Oh, Generasi

Venny Tania

Pendiri dan Editor RI2030.com

 

Waktu jenaka membentuk manusia. Mereka yang terikat satu kepingan era tertentu, berkelindan dengan berbagai peristiwa yang sama menjadi satu generasi. Ketika internet seolah mendekatkan yang jauh, persoalan generasi terangkat lebih masif.

Para ahli ingin lebih mudah membaca pergerakkan manusia. Memang parameter buatan manusia untuk mengukur kawanannya seringkali meleset. Cara kerja alam masih belum terselami. Apakah orang yang lahir di tahun yang sama memiliki sifat sama semua? Belum tentu. Parameter lain seperti zodiac, shio, psikologi, dan lain-lain sama saja. Tapi variabel seperti peristiwa, geografis, sosial, ekonomi, dan budaya pasti mempengaruhi.

Perbedaan perilaku antar generasi sering jadi sumber benturan dan ketidakcocokkan interaksi. Pertentangan generasi adalah resep membuat cerita lezat. Generasi tua kerap diposisikan benar dan paling tahu, sehingga generasi muda yang membangkang disudutpandangkan sebagai naif dan salah.

Coba nikmati kesenjangan pemikiran di film Eat, Drink, Man Woman (Ang Lee, 1994). Film ini menyajikan kehandalan seorang ayah sekaligus koki mengolah berbagai makanan tradisi. Selain memamerkan indahnya tampilan kuliner, keahlian tangan sang koki adalah penjara untuk tiga putrinya setiap pekan.

Menganut tradisi menikmati makanan secara kolektif, agenda terstruktur keluarga Taiwan saat itu adalah setiap anak harus ‘melaporkan’ perkembangan hidup di meja makan. Satu per satu anak meninggalkan rumah dan rutinitas feodalisme, memasuki fase baru yang lebih bebas. Di antara keputusan dan perubahan, makanan menjadi penyambung lidah, ilmu, dan filosofi hidup dua generasi.

Sudah banyak studi mengenai generasi manusia setelah abad ke-19. Bagi saya sebagai anggota klan milenial tua, ada yang kurang dalam komunikasi antar generasi saat ini, dan sulit diselesaikan melalui makanan saja. Apalagi milenial atau generasi Y (singkatan dari Youth) seolah menjadi isi roti antara generasi X (kelahiran tahun 1966-1980) dan generasi Z (kelahiran setelah tahun 2000).

Menurut sosiolog Karl Manheim, sebuah generasi di rentang tahun kelahiran tertentu terbentuk dari proses sejarah dan sosial yang serupa, sehingga memiliki cakupan pengalaman spesifik, karakteristik tertentu, serta cara merespon yang khas dan relevan [1].

Penelitian Bencsik, Csikos, dan Juhez menyebutkan generasi milenial takut menjadi dewasa dan bertanggung jawab, serta merasa dunia kejam dan menolak mereka [2]. Kemajuan teknologi membentuk mental Y menjadi mudah menerima perubahan dan asyik dengan habitatnya sendiri, walaupun singkat dan menghabiskan uang mereka. Milenial bertoleransi tinggi pada perbedaan budaya, kecuali nilai-nilai keluarga dan tradisional. Milenial hanya mau mengerjakan yang mereka sukai dan nikmati. Jika mulai terbatasi, Y akan segera menjauh.

Kami generasi milenial lebih mengikuti suara hati (yang kadang suka menipu ini), bukan tuntutan dan aturan. Memang terlihat egois dan semaunya, tapi itu karena kami melihat bagaimana generasi orang tua kami (baby boomers) diperbudak oleh pekerjaan dan diombang-ambing nasib. Waktu habis untuk dedikasi pekerjaan, yang hanya memberi secuil dana pensiun (kecuali golongan PNS). Tapi kalau semua bergantung menjadi PNS, dimana letak kemajuan Indonesia? Bukankah dulu kolonial Belanda juga membangun sekolah untuk mengisi tenaga kasar murah namun terdidik dan patuh?

Sebagian dari Y beruntung menempuh pendidikan tinggi bahkan sampai ke luar negeri. Berwirausaha bahkan mendirikan partai bukan hal mustahil bagi kami, meskipun dijuluki alay, sok tahu, ‘bocah kemarin sore’, serta dicaci ketika salah berpendapat. Meskipun masih dangkal pengetahuan dan pengalaman, tapi milenial terinspirasi oleh berbagai tokoh untuk mengubah dunia.

Karena media terus berevolusi, milenial makin mudah mengakses informasi dan memahami. Banyak generasi sebelumnya, yaitu generasi X (yang saat ini memegang posisi-posisi tinggi dan penting di berbagai sektor) terjangkit korupsi, kemunafikan, dan kemunduran pemikiran.

Seperti adik-adik generasi Z, milenial cukup defensif ketika berhadapan dengan generasi X, karena kami melihat dulu siapa, apa karyanya, serta kapabilitas dari orang yang berbicara. Apakah Anda generasi X yang cuma bisa ngebos tanpa menyadari keterbatasan sendiri? Apa betul Anda sehebat yang dicitrakan ke orang-orang? Apa Anda layak menduduki posisi saat ini? Kenapa Anda memaksakan tuntutan efisiensi yang tidak fleksibel dalam dinamika keseharian?

Menurut penelitian lain (Durbák, I, 2013), generasi milenial mengalami penolakan dan penghakiman sejak muda. Milenial melihat generasi X masih memaksakan kehendak pada anak-anaknya, si generasi Z; Semua pilihan hidup anak harus sesuai arahan otoriter orang tua yang merasa sudah makan asam garam. Saking gencarnya pemaksakan kehendak, buyarlah fungsi lembaga pendidikan sebagai pencetak generasi cerdas, kritis, dan manusiawi. Generasi Y dan Z dipaksa jadi penerus kapitalisme yang makin fasis dan materialistis.

Karena kenyataan tidak ramah, banyak milenial dan generasi Z membangun hidup di maya. Keduanya juga cukup menghindari generasi tua di internet, karena kemajuan teknologi tidak berbarengan dengan kebijaksanaan penggunanya.

Generasi X menunjukkan bahwa lulusan perguruan tinggi bukan jaminan cerdas berdigital. Setinggi apapun pendidikannya, generasi X kenyang berbagi info pemuas sepihak saja, termasuk hoax, gosip, dan propaganda.

Gara-gara perang dingin, Gen X Indonesia memilih profesi-profesi aman yang realistis dan meninggalkan kebiasaan intelektualisme kritis [3]. Ada kelebihan insinyur dan sarjana ekonomi terlahir di generasi X akibat doktrin pembangunan. Pendidikan di era milenial masih sulit mengubah pola pikir yang menganakemaskan eksakta. Sedangkan penganut eksakta, menurut beberapa pakar, lebih rentan menjadi pelaku fundamentalisme dan ekstrimisme [4].

Kekeraskepalaan dan glorifikasi masa lalu juga terlihat dari menurunnya keterbacaan jurnalisme kertas. Sebagian tetua media cetak membatasi diri dengan alasan media daring membuat pemikiran manusia jadi terpecah dan tidak linear [5]. Padahal memajukan literasi daring seharusnya tetap dilakukan, dengan strategi khusus yang mengefektifkan kemasan dan pesan,

Jika semua produk milenial dianggap dangkal, naif, manja, sok tahu, apatis, dan serba instan, maka tamatlah riwayat peradaban. Saya saja kecewa kala tidak mampu menikmati roti dari toko tua yang cuma menyediakan stok terbatas (sampai 2 jam setelah buka).

Jika pewarisan ilmu, pemikiran, dan inovasi tidak terakses luas dalam bahasa dan gaya yang relevan, maka 2030 akan menjadi tahun kebodohan massal, seperti film Idiocracy (2006). Tak mau kan kalau generasi penguasa jagat masa depan fasih berteknologi, namun makin kehilangan fungsi dasar kemanusiaannya?

Kami milenial sadar, banyak yang harus dibenahi. Dari penggemar yang menganggap Paul McCartney bakal terkenal karena Kanye West, sampai yang bilang Pramoedya Ananta Toer adalah penulis baru, semua karena keabsenan tanggung jawab di generasi sebelumnya. Perbedaan wilayah geografis kini bukan pemisah. Antar benua sudah seperti rukun warga. Keterbukaan informasi diharapkan jadi jalan melawan dampak represi dan buah-buahnya.*

Daftar Pustaka:

[1] Karl Mannheim, The Sociological Problem of Generations, 1952

[2] Bencsik Andrea, Horváth-Csikós Gabriella, Juhász Tímea, Y and Z Generations at Workplaces, 2016

[3] https://www.vice.com/id_id/article/pakmpn/gestapu-menghapus-satu-generasi-intelektual-indonesia

[4] https://www.liputan6.com/news/read/3100315/syafii-maarif-banyak-perguruan-tinggi-kebobolan-radikalisme

[5] http://yellowcabin.com/penjelasan-bre-redana-tentang-senjakala-media-cetak/

 

Advertisements

INDONESIA 2030: Jalan Berbelit Keluar dari Aneka Kontradiksi

Bambang Sugiharto

Guru Besar Filsafat di Unpar, ITB, dan UIN Bandung

 

Sebetulnya semakin hari semakin sulit bagi kita untuk menduga apa yang bakal terjadi di  masa depan. Sebabnya, perubahan di berbagai bidang berjalan demikian cepat dan radikal sehingga pola-pola penalaran konvensional kerap menjadi tidak relevan. Juga karena kini segala tendensi yang bertentangan muncul sekaligus, dengan sama kuatnya. Tulisan ini hanya akan berfokus pada tendensi-tendensi kontradiktif itu saja, dan konsekuensinya bagi konteks Indonesia.

Beberapa Kontradiksi Berat

Kontradiksi pertama adalah, di satu pihak kesadaran empatik kolektif bertumbuh kian mengglobal, di pihak lain kecenderungan etnosentris konservatif yang mengutamakan kepentingan kelompok semakin picik, serakah, dan brutal.

Kedua, komunitas virtual (lewat Facebook, Twitter, aneka lobi, asosiasi profesi, hobi, dan lain-lain) kian menandingi komunitas aktual, sedemikian hingga kategori-kategori kelompok konvensional berdasar agama, suku, ras, dan lain sebagainya tak lagi sepenuhnya bisa digunakan. Kelompok agama, ras, atau suku yang sama bisa terpecah ke dalam beragam kelompok kepentingan yang saling bertentangan, atau justru saling bercampuran.

Ketiga, kontrol sepihak versus kontrol semua pihak, yang bersifat dinamis dan plural. Dahulu orang bicara tentang dominasi, hegemoni, atau pun konspirasi, yang menunjuk pada dalang-dalang yang merekayasa segala peristiwa. Kini penguasaan linear macam itu disaingi oleh kinerja segala pihak yang bisa membawa pengaruh luas dan mendasar secara tak terduga. Segala hal mudah menjadi viral dan berdampak luas.

Keempat, segala bentuk sistem (agama, tradisi, sains, teknologi, dan sebagainya) dipertanyakan, diperkarakan, bahkan didekonstruksi oleh kesadaran kritis para warganya sendiri. Ortodoksi menjadi heterodoks. Namun tendensi sentrifugal ini ternyata harus berhadapan dengan tendensi sentripetal, yakni mereka yang secara radikal dan fanatik justru memperkeras sistem.

Konsekuensi bagi Indonesia

Bagi masa depan, agar segala kontradiksi di atas tidak menghancurkan diri sendiri (self-destructive),  transaksi-transaksi makna yang terjadi perlulah dijaga agar tetap “beradab” dan bertumbuh terus menuju kesadaran nilai lebih tinggi. Untuk itu barangkali unsur-unsur berikut menjadi penting: Kreativitas, Reflektivitas, Responsibilitas, dan Hospitalitas.

Kreativitas: karena situasi kini ditandai pertemuan-pertemuan yang merupakan proses penciptaan bersama terus menerus, dan karena itu masa depan adalah sesuatu yang sangat terbuka untuk dibentuk, maka pendidikan perlu memacu kemampuan-kemampuan kerjasama kreatif itu. Ini peluang bagus bagi bangsa manusia untuk saling menciptakan ulang dunianya (mutual transformation) melalui interaksi kreatif bersama.

Reflektivitas: Reflektivitas di sini adalah “reflektivitas-dialogis-kritis”: kesadaran diri  yang terus menerus dirumuskan dan dibongkar melalui hubungan dialogis dengan “Liyan” (Levinas). Reflektivitas dialogis penting dalam pendidikan agar tendensi egosentrisme natural berevolusi ke arah ‘worldsentrisme’ kultural-spiritual (Ken Wilber).

Responsibilitas: Ketika tekanan berlebihan kini diletakkan pada perbedaan dan hak individu, maka sikap bertanggungjawab atas dampak dari perilaku pribadi menjadi penting. Dan tanggungjawab terutama berkaitan dengan dampak negatif, khususnya dengan penderitaan yang ditimbulkan bagi keseluruhan lebih besar.

Hospitalitas: Ini adalah sikap fleksibel dan akomodatif yang terbuka dan ramah terhadap segala hal yang asing dan berbeda. Perbedaan bukanlah kesalahan, melainkan justru syarat pertumbuhan. Kini kita semua dalam proses saling berubah terus melalui yang lain, bertumbuh menuju peradaban baru yang lebih tinggi. Kita semua kini adalah  tuan rumah sekaligus tamu. Hospitalitas dalam arti keterbukaan dan keberanian menghadapi mereka yang tak sepenuhnya kita mengerti, menjadi penting dalam pendidikan.*

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi

Sejarah Masa Depan Yang Saya Bayangkan

Andi Achdian

Sejarawan

 

Ketika Sukarno mengucapkan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB di teras kediamannya, ia secara tidak langsung telah membuka pengalaman baru bagi orang-orang Indonesia, yang bergerak dalam sejarah linear sesuai peredaran waktu kalender Gregorian, berurutan dan tak dapat diubah, mortal dan historis, menggantikan roda waktu yang berputar siklis dalam kesadaran sejarah tradisional masyarakat tempatnya tinggal.

Sejak awal abad ke-20 dengan kemunculan kaum intelijensia dalam politik, kemerdekaan Indonesia telah melahirkan sebuah impian yang membentuk fitrah ganda antara sesuatu yang diharapkan pasti datang dan ketika kedatangannya menjadi pasti, ia tetap menjadi teka-teki tentang bagaimana dinamikanya bergerak bagi orang-orang yang hidup di dalamnya.

Masa depan tidak dapat disangkal adalah lautan misteri. Ia tidak pernah ada dalam kenyataan, tetapi bayang-bayangnya hadir dalam jiwa setiap orang dengan beragam keyakinan melalui proposisi-proposisi yang mereka tawarkan tentang bagaimana masa depan itu seharusnya, dan kesetiaan mereka menghidupi proposisi yang diajukan dalam membentuk masa depan itu.

***

Kita yang hidup di masa kini memiliki kemewahan untuk menilai sejauh mana kesetiaan setiap orang terhadap proposisi yang mereka ajukan, dan bagaimana akhir “sejarah masa depan” yang mereka jalani.

Sepanjang empat tahun setelah revolusi Indonesia, kita menyaksikan tidak seluruhnya proposisi dan harapan setiap orang terpenuhi. Bahkan kegagalannya menyiratkan pula kehancuran individu dan kelompok tempat seseorang menjadi bagian dari sebuah keyakinan bersama. Secara berturut-turut mereka yang terlempar dari panggung revolusi Indonesia jatuh terpuruk, terpanggang dalam bara api revolusi yang terus ‘memakan anak-anaknya sendiri’, meminjam istilah Vergnaun dalam menggambarkan drama revolusi Perancis abad ke-18.

Parade peristiwa dan juga nasib tak terelakan dari mereka yang menghidupi jalannya revolusi kemerdekaan menegaskan bahwa ‘masa depan adalah sebuah ladang hamparan tanpa arahan peta’ bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Sejumlah nama seperti Amir Sjarifuddin, Musso, dan Sjahrir yang sejak usia muda menjalani keyakinan tentang sebuah negara republik yang merdeka, tetapi akhirnya mendapatkan diri terlempar dari arena utama. Sukarno dan Muhammad Hatta akhirnya menjadi sosok yang kukuh sebagai tokoh utama dalam penciptaan masa depan “masyarakat yang terbayangkan” bernama Indonesia menjadi sebuah negara republik yang merdeka.

Bayangan tentang “sejarah masa depan” Indonesia sebagai tempat kita hidup bersama bagaimanapun tidak berhenti setelah terbentuknya negara republik yang merdeka, dan tak lekang oleh pergerakan perubahan zaman memasuki abad ke-21 ini. Diktum lama bahwa manusia adalah mahluk sejarah, tetapi juga senantiasa menciptakan sejarah baru menjadi aksioma yang menentukan laku zaman.

Berbeda dengan periode kapitalisme cetak yang melahirkan “masyarakat terbayangkan”, kita menghidupi laku zaman dengan kapitalisme digital yang mengisi aspek terdalam sejak pagi buta sampai kembali lelap di peraduan. Media sosial menjadi salah satu platform dari era kapitalisme digital yang melemparkan kehidupan paling intim dan rahasia pribadi-pribadi setiap orang Indonesia dalam kehidupan publik. Ia memberikan imaji semu bagi banyak orang untuk membayangkan diri sebagai siapa-siapa, meski dalam kenyataan mereka bukan siapa-siapa. Merasakan diri sebagai bagian dari sebuah proyek besar di luar kehidupan pribadi, tetapi pada saat bersamaan mampus dalam kesepian dan isolasi diri.

Akhir sejarah seolah menjadi keniscayaan yang membentuk takdir manusia abad ke-21, meski ini adalah akhir sejarah yang semu. Jutaan orang tetap terhuyung dalam antrian panjang penghuni statistik di bawah garis kemiskinan tanpa akses terhadap kesehatan, pendidikan dan pemukiman yang layak. Angka kematian ibu dan anak tetap berada dalam posisi tertinggi di kawasan dan anak-anak kita adalah generasi yang harus bekerja dalam waktu yang lebih panjang dengan bayaran yang tak sepadan. Ojek online memberi ilusi bagi jutaan orang bahwa masih banyak pekerjaan bagi mereka yang mau bekerja dan tak henti berharap. Kenyataan bahwa mereka harus bekerja lebih panjang tanpa jaminan apapun bukan lagi sebuah persoalan.

***

Kegelapan dalam bayangan kelam membawa pula sisi terang di dalamnya. Sekarang kita hidup dalam sebuah era ketika angka harapan hidup banyak orang Indonesia meningkat. Penyakit yang dahulu mematikan sekarang berhasil dijinakkan. Kita pun semakin terhubung dengan dunia luar melebihi apa yang dapat dibayangkan generasi sebelumnya. Ringkasnya, dalam beberapa hal kita menjalani kehidupan yang jauh lebih baik dibanding para pendahulu kita.

Pertanyaannya adalah apa proposisi-proposisi baru yang lahir dari situasi zaman kehidupan kita sendiri? Apakah kebahagian bersama dalam kehidupan publik di sebuah republik? Apakah menjadi sebuah bangsa yang membayangkan diri membuat segala sesuatu menjadi emas seperti sentuhan raja Midas? Apakah juga sebuah bayangan keangkuhan tentang keunggulan yang menjulang tinggi di antara bangsa-bangsa lain di dunia seperti bangunan Menara Babel?

Saya sendiri lebih suka untuk melihat sesuatu yang lebih sederhana saja. Saya mengharapkan anak-anak saya hidup dalam masyarakat yang suka membaca dan menjadikan kebaikan bersama di ruang publik sebagai prioritas utama kesehariannya. Sementara yang lainnya sekedar bonus saja. Begitu saja.*

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi

Masih Adakah Indonesia di Tahun 2030?

Mangadar Situmorang  

Rektor Universitas Katholik Parahyangan Bandung

 

Ramalan tentang masa depan Indonesia bukan hal baru dan juga bukan monopoli satu orang saja. Sebut saja “A Nation in Waiting” (Adam Schwarz, 1994) atau “Indonesia: the Unlikely Nation?” (Colin Brown, 2003) atau “A State of Emergency” (Sandra Pannel, 2003), sekadar menyebut beberapa contoh, mempertanyakan apakah Indonesia akan bertahan sebagai sebuah negara atau tidak. Jika Adam mengkhawatirkan kepemimpinan Presiden Suharto yang makin tidak efektif, Colin meragukan konstruksi sosial-demografis-historis Indonesia, dan Sandra mempertanyakan ketimpangan yang dialami oleh daerah-daerah di kawasan timur Indonesia.

Kekhawatiran tentang masa depan Indonesia tentu saja sah. Sebab, sejarah adalah kumpulan perubahan, termasuk yang ekstrim seperti munculnya atau hilangnya negara dari peta dunia. Di zaman Yunani kuno dikenal negara Athena dan Sparta. Kemudian juga ada Persia. Dalam perkembangannya, ada kekaisaran Romawi dan Ottoman.

Revolusi Amerika dan revolusi Perancis di peralihan abad ke-18 dan ke-19 juga mencatat kelahiran dan kematian sejumlah negara. Di awal abad ke-20, sejarah mencatat kemunculan sejumlah negara baru di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, termasuk Indonesia. Dan, di penghujung abad tersebut, yang sering disebut sebagai akhir “Perang Dingin”, Yugoslavia, Chekoslovakia, dan Uni Soviet bubar. Sementara Slovenia, Kroasia, Kazhakstan, dan lain-lain lahir sebagai negara baru. Indonesia sendiri dicatat sebagai warisan dari kerajaan-kerajaan di Nusantara, di antaranya adalah Majapahit dan Sriwijaya.

Membuat prediksi tentang Indonesia di tahun 2030 bukanlah perkara mudah. Itu adalah tingkatan tertinggi dari seluruh tahapan ikhtiar intelektual. Di bawahnya secara berturut-turut adalah preskripsi, eksplanasi, deskripsi, dan eksplorasi. Keunggulan atau kehebatan prediksi terletak pada kemampuannya menghimpun dan mengkaji seluruh faktor yang akan mempengaruhi sebuah perubahan, sehingga bisa sampai pada sebuah hasil dengan presisi yang tinggi.

Pertanyaan yang lebih sederhana adalah: apa yang membuat sebuah negara bisa lenyap atau bertahan dan berkembang kuat?

Secara umum, keberadaan dan keberlanjutan Indonesia sebagai sebuah negara ditentukan oleh faktor internal (nasional atau domestik) dan faktor eksternal (internasional atau global). Keduanya memiliki dimensi struktural, politik, ekonomi, dan sosial-kultural atau perseptual.

Pertautan di antara semua itu akan menampilkan sebuah matriks atau peta yang dapat mencerminkan kompleksitas dan komprehensifitas faktor dan relasi antarfaktor, yang harus dikaji untuk membuat prediksi. Ini dapat mengantar kita pada sebuah (hipo-)tesis bahwa keberadaan dan keberlanjutan negara Indonesia ditentukan oleh kekuatan internal. (Hipo-)tesis kedua adalah pemerintah harus kuat, efektif, dan demokratis.

Secara struktural, bangunan kenegaraan Indonesia masih memerlukan penguatan. Ibarat sebuah bangunan, fondasi, pilar, dan kerangka penopang dan pengikatnya masih belum kokoh. Belum terikat kuat satu sama lain. Tujuh puluh tiga tahun kemerdekaan sebagai negara masih belum cukup untuk mencegah keretakan dan keruntuhan. Diperlukan penjagaan dan pengawasan agar struktur tersebut tidak diganggu.

Secara politis, sekalipun diakui pentingnya dan telah terjadinya distribusi kekuasaan di antara institusi dan organisasi politik, belum tentu semua institusi dan organisasi politik tersebut mampu memainkan perannya secara maksimal dan terintegrasi. Kecenderungan-kecenderungan koruptif dan diskriminatif masih sangat besar. Di sini pemerintah harus tampil sebagai kekuatan yang berada di atas organisasi-organisasi politik yang selalu bertindak semata-mata demi kepentingan kelompoknya.

Faktor ekonomis seringkali dilihat sebagai hal yang sangat menentukan. Pada tataran praktik, di sini juga terdapat persaingan di antara berbagai kekuatan ekonomi. Sifat persaingannya seringkali bersifat eksploitatif, diskriminatif dan konfliktual. Tugas utama pemerintah adalah mengendalikan persaingan tersebut sembari mengupayakan pembangunan, yang bertujuan memperbanyak jumlah dan kualitas sumber-sumber kesejahteraan untuk didistribusikan secara adil.

Dimensi perseptual menegaskan relasi antarindividu atau antarkelompok yang diwarnai oleh prasangka, meremehkan, curiga, dan intoleran. Hal itu mendorong perilaku dan tindakan yang diskriminatif, eksklusif, dan juga konfliktual. Ini bisa menjadi sumber keruntuhan negara.

Dalam pemahaman yang positif dan optimis, kelemahan atau kekurangan struktural, politik, ekonomi dan kultural pada haikatnya bersifat imminent, artinya selalu ada dan tetap akan ada. Oleh karena itu, harus ada yang mengatasinya secara terus menerus. Dan itu adalah pemerintah.

Di sinilah peran pemerintah, yaitu mencegah tindakan-tindakan destruktif, intoleran, dan diskriminatif. Bersamaan dengan itu, pemerintah harus bisa secara efektif dan demokratis mengawal dan menjamin agar proses-proses pembangunan terus berlangsung demi penguatan aspek-aspek struktural, politik, ekonomi, dan perseptual. Jika pemerintah kuat, efektif, dan demokratis, maka terjaminlah keberlangsungan Indonesia sebagai negara yang bersatu, berdaulat, demokratis, dan kuat pada 2030 dan sesudahnya.*

 

Ilustrasi: HG

2030 Menjelang Akhir Bonus Demografi, Lalu…

Mayling Oey-Gardiner

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia & Ketua Komisi Ilmu Sosial, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

 

Heboh reaksi terhadap pernyataan ketua Gerindra Prabowo Subianto pada acara partai 19 Maret 2018: Indonesia bubar tahun 2030, tanpa menyebut penyebabnya. Pernyataan sensasional tersebut diambilnya dari novel karya P.W. Singer dan August Cole, Ghost Fleet: A Novel of the Next World War (24 Mei 2016).

Dengan harapan Indonesia tidak terlibat dalam perang dunia, diperkirakan penduduk Indonesia akan tetap berjaya dengan dinamikanya yang terus bergerak. Menurut proyeksi penduduk BPS terakhir, tahun 2030 Indonesia mencapai titik terendah periode Bonus Demografi, bukan akhir keberadaan bangsa. Semoga bangsa ini dapat menikmati keuntungan struktur umur penduduk karena proporsi kelompok usia produktif pada tingkat tertinggi.

Bonus Demografi

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan Bonus Demografi (BD)? Di Indonesia konsep ini pertama kali dikemukakan oleh Adioetomo[1] (2005). Pada dasarnya BD merupakan penggambaran struktur umur suatu penduduk. Pengurangan proporsi anak (0-14 tahun) akan mengurangi beban pembiayaan yang harus ditanggung penduduk usia kerja atau produktif (15-64 tahun), yang juga akan bertanggung jawab atas keberadaan penduduk lanjut usia atau lansia (65 tahun ke atas).

Poto Distribusi Umur Penduduk Hasil Sensus dan Proyeksi Penduduk

Catatan: ABK=Angka Beban Ketergantungan=Rasio (Anak 0-14 + Lansia 65+)/Penduduk Usia Produktif 15-64

Biasanya ahli kependudukan mengandalkan Angka Beban Ketergantungan (ABK) sebagai petunjuk terjadinya jendela kesempatan untuk menjadi bonus demografi. Keadaan ini ditandai ketika ABK bernilai di bawah 50, yang berarti ada kurang dari 50 penduduk tergantung (anak 0-14 dan lansia 65+) untuk setiap 100 penduduk usia produktif (15-64 tahun). Berdasarkan proyeksi penduduk 2010-2035, keadaan tersebut dimulai tahun 2020 dan masih berlanjut hingga akhir tahun proyeksi yaitu tahun 2035. Berdasarkan perhitungan tersebut, periode bonus demografi akan berakhir pada sekitar 2040an ketika ABK melebihi 50 lagi.

Banyak anak tidak membawa banyak rezeki. Bahkan sebaliknya. Umumnya mereka yang memiliki banyak anak cenderung miskin. Tumbuh kembang anak menjadi sehat dan pintar memerlukan banyak biaya. Pada tingkat makro anak menjadi beban penduduk usia produktif, menghambat pembangunan dan pengurangan kemiskinan. Karenanya Orde Baru melaksanakan Program Keluarga Berencana sejak awal 1970an, bersama berbagai program pembangunan sosial-ekonomi dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan pembukaan kesempatan kerja dengan imbalan layak hingga tinggi bagi sebanyak mungkin penduduk usia kerja, juga bagi perempuan.

Berbagai kebijakan mendukung pembangunan telah berakibat pada peningkatan usia perkawinan dan mendorong ibu-ibu mengurangi jumlah anak yang dilahirkannya. Akibatnya terjadi penciutan kelompok anak – dari 44% tahun 1971 menjadi 30% tahun 2000 dan terus berlanjut hingga 23% tahun 2030 dan setelah itu penciutan melambat menjadi 22% tahun 2035.

Ketika kelompok anak menciut, kelompok usia produktif 15-64 tahun membengkak. Namun, gejala pembengkakan tidak berlaku selamanya, bahkan akan berhenti dan pada suatu waktu juga akan menciut, mendorong kelompok usia berikutnya membengkak. Gejala ini diperkirakan akan terjadi setelah tahun 2030, bahkan kemungkinan setelah 2040. Tahun 1971 kelompok ini merupakan lebih dari separuh penduduk Indonesia, yaitu 54%; membengkak hingga mencapai 65% tahun 2000 dan terus mencapai titik tertinggi pada 68.1% tahun 2030 sebagai titik balik ke penciutan kelompok umur ini. Besarnya kelompok usia produktif ini diharapkan dapat menjadi tulang punggung bangsa, memungkinkan bangsa menjadi kaya dan tidak terperangkap dalam jebakan kelas menengah rendah.

Adalah kelompok lansia yang menjadi penentu hari depan bangsa. Secara proporsional kelompok ini tumbuh makin pesat. Tahun 1971 penduduk lansia baru berjumlah 3 juta orang, yang merupakan 2,5% dari total penduduk Indonesia. Antara 1971 dan 2010 penduduk lansia bertambah hanya sekitar 2 juta orang setiap dasawarsa. Namun setelah itu kelompok penduduk lansia itu akan ‘mbludak’.  Diperkirakan dalam dasawarsa berikut 2010-2020 penduduk lansia diperkirakan akan bertambah 5 juta orang, namun setelah itu 2020-2030 pertambahannya menjadi dua kali lipat sebesar 10 juta orang. Ketika itu, tahun 2030 penduduk lansia berjumlah 27 juta orang (9 kali 1971) merupakan 9% total penduduk, mendekati penamaan suatu penduduk sebagai menua/aging, tantangan yang membebani perekonomian kita karena peningkatan penderita penyakit penuaan, yang penanganannya memerlukan pendanaan yang besar dan makin besar. Kehidupan dan pengurusan generasi lansia itu juga menjadi beban kelompok usia produktif.

Setelah 2030?

Tahun 2030 akan datang dalam waktu tidak terlalu lama, hanya tinggal 12 tahun dari sekarang. Kecuali anak di bawah 12 tahun, penduduk lainnya kini sudah dilahirkan. Mereka akan terus bertambah umur. Semoga sebagian besar, dan makin banyak, tidak lagi terpaksa hidup dalam keterbatasanan dan kemiskinan. Diharapkan perubahan mendasar dalam program pembangunan dilakukan demi meningkatkan kesejahteraan rakyat, untuk menghadapi dan mengelola penuaan penduduk Indonesia.*

Jakarta, 14 April 2018

[1] Sri Moertiningsih Setyo Adioetomo, 2005. Bonus Demografi Menjelaskan Hubungan Antara Pertumbuhan Penduduk Dengan Pertumbuhan Ekonomi. Pidato pada upacara pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi