumbuhan ekonomi di masa depan saat Indonesia diproyeksikan konsultan ternama dunia, salah satunya Mckinsey, menjadi kekuatan ekonomi terbesar ke-7 di dunia, yang akan semakin memiliki pengaruh besar di dunia internasional.

Apakah terang kesejahteraan ekonomi menjadi cahaya yang akhirnya melunturkan kegelapan dari kemiskinan akan dapat terwujud? Ini hanya bisa dijawab dengan “mata elang” para policy maker yang memiliki kepekaan dan fokus pada strategi progresif membaca dinamika zaman. Semoga.*

Advertisements

Anak-Anak dan Hari-harinya yang Hilang

Rena Asyari

Pendiri dan Pengelola Konten RI2030.com

Matahari hendak pulang kala riuh cicit burung bersahut-sahutan dengan gelak tawa ratusan anak-anak di istana kepresidenan. Mereka tampak bergembira, bermain dan berdendang. Celotehan riang dan teriakan antusias mengalir dari bibir mungil mereka tak henti-henti. Sesekali angin bertiup kencang memainkan anak rambut dan membuat suara anak-anak melengking. Ragam permainan tradisional turut diboyong ke istana. Seolah seperti benda langka, mereka berebut mainan, berpindah, melompat, berlari hingga tak terasa hari hampir habis. Ada perasaan yang membuncah melihat itu semua. Beberapa pasang mata orang dewasa yang hadir di Istana tampak memperhatikan gerak-gerik mereka sambil mungkin sesekali mengingat masa lalunya.

Hari itu, sehari menjelang tanggal 23 Juli 2018, bocah-bocah tersebut menjadi ‘raja’ kecil yang boleh melakukan apa saja. Hampir seluruh orang dewasa mendadak perhatian dan peduli. Televisi, radio, koran dipenuhi dengan para pemerhati anak. Di ruang maya bertebaran tagar selamat hari anak dibarengi uploadan foto tentang betapa ‘raja’ kecil itu sangat istimewa.

Sayang, selebrasi itu tak bertahan lama. Seperti tahun-tahun sebelumnya, dua atau tiga hari sesudahnya bocah-bocah itu tak lagi menarik. Konten-konten di dunia maya pun segera berganti dengan berita politik, korupsi, travelling, agama, bullying netizen, dan gegap gempita fenomena viral yang kebanyakan tidak mendidik bagi anak.

Orang-orang dewasa akan sibuk kembali berburu film terbaru di bioskop tanpa menyadari film anak sangat langka. Selama rentang waktu 2017 hingga Maret 2018 hanya ada 10% film dengan kategori semua umur, yang itupun tidak semuanya film anak. Langkah-langkah kaki kecil mereka kadang begitu saja melenggang ke ruangan bioskop yang sedang memutar film dewasa. Bukan karena mereka ingin, tapi tak ada pilihan lain.

Begitu juga dengan buku anak, jarang sekali ditemukan buku anak yang bermutu. Sementara, buku-buku untuk orang dewasa dicetak berulang kali, menjadi best seller dan dipampang didisplay paling luar meski kalender pendidikan menunjukkan sedang liburan sekolah. Seolah-olah lahir anggapan bahwa anak pergi ke toko buku hanya untuk berburu tempat pensil saja.

Bergantinya era menuju era digital mungkin menjadi salah satu faktor buku atau majalah anak kurang diminati. Dahulu, bocah-bocah berseragam putih merah bergantian membaca majalah Kuncung di perpustakaan, majalah khusus untuk anak yang terbit dari tahun 1950-an hingga mencapai masa kesuksesannya di tahun 1980-an dengan oplah mencapai ¼ juta eksemplar. Sayang, majalah Kuncung tutup usia di akhir 2000-an. Beruntung, majalah Bobo yang terbit dari tahun 1973 masih eksis hingga hari ini. Majalah Bobo pun menyesuaikan jaman, bentuk digitalnya bisa diakses dengan mudah.

Bagi anak-anak di perkotaan nasibnya lebih mujur. Ruang-ruang publik berupa taman bermain banyak dibangun. Perpustakaan anak dibuat semenarik mungkin hingga anak terasa betah berlama-lama membaca. Toko buku mudah dijangkau. Fasilitas olahraga pun kumplit. Tempat wisata edukasi, ruang-ruang kreativitas seperti sanggar banyak berdiri dan letaknya tak jauh dari rumah. Malangnya, tempat-tempat game online masih menjadi primadona anak laki-laki untuk menghabiskan waktunya.

Lain halnya dengan anak-anak di pedesaan. Nasib mereka mengenaskan. Tontonan perlahan menghilang. Hampir dua dekade lalu masih ada sedikit hiburan dari pabrik gula. Perkawinan tebu menjadi ajang yang ditunggu-tunggu. Enam bulan sekali, tiap musim panen, tebu-tebu diarak, diiringi musik dan puja-puji. Semarak, meriah, sekaligus mistis.

Tak hanya itu, belakangan sawah dan lapangan yang acapkali menjadi tempat bermain selepas pulang sekolah habis digerus oleh pembangunan. Arena bermain mereka telah berganti dengan wajah-wajah beton pabrik-pabrik industri yang sangar. Berbentuk kotak-kotak kubus menjulang, angkuh dan dingin.

Akhirnya, mau tak mau anak-anak di pedesaan melabuhkan dirinya pada warung wifi yang sedang menjamur, setelah sebelumnya ruang-ruang persewaan play station dan video game menjadi rumah kedua. Di beberapa wilayah di Jawa Barat, tarif warung wifi hanya Rp3.000,- per hari, anak-anak menjadi lupa waktu dan tak ada motivasi untuk belajar. Orang dewasa yang membuka bisnis ini menabur untung tanpa sedikitpun rasa peduli pada perkembangan mental anak.

Kabar-kabar tak sedap tentang anak kian hari kian banyak menghiasi layar kaca. Yang terbaru, publik dibuat terhenyak dengan berita dari Kalimantan Selatan tentang pernikahan anak. Data UNICEF menyebutkan Indonesia menempati urutan ketujuh dunia dan peringkat kedua tertinggi di Asia dalam kasus perkawinan anak. Faktanya, kita luput mengamati bahwa ada 1 dari 7 anak perempuan yang mengalami pernikahan anak.

Kasus kekerasan pada anak pun masih tinggi. Mata ini kian membelalak tatkala membaca laporan Global report 2017 : Ending Violance in Chilhood bahwa masih ada 73% anak mengalami kekerasan di rumah dalam bentuk fisik dan emosional. KPAI turut mencatat, ada 223 kasus kekerasan seksual anak dalam dua bulan di tahun 2018.

Angka-angka fantastis ini bukan hanya untuk dibaca dan disikapi sambil lalu oleh orang dewasa. Anak-anak, tangan kecil merekalah yang sepuluh tahun kemudian akan mengisi setiap sendi kehidupan dan segala kebijakan di negeri ini. Mereka harus tumbuh baik tidak hanya dalam satu hari saja, tanggal 23 juli. Bocah-bocah itu tak butuh perayaan. Mereka menunggu langkah dan tangan kita untuk terus mendampinginya dan menemaninya dalam setiap permainan.

Sudah seharusnya, setiap orang dewasa mengembalikan hari-hari mereka yang hilang. Turut merajutkan masa depan mereka, masa depan kita semua.*

K-Pop, Star Wars, dan Jagoan Perempuan

 

Venny Tania

Pendiri & Editor RI2030.com

 

Ribut-ribut tidak pernah surut di dunia maya. Capekkah Anda menonton atau justru senang mengompori fan war, twit war, dan cyber bullying?

Sekelompok manusia yang disebut penggemar, atau anti-fan atau haters (konon merupakan penggemar terselubung) biasa menimbulkan kegaduhan. Menurut filsuf John Fiske, penggemar adalah penikmat budaya (pop) yang berlebihan.

Di antara 3 milyar pengguna internet, bermukimlah jutaan penggemar yang membangun dunia sendiri karena pengaruh produk budaya pop seperti musik, film, film seri, komik, dan lain-lain. Di tengah usaha meningkatkan kesadaran persamaan hak dan perlawanan kekerasan seksual, beberapa penggemar ini malah merebakkan keributan dan aksi kontra.

Contoh kasus di Korea Selatan, beberapa selebritis tengah merekomendasikan sebuah buku berjudul ‘Kim Jin Young, Lahir 1982’. Nama-nama tenar k-pop seperti Sooyoung SNSD, Rap Monster BTS, dan Irene Red Velvet mengaku membaca buku tersebut. Bukunya konon bercerita mengenai perjuangan perempuan dan mengangkat isu diskriminasi gender yang terjadi setiap hari.

Bagi masyarakat Korea penghayat tradisi Konfusianisme yang menganggap perempuan sebagai rakyat pengabdi laki-laki yang diibaratkan negara, feminisme banyak dipandang sebagai pembangkangan. Setelah Irene Red Velvet mengaku membaca buku Kim Jin Young dalam sebuah acara, segelintir penggemarnya melakukan aksi boikot di forum internet. Mereka menggunting dan membakar foto serta pernak-pernik sang artis.

Bermula dari Amerika Serikat, sekelompok penggemar kebakaran jenggot dan merasa ‘racun feminisme’ telah merenggut kesayangan mereka. Star Wars adalah ikon klasik untuk dunia geek dan nerd, sekelompok orang yang sering diidentikkan sebagai kutu buku, canggung, hingga berpengetahuan luas di bidang tertentu. 3 film perdananya yaitu Star Wars: Episode IV – A New Hope (1977), The Empire Strikes Back (1980), dan Return of The Jedi (1983) dianggap sebagai kanon penginspirasi berbagai film lanjutan, serial, animasi, pernak-pernik, fan fiction, dan lain-lain. Namun regenerasi resmi salah satu waralaba terlaris dunia tersebut direspons cukup beragam.

Sebagian pembela kesetaraan, humanis, dan liberalis memuji film Star Wars terbaru yaitu The Last Jedi (2017) dan Rogue One: A Star Wars Story (2016). Dilansir Guardian, sineas dan psikolog Annalise Ophelian menyebut The Last Jedi (yang menampilkan protagonis generasi baru dari Rey, perempuan yatim piatu dari negeri antah berantah, yang diperankan Daisy Ridley) adalah puncak pencapaian kefeminisan Star Wars. Ada banyak peran pekerjaan, jabatan, generasi, ras, dan pemikiran berbeda untuk perempuan di film The Last Jedi. 1

Sebagian orang menyatakan kekecewaan karena peran jagoan laki-laki (dalam hal ini dibandingkan dengan dominasi peran utama klasik Luke Skywalker dan Han Solo) menjadi berkurang. Di media sosial, para fanboys merisak Kelly Marie Tran, aktris berdarah Vietnam yang mendapat screen time cukup banyak dalam film The Last Jedi. Akun Instagram Kelly diisi komentar-komentar yang mencela ras, fisik, dan perannya. Kelly menghapus akun instagramnya pasca perisakan tersebut.

Jurnalis Noam Cohen menulis di The New York Times mengenai kebangkitan kaum geek dan nerd ini, sehingga apa yang dulu diasosiasikan khas dengan mereka, kini menjadi komersial dan obsesi khalayak di arus utama. Cohen mengutip profesor seni, Thomas Dolby dari Johns Hopkins University, menyebutkan bahwa mewabahnya geek culture di dunia menciptakan dua pilihan : menjadi geek atau gaptek.2 Simak saja 30 film terlaris dunia sepanjang masa, Star Wars dan superhero adaptasi komik paling mendominasi. The Big Bang Theory jadi salah satu serial televisi paling digemari 10 tahun ke belakang (31 juta penyuka di Facebook). Rasakan betapa pengaruh produk geek dan nerd itu juga sudah memasuki kamar Anda dan generasi muda saat ini.

Kartunis Randall Munroe menyimpulkan bahwa situasi ini cenderung membentuk ekslusivitas dan elitisme modern. Setelah puluhan  tahun digambarkan culun dan aneh, kini yang berbau geek dan nerds dianggap umum dan trendi. Situasi ini cenderung membangkitkan komunitas yang lebih homogen dan eksklusif, dengan sikap merasa lebih keren dari kebanyakan, sehingga selalu muncul reaksi besar dan massal terhadap sesuatu yang berbeda. Kecenderungan mengotakkan sesuatu dengan aturan tertentu membuat budaya geek menjadi seksis dan kurang beragam.2

Mantan profesor Cultural Studies, John Storey, mengutip Joli Jensen (profesor Universitas Tulsa dan penulis) menyebutkan bahwa kelompok penggemar merupakan simtom atau patologis tak terhindarkan dari masyarakat urban. Penggemar suka memamerkan kesenangannya sehingga menimbulkan ekses emosional. Berbeda dengan lingkup resmi dan akademis yang lebih terkendali secara estetika dan berjarak, penggemar aktif mengembangkan kegiatan berburu (kesenangan) menjadi sebentuk seni (Michel de Certeau). Jensen juga menegaskan bahwa penggemar sebagai pemburu ingin menggunakan barang-barang rampasan mereka sebagai fondasi membangun sebuah komunitas kultural alternatif, melibatkan intensifikasi emosional. 3

Sebetulnya masih ada produk populer yang sukses menyisipkan pesan mengenai kesetaraan gender. Ambil contoh film The Incredibles 2 yang baru saja menjadi film animasi berpenghasilan hampir 700 juta dolar dari seluruh dunia, dipuja-puji oleh kritikus maupun penonton sebagai film yang lengkap: menghibur, lucu, menerobos stigma dan stereotip gender, dan setia pada ciri khasnya sebagai film animasi superhero.

Internet memfasilitasi anonimitas menjadi pahlawan sesaat, melambungkan ilusi untuk orang-orang yang dalam keseharian tidak mampu berbicara banyak. Tidak heran, banyak orang menghabiskan waktu membela atau menyerang sesuatu yang dianggap mengancam keamanan dan stabilitas dunianya. Bahkan beberapa orang menyelubungkan kebencian terhadap perempuan yang tidak memenuhi kaidah ilusi mereka dan melahirkan nuansa atau pemikiran berbeda, dengan alasan ‘mengkritik’. Jika perempuan menjadi ‘jagoan’ seolah-olah melanggar kodrat. Kodrat mana yang kamu maksud?

Fenomena seksisme dan perisakkan karena perempuan dianggap ‘merusak kenikmatan berpatriarki’ dan aturan lama adalah cermin betapa mengakarnya diskriminasi gender ke dalam ketidaksadaran manusia; Mungkin ini merupakan warisan kolektif pemikiran berabad sebelumnya, bahwa perempuan adalah makhluk kelas dua. Alergi terhadap interpretasi dan bentuk berbeda adalah gejala diskriminasi akut.

  1. https://www.theguardian.com/film/2017/dec/18/star-wars-the-last-jedi-women-bechdel-test
  2. https://www.nytimes.com/2014/09/14/sunday-review/were-all-nerds-now.html
  3. John Storey, Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop (terjemahan), Jalasutra, 2006.

Ilustrasi : Flickr

Sejarah Masa Depan Yang Saya Bayangkan

Andi Achdian

Sejarawan

 

Ketika Sukarno mengucapkan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB di teras kediamannya, ia secara tidak langsung telah membuka pengalaman baru bagi orang-orang Indonesia, yang bergerak dalam sejarah linear sesuai peredaran waktu kalender Gregorian, berurutan dan tak dapat diubah, mortal dan historis, menggantikan roda waktu yang berputar siklis dalam kesadaran sejarah tradisional masyarakat tempatnya tinggal.

Sejak awal abad ke-20 dengan kemunculan kaum intelijensia dalam politik, kemerdekaan Indonesia telah melahirkan sebuah impian yang membentuk fitrah ganda antara sesuatu yang diharapkan pasti datang dan ketika kedatangannya menjadi pasti, ia tetap menjadi teka-teki tentang bagaimana dinamikanya bergerak bagi orang-orang yang hidup di dalamnya.

Masa depan tidak dapat disangkal adalah lautan misteri. Ia tidak pernah ada dalam kenyataan, tetapi bayang-bayangnya hadir dalam jiwa setiap orang dengan beragam keyakinan melalui proposisi-proposisi yang mereka tawarkan tentang bagaimana masa depan itu seharusnya, dan kesetiaan mereka menghidupi proposisi yang diajukan dalam membentuk masa depan itu.

***

Kita yang hidup di masa kini memiliki kemewahan untuk menilai sejauh mana kesetiaan setiap orang terhadap proposisi yang mereka ajukan, dan bagaimana akhir “sejarah masa depan” yang mereka jalani.

Sepanjang empat tahun setelah revolusi Indonesia, kita menyaksikan tidak seluruhnya proposisi dan harapan setiap orang terpenuhi. Bahkan kegagalannya menyiratkan pula kehancuran individu dan kelompok tempat seseorang menjadi bagian dari sebuah keyakinan bersama. Secara berturut-turut mereka yang terlempar dari panggung revolusi Indonesia jatuh terpuruk, terpanggang dalam bara api revolusi yang terus ‘memakan anak-anaknya sendiri’, meminjam istilah Vergnaun dalam menggambarkan drama revolusi Perancis abad ke-18.

Parade peristiwa dan juga nasib tak terelakan dari mereka yang menghidupi jalannya revolusi kemerdekaan menegaskan bahwa ‘masa depan adalah sebuah ladang hamparan tanpa arahan peta’ bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Sejumlah nama seperti Amir Sjarifuddin, Musso, dan Sjahrir yang sejak usia muda menjalani keyakinan tentang sebuah negara republik yang merdeka, tetapi akhirnya mendapatkan diri terlempar dari arena utama. Sukarno dan Muhammad Hatta akhirnya menjadi sosok yang kukuh sebagai tokoh utama dalam penciptaan masa depan “masyarakat yang terbayangkan” bernama Indonesia menjadi sebuah negara republik yang merdeka.

Bayangan tentang “sejarah masa depan” Indonesia sebagai tempat kita hidup bersama bagaimanapun tidak berhenti setelah terbentuknya negara republik yang merdeka, dan tak lekang oleh pergerakan perubahan zaman memasuki abad ke-21 ini. Diktum lama bahwa manusia adalah mahluk sejarah, tetapi juga senantiasa menciptakan sejarah baru menjadi aksioma yang menentukan laku zaman.

Berbeda dengan periode kapitalisme cetak yang melahirkan “masyarakat terbayangkan”, kita menghidupi laku zaman dengan kapitalisme digital yang mengisi aspek terdalam sejak pagi buta sampai kembali lelap di peraduan. Media sosial menjadi salah satu platform dari era kapitalisme digital yang melemparkan kehidupan paling intim dan rahasia pribadi-pribadi setiap orang Indonesia dalam kehidupan publik. Ia memberikan imaji semu bagi banyak orang untuk membayangkan diri sebagai siapa-siapa, meski dalam kenyataan mereka bukan siapa-siapa. Merasakan diri sebagai bagian dari sebuah proyek besar di luar kehidupan pribadi, tetapi pada saat bersamaan mampus dalam kesepian dan isolasi diri.

Akhir sejarah seolah menjadi keniscayaan yang membentuk takdir manusia abad ke-21, meski ini adalah akhir sejarah yang semu. Jutaan orang tetap terhuyung dalam antrian panjang penghuni statistik di bawah garis kemiskinan tanpa akses terhadap kesehatan, pendidikan dan pemukiman yang layak. Angka kematian ibu dan anak tetap berada dalam posisi tertinggi di kawasan dan anak-anak kita adalah generasi yang harus bekerja dalam waktu yang lebih panjang dengan bayaran yang tak sepadan. Ojek online memberi ilusi bagi jutaan orang bahwa masih banyak pekerjaan bagi mereka yang mau bekerja dan tak henti berharap. Kenyataan bahwa mereka harus bekerja lebih panjang tanpa jaminan apapun bukan lagi sebuah persoalan.

***

Kegelapan dalam bayangan kelam membawa pula sisi terang di dalamnya. Sekarang kita hidup dalam sebuah era ketika angka harapan hidup banyak orang Indonesia meningkat. Penyakit yang dahulu mematikan sekarang berhasil dijinakkan. Kita pun semakin terhubung dengan dunia luar melebihi apa yang dapat dibayangkan generasi sebelumnya. Ringkasnya, dalam beberapa hal kita menjalani kehidupan yang jauh lebih baik dibanding para pendahulu kita.

Pertanyaannya adalah apa proposisi-proposisi baru yang lahir dari situasi zaman kehidupan kita sendiri? Apakah kebahagian bersama dalam kehidupan publik di sebuah republik? Apakah menjadi sebuah bangsa yang membayangkan diri membuat segala sesuatu menjadi emas seperti sentuhan raja Midas? Apakah juga sebuah bayangan keangkuhan tentang keunggulan yang menjulang tinggi di antara bangsa-bangsa lain di dunia seperti bangunan Menara Babel?

Saya sendiri lebih suka untuk melihat sesuatu yang lebih sederhana saja. Saya mengharapkan anak-anak saya hidup dalam masyarakat yang suka membaca dan menjadikan kebaikan bersama di ruang publik sebagai prioritas utama kesehariannya. Sementara yang lainnya sekedar bonus saja. Begitu saja.*

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi

Merindukan Ruang Untuk Anak

Dy Murwaningrum

Pendiri & Editor RI2030.com

 

Tahun 2030, jika waktunya datang, siapa yang berdiri paling tegap? Tentu saja generasi yang hari ini masih sibuk bermain dengan keceriaannya. Atau, remaja yang berkejaran dengan cinta monyet di balik seragam putih birunya.

Apa yang sempat kita bekalkan untuk generasi yang suatu hari nanti akan menyangga dunia kita? Membekalinya dengan pengetahuan, mental yang tak gampang remuk, kreativitas, kepatuhan pada agama, semua itu bukan tanggung jawab satu atau dua lembaga namun seluruh masyarakat.

Setelah kita puas mengais-ngais berita tentang tahun-tahun runtuhnya sebuah Negara atau malah tentang kiamat, akhirnya 2030 tetap menjadi angka penasaran setelah 1999 atau 2012, bukan?

Ada pertanyaan di lintasan pikiran kita tentang tahun 2030. Di mana kita? Bagaimana anak-anak kita? Amunisi kecakapan bagi generasi kecil ini, tentu perlu dipersiapkan dari sekarang. Melalui media, ataupun interaksi langsung.

Jika menilik kembali media-media kita baik radio, televisi, ataupun koran, dominasi kepentingan dewasa memang jauh lebih banyak daripada urusan anak-anak. Orang dewasa punya banyak kolom-kolom di koran yang bicara tentang kepentingannya.

Politik, harga saham, perceraian artis, TTS, iklan kecik, dan lain-lain. Begitu juga dengan televisi yang bertabur sinetron pada malam hari, gosip di pagi dan sore hari. Radio juga dipenuhi oleh koleksi lagu-lagu dewasa atau komunikasi dua arah melalui telepon antara penyiar dan pendengar dewasa.

Sedikitnya tontonan yang mendidik bagi anak-anak, mungkin memang dimaksudkan agar anak-anak fokus belajar. Namun, kenyataannya banyak sekali anak-anak yang super aktif mengikuti gosip atau sinetron yang minim muatan edukasi bagi anak.

Majalah untuk anak-anak terlebih majalah dan bacaan berbahasa lokal seolah tak pernah disarankan oleh orangtua bagi anak-anaknya. Anak-anak lebih suka membeli komik horor bermuatan agak dewasa, yang dijual oleh penjaja mainan seharga Rp 1500 tiap eksemplarnya.

Cerita atau dongeng lokal yang bertujuan mengangkat imajinasi kanak-kanak, akhir-akhir ini justru sering terbentur dengan berbagai dogma. Cerita khayal tak disarankan, namun cerita horor mendapat respon yang berbeda.

Media hiburan untuk anak rasanya tak sebanyak dulu di era 90-an, saat marak boneka tangan, boneka yang digerakkan dengan benang, atau belajar menggambar bersama pak Tino Sidin. Ketika itu televisi menjadi corong informasi dan pengetahuan, pengantar gambar bergerak terluas dalam format elektronik.

Televisi sudah bukan lagi menjadi sahabat anak hari-hari ini, khususnya anak-anak desa yang masih terengah-engah untuk mendapatkan koneksi internet. Atau sebaliknya, anak desa yang justru tergagap-gagap dengan teknologi, duduk seharian di warung wifi hingga bolos sekolah.

Tak jauh juga nasib anak-anak dan musiknya. Agaknya artis cilik Indonesia tidak lagi dikenal secara nasional. Musik anak di televisi atau radio, proporsinya makin mengikis. Kita hanya bisa berharap, pada tukang Odong-odong yang lewat setiap sore atau mangkal pagi hari di pasar kaget, menanti anak-anak menikmati Odong-odong yang dikayuhnya sambil manggut-manggut mendengar lagu anak Nusantara.

Pesimis memang jika melihat minimnya perhatian kita pada generasi yang nantinya akan kita titipi berlangsungnya masa depan. Namun, optimisme juga timbul seketika kita melihat laju literasi telah menjangkau pelosok tanah air akhir-akhir ini.

Informasi dan pengetahuan bisa kita hantarkan melalui buku-buku bersayap. Kesadaran mulai tumbuh justru bukan dari lembaga-lembaga besar, namun dari individu-individu, komunitas bebas di masyarakat. Gejala ini menjadi harapan baru, menyala dan menguat karena benar tumbuh dari kesadaran, bukan anjuran pemerintah.

Memang, tak mudah meminta ruang-ruang hiburan atau informasi yang dikelola oleh industri yang bicara laba melulu. Namun kita bisa bicara langsung dari interaksi atau lewat karya di bidang masing-masing.

Geliat film anak, animasi edukatif makin banyak di akun media online. Meski belum meluas namun ada harapan. Komik, cerita bergambar dan novel yang sarat edukasi anak mulai muncul dengan harga yang relatif terjangkau. Hal lain, ternyata banyak juga teman-teman yang menyelenggarakan nonton film bareng di pelosok.

Komunitas-komuntas kecil yang bekerja dalam senyap maupun lantang, makin menjamur dan bergerak serentak. Inilah cahaya dan harapan bagi generasi kecil kita. Kesadaran dan bergerak adalah bahan bakar jangka panjang bagi nyala optimisme ini. Semoga pemerintah dapat memuluskan jalan yang telah dibuka oleh banyak pihak ini.*

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi

Masih Ada Gelap di Antara Nyala Terang Kartini

Rena Asyari

Pendiri & Pengelola Konten RI2030.com

 

Hampir saja buku berjudul Door Duisternis Tot Licht terjatuh dari tangannya. Turbulensi pesawat membuat Sinta berkali-kali menegakkan duduknya, ia harus sabar setidaknya lima jam lagi untuk mendarat di Bandara Amsterdam.

Sinta kembali mengingat rentetan peristiwa yang menguras emosi. Ia tak pernah menduga ibunya menjadi salah satu dari sekian banyak TKW ilegal yang pulang tanpa nyawa.

Lima tahun lalu, dengan alasan ekonomi ibunya meninggalkan seluruh kehidupannya di tanah air. Pergi ke Suriah. Negeri dengan konflik agama yang tak kunjung usai.

Dua tahun berlangsung tanpa kabar, membuat Sinta tak banyak berharap, hingga ia mendapati kenyataan bahwa ibunya mengalami kekerasan dari majikannya.

Mayat ibunya datang dengan banyak luka lebam di sekujur tubuh, tepatnya 2015 lalu. Seluruh impian ibunya untuk dapat hidup lebih baik, ikut terkubur dalam tempurung kepalanya yang lembek karena berkali-kali terkena hantaman benda tumpul.

Para pejabat memenuhi rumahnya yang sempit di sebuah desa kecil di Jawa Barat. Kakaknya, Sumiyati datang tergopoh-gopoh. Tangisnya pecah ketika melihat mayat ibunya. Sumiyati susah payah meminta izin kepada kepala pabrik tempat ia bekerja untuk cuti satu hari, karena ingin melihat ibunya di kali terakhir.

Sumiyati menjadi bagian dari ratusan ribu perempuan yang menggantungkan harapan di pabrik. Sumiyati tak pernah tahu kapan ia harus mengakhiri seluruh ritme hidupnya yang monoton.

Kerja delapan jam dengan satu posisi, yaitu mencabuti benang dari pakaian-pakaian setengah jadi. Aktivitas yang telah dilakoninya empat tahun terakhir. Ia dan teman-temannya kadang bertekad untuk keluar dari pabrik, tetapi selalu saja niat itu urung. Entah karena kebutuhan atau karena tiadanya pilihan.

Kebebasan yang didengung-dengungkan di gedung-gedung parlemen tak pernah berlaku untuk orang-orang macam Sumiyati. 21 April yang ditandai dengan gegap gempita atas bangkitnya hak-hak perempuan tak benar-benar ia nikmati. Ia dan ribuan temannya masih saja menjadi buruh, menghamba, harus seragam dan tak pernah mendapat ruang untuk bertanya.

Sinta menghela nafas panjang. Dua orang perempuan terdekatnya hidup penuh ketidakadilan. Ia kembali membuka buku Door Duisternis Tot Licht, kumpulan surat-surat gadis Jawa di penghujung abad ke-19.

Panggil aku Kartini saja begitulah gadis Jawa itu mengenalkan namanya. Seratus sembilan tahun lalu, untuk pertama kalinya pemikiran dan kegelisahan perempuan muda asal Jepara itu terdokumentasi.

Dalam suratnya tertanggal 25 Mei 1899 yang ditujukan kepada karibnya E.H Zeehandelaar, ia menulis: Sejak saya masih kanak-kanak, kata “emansipasi” belum ada bunyinya, belum ada artinya bagi telinga saya, dan tulisan serta karangan mengenai hal itu jauh dari jangkauan saya, timbul dalam diri saya keinginan yang makin lama menjadi makin kuat, yaitu keinginan akan kebebasan, kemerdekaan, berdiri sendiri”.

Kartini berumur dua puluh tahun kala itu. Hari-harinya dipenuhi dengan membaca dan menyimpan banyak pertanyaan. Budaya dan lingkungannya masih sangat feodal. Ia heran mengapa kakaknya Raden Mas Sosrokartono boleh bersekolah, sedangkan ia dan dua adik perempuannya harus dipingit. Mengapa pula berjalan harus dengan berjinjit dan menggunakan bahasa Jawa kromo inggil kepada yang lebih tua darinya.

Suratnya kepada Stella 18 Agustus 1899 mempertanyakan tentang etiket Jawa yang menurutnya tidak masuk akal tersebut. “…. akan kami ceritakan beberapa kisah nyata. Adik saya tidak boleh mendahului saya, kecuali dengan merangkak di tanah. Kalau adik duduk di kursi dan saya lewat, maka ia harus segera turun dan duduk di bawah dengan kepala tunduk, sampai saya jauh melewatinya….. Sinta bergidik membayangkan kehidupan Kartini. Tiba-tiba ia merasa beruntung.

Selain memperjuangkan kemerdekaan dan kesetaraan, Kartini pun ingin anak-anak perempuan Bumiputera mendapatkan pengajaran. Suratnya tertanggal 19 april 1903 untuk pemerintah Hindia Belanda terdengar sangat lantang, “Perempuan sebagai pendukung peradaban, juga di tanah matahari!” Perempuan Jawa harus dididik, harus diberi pelajaran, harus turut serta dalam pekerjaan raksasa: “pendidikan bangsa yang berjuta-juta!”.

Betapa besarnya perhatian Kartini pada pendidikan perempuan. Di suratnya yang lain tak luput ia menceritakan kegembiraanya tentang berdirinya sekolah Belanda swasta di pedalaman Priangan. Sekolah bersubsidi khusus untuk anak-anak bangsawan Bumiputera dan mempunyai murid gadis berjumlah dua puluh orang.

Ada bulir bening di sudut matanya, Sinta berterima kasih pada Kartini. Ia sudah tiga tahun mendapat beasiswa sekolah di Universitas Leiden, Belanda. Sinta teringat Kartini yang mengantongi surat lulus permohonan beasiswa dari pemerintah Hindia Belanda. Mengingat ayahnya Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara sudah memasuki usia senja dan sakit-sakitan, Kartini pun urung pergi.

Kartini dihantarkan pada pilihan untuk mewujudkan mimpinya bersekolah atau memenuhi baktinya pada orang tua di ujung waktunya. Kartini pun menyerahkan surat beasiswa itu kepada karibnya Agus Salim, seorang yang sangat cerdas.

Sejak surat-suratnya dikumpulkan dan diterbitkan tahun 1911 oleh Mr. J. H. Abendanon, suara-suara Kartini tak lagi membisu dalam kertas. Raganya boleh berumur pendek tetapi semangat dan pemikirannya terus hidup, menginspirasi setiap perempuan.

Kartini tak sendiri. Di lain tempat, beratus mill jarak darinya, dengan suara yang hampir tak terdengar ke pelosok negeri. Lasminingrat yang tinggal di Garut pun sudah berbicara tentang kesetaraan dan kebebasan di tahun 1875. Bukunya Hikayat Erman dan Warnasari menjadi tumpahan pemikirannya.

Langkahnya disusul Dewi Sartika tahun 1904 dengan mendirikan Sakola Istri di Bandung. Sekolah yang diperuntukkan untuk perempuan, agar perempuan mempunyai ragam keahlian, seperti menjahit, memasak, memotong rambut dan lainnya.

Di Bandung pula, Emma Poeradireja tahun 1927 mendirikan Dameskring. Organisasi yang diperuntukkan bagi perempuan muda terpelajar yang berasal dari beragam suku bangsa.

Emma juga menjadi salah satu dari tiga perempuan yang mengikuti Kongres Pemuda II tahun 1928. Nama Emma Poeradireja kini dikenal sebagai salah satu Rumah Sakit Bersalin di Bandung yang terletak di jalan Sumatera.

Melalui buku-bukunya Soewarsih Djojopuspito pun turut andil memberikan pandangan yang terbuka tentang bagaimana perempuan harus menghargai dirinya sendiri. Buku Soewarsih berjudul “Manusia Bebas” yang ditulisnya tahun 1939, berhasil memotret pergolakan batin perempuan di kala itu.

Sinta mendengar kiprah Lasminingrat, Kartini, Dewi Sartika, Emma Poeradiredja dan Soewarsih dari dosennya di Leiden. Mereka adalah sedikit dari banyak perempuan yang berjuang untuk memerdekaan dirinya. Pergerakan mereka tak main-main. Perempuan Indonesia hari ini, tinggal menikmati perjuangannya.

Mereka adalah para pelopor yang telah memberikan jalan sekaligus pilihan. Akankah kita terus bergerak menuju peradaban yang lebih baik dengan cara menghargai diri sendiri dan sesama? Memilih berdiam diri, abai dan cenderung bersembunyi dari ketidakadilan asalkan diri dan keluarga aman? Atau, malah beradu mulut yang tak kunjung henti dan menghakimi sesama perempuan?

Tak terasa, pesawat yang ditumpangi Sinta hampir mendarat di Bandara Amsterdam. Kenangan akan ibunya ia simpan rapat-rapat. Ia melihat layar smartphonenya, 21 April 2018. Udara sejuk mulai menyapa, bunga-bunga tulip yang bermekaran nampak dari kejauhan.*

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi