K-Pop, Star Wars, dan Jagoan Perempuan

 

Venny Tania

Pendiri & Editor RI2030.com

 

Ribut-ribut tidak pernah surut di dunia maya. Capekkah Anda menonton atau justru senang mengompori fan war, twit war, dan cyber bullying?

Sekelompok manusia yang disebut penggemar, atau anti-fan atau haters (konon merupakan penggemar terselubung) biasa menimbulkan kegaduhan. Menurut filsuf John Fiske, penggemar adalah penikmat budaya (pop) yang berlebihan.

Di antara 3 milyar pengguna internet, bermukimlah jutaan penggemar yang membangun dunia sendiri karena pengaruh produk budaya pop seperti musik, film, film seri, komik, dan lain-lain. Di tengah usaha meningkatkan kesadaran persamaan hak dan perlawanan kekerasan seksual, beberapa penggemar ini malah merebakkan keributan dan aksi kontra.

Contoh kasus di Korea Selatan, beberapa selebritis tengah merekomendasikan sebuah buku berjudul ‘Kim Jin Young, Lahir 1982’. Nama-nama tenar k-pop seperti Sooyoung SNSD, Rap Monster BTS, dan Irene Red Velvet mengaku membaca buku tersebut. Bukunya konon bercerita mengenai perjuangan perempuan dan mengangkat isu diskriminasi gender yang terjadi setiap hari.

Bagi masyarakat Korea penghayat tradisi Konfusianisme yang menganggap perempuan sebagai rakyat pengabdi laki-laki yang diibaratkan negara, feminisme banyak dipandang sebagai pembangkangan. Setelah Irene Red Velvet mengaku membaca buku Kim Jin Young dalam sebuah acara, segelintir penggemarnya melakukan aksi boikot di forum internet. Mereka menggunting dan membakar foto serta pernak-pernik sang artis.

Bermula dari Amerika Serikat, sekelompok penggemar kebakaran jenggot dan merasa ‘racun feminisme’ telah merenggut kesayangan mereka. Star Wars adalah ikon klasik untuk dunia geek dan nerd, sekelompok orang yang sering diidentikkan sebagai kutu buku, canggung, hingga berpengetahuan luas di bidang tertentu. 3 film perdananya yaitu Star Wars: Episode IV – A New Hope (1977), The Empire Strikes Back (1980), dan Return of The Jedi (1983) dianggap sebagai kanon penginspirasi berbagai film lanjutan, serial, animasi, pernak-pernik, fan fiction, dan lain-lain. Namun regenerasi resmi salah satu waralaba terlaris dunia tersebut direspons cukup beragam.

Sebagian pembela kesetaraan, humanis, dan liberalis memuji film Star Wars terbaru yaitu The Last Jedi (2017) dan Rogue One: A Star Wars Story (2016). Dilansir Guardian, sineas dan psikolog Annalise Ophelian menyebut The Last Jedi (yang menampilkan protagonis generasi baru dari Rey, perempuan yatim piatu dari negeri antah berantah, yang diperankan Daisy Ridley) adalah puncak pencapaian kefeminisan Star Wars. Ada banyak peran pekerjaan, jabatan, generasi, ras, dan pemikiran berbeda untuk perempuan di film The Last Jedi. 1

Sebagian orang menyatakan kekecewaan karena peran jagoan laki-laki (dalam hal ini dibandingkan dengan dominasi peran utama klasik Luke Skywalker dan Han Solo) menjadi berkurang. Di media sosial, para fanboys merisak Kelly Marie Tran, aktris berdarah Vietnam yang mendapat screen time cukup banyak dalam film The Last Jedi. Akun Instagram Kelly diisi komentar-komentar yang mencela ras, fisik, dan perannya. Kelly menghapus akun instagramnya pasca perisakan tersebut.

Jurnalis Noam Cohen menulis di The New York Times mengenai kebangkitan kaum geek dan nerd ini, sehingga apa yang dulu diasosiasikan khas dengan mereka, kini menjadi komersial dan obsesi khalayak di arus utama. Cohen mengutip profesor seni, Thomas Dolby dari Johns Hopkins University, menyebutkan bahwa mewabahnya geek culture di dunia menciptakan dua pilihan : menjadi geek atau gaptek.2 Simak saja 30 film terlaris dunia sepanjang masa, Star Wars dan superhero adaptasi komik paling mendominasi. The Big Bang Theory jadi salah satu serial televisi paling digemari 10 tahun ke belakang (31 juta penyuka di Facebook). Rasakan betapa pengaruh produk geek dan nerd itu juga sudah memasuki kamar Anda dan generasi muda saat ini.

Kartunis Randall Munroe menyimpulkan bahwa situasi ini cenderung membentuk ekslusivitas dan elitisme modern. Setelah puluhan  tahun digambarkan culun dan aneh, kini yang berbau geek dan nerds dianggap umum dan trendi. Situasi ini cenderung membangkitkan komunitas yang lebih homogen dan eksklusif, dengan sikap merasa lebih keren dari kebanyakan, sehingga selalu muncul reaksi besar dan massal terhadap sesuatu yang berbeda. Kecenderungan mengotakkan sesuatu dengan aturan tertentu membuat budaya geek menjadi seksis dan kurang beragam.2

Mantan profesor Cultural Studies, John Storey, mengutip Joli Jensen (profesor Universitas Tulsa dan penulis) menyebutkan bahwa kelompok penggemar merupakan simtom atau patologis tak terhindarkan dari masyarakat urban. Penggemar suka memamerkan kesenangannya sehingga menimbulkan ekses emosional. Berbeda dengan lingkup resmi dan akademis yang lebih terkendali secara estetika dan berjarak, penggemar aktif mengembangkan kegiatan berburu (kesenangan) menjadi sebentuk seni (Michel de Certeau). Jensen juga menegaskan bahwa penggemar sebagai pemburu ingin menggunakan barang-barang rampasan mereka sebagai fondasi membangun sebuah komunitas kultural alternatif, melibatkan intensifikasi emosional. 3

Sebetulnya masih ada produk populer yang sukses menyisipkan pesan mengenai kesetaraan gender. Ambil contoh film The Incredibles 2 yang baru saja menjadi film animasi berpenghasilan hampir 700 juta dolar dari seluruh dunia, dipuja-puji oleh kritikus maupun penonton sebagai film yang lengkap: menghibur, lucu, menerobos stigma dan stereotip gender, dan setia pada ciri khasnya sebagai film animasi superhero.

Internet memfasilitasi anonimitas menjadi pahlawan sesaat, melambungkan ilusi untuk orang-orang yang dalam keseharian tidak mampu berbicara banyak. Tidak heran, banyak orang menghabiskan waktu membela atau menyerang sesuatu yang dianggap mengancam keamanan dan stabilitas dunianya. Bahkan beberapa orang menyelubungkan kebencian terhadap perempuan yang tidak memenuhi kaidah ilusi mereka dan melahirkan nuansa atau pemikiran berbeda, dengan alasan ‘mengkritik’. Jika perempuan menjadi ‘jagoan’ seolah-olah melanggar kodrat. Kodrat mana yang kamu maksud?

Fenomena seksisme dan perisakkan karena perempuan dianggap ‘merusak kenikmatan berpatriarki’ dan aturan lama adalah cermin betapa mengakarnya diskriminasi gender ke dalam ketidaksadaran manusia; Mungkin ini merupakan warisan kolektif pemikiran berabad sebelumnya, bahwa perempuan adalah makhluk kelas dua. Alergi terhadap interpretasi dan bentuk berbeda adalah gejala diskriminasi akut.

  1. https://www.theguardian.com/film/2017/dec/18/star-wars-the-last-jedi-women-bechdel-test
  2. https://www.nytimes.com/2014/09/14/sunday-review/were-all-nerds-now.html
  3. John Storey, Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop (terjemahan), Jalasutra, 2006.

Ilustrasi : Flickr

Advertisements

Sepinya Kesadaran Akan Kebisingan

Dy Murwaningrum

Pendiri & Editor RI2030.com

 

Makin maju, Indonesia makin bising?

Bukan hanya dunia hiburan yang sering menimbulkan bunyi dengan intensitas tinggi, namun juga mesin-mesin pembangunan dan industri. Bunyi dengan intensitas sekitar 60db dari pompa air yang sudah tua dan kurang sehat pasti sering kita dengar karena memang tidak ada pilihan lain.

Cerita lain saat saya memutuskan mengunjungi kafe untuk berdiskusi bersama teman-teman. Kami berpindah ke beberapa kafe justru karena bunyi yang cukup menggangu. Baik volume musik dan pilihan musik dari dalam kafe, maupun volume para pengendara motor di jalan raya.

Sesekali Anda boleh mencoba mengecek seberapa bising lingkungan Anda. Cara paling sederhana, dengan mengunduh aplikasi Sound Level Meter melalui playstore atau appstore pada android Anda. Lalu fungsikan aplikasi tersebut dengan memanfaatkan microphone bawaan handphone Anda untuk memonitor intensitas kebisingan di sekitar Anda. Berapa decibel kah bunyi yang paling bising di sekitar Anda?”

Tak ada larangan bagi sebuah peristiwa mengekspresikan bunyinya, dengan konsekuensi bunyi tersebut masih mampu diterima dan ditolerir oleh telinga kita. Kesadaran masyarakat mengenai dampak kebisingan nampaknya belum mulai tumbuh. Kesadaran akan bising juga kurang dibangun serius oleh negara melalui berbagai kegiatan yang informatif. Sejauh ini bisa jadi belum ada iklan layanan masyarakat yang menyadarkan tentang polusi kebisingan, sebagaimana kampanye polusi asap.

Ambang batas tentang bunyi dan kemampuan telinga, rasanya hanya selesai pada hafalan di sekolah saja. Tidak berlanjut pada proses pemahaman dan penyadaran dalam kehidupan harian. Persoalan polusi bunyi nampaknya bukan menjadi hal pokok dibandingkan dengan polusi udara dan polusi pandangan.

Telinga yang bersifat adaptatif pun memiliki resiko yang fatal jika sering mendengar bunyi 80db ke atas. Bising mesin pabrik awalnya terasa mengganggu namun lambat laun bunyi tersebut tak terasa lagi mengganggu, meski terdengar. Bagaimana jika tahunan?

Telah lama para peneliti kesehatan menemukan bukti-bukti bahwa bising dapat membunuh manusia. Di New York, depresi pada orang-orang psikopat sangat mematikan, dan disinyalir depresi ini merupakan dampak dari kebisingan yang masuk ke telinga.

World Health Organisation (WHO) dan European Commision World Health Organisation juga menyimpulkan bahwa kebisingan merupakan penyebab kematian dan penyakit yang disebabkan oleh lingkungan di urutan ke dua. Sedang polusi udara masih menduduki peringkat pertama.

Resiko Bunyi bagi Manusia

Kebisingan dan resikonya telah diwacanakan baik dari kalangan pekerja industri, para peneliti, dunia kesehatan, seniman bunyi, dan juga pemerintah tentunya. Peraturan Menteri Kesehatan no 718/MENKES/PER/XI/1987 telah mulai mendefinisikan kebisingan sebagai bunyi yang tidak diinginkan dan mengganggu bahkan membahayakan kesehatan.

Kebisingan ditimbulkan dari peristiwa yang beragam, misalnya bunyi senapan, mercon, knalpot kendaraan, speaker orang menggelar hajatan, proyek pembangunan dan industrialisasi. Kebisingan belum ditanggulangi secara serius karena masyarakat masih terlihat tenang dan santai saja.

Intensitas bunyi yang dinyatakan dalam ukuran decibel itu memang tidak semua merusak, bunyi dengan intensitas 40-50 db masih dianggap nyaman. Intensitas 70 db seperti bunyi mesin ketik, printer dianggap menjengkelkan dan bisa menimbulkan stres dan bunyi 80db-85db disimpulkan pada beberapa penelitian sebagai bunyi yang merusak jika kita dengar dalam durasi 15 menit atau lebih.

Masyarakat sudah memiliki kesadaran mengenakan masker untuk melindungi muka dan hidung, atau kaca mata hitam untuk menangkal cahaya matahari dan debu, namun tidak begitu dengan penggunaan alat pelindung pendengaran (earplug).

Indonesia dan Gerakan Sadar Kebisingan di Masa Depan

Hari ini dan kemarin, negara kita masih nampak begitu acuh untuk mengedukasi masyarakat mengenai kebisingan dan resikonya. Kebisingan berdampak pada kerusakan fisiologis, psikologis, gangguan komunikasi, dan ketulian baik sementara maupun permanaen.

Sementara, Indonesia tengah memulai kembali pembangunan besar-besaran, penggunaan mesin-mesin industri, dan dunia hiburan pertunjukan yang belum punya gedung khusus, serta berbagai upaya percepatan pembangunan melalui sektor industri yang tentu saja akan menimbulkan polusi suara.

Belum juga tampak tindakan tegas pemerintah kota dan masyarakat atas kebisingan di ruang-ruang warga, seperti kebisingan knalpot yang sebenarnya sudah ditegaskan dalam undang-undang, bunyi mercon yang sering terdengar pada berbagai event.

Slamet Abdul Sjukur (almarhum) bersama Soe Tjen Marching dan lainnya seperti Syafii Maarif, Luthfi Assyaukanie, NH Dini telah memperjuangkan berdirinya Masyarakat Bebas-Bising, 23 Januari 2010 lalu. Namun kampanye ini belum disadari oleh masyarakat sendiri. Menurut Slamet, Bising adalah Bahaya Nasional yang makin mengancam.

Kebisingan telah melekat pada gaya hidup manusia hari ini. Kesadaran seharusnya sudah dibangun oleh pemerintah, mengingat banyaknya pembangunan dan industrialisasi yang akan makin gencar dilakukan. Indonesia makin maju, Indonesia makin bising, mungkin saja.

Sedangkan pada panggung-panggung musik yang belum selesai urusan gedung pertunjukannya, apakah kekuatan bunyi yang spektakuler benar-benar dibutuhkan?

Sumber:

“Polusi Kebisingan” dalam Virus Setan: Risalah Pemikiran Musik. Slamet Abdul Sjukur (2012)

“Pulang” dalam Kubunuh di Sini. Soe Tjen Marching (2013

http://doktersehat.com/suara-bising-bisa-picu-kematian/

Merebut Pembaca Sastra

Rena Asyari

Pendiri & Pengelola Konten RI2030.com

 

Mangkatnya Danarto dengan tiba-tiba tentu saja membuat kaget setiap penikmat karyanya. Siapa Danarto? Tanya anak-anak muda belia dalam akun IG-nya yang lebih banyak memfollow akun travelling dan selebgram. Untuk mendekat pada mereka rupanya Danarto harus bersaing dengan K-POP, Youtube, segala yang enteng dan instan.

Dunia alternatif yang Danarto tawarkan pada pembaca muda tak cukup menarik bagi mereka. Apa gunanya berbicara kematian bahkan mengakrabinya? Membaca tulisan yang absurd buang waktu, hanya khayal yang tak masuk akal, lagi-lagi.

Satu setengah abad yang lalu, Karel Frederik Holle mungkin tak akan pernah menyangka dirinya akan banyak disebut di dunia sastra Sunda. Usahanya untuk memajukan sastra di daerah Priangan menjadi catatan sejarah tersendiri. Penasehat pemerintahan Hindia Belanda dan pengusaha perkebunan teh itu tak sendiri. Ia mengajak intelektual pribumi Moehamad Moesa sebagai rekan menulisnya.

Penelitian Mikihiro Moriyama mencatat buku-buku Holle dan Moesa dicetak dan disebarluaskan oleh Penerbit Landsdrukkerij, Misionaris, Bumiputra dan Indo-Eropa pada rentang waktu 1850 – 1908. Ada 222 buku dalam bahasa Sunda yang berisi fabel, pantun, terjemahan dongeng, wawacan, dan cerita anak.

Buku-buku tersebut menjadi bacaan wajib bagi anak Sekolah Dasar kala itu. Tak main-main setiap bukunya hampir dicetak 2000 bahkan hingga 6000 eksemplar. Siapa yang mengira abad ke-19 ternyata di bagian barat Pulau Jawa telah ada gerakan “melek aksara”.

Memasuki awal abad ke-20, Balai Pustaka menjadi salah satu penerbit yang bisa menerbitkan 350 judul buku per tahun. Dari Balai Pustaka inilah kita mengenal nama-nama besar seperti Marah Rusli, Hamka, Abdoel Moeis, Sutan Takdir Alisyahbana, Armin Pane, dan nama lainnya. Pada Sebuah Kapal, Tenggelamnya Kapal Van Der Wick, Siti Nurbaya, Salah Asuhan menyuguhkan ragam kehidupan. Konflik dan intrik, duka dan harapan menjadi jamuan dalam bacaan karya para penulis Balai Pustaka.

Di era Orde Baru sastra dibungkam. Banyak buku dibakar dan dihilangkan. Beruntung, reformasi membuat karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Umar Kayam, Putu Wijaya, Budi Darma, YB Mangunwijaya diterbitkan dan dicetak ulang hingga bebas dibaca hari ini.

Merebut Pembaca Sastra

Bagaimana kini? Di era teknologi buku-buku sastra harus bersaing dengan media sosial. Pertengkaran selebtwit dan kisah cinta para artis rupanya lebih memikat kaum muda ketimbang melahap rentetan kata-kata sarat filosopi kehidupan seperti yang disuguhkan Shindunata dalam Anak Bajang Menggiring Angin.

Teringat sebuah pertemuan dengan Ahmad Tohari pada 2013 lalu. Tohari yang sudah renta datang dari Banyumas menggunakan kereta api bersama istrinya. Ia terlihat semangat membagikan cerita dalam peluncuran buku terbarunya “Mata Yang Enak Dipandang” di sebuah kampus di Bandung. Wajahnya terlihat berbinar melihat peserta bedah buku membludak memenuhi ruang aula.

Di kursi pembicaranya pasti ia menghitung berapa banyak kepala yang hadir, lebih daripada 100 orang. Tohari tak basa-basi, ia menceritakan kegelisahannya “hanya 17 lembar per tahun rata-rata anak-anak kita membaca”, ujarnya berapi-api.

Sayang, Tohari tak tahu, bahwa peserta yang datang bukan karena keingintahuaannya atas peluncuran novel terbaru Tohari. Kebanyakan dari mereka bahkan tak mengenal satupun karyanya. Beberapa dari mereka menggeleng ketika moderator menyebutkan judul novel sastra Tohari yang sangat terkenal Ronggeng Dukuh Paruk.

Mengapa karya sastra penting untuk dibaca? Okky Madasari, penulis dan co-founder ASEAN Literary Festival, dalam orasi budayanya 2013 lalu bertutur, “Sastra adalah kegelisahan. Sastra adalah gugatan. Sastra adalah keberanian dan kejujuran. Sastra lahir dari kesadaran-kesadaran baru. Ketika kesadaran itu sudah tumbuh, saat itulah kita harus berpihak dan mengambil sikap. Berpihak pada keadilan, berpihak pada kemanusiaan.”

Melihat sejarah sastra yang cukup panjang, seharusnya kita sudah ada di tahap mapan membaca, apalagi buku-buku penulis Indonesia sudah banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Artinya, apresiasi masyarakat dunia terhadap sastra Indonesia mulai terlihat. Rasanya, tak adil pula jika ketidaksukaan generasi muda membaca karya sastra adalah murni kesalahan mereka.

Sastra, dalam kata dan kesunyiannya, memberikan ruang hidup yang lebih kaya kepada pembacanya. Salah satu penerbit besar mengenalkan sastra pada generasi muda dengan pendekatan visual. Buku-buku Ayu Utami dan Oka Rusmini dicetak ulang dengan cover baru yang lebih memikat. Musisi-musisi muda mengenalkan sastra lewat lagu dan musik. Musikalisasi puisi. Perlahan, cara-cara baru seperti ini menarik perhatian mereka.

Sudah seharusnya teknologi mengambil peran, mendekatkan sastra pada semua generasi. Para penulis dan penikmat sastra harus mau beranjak ke ruang-ruang sosial media. Mengemasnya dengan lebih menarik, memberikan warna yang baru, muda dan segar.*

Ilustrasi: RA

Berpisahnya Bunyi dari Instrumen Musiknya di Era Digital

Dy Murwaningrum

Pendiri & Editor RI2030.com

 

Siapa yang berani menyangsikan keterkuncian ikatan antara bunyi dan alat musiknya? Alat musik terbentuk karena kehendak menghasilkan bunyi. Namun, bunyi tidak hanya muncul dari alat musik. Dengan kata lain, bunyi bukan milik musik saja.

Menggali kembali makna bunyi, dia bukanlah benda, tak diam dan tak bisa dikejar. Bunyi hanya melintas di telinga kita, bukan menetap tapi bunyi bisa sangat termemori. Bunyi adalah event, sebuah kejadian. Christoph Cox, dalam tulisannya “Sonic Philosophy”, mendefinisikan bahwa bunyi itu bersifat mengalir, event dan efek.

Artinya jika seketika dia ada, lalu dua detik kemudian bisa jadi tak terdengar lagi. Seperti sebuah peristiwa yang terjadi kemudian berlalu, atau kilatan cahaya yang mengganggu. Bunyi juga merupakan efek dari sebuah kejadian sebelumnya. Meski tak dipungkiri bunyi pun selanjutnya akan direspon pula.

Sebagian manusia mampu menangkap bunyi, namun tak banyak yang mampu menirukannya. Meski terdengar hanya sebentar saja, bunyi tetap bisa diingat sebagai penanda, atau diingat karena maknanya. Selanjutnya manusia akan menjadikannya simbol atas suatu hal yang pernah berkesan.

Ketakmampuan manusia menyimpan dan menirukan kembali bunyi-bunyian yang didengarnya bukan hanya terbentur pada persoalan nada (frekuensi), namun juga pada timbre (warna suara) yang berbeda antar bunyi.

Manusia dengan teknologinya mengkondisikan alat-alat yang dapat menyimpan dan menyampaikan kembali bunyi. Diawali dari penemuan phonograph, sebuah alat yang digunakan untuk meneliti gelombang suara. Ditemukan oleh Thomas Alfa Edison sekitar tahun 1850-an dan menjadi cikal bakal alat rekam nantinya.

Phonograph atau gramophone menjadi sebuah alat yang digunakan para sarjana musik untuk menyimpan bunyi-bunyi musikal dari pedalaman Amazon, Afrika, Asia Barat, dan lain-lain. Kemudian, bunyi lambat laun dapat ditangkap, direkam, dan dibunyikan ulang oleh teknologi yang kian canggih, hingga hari ini.

Instrumen Musik Baru untuk Aneka Bunyi

Perjalanan cepat industri yang mulai pesat, perlahan menggulung kebutuhan-kebutuhan riset menjadi sebuah produksi musik industri murni. Bunyi-bunyi musikal kian tak dikenali asalnya lagi dalam balutan musik-musik hybrid dan dominasi hiburan. Layaknya menjual kacang tanpa kulitnya, meski tetap nikmat.

1983 kurang lebih menjadi tahun-tahun pergerakan baru bagi dunia teknologi musik. MIDI (musical instrument digital interface) menjadi satuan global yang ada di berbagai jenis keyboard di dunia. Dave Smith dikenal sebagai bapak midi dunia. Beliau adalah penggagas sistem bahasa midi tersebut.

Saya ingat betul bagaimana para pensiunan berbahagia karena bisa memainkan berbagai iringan lagu dengan sebuah disket saja. Bahwa sebuah keyboard dapat memainkan semua iringan, termasuk dangdut koplo, tak perlu dipikirkan.

Namun kesadaran mengenai beralihnya bunyi inilah yang perlu disadari. Bunyi instrumen kendang, angklung, saron dan lainnya kini dapat kita temukan pada tombol-tombol datar. Cukup drag dan atur sesuai kebiasaan dan kemampuan rasa musikal kita.

Beberapa pelaku musik digital merasa tak seberapa perlu paham dari mana bunyi itu berasal. Bahkan mulai banyak buku yang menawarkan “bermusik tanpa alat musik” atau “tak perlu bisa main musik untuk bikin musik”.

Satu sisi hal tersebut menegaskan kembali bahwa elemen musik bukan hanya nada namun juga bunyi itu sendiri. Tentu hal-hal tersebut merupakan salah satu dampak dari bunyi yang sudah dilepaskan dari wadah aslinya.

Selera Musik Bukan Wangsit

Metronom yang menjadi kepastian berjalannya instrumen di atas mesin-mesin produksi, dan musik-musik midi merupakan salah satu konsekuensi dari teknologi. Kemudahan digital memang jelas berdampak pada peng-copy-an yang mudah sehingga mudah pula menyebar. Kemudahan menyebar yang artinya kemudahan merebut hati pendengar.

Selera pun mudah terpengaruh oleh peredaran musik. Selera orang hampir serupa. Serupa dengan musik yang banyak beredar. Orang-orang agaknya sulit menangkap kebahagiaan pada tempo lambat, kadang bentuk-bentuk musik yang sangat teratur dan tepat metronom menjadi pilihan utama.

Bambang Sugiharto, dalam essai berjudul “Musik dan Misterinya”, mengetengahkan cara medengarkan musik. Di antaranya adalah penilaian tentang enak dan tidak enak (sensuos), suka dan tidak suka yang dapat dikondisikan (afektif) dan mencoba memahami musik itu sendiri (intelektual). Ketiga cara tersebut dapat membantu kita mengkategorikan bagaimana kita mendengarkan musik.

Menyanyilah Maka Aku (Tak) Mengenali Asalmu

Konon, bunyi-bunyi musikal mewakili asal budaya anak-anak suku bangsanya. Namun pada suatu waktu, semua mungkin telah lebur. Kita akan menemui bunyi dari Madagaskar di Jawa, bunyi alat musik Sunda di Timur Tengah, tanpa tahu pasti dari budaya mana dia berasal.

Sebagian pemusik mungkin menuangkan bunyi dalam musiknya karena maknanya. Namun, ada juga yang sekadar menggunakan bunyi karena terperangah dengan keeksotisan bunyi yang belum pernah didengarnya.

Teknologi telah membantu lepasnya bunyi-bunyi dari tubuhnya. Hal ini menjadi nilai baru yang berdiri sendiri. Estetika baru bagi musik-musik digital sudah mulai perlu dipikirkan.

Alat musik yang dapat usang, tak ringkas, bisa jadi suatu waktu akan ditinggalkan, saat estetika musik digital telah mantap dirumuskan atau jika robot-robot telah hampir menyerupai rasa musikal manusia.

Namun, akankah manusia rindu pada alat musik yang telah menghasilkan bunyi-bunyian itu suatu hari nanti? Ataukah cukup hanya dengan mendengar bunyi tanpa tahu dari mana asalnya?

Menanggalkan Ilusi di Layar Indonesia 2030

Venny Tania

Pendiri & Editor RI2030.com

 

Perempuan cantik dan lelaki ganteng bermesraan di layar kaca terasa lebih menghibur dan memuaskan mata. Jujur deh, siapa yang mau menonton film yang pemerannya tak menarik, ceritanya bikin pusing (hidupmu kurang pusing?), dan alih-alih khayalan melayang tinggi, malah tertular kesedihan atau penyesalan?

Film sebagai media kebudayaan dan peradaban hasil perkawinan seni dan teknologi, dengan cerdas merasuki dan mempengaruhi pikiran manusia melalui runtutan montase dan suara. Jika film romantis bisa melambungkan khayalan, film eksploitasi memabukkan mata atau membuai pikiran, dan film komedi memancing Anda menertawakan kekurangan orang lain, itu karena ada tujuan besar di baliknya. Respons bisa berbeda, namun selera massal cukup mudah dikendalikan oleh kepentingan. “Tidak ada seni yang bisa melintasi kesadaran kita seperti sebuah film, yang langsung merasuk ke perasaan manusia, menuju ruang gelap terdalam jiwa-jiwa kita,” kata sutradara legendaris Ingmar Bergman.

Sensor adalah wujud cengkeraman kekuasaan melalui film. Kekuatan sensor bisa membuat banyak orang melupakan sejarah, menyangkal kenyataan, bertindak di luar kebiasaan, dan menunduk serendahnya. Tanya saja pada Hitler, Stalin, Mussolini, Mao, Park Chung-hee, Kim Il Sung, Idi Amin, Pol Pot, hingga presiden ke-2 kita, Soeharto. Nah, Indonesia memang ikut menyumbang nama diktator dunia versi beberapa media. Dan untuk generasi baby boomers, X, hingga Y Indonesia yang mengalami era pemerintahan Orde Baru dengan senjata sensor di berbagai produk audio visual, selamat. Selera dan pola pikir Anda kebanyakan adalah hasil bentukan dan rancangan politis besar pemerintahan saat itu.

Sejarawan Prancis, Pierre Bourdieu, berpendapat bahwa selera individu ditempa oleh aspek-aspek tertentu dari praktek-praktek sosial dan posisi (atau kelas) seseorang dalam masyarakat. Tak ada selera yang terbentuk alami tanpa campur tangan kondisi sosial, politik, geografis, dan jaman. Film membentuk selera sekaligus pola pikir masyarakat kebanyakan. Jika pemegang kekuasaan ingin masyarakat terninabobokan dan melupakan kemiskinan, penindasan, kegagalan, dan kejatuhan, maka jadilah demikian.

Kungkungan sensor dan berbagai keterbatasan membuat kritik untuk pemerintah atau menggugat ketidakadilan harus sesubtil mungkin sejak era 1970-an. Trio Warkop atau Benyamin S, juga sutradara Arifin C. Noer, Nya Abbas Akup, Sjumandjaja, menyisipkan pesan maupun membuat satir soal korupsi, kesetaraan gender, ketimpangan sosial, dan lain-lain. Semuanya berhadapan dengan gunting sensor dari Departemen Penerangan sebelum 1998. Adegan dipangkas, skrip diubah, kru diganti, dan pengalihan isu dengan adegan panas kerap terjadi dalam era represi. Tidak heran awal 90-an nyaris terjadi kekosongan daya kreasi maupun perlawanan melalui film di Indonesia.

Menyuarakan realitas, menuangkan protes, dan menyajikan cermin sosial untuk membangunkan kesadaran kolektif melalui film bisa disebut sebagai bagian dari gerakan neorealisme. Neorealisme lahir di Italia pasca fasisme. Sineas Roberto Rosselini, Luscino Visconti, dan Vittorio De Sica meski tak resmi mendeklarasikan, namun sejiwa membawa kenyataan dan kejujuran ke atas pita seluloid. Karya mereka sejatinya mirip dengan dokumenter.

Ciri-cirinya: jarang memakai aktor/aktris bintang (lebih memilih orang awam atau pemain tak populer namun mewakili karakter yang diinginkan sutradara). Lalu pengambilan gambar di lokasi alami dan memakai kamera sederhana berkesan serealistis mungkin. Ada sudut-sudut kota dengan kekumuhan, rumah sempit, becek, kaum pekerja dan terpinggirkan. Bergulat dengan sewa rumah, pekerjaan, ketidakadilan, kelesuan, kebingungan di tengah kota-kota Italia yang hancur setelah perang.

Roh auter neorealis menyusup pada Ken Loach (sutradara Inggris) yang gemar mengangkat kisah kaum marjinal dengan kemiskinan, kekalahan, dan keterbatasan ruang gerak. Narkotika dan kriminalitas langganan mengisi film-film Loach. Lepas dari revolusi kebudayaan penuh propaganda, generasi ke-6 pembuat film Tiongkok juga mengangkat suara generasinya berhadapan dengan modernisasi, keterpinggiran, dan kemarahan.

Begitulah, neorealisme adalah kemasan untuk membungkus kenyataan yang berat dan tak elok agar jika dinikmati terasa getir, pahit, dan asamnya. Wajar, tidak banyak penggemar film-film demikian. Tapi berterimakasihlah pada mereka yang keluar zona nyaman dan berkontribusi memotret kebenaran, mencoba menahan arus pembodohan. Mereka menopang puing-puing peradaban agar bergerak maju, dimulai dari pemikiran individunya.

Ketika era 90-an mayoritas bioskop diisi film-film berisi ‘gairah’, ‘ranjang’, dan ‘panas’, masih ada suara berbeda. Krisis ekonomi Asia, perubahan dunia setelah perang dingin mempengaruhi Indonesia. Garin Nugroho merasakan kegelisahan di atas ilusi keberhasilan pembangunan.

Saat milenials baru mulai merangkak di kasur, Garin lulus dari IKJ dan membidani film Cinta Dalam Sepotong Roti (1991). Kritikus Seno Gumira Ajidarma menyebut ini sebagai tonggak langkah Generasi Sekolah Film [1]. Garin dan generasinya seperti Riri Riza memahami aspek teknis sinematik lebih serius dan memberi pengaruh berbeda.

Garin membuat film dokumenter Air dan Romi (1993) dan Surat Untuk Bidadari (1993). Lalu menggarap Daun Di Atas Bantal (1997) berdasarkan dokumenter Dongeng Kancil Untuk Kemerdekaan miliknya. Daun di Atas Bantal membawa anak-anak jalanan Yogyakarta betulan berakting. Tragis dan kerasnya jalanan tampil minim polesan dengan narasi besar mengenai kemiskinan, lindasan aparat, kesenjangan sosial, dan buruknya perlindungan anak di kota besar.

Sutradara kelahiran Yogyakarta ini akrab dengan tekanan. Tidak mendapat ijin hingga sembunyi-sembunyi mengirimkan film ke festival di luar sudah dilakoninya. Garin mengestafetkan tongkat realisme dengan menginisiasi ruang berkarya sineas muda dalam negeri seperti Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) hingga LA Indie Film. Dari lingkaran keluarganya juga lahir bibit generasi baru neorealisme Indonesia.

Film seperti Siti (karya Eddie Cahyono, 2016) hadir di bioskop setelah mendapat apresiasi di festival dunia. Siti mengisahkan perempuan pemandu karaoke dan penjual makanan di Parangtritis di tengah kemiskinan, jeratan hutang, disabilitas keluarga, dan represi aparat. Eddie Cahyono bersama rekan-rekan seperti Ifa Isfansyah (filmaker Sang Penari dan produser Siti), Kamila Andini (putri Garin dan istri Ifa) membentuk komunitas Fourcolors Film.

Beberapa kota di Indonesia beruntung menyaksikan film Turah (2016), dari Wicaksono Wisnu yang juga tergabung dalam Fourcolors. Film penerima berbagai penghargaan internasional ini bercerita tentang kehidupan di Tegal yaitu Kampung Tirang (betul-betul ada). Wisnu memperlihatkan kehidupan sederhana tanpa listrik dan dimonopoli pengusaha serakah dengan bawahan penjilat, namun terindikasi masyarakatnya mengalami Stockholm Syndrome, dimana mereka tidak merasa ingin mengubah situasi.

Penggabungan tradisi lokal dengan sejarah dilakukan oleh BW Purwanegara melalui Ziarah (2016), dengan karakter utama seorang nenek yang mencari makam suaminya di era perang kemerdekaan. Kamila Andini mengolah tema kesetaraan gender dan poligami melalui film pendek Sendiri Diana Sendiri (2015), juga dokumenter Memoria (2015) tentang korban perang sipil Timor Leste.

Setelah reformasi pertarungan terutama soal jatah ruang pemutaran film. Beruntung banyak komunitas bergerak di akar rumput, didukung keterbukaan investasi maupun eksibisi dari lembaga kebudayaan asing. Ada harapan bagi oase realisme melawan gosip, berita palsu, hingga delusi kemewahan semu.

Indonesia punya banyak catatan dan kebutuhan rekonsiliasi sejak kemerdekaan. Idealisme dan perjuangan melawan penindasan belum dapat meraih perhatian penonton awam (yang jumlahnya jutaan namun hanya nonton film-film beranimo besar). Namun berangkat 12 tahun ke depan sejak 2018, kelihatannya perfilman Indonesia sudah meninggalkan jejak lebih panjang dan berani menjadi autokritik, revolusi cara berpikir, membangun tradisi berekspresi (dengan tidak hanya berorientasi pada jumlah penonton), juga lebih banyak variasi kreatif yang mampu mengajak masyarakat merangkul keragaman pemikiran. Anda pilih bangun dan mulai melawan, atau pasrah mengikuti selera pasar saja?*

[1] Krisis dan Paradoks Film Indonesia, Garin Nugroho dan Dyna Herlina, Penerbit Kompas, 2015.

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi