K-Pop, Star Wars, dan Jagoan Perempuan

 

Venny Tania

Pendiri & Editor RI2030.com

 

Ribut-ribut tidak pernah surut di dunia maya. Capekkah Anda menonton atau justru senang mengompori fan war, twit war, dan cyber bullying?

Sekelompok manusia yang disebut penggemar, atau anti-fan atau haters (konon merupakan penggemar terselubung) biasa menimbulkan kegaduhan. Menurut filsuf John Fiske, penggemar adalah penikmat budaya (pop) yang berlebihan.

Di antara 3 milyar pengguna internet, bermukimlah jutaan penggemar yang membangun dunia sendiri karena pengaruh produk budaya pop seperti musik, film, film seri, komik, dan lain-lain. Di tengah usaha meningkatkan kesadaran persamaan hak dan perlawanan kekerasan seksual, beberapa penggemar ini malah merebakkan keributan dan aksi kontra.

Contoh kasus di Korea Selatan, beberapa selebritis tengah merekomendasikan sebuah buku berjudul ‘Kim Jin Young, Lahir 1982’. Nama-nama tenar k-pop seperti Sooyoung SNSD, Rap Monster BTS, dan Irene Red Velvet mengaku membaca buku tersebut. Bukunya konon bercerita mengenai perjuangan perempuan dan mengangkat isu diskriminasi gender yang terjadi setiap hari.

Bagi masyarakat Korea penghayat tradisi Konfusianisme yang menganggap perempuan sebagai rakyat pengabdi laki-laki yang diibaratkan negara, feminisme banyak dipandang sebagai pembangkangan. Setelah Irene Red Velvet mengaku membaca buku Kim Jin Young dalam sebuah acara, segelintir penggemarnya melakukan aksi boikot di forum internet. Mereka menggunting dan membakar foto serta pernak-pernik sang artis.

Bermula dari Amerika Serikat, sekelompok penggemar kebakaran jenggot dan merasa ‘racun feminisme’ telah merenggut kesayangan mereka. Star Wars adalah ikon klasik untuk dunia geek dan nerd, sekelompok orang yang sering diidentikkan sebagai kutu buku, canggung, hingga berpengetahuan luas di bidang tertentu. 3 film perdananya yaitu Star Wars: Episode IV – A New Hope (1977), The Empire Strikes Back (1980), dan Return of The Jedi (1983) dianggap sebagai kanon penginspirasi berbagai film lanjutan, serial, animasi, pernak-pernik, fan fiction, dan lain-lain. Namun regenerasi resmi salah satu waralaba terlaris dunia tersebut direspons cukup beragam.

Sebagian pembela kesetaraan, humanis, dan liberalis memuji film Star Wars terbaru yaitu The Last Jedi (2017) dan Rogue One: A Star Wars Story (2016). Dilansir Guardian, sineas dan psikolog Annalise Ophelian menyebut The Last Jedi (yang menampilkan protagonis generasi baru dari Rey, perempuan yatim piatu dari negeri antah berantah, yang diperankan Daisy Ridley) adalah puncak pencapaian kefeminisan Star Wars. Ada banyak peran pekerjaan, jabatan, generasi, ras, dan pemikiran berbeda untuk perempuan di film The Last Jedi. 1

Sebagian orang menyatakan kekecewaan karena peran jagoan laki-laki (dalam hal ini dibandingkan dengan dominasi peran utama klasik Luke Skywalker dan Han Solo) menjadi berkurang. Di media sosial, para fanboys merisak Kelly Marie Tran, aktris berdarah Vietnam yang mendapat screen time cukup banyak dalam film The Last Jedi. Akun Instagram Kelly diisi komentar-komentar yang mencela ras, fisik, dan perannya. Kelly menghapus akun instagramnya pasca perisakan tersebut.

Jurnalis Noam Cohen menulis di The New York Times mengenai kebangkitan kaum geek dan nerd ini, sehingga apa yang dulu diasosiasikan khas dengan mereka, kini menjadi komersial dan obsesi khalayak di arus utama. Cohen mengutip profesor seni, Thomas Dolby dari Johns Hopkins University, menyebutkan bahwa mewabahnya geek culture di dunia menciptakan dua pilihan : menjadi geek atau gaptek.2 Simak saja 30 film terlaris dunia sepanjang masa, Star Wars dan superhero adaptasi komik paling mendominasi. The Big Bang Theory jadi salah satu serial televisi paling digemari 10 tahun ke belakang (31 juta penyuka di Facebook). Rasakan betapa pengaruh produk geek dan nerd itu juga sudah memasuki kamar Anda dan generasi muda saat ini.

Kartunis Randall Munroe menyimpulkan bahwa situasi ini cenderung membentuk ekslusivitas dan elitisme modern. Setelah puluhan  tahun digambarkan culun dan aneh, kini yang berbau geek dan nerds dianggap umum dan trendi. Situasi ini cenderung membangkitkan komunitas yang lebih homogen dan eksklusif, dengan sikap merasa lebih keren dari kebanyakan, sehingga selalu muncul reaksi besar dan massal terhadap sesuatu yang berbeda. Kecenderungan mengotakkan sesuatu dengan aturan tertentu membuat budaya geek menjadi seksis dan kurang beragam.2

Mantan profesor Cultural Studies, John Storey, mengutip Joli Jensen (profesor Universitas Tulsa dan penulis) menyebutkan bahwa kelompok penggemar merupakan simtom atau patologis tak terhindarkan dari masyarakat urban. Penggemar suka memamerkan kesenangannya sehingga menimbulkan ekses emosional. Berbeda dengan lingkup resmi dan akademis yang lebih terkendali secara estetika dan berjarak, penggemar aktif mengembangkan kegiatan berburu (kesenangan) menjadi sebentuk seni (Michel de Certeau). Jensen juga menegaskan bahwa penggemar sebagai pemburu ingin menggunakan barang-barang rampasan mereka sebagai fondasi membangun sebuah komunitas kultural alternatif, melibatkan intensifikasi emosional. 3

Sebetulnya masih ada produk populer yang sukses menyisipkan pesan mengenai kesetaraan gender. Ambil contoh film The Incredibles 2 yang baru saja menjadi film animasi berpenghasilan hampir 700 juta dolar dari seluruh dunia, dipuja-puji oleh kritikus maupun penonton sebagai film yang lengkap: menghibur, lucu, menerobos stigma dan stereotip gender, dan setia pada ciri khasnya sebagai film animasi superhero.

Internet memfasilitasi anonimitas menjadi pahlawan sesaat, melambungkan ilusi untuk orang-orang yang dalam keseharian tidak mampu berbicara banyak. Tidak heran, banyak orang menghabiskan waktu membela atau menyerang sesuatu yang dianggap mengancam keamanan dan stabilitas dunianya. Bahkan beberapa orang menyelubungkan kebencian terhadap perempuan yang tidak memenuhi kaidah ilusi mereka dan melahirkan nuansa atau pemikiran berbeda, dengan alasan ‘mengkritik’. Jika perempuan menjadi ‘jagoan’ seolah-olah melanggar kodrat. Kodrat mana yang kamu maksud?

Fenomena seksisme dan perisakkan karena perempuan dianggap ‘merusak kenikmatan berpatriarki’ dan aturan lama adalah cermin betapa mengakarnya diskriminasi gender ke dalam ketidaksadaran manusia; Mungkin ini merupakan warisan kolektif pemikiran berabad sebelumnya, bahwa perempuan adalah makhluk kelas dua. Alergi terhadap interpretasi dan bentuk berbeda adalah gejala diskriminasi akut.

  1. https://www.theguardian.com/film/2017/dec/18/star-wars-the-last-jedi-women-bechdel-test
  2. https://www.nytimes.com/2014/09/14/sunday-review/were-all-nerds-now.html
  3. John Storey, Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop (terjemahan), Jalasutra, 2006.

Ilustrasi : Flickr

Advertisements

Oh, Generasi

Venny Tania

Pendiri dan Editor RI2030.com

 

Waktu jenaka membentuk manusia. Mereka yang terikat satu kepingan era tertentu, berkelindan dengan berbagai peristiwa yang sama menjadi satu generasi. Ketika internet seolah mendekatkan yang jauh, persoalan generasi terangkat lebih masif.

Para ahli ingin lebih mudah membaca pergerakkan manusia. Memang parameter buatan manusia untuk mengukur kawanannya seringkali meleset. Cara kerja alam masih belum terselami. Apakah orang yang lahir di tahun yang sama memiliki sifat sama semua? Belum tentu. Parameter lain seperti zodiac, shio, psikologi, dan lain-lain sama saja. Tapi variabel seperti peristiwa, geografis, sosial, ekonomi, dan budaya pasti mempengaruhi.

Perbedaan perilaku antar generasi sering jadi sumber benturan dan ketidakcocokkan interaksi. Pertentangan generasi adalah resep membuat cerita lezat. Generasi tua kerap diposisikan benar dan paling tahu, sehingga generasi muda yang membangkang disudutpandangkan sebagai naif dan salah.

Coba nikmati kesenjangan pemikiran di film Eat, Drink, Man Woman (Ang Lee, 1994). Film ini menyajikan kehandalan seorang ayah sekaligus koki mengolah berbagai makanan tradisi. Selain memamerkan indahnya tampilan kuliner, keahlian tangan sang koki adalah penjara untuk tiga putrinya setiap pekan.

Menganut tradisi menikmati makanan secara kolektif, agenda terstruktur keluarga Taiwan saat itu adalah setiap anak harus ‘melaporkan’ perkembangan hidup di meja makan. Satu per satu anak meninggalkan rumah dan rutinitas feodalisme, memasuki fase baru yang lebih bebas. Di antara keputusan dan perubahan, makanan menjadi penyambung lidah, ilmu, dan filosofi hidup dua generasi.

Sudah banyak studi mengenai generasi manusia setelah abad ke-19. Bagi saya sebagai anggota klan milenial tua, ada yang kurang dalam komunikasi antar generasi saat ini, dan sulit diselesaikan melalui makanan saja. Apalagi milenial atau generasi Y (singkatan dari Youth) seolah menjadi isi roti antara generasi X (kelahiran tahun 1966-1980) dan generasi Z (kelahiran setelah tahun 2000).

Menurut sosiolog Karl Manheim, sebuah generasi di rentang tahun kelahiran tertentu terbentuk dari proses sejarah dan sosial yang serupa, sehingga memiliki cakupan pengalaman spesifik, karakteristik tertentu, serta cara merespon yang khas dan relevan [1].

Penelitian Bencsik, Csikos, dan Juhez menyebutkan generasi milenial takut menjadi dewasa dan bertanggung jawab, serta merasa dunia kejam dan menolak mereka [2]. Kemajuan teknologi membentuk mental Y menjadi mudah menerima perubahan dan asyik dengan habitatnya sendiri, walaupun singkat dan menghabiskan uang mereka. Milenial bertoleransi tinggi pada perbedaan budaya, kecuali nilai-nilai keluarga dan tradisional. Milenial hanya mau mengerjakan yang mereka sukai dan nikmati. Jika mulai terbatasi, Y akan segera menjauh.

Kami generasi milenial lebih mengikuti suara hati (yang kadang suka menipu ini), bukan tuntutan dan aturan. Memang terlihat egois dan semaunya, tapi itu karena kami melihat bagaimana generasi orang tua kami (baby boomers) diperbudak oleh pekerjaan dan diombang-ambing nasib. Waktu habis untuk dedikasi pekerjaan, yang hanya memberi secuil dana pensiun (kecuali golongan PNS). Tapi kalau semua bergantung menjadi PNS, dimana letak kemajuan Indonesia? Bukankah dulu kolonial Belanda juga membangun sekolah untuk mengisi tenaga kasar murah namun terdidik dan patuh?

Sebagian dari Y beruntung menempuh pendidikan tinggi bahkan sampai ke luar negeri. Berwirausaha bahkan mendirikan partai bukan hal mustahil bagi kami, meskipun dijuluki alay, sok tahu, ‘bocah kemarin sore’, serta dicaci ketika salah berpendapat. Meskipun masih dangkal pengetahuan dan pengalaman, tapi milenial terinspirasi oleh berbagai tokoh untuk mengubah dunia.

Karena media terus berevolusi, milenial makin mudah mengakses informasi dan memahami. Banyak generasi sebelumnya, yaitu generasi X (yang saat ini memegang posisi-posisi tinggi dan penting di berbagai sektor) terjangkit korupsi, kemunafikan, dan kemunduran pemikiran.

Seperti adik-adik generasi Z, milenial cukup defensif ketika berhadapan dengan generasi X, karena kami melihat dulu siapa, apa karyanya, serta kapabilitas dari orang yang berbicara. Apakah Anda generasi X yang cuma bisa ngebos tanpa menyadari keterbatasan sendiri? Apa betul Anda sehebat yang dicitrakan ke orang-orang? Apa Anda layak menduduki posisi saat ini? Kenapa Anda memaksakan tuntutan efisiensi yang tidak fleksibel dalam dinamika keseharian?

Menurut penelitian lain (Durbák, I, 2013), generasi milenial mengalami penolakan dan penghakiman sejak muda. Milenial melihat generasi X masih memaksakan kehendak pada anak-anaknya, si generasi Z; Semua pilihan hidup anak harus sesuai arahan otoriter orang tua yang merasa sudah makan asam garam. Saking gencarnya pemaksakan kehendak, buyarlah fungsi lembaga pendidikan sebagai pencetak generasi cerdas, kritis, dan manusiawi. Generasi Y dan Z dipaksa jadi penerus kapitalisme yang makin fasis dan materialistis.

Karena kenyataan tidak ramah, banyak milenial dan generasi Z membangun hidup di maya. Keduanya juga cukup menghindari generasi tua di internet, karena kemajuan teknologi tidak berbarengan dengan kebijaksanaan penggunanya.

Generasi X menunjukkan bahwa lulusan perguruan tinggi bukan jaminan cerdas berdigital. Setinggi apapun pendidikannya, generasi X kenyang berbagi info pemuas sepihak saja, termasuk hoax, gosip, dan propaganda.

Gara-gara perang dingin, Gen X Indonesia memilih profesi-profesi aman yang realistis dan meninggalkan kebiasaan intelektualisme kritis [3]. Ada kelebihan insinyur dan sarjana ekonomi terlahir di generasi X akibat doktrin pembangunan. Pendidikan di era milenial masih sulit mengubah pola pikir yang menganakemaskan eksakta. Sedangkan penganut eksakta, menurut beberapa pakar, lebih rentan menjadi pelaku fundamentalisme dan ekstrimisme [4].

Kekeraskepalaan dan glorifikasi masa lalu juga terlihat dari menurunnya keterbacaan jurnalisme kertas. Sebagian tetua media cetak membatasi diri dengan alasan media daring membuat pemikiran manusia jadi terpecah dan tidak linear [5]. Padahal memajukan literasi daring seharusnya tetap dilakukan, dengan strategi khusus yang mengefektifkan kemasan dan pesan,

Jika semua produk milenial dianggap dangkal, naif, manja, sok tahu, apatis, dan serba instan, maka tamatlah riwayat peradaban. Saya saja kecewa kala tidak mampu menikmati roti dari toko tua yang cuma menyediakan stok terbatas (sampai 2 jam setelah buka).

Jika pewarisan ilmu, pemikiran, dan inovasi tidak terakses luas dalam bahasa dan gaya yang relevan, maka 2030 akan menjadi tahun kebodohan massal, seperti film Idiocracy (2006). Tak mau kan kalau generasi penguasa jagat masa depan fasih berteknologi, namun makin kehilangan fungsi dasar kemanusiaannya?

Kami milenial sadar, banyak yang harus dibenahi. Dari penggemar yang menganggap Paul McCartney bakal terkenal karena Kanye West, sampai yang bilang Pramoedya Ananta Toer adalah penulis baru, semua karena keabsenan tanggung jawab di generasi sebelumnya. Perbedaan wilayah geografis kini bukan pemisah. Antar benua sudah seperti rukun warga. Keterbukaan informasi diharapkan jadi jalan melawan dampak represi dan buah-buahnya.*

Daftar Pustaka:

[1] Karl Mannheim, The Sociological Problem of Generations, 1952

[2] Bencsik Andrea, Horváth-Csikós Gabriella, Juhász Tímea, Y and Z Generations at Workplaces, 2016

[3] https://www.vice.com/id_id/article/pakmpn/gestapu-menghapus-satu-generasi-intelektual-indonesia

[4] https://www.liputan6.com/news/read/3100315/syafii-maarif-banyak-perguruan-tinggi-kebobolan-radikalisme

[5] http://yellowcabin.com/penjelasan-bre-redana-tentang-senjakala-media-cetak/

 

Ilustrasi: VT

Menanggalkan Ilusi di Layar Indonesia 2030

Venny Tania

Pendiri & Editor RI2030.com

 

Perempuan cantik dan lelaki ganteng bermesraan di layar kaca terasa lebih menghibur dan memuaskan mata. Jujur deh, siapa yang mau menonton film yang pemerannya tak menarik, ceritanya bikin pusing (hidupmu kurang pusing?), dan alih-alih khayalan melayang tinggi, malah tertular kesedihan atau penyesalan?

Film sebagai media kebudayaan dan peradaban hasil perkawinan seni dan teknologi, dengan cerdas merasuki dan mempengaruhi pikiran manusia melalui runtutan montase dan suara. Jika film romantis bisa melambungkan khayalan, film eksploitasi memabukkan mata atau membuai pikiran, dan film komedi memancing Anda menertawakan kekurangan orang lain, itu karena ada tujuan besar di baliknya. Respons bisa berbeda, namun selera massal cukup mudah dikendalikan oleh kepentingan. “Tidak ada seni yang bisa melintasi kesadaran kita seperti sebuah film, yang langsung merasuk ke perasaan manusia, menuju ruang gelap terdalam jiwa-jiwa kita,” kata sutradara legendaris Ingmar Bergman.

Sensor adalah wujud cengkeraman kekuasaan melalui film. Kekuatan sensor bisa membuat banyak orang melupakan sejarah, menyangkal kenyataan, bertindak di luar kebiasaan, dan menunduk serendahnya. Tanya saja pada Hitler, Stalin, Mussolini, Mao, Park Chung-hee, Kim Il Sung, Idi Amin, Pol Pot, hingga presiden ke-2 kita, Soeharto. Nah, Indonesia memang ikut menyumbang nama diktator dunia versi beberapa media. Dan untuk generasi baby boomers, X, hingga Y Indonesia yang mengalami era pemerintahan Orde Baru dengan senjata sensor di berbagai produk audio visual, selamat. Selera dan pola pikir Anda kebanyakan adalah hasil bentukan dan rancangan politis besar pemerintahan saat itu.

Sejarawan Prancis, Pierre Bourdieu, berpendapat bahwa selera individu ditempa oleh aspek-aspek tertentu dari praktek-praktek sosial dan posisi (atau kelas) seseorang dalam masyarakat. Tak ada selera yang terbentuk alami tanpa campur tangan kondisi sosial, politik, geografis, dan jaman. Film membentuk selera sekaligus pola pikir masyarakat kebanyakan. Jika pemegang kekuasaan ingin masyarakat terninabobokan dan melupakan kemiskinan, penindasan, kegagalan, dan kejatuhan, maka jadilah demikian.

Kungkungan sensor dan berbagai keterbatasan membuat kritik untuk pemerintah atau menggugat ketidakadilan harus sesubtil mungkin sejak era 1970-an. Trio Warkop atau Benyamin S, juga sutradara Arifin C. Noer, Nya Abbas Akup, Sjumandjaja, menyisipkan pesan maupun membuat satir soal korupsi, kesetaraan gender, ketimpangan sosial, dan lain-lain. Semuanya berhadapan dengan gunting sensor dari Departemen Penerangan sebelum 1998. Adegan dipangkas, skrip diubah, kru diganti, dan pengalihan isu dengan adegan panas kerap terjadi dalam era represi. Tidak heran awal 90-an nyaris terjadi kekosongan daya kreasi maupun perlawanan melalui film di Indonesia.

Menyuarakan realitas, menuangkan protes, dan menyajikan cermin sosial untuk membangunkan kesadaran kolektif melalui film bisa disebut sebagai bagian dari gerakan neorealisme. Neorealisme lahir di Italia pasca fasisme. Sineas Roberto Rosselini, Luscino Visconti, dan Vittorio De Sica meski tak resmi mendeklarasikan, namun sejiwa membawa kenyataan dan kejujuran ke atas pita seluloid. Karya mereka sejatinya mirip dengan dokumenter.

Ciri-cirinya: jarang memakai aktor/aktris bintang (lebih memilih orang awam atau pemain tak populer namun mewakili karakter yang diinginkan sutradara). Lalu pengambilan gambar di lokasi alami dan memakai kamera sederhana berkesan serealistis mungkin. Ada sudut-sudut kota dengan kekumuhan, rumah sempit, becek, kaum pekerja dan terpinggirkan. Bergulat dengan sewa rumah, pekerjaan, ketidakadilan, kelesuan, kebingungan di tengah kota-kota Italia yang hancur setelah perang.

Roh auter neorealis menyusup pada Ken Loach (sutradara Inggris) yang gemar mengangkat kisah kaum marjinal dengan kemiskinan, kekalahan, dan keterbatasan ruang gerak. Narkotika dan kriminalitas langganan mengisi film-film Loach. Lepas dari revolusi kebudayaan penuh propaganda, generasi ke-6 pembuat film Tiongkok juga mengangkat suara generasinya berhadapan dengan modernisasi, keterpinggiran, dan kemarahan.

Begitulah, neorealisme adalah kemasan untuk membungkus kenyataan yang berat dan tak elok agar jika dinikmati terasa getir, pahit, dan asamnya. Wajar, tidak banyak penggemar film-film demikian. Tapi berterimakasihlah pada mereka yang keluar zona nyaman dan berkontribusi memotret kebenaran, mencoba menahan arus pembodohan. Mereka menopang puing-puing peradaban agar bergerak maju, dimulai dari pemikiran individunya.

Ketika era 90-an mayoritas bioskop diisi film-film berisi ‘gairah’, ‘ranjang’, dan ‘panas’, masih ada suara berbeda. Krisis ekonomi Asia, perubahan dunia setelah perang dingin mempengaruhi Indonesia. Garin Nugroho merasakan kegelisahan di atas ilusi keberhasilan pembangunan.

Saat milenials baru mulai merangkak di kasur, Garin lulus dari IKJ dan membidani film Cinta Dalam Sepotong Roti (1991). Kritikus Seno Gumira Ajidarma menyebut ini sebagai tonggak langkah Generasi Sekolah Film [1]. Garin dan generasinya seperti Riri Riza memahami aspek teknis sinematik lebih serius dan memberi pengaruh berbeda.

Garin membuat film dokumenter Air dan Romi (1993) dan Surat Untuk Bidadari (1993). Lalu menggarap Daun Di Atas Bantal (1997) berdasarkan dokumenter Dongeng Kancil Untuk Kemerdekaan miliknya. Daun di Atas Bantal membawa anak-anak jalanan Yogyakarta betulan berakting. Tragis dan kerasnya jalanan tampil minim polesan dengan narasi besar mengenai kemiskinan, lindasan aparat, kesenjangan sosial, dan buruknya perlindungan anak di kota besar.

Sutradara kelahiran Yogyakarta ini akrab dengan tekanan. Tidak mendapat ijin hingga sembunyi-sembunyi mengirimkan film ke festival di luar sudah dilakoninya. Garin mengestafetkan tongkat realisme dengan menginisiasi ruang berkarya sineas muda dalam negeri seperti Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) hingga LA Indie Film. Dari lingkaran keluarganya juga lahir bibit generasi baru neorealisme Indonesia.

Film seperti Siti (karya Eddie Cahyono, 2016) hadir di bioskop setelah mendapat apresiasi di festival dunia. Siti mengisahkan perempuan pemandu karaoke dan penjual makanan di Parangtritis di tengah kemiskinan, jeratan hutang, disabilitas keluarga, dan represi aparat. Eddie Cahyono bersama rekan-rekan seperti Ifa Isfansyah (filmaker Sang Penari dan produser Siti), Kamila Andini (putri Garin dan istri Ifa) membentuk komunitas Fourcolors Film.

Beberapa kota di Indonesia beruntung menyaksikan film Turah (2016), dari Wicaksono Wisnu yang juga tergabung dalam Fourcolors. Film penerima berbagai penghargaan internasional ini bercerita tentang kehidupan di Tegal yaitu Kampung Tirang (betul-betul ada). Wisnu memperlihatkan kehidupan sederhana tanpa listrik dan dimonopoli pengusaha serakah dengan bawahan penjilat, namun terindikasi masyarakatnya mengalami Stockholm Syndrome, dimana mereka tidak merasa ingin mengubah situasi.

Penggabungan tradisi lokal dengan sejarah dilakukan oleh BW Purwanegara melalui Ziarah (2016), dengan karakter utama seorang nenek yang mencari makam suaminya di era perang kemerdekaan. Kamila Andini mengolah tema kesetaraan gender dan poligami melalui film pendek Sendiri Diana Sendiri (2015), juga dokumenter Memoria (2015) tentang korban perang sipil Timor Leste.

Setelah reformasi pertarungan terutama soal jatah ruang pemutaran film. Beruntung banyak komunitas bergerak di akar rumput, didukung keterbukaan investasi maupun eksibisi dari lembaga kebudayaan asing. Ada harapan bagi oase realisme melawan gosip, berita palsu, hingga delusi kemewahan semu.

Indonesia punya banyak catatan dan kebutuhan rekonsiliasi sejak kemerdekaan. Idealisme dan perjuangan melawan penindasan belum dapat meraih perhatian penonton awam (yang jumlahnya jutaan namun hanya nonton film-film beranimo besar). Namun berangkat 12 tahun ke depan sejak 2018, kelihatannya perfilman Indonesia sudah meninggalkan jejak lebih panjang dan berani menjadi autokritik, revolusi cara berpikir, membangun tradisi berekspresi (dengan tidak hanya berorientasi pada jumlah penonton), juga lebih banyak variasi kreatif yang mampu mengajak masyarakat merangkul keragaman pemikiran. Anda pilih bangun dan mulai melawan, atau pasrah mengikuti selera pasar saja?*

[1] Krisis dan Paradoks Film Indonesia, Garin Nugroho dan Dyna Herlina, Penerbit Kompas, 2015.

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi