Ketika Sains Melangkah ke Arah yang Berbeda: Sebuah Kilasan dari Masa Depan

Dasapta Erwin Irawan

Periset Hidrogeologi ITB,  Ambassador Open Science Framework (OSF)

 

Prolog

Nama saya Erwin, profesor bidang hidrogeologi. Cerita ini saya tulis tanggal 17 April 2030, dengan laptop konvensional saya, menggunakan piranti zaman urdu bernama Emacs.

Ini sebenarnya bukan cerita tentang mesin waktu. Sebuah mesin yang berasal dari chasis Peugeot tua saya. Ya, Pug tua saya yang 12 tahun lalu masih mengisi halaman-halaman Facebook saya, sekarang sudah dimodifikasi menjadi mesin waktu. Mesin dan perangkat lainnya memang sudah lama tidak berfungsi. Tapi masih saya pertahankan, sampai kira-kira 5 tahun lalu ada perusahaan multinasional di Maluku yang memproduksi kit mesin waktu jinjing, mereknya “Re-Play”.

Berbeda dengan alat-alat sejenis yang dulu sering menjadi ide dasar sebuah film seperti “Back to the Future” (yang sampai sekarang alat itu masih fiksi), Re-play adalah alat augmented reality yang tidak akan memindahkan Anda ke masa lalu, tapi mampu menghadirkan kembali suasana secara menyeluruh seolah Anda ada di waktu itu. Uniknya, Replay menyediakan fitur pencarian berdasarkan topik, bukan hanya waktu. Jadi anda bisa saja kembali ke suatu pertandingan bola pada topik olahraga, atau pemilihan Presiden di era 2000-an misalnya, atau tentang sains terbuka.

Kita kembali ke topik. Artikel ini tidak menceritakan tentang mesin waktu saya. Mesin waktu ini akan menjadi alat pemutar ulang saja beberapa kejadian yang akan menjadi pembanding kondisi dulu dan sekarang, era penelitian di tahun 2030-an yang sedang saya alami sekarang. Yang akan saya ceritakan di sini adalah tentang riset dan publikasi, same old story :). Semoga tidak bosan.

2030: dampak dari letupan teknologi baru di era 2020

Saya menulis artikel ini di satu pagi di bulan April 2030. Saya baru saja masuk ke Pug-Replay (Replay in my Pug). Tak sengaja saya menemukan arsip berita oleh Dyna Rochmaningsih tanggal 22 Mei 2018. Isinya tentang rencana peraturan baru dari Pemerintah RI untuk memperketat aktivitas riset peneliti luar negeri di Indonesia. Kurang lebih bersamaan dengan itu, ada Lisa Matthias dari OpenAire, yang menulis artikel tentang Sains Terbuka di Indonesia.

Saat ini, mungkin anda tidak percaya, bahasa bukan lagi kendala. Peneliti dari negara-negara selatan (global south) tidak lagi minder saat menggunakan bahasanya, dan peneliti dan Eropa dan Amerika tidak lagi menganggap bahwa mereka adalah satu-satunya yang mengendalikan perkembangan sains. Itu semua berawal dari inisiatif bernama SpeakoScience (SoS) yang mempromosikan piranti lunak penerjemah yang berhasil membuat algoritma machine learning yang mampu menerjemahkan ribuan bahasa secara real time. Gerakan ini berawal dari jejaring sosial jutaan relawan yang mau membantu menerjemahkan bahasa dalam suatu riset. Setiap terjemahan kemudian direkam dan dicari polanya, agar di masa mendatang tidak perlu lagi ada peran serta translator.

Anda bisa bicara via Skype atau Zoom (ya mereka berdua bertahan), dengan bahasa asli Anda, dan SoS akan menerjemahkannya dengan tingkat kesalahan kurang dari 3%. Kalau komunikasi surel (juga masih bertahan), jangan ditanya lagi. Saya bahkan bisa berkirim surel dengan mitra warga asli Ethiopia menggunakan SoS.

Anatomycal technology | Sumber: Commons/Wikimedia

Sebentar saya perlu menjawab panggilan telepon. Saya akan lanjutkan nanti.

30 menit kemudian.

OK, kita lanjutkan ya.

Model publikasi riset

Dulu saya membayangkan bahwa publikasi dalam jurnal hanyalah salah satu upaya pelaporan hasil riset. Lebih luas dari itu, laporan riset sendiri saya bayangkan sebagai sesuatu yang dinamis, bahkan di saat riset itu sendiri telah selesai. Tentunya ini bukan bayangan saya saja, tapi bayangan jutaan saintis muda (saya juga pernah muda) atau pemula yang melihat ada dalam model implementasi sains saat itu. Dan saat ini, semua itu telah terlihat. Dimulai dengan berubahnya model bisnis mayoritas jurnal besar menjadi lebih berpihak kepada sains lima tahun lalu, juga dengan perubahan model penilaian kinerja riset dan staf yang lebih inklusif.

Kembali ke dua artikel di atas. Saat ini riset bersama sudah bisa berjalan lancar, berbasis kepercayaan. Salah satu penyebabnya yang saya tahu adalah berubahnya cara publikasi riset. Publikasi jurnal sudah bukan lagi satu-satunya cara mempublikasikan hasil telaah saintifik. Para peneliti memilih untuk mengurangi komponen kepemilikan (ownership) dalam authorship dan menambah komponen kolaborasi.

Ya betul, authorship konvensional zaman dulu telah berhenti digunakan sejak tahun 2025, karena dianggap kental dengan komponen prestise dan kepemilikan. Sementara sains dan data itu sendiri adalah barang milik publik (public goods). Jadi bagaimana bisa barang milik semua, kemudian menjadi barang milik penulis.

Satu hal lagi, sering kali dulu, urusan authorship muncul karena kurangnya inisiatif dari pihak peneliti Indonesia. Kenapa begitu? Mungkin karena kurang percaya diri, karena sudah punya stigma bahwa “semua terserah yand bawa uang’ (funder takes all). Kondisi seperti ini akan menambah tebal dan tinggi dinding psikologis dalam komunikasi riset.

Sumber: PhDComics

Tapi itu semua masa lalu, saat bahasa bukan lagi kendala, ada SoS.

Dulu banyak saintis menolak sains terbuka, karena itu akan mengurangi nilai kepemilikan dan prestise, individu, atau institusi. Peneliti yang benar masa kini, siapapun itu dan darimanapun, akan mencari kawan, bukan kepemilikan atas data atau informasi. Saat ini riset bersama adalah suatu kegiatan beberapa ilmuwan yang bergabung yang penuh ketidaktahuan dan kemudian mengakhirinya bersama dengan pengetahuan baru.

Mengenai metrik

Nah sekarang mengenai metrik. Anda semua pasti ingat, ada saatnya, Indonesia bergulat dengan metrik untuk meningkatkan peringkat. Tapi itu semua adalah masa lalu. Anda yang sudah menjadi dosen di era 2000an, pasti ingat, saya pernah menyebut-nyebut DORA dan Leiden Manifesto. Di era sekarang ini, seleksi memang lebih capek. Komunikasi dua pihak dan dua arah selalu dilakukan saat menilai suatu riset atau kepakaran seseorang. Beda dengan dulu, tinggal lihat angka h-index dan Impact Factor, maka semua beres. Dua metrik itu meredup sejak 2020, karena makin banyak pihak percaya bahwa angka itu rentan manipulasi.

Sumber: Flickr/dasaptaerwin, CC-0

Penutup

Begitulah sekilas refleksi saya. Saya tahu artikel ini akan terlihat aneh di tahun 2018, tapi percayalah itu akan terjadi. Usia saya sekarang 54 tahun, tidak ada gunanya saya berbohong. O ya, mungkin ada yang jeli. Ya saya mendapatkan gelar Guru Besar di tahun 2023. Sebuah gelar yang tidak pernah saya bayangkan akan saya dapatkan, melihat kondisi saat itu. Saya teringat stiker buatan kawan saya Jon Tennant. Dia pernah membuat stiker “Open science is just science done right”. Semoga Anda terinspirasi.*

 

Ilustrasi: DEI

Advertisements

Oh, Generasi

Venny Tania

Pendiri dan Editor RI2030.com

 

Waktu jenaka membentuk manusia. Mereka yang terikat satu kepingan era tertentu, berkelindan dengan berbagai peristiwa yang sama menjadi satu generasi. Ketika internet seolah mendekatkan yang jauh, persoalan generasi terangkat lebih masif.

Para ahli ingin lebih mudah membaca pergerakkan manusia. Memang parameter buatan manusia untuk mengukur kawanannya seringkali meleset. Cara kerja alam masih belum terselami. Apakah orang yang lahir di tahun yang sama memiliki sifat sama semua? Belum tentu. Parameter lain seperti zodiac, shio, psikologi, dan lain-lain sama saja. Tapi variabel seperti peristiwa, geografis, sosial, ekonomi, dan budaya pasti mempengaruhi.

Perbedaan perilaku antar generasi sering jadi sumber benturan dan ketidakcocokkan interaksi. Pertentangan generasi adalah resep membuat cerita lezat. Generasi tua kerap diposisikan benar dan paling tahu, sehingga generasi muda yang membangkang disudutpandangkan sebagai naif dan salah.

Coba nikmati kesenjangan pemikiran di film Eat, Drink, Man Woman (Ang Lee, 1994). Film ini menyajikan kehandalan seorang ayah sekaligus koki mengolah berbagai makanan tradisi. Selain memamerkan indahnya tampilan kuliner, keahlian tangan sang koki adalah penjara untuk tiga putrinya setiap pekan.

Menganut tradisi menikmati makanan secara kolektif, agenda terstruktur keluarga Taiwan saat itu adalah setiap anak harus ‘melaporkan’ perkembangan hidup di meja makan. Satu per satu anak meninggalkan rumah dan rutinitas feodalisme, memasuki fase baru yang lebih bebas. Di antara keputusan dan perubahan, makanan menjadi penyambung lidah, ilmu, dan filosofi hidup dua generasi.

Sudah banyak studi mengenai generasi manusia setelah abad ke-19. Bagi saya sebagai anggota klan milenial tua, ada yang kurang dalam komunikasi antar generasi saat ini, dan sulit diselesaikan melalui makanan saja. Apalagi milenial atau generasi Y (singkatan dari Youth) seolah menjadi isi roti antara generasi X (kelahiran tahun 1966-1980) dan generasi Z (kelahiran setelah tahun 2000).

Menurut sosiolog Karl Manheim, sebuah generasi di rentang tahun kelahiran tertentu terbentuk dari proses sejarah dan sosial yang serupa, sehingga memiliki cakupan pengalaman spesifik, karakteristik tertentu, serta cara merespon yang khas dan relevan [1].

Penelitian Bencsik, Csikos, dan Juhez menyebutkan generasi milenial takut menjadi dewasa dan bertanggung jawab, serta merasa dunia kejam dan menolak mereka [2]. Kemajuan teknologi membentuk mental Y menjadi mudah menerima perubahan dan asyik dengan habitatnya sendiri, walaupun singkat dan menghabiskan uang mereka. Milenial bertoleransi tinggi pada perbedaan budaya, kecuali nilai-nilai keluarga dan tradisional. Milenial hanya mau mengerjakan yang mereka sukai dan nikmati. Jika mulai terbatasi, Y akan segera menjauh.

Kami generasi milenial lebih mengikuti suara hati (yang kadang suka menipu ini), bukan tuntutan dan aturan. Memang terlihat egois dan semaunya, tapi itu karena kami melihat bagaimana generasi orang tua kami (baby boomers) diperbudak oleh pekerjaan dan diombang-ambing nasib. Waktu habis untuk dedikasi pekerjaan, yang hanya memberi secuil dana pensiun (kecuali golongan PNS). Tapi kalau semua bergantung menjadi PNS, dimana letak kemajuan Indonesia? Bukankah dulu kolonial Belanda juga membangun sekolah untuk mengisi tenaga kasar murah namun terdidik dan patuh?

Sebagian dari Y beruntung menempuh pendidikan tinggi bahkan sampai ke luar negeri. Berwirausaha bahkan mendirikan partai bukan hal mustahil bagi kami, meskipun dijuluki alay, sok tahu, ‘bocah kemarin sore’, serta dicaci ketika salah berpendapat. Meskipun masih dangkal pengetahuan dan pengalaman, tapi milenial terinspirasi oleh berbagai tokoh untuk mengubah dunia.

Karena media terus berevolusi, milenial makin mudah mengakses informasi dan memahami. Banyak generasi sebelumnya, yaitu generasi X (yang saat ini memegang posisi-posisi tinggi dan penting di berbagai sektor) terjangkit korupsi, kemunafikan, dan kemunduran pemikiran.

Seperti adik-adik generasi Z, milenial cukup defensif ketika berhadapan dengan generasi X, karena kami melihat dulu siapa, apa karyanya, serta kapabilitas dari orang yang berbicara. Apakah Anda generasi X yang cuma bisa ngebos tanpa menyadari keterbatasan sendiri? Apa betul Anda sehebat yang dicitrakan ke orang-orang? Apa Anda layak menduduki posisi saat ini? Kenapa Anda memaksakan tuntutan efisiensi yang tidak fleksibel dalam dinamika keseharian?

Menurut penelitian lain (Durbák, I, 2013), generasi milenial mengalami penolakan dan penghakiman sejak muda. Milenial melihat generasi X masih memaksakan kehendak pada anak-anaknya, si generasi Z; Semua pilihan hidup anak harus sesuai arahan otoriter orang tua yang merasa sudah makan asam garam. Saking gencarnya pemaksakan kehendak, buyarlah fungsi lembaga pendidikan sebagai pencetak generasi cerdas, kritis, dan manusiawi. Generasi Y dan Z dipaksa jadi penerus kapitalisme yang makin fasis dan materialistis.

Karena kenyataan tidak ramah, banyak milenial dan generasi Z membangun hidup di maya. Keduanya juga cukup menghindari generasi tua di internet, karena kemajuan teknologi tidak berbarengan dengan kebijaksanaan penggunanya.

Generasi X menunjukkan bahwa lulusan perguruan tinggi bukan jaminan cerdas berdigital. Setinggi apapun pendidikannya, generasi X kenyang berbagi info pemuas sepihak saja, termasuk hoax, gosip, dan propaganda.

Gara-gara perang dingin, Gen X Indonesia memilih profesi-profesi aman yang realistis dan meninggalkan kebiasaan intelektualisme kritis [3]. Ada kelebihan insinyur dan sarjana ekonomi terlahir di generasi X akibat doktrin pembangunan. Pendidikan di era milenial masih sulit mengubah pola pikir yang menganakemaskan eksakta. Sedangkan penganut eksakta, menurut beberapa pakar, lebih rentan menjadi pelaku fundamentalisme dan ekstrimisme [4].

Kekeraskepalaan dan glorifikasi masa lalu juga terlihat dari menurunnya keterbacaan jurnalisme kertas. Sebagian tetua media cetak membatasi diri dengan alasan media daring membuat pemikiran manusia jadi terpecah dan tidak linear [5]. Padahal memajukan literasi daring seharusnya tetap dilakukan, dengan strategi khusus yang mengefektifkan kemasan dan pesan,

Jika semua produk milenial dianggap dangkal, naif, manja, sok tahu, apatis, dan serba instan, maka tamatlah riwayat peradaban. Saya saja kecewa kala tidak mampu menikmati roti dari toko tua yang cuma menyediakan stok terbatas (sampai 2 jam setelah buka).

Jika pewarisan ilmu, pemikiran, dan inovasi tidak terakses luas dalam bahasa dan gaya yang relevan, maka 2030 akan menjadi tahun kebodohan massal, seperti film Idiocracy (2006). Tak mau kan kalau generasi penguasa jagat masa depan fasih berteknologi, namun makin kehilangan fungsi dasar kemanusiaannya?

Kami milenial sadar, banyak yang harus dibenahi. Dari penggemar yang menganggap Paul McCartney bakal terkenal karena Kanye West, sampai yang bilang Pramoedya Ananta Toer adalah penulis baru, semua karena keabsenan tanggung jawab di generasi sebelumnya. Perbedaan wilayah geografis kini bukan pemisah. Antar benua sudah seperti rukun warga. Keterbukaan informasi diharapkan jadi jalan melawan dampak represi dan buah-buahnya.*

Daftar Pustaka:

[1] Karl Mannheim, The Sociological Problem of Generations, 1952

[2] Bencsik Andrea, Horváth-Csikós Gabriella, Juhász Tímea, Y and Z Generations at Workplaces, 2016

[3] https://www.vice.com/id_id/article/pakmpn/gestapu-menghapus-satu-generasi-intelektual-indonesia

[4] https://www.liputan6.com/news/read/3100315/syafii-maarif-banyak-perguruan-tinggi-kebobolan-radikalisme

[5] http://yellowcabin.com/penjelasan-bre-redana-tentang-senjakala-media-cetak/

 

Ilustrasi: VT

Pendidikan Bukan Sekolah

Antri Jayadi

Pendiri PKBM Lallatassisara

 

Bagiku pendidikan adalah upaya manusia dalam memanusiakan setiap mahluk yang berakal bukan malah mengakali setiap mahluk. Tak ada lagi pendidikan tinggi, pendidikan menengah, ataupun pendidikan dasar sebab jika setiap yang berakal paham akan dasar dari pendidikan maka saya yakin tak perlu ada sekolah.

Berlandaskan pengalaman saya mengamati bahwa dasar dan akar dari keterbelakangan pendidikan bangsa kita adalah sistem. Yah, bagi saya sistem kita hari ini terlalu berpendidikan sehingga yang diutamakan adalah matematika dan logika. Karena itu orientasi pendidikan mengarah pada kehidupan layak, sementara tidak semua siswa mau mengerti bagaimana sebenarnya kehidupan yang layak itu.

Sistem pendidikan mengarahkan sekolah menjadi mesin grading yang mampu memilah antara siswa yang pintar dan siswa yang bodoh, sehingga pendidikan terkesan hanya diperuntukkan bagi mereka yang pintar. Kupikir bukan menggeneralisir, tetapi fakta tentang seleksi-seleksi memasuki sekolah yang berkualitas baik (unggulan), sudah cukup mengubur mimpi anak-anak yang berniat menjadi orang yang pintar.

Tes-tes (UN) ketidakpercayaan atas bakat dan minat siswa sudah cukup menghabiskan anggaran setiap tahunnya yang output-nya pun sama sekali tidak menjamin bahwa yang lulus adalah mereka yang pintar. Dari sistem seleksi masuk dan seleksi keluar sudah terjadi kesenjangan atas tujuan dari pendidikan kita. Bagi saya hanya ada satu tes untuk pendidikan, yaitu denyut nadi (hidup).

Berikutnya adalah sistem pembelajaran (kurikulum) hari ini. Masih banyak sekolah yang jika ditanya menggunakan kurikulum apa, jawabannya adalah kurikulum campuran. Yah, alangkah kreatifnya guru-guru kita hari ini. Penyebabnya bukan pada kurikulumnya melainkan pelaksana kurikulum tersebut.

Fakta di daerah saya, sekitar 80% sekolah, baik dasar maupun menengah, tenaga pengajar atau gurunya berstatus sebagai tenaga kontrak dan honorer yang akrab disapa sebagai sukarelawan. Artinya orang-orang yang menjalankan kurikulum adalah mereka yang suka dan rela dalam artian tidak ada tanggung jawab moril secara administratif dalam menjalankan kewajibannya sebagai guru. Sebut saja mereka kalau suka dijalankan kalau tidak yah dihiraukan. Bahkan tak ada satupun dari mereka yang takut atau keberatan ketika diberhentikan (dipecat) sebab mereka tak pernah merasakan keadilan dalam menjalankan tugasnya. Sebagai saksi perih keadilan bagi mereka adalah pemberian THR dan gaji ke-13 di hari raya islam. Mereka hanya menjadi penoton atas kerja ikhlas mereka.

Berkiblat pada negara dengan sistem pendidikan terbaik sebut saja Finlandia, yang menerapkan upah guru dan dokter disetarakan (sama) sebab mereka tahu betul bahwa manusia yang baik adalah mereka yang terdidik dan sehat. Berkaca pada Nawacita, pemerintah kita sebenarnya sudah sejalan dalam pembangunan bangsa Indonesia terbukti menjadikan pendidikan dan kesehatan sebagai program prioritas. Tinggal bagaimana program ini sampai pada level terbawah, anggap saja pelaksana (guru/dokter). Pertanyaanya gaji guru dan dokter sudah setara atau belum? Silakan di jawab.

Di Negara Finlandia, profesi guru adalah profesi yang dianggap mahal atau mulia sebab tidak mudah menjadi seorang guru disana. Menjadi guru harus melalui serangkaian seleksi dan wajib bergelar Magister (S2). Mereka tahu betul bahwa nasib bangsanya terletak di tangan para guru yang akan mendidik generasi penerus mereka. Sementara di Indonesia siapa saja bisa menjadi seorang guru selama mereka memiliki keinginan bahkan berjiwa relawan. Artinya, masa depan generasi kita terletak di tangan mereka yang mau mendidik dengan ikhlas, bukan mendidik dengan tanggung jawab masa depan. Buktinya adalah guru-guru yang mengajar di pelosok-pelosok negeri ini. Silakan ditanya ijasahnya apa dan gajinya berapa?

Dari beberapa sistem yang saya kemukakan tersebut adalah berdasarkan keresahan pribadi akan bagaimana masyarakat kita hari ini melihat dan mendefinisikan pendidikan sebagai hal yang tidak begitu penting. Saya tidak melihat pendidikan dasar atau pendidikan menengah. Tetapi bagaimana kita mengubah paradigma masyarakat, khususnya orangtua, bahwa yang terpenting bukan pada tahap pendidikan dasarnya ataupun pendidikan menengahnya atau bahkan pendidikan di dalam keluarga, tetapi bagaimana para orangtua paham akan dasar dari pendidikan, bukan pendidikan sebagai dasar. Yang tak kalah pentingnya adalah pendidikan bukan saja sekolah.

Kalaupun ditanya bagaimana seharusnya sistem pendidikan yang baik untuk sekolah dasar dan menengah, saya ingin menantang Kementerian Pendidikan Tinggi bertukar peran dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Artinya, para dosen diposisikan mengajari anak usia dini sampai SMA/SMK dan sebaliknya para guru SD sampai SMA/SMK diposisikan sebagai dosen di perguruan tinggi. Setelah itu kita akan mendengar testimoni dari para guru dan dosen, begitupun testimoni dari para siswa dan mahasiswa.

Dari hasil evaluasi tersebut, saya yakin bahwa para guru akan mendapatkan komentar dan perhatian yang lebih banyak. Saya siap bekerja untuk membuktikan bahwa yang terpenting bukanlah pendidikan dasar ataupun pendidikan tinggi melainkan bagaimana menyampaikan dasar (roh/arwah) dari pendidikan yang sebenar-benarnya sejak dini. Kita belum terlambat.

Saya bermimpi pada tahun 2030 yang mengajar di sekolah mulai dari level PAUD dan SD hingga SMP dan SMA/SMK adalah para profesor dan doktor, bukan lagi apa kurikulumnya.*

 

Ilustrasi: PBI

Perpustakaan 2030

Rena Asyari

Pendiri & Pengelola Konten RI2030.com

 

Perpustakaan Nasional RI. Tahun 2030. Anak perempuan berusia sepuluh tahun menyebutkan judul buku yang ia ingini. “Hansen dan Gretel” buku dongeng anak yang berusia hampir 250 tahun yang lalu. Ada jeda untuk menunggu kira-kira lima menit, kemudian mesin pencari mengeluarkan buku Hansel dan Gretel. Mesinnya persis seperti mesin penjual minuman kaleng di pinggir jalan.

Pemandangan tersebut kerap kita jumpai di perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Pemerintah telah mempunyai mesin pencari khusus untuk buku. Pembaca tinggal menyebutkan judul buku, lalu tak sampai lima menit mencari mesin pencari buku akan menemukannya. Tentu saja, jika mesin pencari kewalahan, pembaca harus sabar dan menyebutkan beberapa keyword tambahan seperti penulis dan penerbit buku tersebut. Selain itu, perpustakaan telah berubah wujud, bukan lagi menjadi tempat “horor” tapi menjadi tempat yang menyenangkan untuk melakukan ragam kegiatan.

Ruang-ruang diskusi, seminar, kuliah umum penuh. Di salah satu sudut halaman perpustakaan ada taman bermain anak yang penuh dengan sarana edukasi, sudut lainnya dipenuhi oleh muda-mudi yang sedang belajar. Dengan konsep perpustakaan yang modern, kini mendatangi perpustakaan menjadi semacam kebutuhan, bukan lagi keterpaksaan.

Selain perpustakaan besar yang ada di kota, banyak perpustakaan-perpustakaan kecil di daerah, dari Sabang sampai Merauke yang berdiri hampir lima belas tahun lalu ketika ada gerakan literasi yang didukung penuh oleh pemerintah pada saat itu. Perpustakaan di daerah pun turut berubah wajah. Selain mendapatkan sumbangan berupa mesin pencari buku dari pemerintah, perpustakaan yang ada di daerah kini makin terawat, bangunannya layak huni, manajemennya perpustakaannya sudah dikelola baik, profesi pustakawan pun menjadi rebutan.

Di perpustakaan daerah, selain buku, di ruangan ada tambahan meja panjang yang di atasnya berjejer layar berukuran 5cm kali 10cm.  Ada ribuan buku yang bisa kita akses pada alat kecil tersebut. Buku-buku berubah menjadi bentuk digital. Layar berukuran mini tersebut tak membuat mata lelah membaca, bentuknya kecil dan ringan sehingga gampang dibawa kemana saja.

Jikalau ingin meminjam beberapa judul buku, pustakawan akan mengeluarkan sebuah benda bentuknya mirip telepon genggam. Kita tinggal menyebutkan buku apa yang ingin kita pinjam, lalu pustakawan dengan cekatan akan menambahkan judul buku pada alat yang akan kita bawa. Tak perlu khawatir barang tak kembali, perilaku para pembaca sudah berubah, mereka bertanggung jawab pada barang yang ia pinjam.

Indonesia, tahun 2030. Adalah sebuah negara yang maju, anak-anak mudanya menaruh minat yang tinggi pada literasi. Tempat-tempat komersil menjadi tempat yang sangat ramah literasi, mesin-mesin pencari buku ada di setiap kafe dan supermarket.

Anak perempuan tadi sudah berhasil mendapatkan buku yang ia ingini, buku “Hansel and Gretel” di tentengnya. Ia menuju kafe terdekat, matanya sibuk melihat anak-anak sebayanya juga menenteng buku dan membacanya di kafe, ya kafe! Ia kemudian hanyut dalam cerita “Hansel dan Gretel”. Di usianya yang masih belia ia tak perlu paham bagaimana negeri ini telah bertumbuh.*

 

Ilustrasi: HG

Merindukan Ruang Untuk Anak

Dy Murwaningrum

Pendiri & Editor RI2030.com

 

Tahun 2030, jika waktunya datang, siapa yang berdiri paling tegap? Tentu saja generasi yang hari ini masih sibuk bermain dengan keceriaannya. Atau, remaja yang berkejaran dengan cinta monyet di balik seragam putih birunya.

Apa yang sempat kita bekalkan untuk generasi yang suatu hari nanti akan menyangga dunia kita? Membekalinya dengan pengetahuan, mental yang tak gampang remuk, kreativitas, kepatuhan pada agama, semua itu bukan tanggung jawab satu atau dua lembaga namun seluruh masyarakat.

Setelah kita puas mengais-ngais berita tentang tahun-tahun runtuhnya sebuah Negara atau malah tentang kiamat, akhirnya 2030 tetap menjadi angka penasaran setelah 1999 atau 2012, bukan?

Ada pertanyaan di lintasan pikiran kita tentang tahun 2030. Di mana kita? Bagaimana anak-anak kita? Amunisi kecakapan bagi generasi kecil ini, tentu perlu dipersiapkan dari sekarang. Melalui media, ataupun interaksi langsung.

Jika menilik kembali media-media kita baik radio, televisi, ataupun koran, dominasi kepentingan dewasa memang jauh lebih banyak daripada urusan anak-anak. Orang dewasa punya banyak kolom-kolom di koran yang bicara tentang kepentingannya.

Politik, harga saham, perceraian artis, TTS, iklan kecik, dan lain-lain. Begitu juga dengan televisi yang bertabur sinetron pada malam hari, gosip di pagi dan sore hari. Radio juga dipenuhi oleh koleksi lagu-lagu dewasa atau komunikasi dua arah melalui telepon antara penyiar dan pendengar dewasa.

Sedikitnya tontonan yang mendidik bagi anak-anak, mungkin memang dimaksudkan agar anak-anak fokus belajar. Namun, kenyataannya banyak sekali anak-anak yang super aktif mengikuti gosip atau sinetron yang minim muatan edukasi bagi anak.

Majalah untuk anak-anak terlebih majalah dan bacaan berbahasa lokal seolah tak pernah disarankan oleh orangtua bagi anak-anaknya. Anak-anak lebih suka membeli komik horor bermuatan agak dewasa, yang dijual oleh penjaja mainan seharga Rp 1500 tiap eksemplarnya.

Cerita atau dongeng lokal yang bertujuan mengangkat imajinasi kanak-kanak, akhir-akhir ini justru sering terbentur dengan berbagai dogma. Cerita khayal tak disarankan, namun cerita horor mendapat respon yang berbeda.

Media hiburan untuk anak rasanya tak sebanyak dulu di era 90-an, saat marak boneka tangan, boneka yang digerakkan dengan benang, atau belajar menggambar bersama pak Tino Sidin. Ketika itu televisi menjadi corong informasi dan pengetahuan, pengantar gambar bergerak terluas dalam format elektronik.

Televisi sudah bukan lagi menjadi sahabat anak hari-hari ini, khususnya anak-anak desa yang masih terengah-engah untuk mendapatkan koneksi internet. Atau sebaliknya, anak desa yang justru tergagap-gagap dengan teknologi, duduk seharian di warung wifi hingga bolos sekolah.

Tak jauh juga nasib anak-anak dan musiknya. Agaknya artis cilik Indonesia tidak lagi dikenal secara nasional. Musik anak di televisi atau radio, proporsinya makin mengikis. Kita hanya bisa berharap, pada tukang Odong-odong yang lewat setiap sore atau mangkal pagi hari di pasar kaget, menanti anak-anak menikmati Odong-odong yang dikayuhnya sambil manggut-manggut mendengar lagu anak Nusantara.

Pesimis memang jika melihat minimnya perhatian kita pada generasi yang nantinya akan kita titipi berlangsungnya masa depan. Namun, optimisme juga timbul seketika kita melihat laju literasi telah menjangkau pelosok tanah air akhir-akhir ini.

Informasi dan pengetahuan bisa kita hantarkan melalui buku-buku bersayap. Kesadaran mulai tumbuh justru bukan dari lembaga-lembaga besar, namun dari individu-individu, komunitas bebas di masyarakat. Gejala ini menjadi harapan baru, menyala dan menguat karena benar tumbuh dari kesadaran, bukan anjuran pemerintah.

Memang, tak mudah meminta ruang-ruang hiburan atau informasi yang dikelola oleh industri yang bicara laba melulu. Namun kita bisa bicara langsung dari interaksi atau lewat karya di bidang masing-masing.

Geliat film anak, animasi edukatif makin banyak di akun media online. Meski belum meluas namun ada harapan. Komik, cerita bergambar dan novel yang sarat edukasi anak mulai muncul dengan harga yang relatif terjangkau. Hal lain, ternyata banyak juga teman-teman yang menyelenggarakan nonton film bareng di pelosok.

Komunitas-komuntas kecil yang bekerja dalam senyap maupun lantang, makin menjamur dan bergerak serentak. Inilah cahaya dan harapan bagi generasi kecil kita. Kesadaran dan bergerak adalah bahan bakar jangka panjang bagi nyala optimisme ini. Semoga pemerintah dapat memuluskan jalan yang telah dibuka oleh banyak pihak ini.*

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi

Masih Adakah Indonesia di Tahun 2030?

Mangadar Situmorang  

Rektor Universitas Katholik Parahyangan Bandung

 

Ramalan tentang masa depan Indonesia bukan hal baru dan juga bukan monopoli satu orang saja. Sebut saja “A Nation in Waiting” (Adam Schwarz, 1994) atau “Indonesia: the Unlikely Nation?” (Colin Brown, 2003) atau “A State of Emergency” (Sandra Pannel, 2003), sekadar menyebut beberapa contoh, mempertanyakan apakah Indonesia akan bertahan sebagai sebuah negara atau tidak. Jika Adam mengkhawatirkan kepemimpinan Presiden Suharto yang makin tidak efektif, Colin meragukan konstruksi sosial-demografis-historis Indonesia, dan Sandra mempertanyakan ketimpangan yang dialami oleh daerah-daerah di kawasan timur Indonesia.

Kekhawatiran tentang masa depan Indonesia tentu saja sah. Sebab, sejarah adalah kumpulan perubahan, termasuk yang ekstrim seperti munculnya atau hilangnya negara dari peta dunia. Di zaman Yunani kuno dikenal negara Athena dan Sparta. Kemudian juga ada Persia. Dalam perkembangannya, ada kekaisaran Romawi dan Ottoman.

Revolusi Amerika dan revolusi Perancis di peralihan abad ke-18 dan ke-19 juga mencatat kelahiran dan kematian sejumlah negara. Di awal abad ke-20, sejarah mencatat kemunculan sejumlah negara baru di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, termasuk Indonesia. Dan, di penghujung abad tersebut, yang sering disebut sebagai akhir “Perang Dingin”, Yugoslavia, Chekoslovakia, dan Uni Soviet bubar. Sementara Slovenia, Kroasia, Kazhakstan, dan lain-lain lahir sebagai negara baru. Indonesia sendiri dicatat sebagai warisan dari kerajaan-kerajaan di Nusantara, di antaranya adalah Majapahit dan Sriwijaya.

Membuat prediksi tentang Indonesia di tahun 2030 bukanlah perkara mudah. Itu adalah tingkatan tertinggi dari seluruh tahapan ikhtiar intelektual. Di bawahnya secara berturut-turut adalah preskripsi, eksplanasi, deskripsi, dan eksplorasi. Keunggulan atau kehebatan prediksi terletak pada kemampuannya menghimpun dan mengkaji seluruh faktor yang akan mempengaruhi sebuah perubahan, sehingga bisa sampai pada sebuah hasil dengan presisi yang tinggi.

Pertanyaan yang lebih sederhana adalah: apa yang membuat sebuah negara bisa lenyap atau bertahan dan berkembang kuat?

Secara umum, keberadaan dan keberlanjutan Indonesia sebagai sebuah negara ditentukan oleh faktor internal (nasional atau domestik) dan faktor eksternal (internasional atau global). Keduanya memiliki dimensi struktural, politik, ekonomi, dan sosial-kultural atau perseptual.

Pertautan di antara semua itu akan menampilkan sebuah matriks atau peta yang dapat mencerminkan kompleksitas dan komprehensifitas faktor dan relasi antarfaktor, yang harus dikaji untuk membuat prediksi. Ini dapat mengantar kita pada sebuah (hipo-)tesis bahwa keberadaan dan keberlanjutan negara Indonesia ditentukan oleh kekuatan internal. (Hipo-)tesis kedua adalah pemerintah harus kuat, efektif, dan demokratis.

Secara struktural, bangunan kenegaraan Indonesia masih memerlukan penguatan. Ibarat sebuah bangunan, fondasi, pilar, dan kerangka penopang dan pengikatnya masih belum kokoh. Belum terikat kuat satu sama lain. Tujuh puluh tiga tahun kemerdekaan sebagai negara masih belum cukup untuk mencegah keretakan dan keruntuhan. Diperlukan penjagaan dan pengawasan agar struktur tersebut tidak diganggu.

Secara politis, sekalipun diakui pentingnya dan telah terjadinya distribusi kekuasaan di antara institusi dan organisasi politik, belum tentu semua institusi dan organisasi politik tersebut mampu memainkan perannya secara maksimal dan terintegrasi. Kecenderungan-kecenderungan koruptif dan diskriminatif masih sangat besar. Di sini pemerintah harus tampil sebagai kekuatan yang berada di atas organisasi-organisasi politik yang selalu bertindak semata-mata demi kepentingan kelompoknya.

Faktor ekonomis seringkali dilihat sebagai hal yang sangat menentukan. Pada tataran praktik, di sini juga terdapat persaingan di antara berbagai kekuatan ekonomi. Sifat persaingannya seringkali bersifat eksploitatif, diskriminatif dan konfliktual. Tugas utama pemerintah adalah mengendalikan persaingan tersebut sembari mengupayakan pembangunan, yang bertujuan memperbanyak jumlah dan kualitas sumber-sumber kesejahteraan untuk didistribusikan secara adil.

Dimensi perseptual menegaskan relasi antarindividu atau antarkelompok yang diwarnai oleh prasangka, meremehkan, curiga, dan intoleran. Hal itu mendorong perilaku dan tindakan yang diskriminatif, eksklusif, dan juga konfliktual. Ini bisa menjadi sumber keruntuhan negara.

Dalam pemahaman yang positif dan optimis, kelemahan atau kekurangan struktural, politik, ekonomi dan kultural pada haikatnya bersifat imminent, artinya selalu ada dan tetap akan ada. Oleh karena itu, harus ada yang mengatasinya secara terus menerus. Dan itu adalah pemerintah.

Di sinilah peran pemerintah, yaitu mencegah tindakan-tindakan destruktif, intoleran, dan diskriminatif. Bersamaan dengan itu, pemerintah harus bisa secara efektif dan demokratis mengawal dan menjamin agar proses-proses pembangunan terus berlangsung demi penguatan aspek-aspek struktural, politik, ekonomi, dan perseptual. Jika pemerintah kuat, efektif, dan demokratis, maka terjaminlah keberlangsungan Indonesia sebagai negara yang bersatu, berdaulat, demokratis, dan kuat pada 2030 dan sesudahnya.*

 

Ilustrasi: HG

Tinggal 27 Jam Lagi

Hendra Gunawan

Pendiri & Pengelola Program RI2030.com

 

Pagi hari itu saya tiba di kantor untuk mengambil beberapa barang pribadi. Masih ada dua dus berisi buku yang tertinggal, dan beberapa foto, piagam, plakat, serta pernak-pernik lainnya yang belum saya bawa pulang.

Ya, hari itu adalah hari terakhir saya ke kantor. Setahun sebelumnya, saya telah memutuskan untuk pensiun lebih awal daripada batas usia pensiun. Alasannya sederhana, saya ingin menikmati sisa hidup saya untuk membaca buku-buku yang saya miliki (yang saya beli sejak lama tetapi tak pernah tuntas saya baca). Selain itu, saya juga ingin berkeliling Indonesia. Walau saya pernah ke beberapa kota di Sumatera, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua, masih banyak tempat di Indonesia yang belum pernah saya kunjungi.

Sambil menyortir barang-barang yang tersisa di kantor, saya mengamati foto-foto, piagam, dan plakat yang tersimpan di rak. Ingatan saya pun kembali ke masa-masa lampau. Ada sebuah foto bersama para mahasiswa tahun pertama. Foto bersama seusai kuliah terakhir di Gedung TVST.

Saya mencoba mengingat beberapa wajah di antara mereka. Dua orang di antaranya saya ingat persis. Yang pertama menjadi dosen di ITB, karenanya dengan mudah saya mengingatnya. Yang kedua adalah mahasiswa yang kemudian mengambil Tugas Akhir dengan saya, karenanya saya juga tidak pernah lupa dia. Belakangan, dia melanjutkan studi ke Australia, dan setelah mendapatkan gelar doktornya dia bekerja sebagai peneliti di Afrika Selatan, dan akhirnya menjadi dosen tetap di sana.

Di antara piagam yang ada di rak, salah satunya adalah piagam yang saya terima dari Himpunan Mahasiswa Matematika ITB pada tahun 2011. Mereka memberi saya piagam tersebut atas partisipasi saya sebagai pembicara dalam acara Latihan Kepemimpinan dan Organisasi Himatika ITB. Sebuah acara tahunan yang diadakan bagi para anggota baru Himatika ITB. Tertulis di piagam tersebut: “Leadership is action, not position.” (Mohon dimaklumi bahasa Inggrisnya.)

Beberapa poster masih menempel di pintu lemari dan di kaca jendela. Sambil mencopot poster-poster tersebut, saya pun tersenyum dan ingatan saya tersibak kembali ke masa-masa indah ketika saya bercengkerama dengan anak-anak SD dan menyaksikan mata mereka berbinar-binar mendengarkan cerita saya tentang bagaimana caranya mengukur jari-jari Bumi.

Tepatnya sejak 2011, saya banyak menyisihkan waktu untuk anak-anak. Saat itu, saya menyadari bahwa masa depan Indonesia ada di tangan anak-anak. Setiap saat saya menatap anak-anak, saya merasa sedang menatap Indonesia masa depan. Banyak yang mengatakan bahwa pada tahun 2030 Indonesia akan menikmati ‘bonus demografi’.

Ketika ada pro-kontra Kurikulum 2013, saya memutuskan untuk membuat blog anakbertanya.com, sebuah ruang tempat anak-anak bertanya tentang berbagai hal. Sebagai pengelola blog, saya kemudian mencarikan orang yang sesuai bidangnya untuk menjawab pertanyaan mereka.

Bukan sekadar blog, saya dan kawan-kawan juga mengadakan banyak acara khusus bagi anak-anak. Setiap tahun sejak 2015, saya dan kawan-kawan menggelar festival untuk anak-anak yang haus akan pengetahuan. Misi saya dan kawan-kawan adalah menginspirasi anak-anak Indonesia agar bercita-cita tinggi dan bekerja keras mewujudkan cita-citanya.

Pada awal semester lalu, ada seorang mahasiswa baru datang ke kantor saya. Ditanya apa keperluannya, dia bercerita bahwa dia hanya ingin menyapa saya. Ketika kecil, dia membaca buku Anak Bertanya Pakar Menjawab yang saya sunting. Sejak itu dia bertekad untuk belajar dengan rajin, dan akhirnya dia pun diterima di ITB di program studi yang diminatinya, yaitu Astronomi.

Tak terasa sudah setengah harian saya berada di kantor. Semua barang yang saya putuskan untuk dibawa pulang ke rumah telah berada dalam dus. Dibantu oleh seorang karyawan, barang-barang tersebut dibawa ke mobil. Kunci kantor pun saya titipkan kepadanya, karena hari itu hari libur — tidak ada dosen atau karyawan lain yang masuk. Tidak ada acara perpisahan khusus di FMIPA-ITB di hari terakhir seseorang bekerja, apalagi di waktu libur.

Malam harinya di rumah, saya menatap kalender — yang hanya tinggal satu lembar terakhir. Hari itu merupakan dua hari terakhir di tahun 2029. Di balik kalender itu, sudah terpasang kalender baru, kalender tahun 2030. Ada perasaan tak sabar menanti datangnya tahun baru yang tinggal 27 jam lagi.*

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi