Gotong Royong Pemerintah dan Gerakan Keorangtuaan Menangkal Radikalisasi

JC Pramudia Natal

Guru, Pemusik & Penulis Lepas

 

Terdapat satu benang merah yang sangat mencolok dari peristiwa pemboman bulan lalu di Surabaya, Wonocolo, dan Sidoarjo, yaitu para pelakunya merupakan satu keluarga batih; ayah, ibu, beserta anak-anak mereka.

Dalam bentuk yang paling tragis dan kejam, masyarakat Indonesia diberikan pelajaran bagaimana keluarga, terutama orangtua bagi anak-anak yang masih di bawah umur, memainkan peranan krusial dalam perkembangan kehidupan anak.

Hal ini tentu menjadi ironis karena justru selama lima tahun ke belakang, terutama dalam era Kabinet Kerja, keluarga justru dicoba untuk dikembalikan menjadi motor kebangkitan nasional, khususnya dalam sudut pandang pendidikan.

Dari perspektif Pemerintah, secara moril, dalam dukungan verbal yang dilontarkan Mendikbud I Kabinet Kerja Anies Baswedan atau langsung dalam implementasi kebijakan semacam program Direktorat Keorangtuaan dan Hari Pertama Sekolah, peran krusial keluarga sebagai salah satu dari trias pelaku pendidikan berusaha direvitalisasi oleh Pemerintah.

Dari perspektif akar rumput gerakan keorangtuaan, mulai dari yang bersifat psikososial dan berfokus kepada pembangunan suasana keluarga yang konstruktif sebagaimana ditunjukkan Keluargakita.id dan Komunitas Charlotte Mason Indonesia, hingga yang bersifat formal dalam bentuk sekolah dan pelatihan keluarga (homeschooling) sebagaimana dicontohkan oleh Rumahinspirasi.id dan Shine, semakin memperoleh perhatian khalayak luas.

Hal ini bukan hanya tercermin dalam jumlah peserta, namun juga perkembangan jumlah titik-titik kegiatan komunitas tersebut yang tidak hanya berskala kota, namun mulai merambah regional.

Lantas, bagaimana kita bersama perlu menyikapi isu radikalisasi keluarga ini? Walau terjadi pelaksanaan program keorangtuaan baik yang berbasis Pemerintah atau swadaya masyarakat sebagaimana diutarakan di atas, namun belum adanya payung gotong royong dan koordinasi menjadi satu aspek yang darurat untuk segera dibenahi.

Dengan segala prioritas dan program infrastruktur yang dimiliki kabinet kerja, bahkan Pemerintah lewat kepala KSP, Moeldoko, setengah mengakui bahwa baru pada tahun terakhir ini mereka akan menambah fokus kepada pembangunan manusia.

Dengan adanya perkembangan baru semacam radikalisasi keluarga, dalam bentuk pelaku bom bunuh diri, seyogianya Pemerintah tidak perlu malu untuk menggandeng komunitas-komunitas keorangtuaan di akar rumput yang nyata-nyata telah berkarya dan berbuah.

Salah satu sisi buta yang memperparah kelemahan gotong royong gerakan keorangtuaan itu sendiri adalah bahkan Pemerintah tidak bisa mengandalkan program pendidikan formalnya dalam membangun kerangka kebangsaan kepada anak.

Survei nasional Convey Indonesia Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah pada September-Oktober 2017 terhadap 2.181 responden beragama Islam, yang terdiri atas guru pendidikan Agama Islam, murid, dosen, dan mahasiswi/a, menyodorkan fakta yang tidak ramah kebhinekaan.

Dari hasil survei tersebut dan juga kasus pemboman di Jawa Timur dapat kita lihat bersama bahwa benih-benih kekerasan, nir-empati, dan intoleransi masih ada bahkan berkembang semakin pesat.

Dan cara yang lebih “sangkil-mangkus untuk menekan dan bahkan memulihkan kebangsaan Indonesia yang berbhineka adalah adanya gotong royong antara Pemerintah dengan gerakan keorangtuaan di akar rumput.

Sementara Pemerintah dapat mengadopsi kebaruan konsep, filosofi, dan praktik pendekatan kekeluargaan yang terkini dan konstruktif, untuk kemudian disosialisasikan di sekolah-sekolah; maka gerakan akar-rumput keorangtuaan bisa mendapatkan jejaring luas dalam aspek hukum, kemasyarakatan, dan bahkan memperkaya alternatif konsep, filosofi, dan praktik gerakan keorangtuaan dari gotong royong dan koordinasi ini.

Apabila pedagog John Hattie mengatakan bahwa pengembangan murid dapat pesat karena gotong royong antar-guru, maka dapat kita perluas bahwa pengembangan kebangsaan dapat lebih “sangkil-mangkus” jika terjadi gotong royong Pemerintah dan komunitas/gerakan keorangtuaan di akar rumput.*

 

Ilustrasi: Jelleke Vanooteghem | Unsplash

Advertisements

Perpustakaan 2030

Rena Asyari

Pendiri & Pengelola Konten RI2030.com

 

Perpustakaan Nasional RI. Tahun 2030. Anak perempuan berusia sepuluh tahun menyebutkan judul buku yang ia ingini. “Hansen dan Gretel” buku dongeng anak yang berusia hampir 250 tahun yang lalu. Ada jeda untuk menunggu kira-kira lima menit, kemudian mesin pencari mengeluarkan buku Hansel dan Gretel. Mesinnya persis seperti mesin penjual minuman kaleng di pinggir jalan.

Pemandangan tersebut kerap kita jumpai di perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Pemerintah telah mempunyai mesin pencari khusus untuk buku. Pembaca tinggal menyebutkan judul buku, lalu tak sampai lima menit mencari mesin pencari buku akan menemukannya. Tentu saja, jika mesin pencari kewalahan, pembaca harus sabar dan menyebutkan beberapa keyword tambahan seperti penulis dan penerbit buku tersebut. Selain itu, perpustakaan telah berubah wujud, bukan lagi menjadi tempat “horor” tapi menjadi tempat yang menyenangkan untuk melakukan ragam kegiatan.

Ruang-ruang diskusi, seminar, kuliah umum penuh. Di salah satu sudut halaman perpustakaan ada taman bermain anak yang penuh dengan sarana edukasi, sudut lainnya dipenuhi oleh muda-mudi yang sedang belajar. Dengan konsep perpustakaan yang modern, kini mendatangi perpustakaan menjadi semacam kebutuhan, bukan lagi keterpaksaan.

Selain perpustakaan besar yang ada di kota, banyak perpustakaan-perpustakaan kecil di daerah, dari Sabang sampai Merauke yang berdiri hampir lima belas tahun lalu ketika ada gerakan literasi yang didukung penuh oleh pemerintah pada saat itu. Perpustakaan di daerah pun turut berubah wajah. Selain mendapatkan sumbangan berupa mesin pencari buku dari pemerintah, perpustakaan yang ada di daerah kini makin terawat, bangunannya layak huni, manajemennya perpustakaannya sudah dikelola baik, profesi pustakawan pun menjadi rebutan.

Di perpustakaan daerah, selain buku, di ruangan ada tambahan meja panjang yang di atasnya berjejer layar berukuran 5cm kali 10cm.  Ada ribuan buku yang bisa kita akses pada alat kecil tersebut. Buku-buku berubah menjadi bentuk digital. Layar berukuran mini tersebut tak membuat mata lelah membaca, bentuknya kecil dan ringan sehingga gampang dibawa kemana saja.

Jikalau ingin meminjam beberapa judul buku, pustakawan akan mengeluarkan sebuah benda bentuknya mirip telepon genggam. Kita tinggal menyebutkan buku apa yang ingin kita pinjam, lalu pustakawan dengan cekatan akan menambahkan judul buku pada alat yang akan kita bawa. Tak perlu khawatir barang tak kembali, perilaku para pembaca sudah berubah, mereka bertanggung jawab pada barang yang ia pinjam.

Indonesia, tahun 2030. Adalah sebuah negara yang maju, anak-anak mudanya menaruh minat yang tinggi pada literasi. Tempat-tempat komersil menjadi tempat yang sangat ramah literasi, mesin-mesin pencari buku ada di setiap kafe dan supermarket.

Anak perempuan tadi sudah berhasil mendapatkan buku yang ia ingini, buku “Hansel and Gretel” di tentengnya. Ia menuju kafe terdekat, matanya sibuk melihat anak-anak sebayanya juga menenteng buku dan membacanya di kafe, ya kafe! Ia kemudian hanyut dalam cerita “Hansel dan Gretel”. Di usianya yang masih belia ia tak perlu paham bagaimana negeri ini telah bertumbuh.*

 

Ilustrasi: HG

Sejarah Masa Depan Yang Saya Bayangkan

Andi Achdian

Sejarawan

 

Ketika Sukarno mengucapkan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB di teras kediamannya, ia secara tidak langsung telah membuka pengalaman baru bagi orang-orang Indonesia, yang bergerak dalam sejarah linear sesuai peredaran waktu kalender Gregorian, berurutan dan tak dapat diubah, mortal dan historis, menggantikan roda waktu yang berputar siklis dalam kesadaran sejarah tradisional masyarakat tempatnya tinggal.

Sejak awal abad ke-20 dengan kemunculan kaum intelijensia dalam politik, kemerdekaan Indonesia telah melahirkan sebuah impian yang membentuk fitrah ganda antara sesuatu yang diharapkan pasti datang dan ketika kedatangannya menjadi pasti, ia tetap menjadi teka-teki tentang bagaimana dinamikanya bergerak bagi orang-orang yang hidup di dalamnya.

Masa depan tidak dapat disangkal adalah lautan misteri. Ia tidak pernah ada dalam kenyataan, tetapi bayang-bayangnya hadir dalam jiwa setiap orang dengan beragam keyakinan melalui proposisi-proposisi yang mereka tawarkan tentang bagaimana masa depan itu seharusnya, dan kesetiaan mereka menghidupi proposisi yang diajukan dalam membentuk masa depan itu.

***

Kita yang hidup di masa kini memiliki kemewahan untuk menilai sejauh mana kesetiaan setiap orang terhadap proposisi yang mereka ajukan, dan bagaimana akhir “sejarah masa depan” yang mereka jalani.

Sepanjang empat tahun setelah revolusi Indonesia, kita menyaksikan tidak seluruhnya proposisi dan harapan setiap orang terpenuhi. Bahkan kegagalannya menyiratkan pula kehancuran individu dan kelompok tempat seseorang menjadi bagian dari sebuah keyakinan bersama. Secara berturut-turut mereka yang terlempar dari panggung revolusi Indonesia jatuh terpuruk, terpanggang dalam bara api revolusi yang terus ‘memakan anak-anaknya sendiri’, meminjam istilah Vergnaun dalam menggambarkan drama revolusi Perancis abad ke-18.

Parade peristiwa dan juga nasib tak terelakan dari mereka yang menghidupi jalannya revolusi kemerdekaan menegaskan bahwa ‘masa depan adalah sebuah ladang hamparan tanpa arahan peta’ bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Sejumlah nama seperti Amir Sjarifuddin, Musso, dan Sjahrir yang sejak usia muda menjalani keyakinan tentang sebuah negara republik yang merdeka, tetapi akhirnya mendapatkan diri terlempar dari arena utama. Sukarno dan Muhammad Hatta akhirnya menjadi sosok yang kukuh sebagai tokoh utama dalam penciptaan masa depan “masyarakat yang terbayangkan” bernama Indonesia menjadi sebuah negara republik yang merdeka.

Bayangan tentang “sejarah masa depan” Indonesia sebagai tempat kita hidup bersama bagaimanapun tidak berhenti setelah terbentuknya negara republik yang merdeka, dan tak lekang oleh pergerakan perubahan zaman memasuki abad ke-21 ini. Diktum lama bahwa manusia adalah mahluk sejarah, tetapi juga senantiasa menciptakan sejarah baru menjadi aksioma yang menentukan laku zaman.

Berbeda dengan periode kapitalisme cetak yang melahirkan “masyarakat terbayangkan”, kita menghidupi laku zaman dengan kapitalisme digital yang mengisi aspek terdalam sejak pagi buta sampai kembali lelap di peraduan. Media sosial menjadi salah satu platform dari era kapitalisme digital yang melemparkan kehidupan paling intim dan rahasia pribadi-pribadi setiap orang Indonesia dalam kehidupan publik. Ia memberikan imaji semu bagi banyak orang untuk membayangkan diri sebagai siapa-siapa, meski dalam kenyataan mereka bukan siapa-siapa. Merasakan diri sebagai bagian dari sebuah proyek besar di luar kehidupan pribadi, tetapi pada saat bersamaan mampus dalam kesepian dan isolasi diri.

Akhir sejarah seolah menjadi keniscayaan yang membentuk takdir manusia abad ke-21, meski ini adalah akhir sejarah yang semu. Jutaan orang tetap terhuyung dalam antrian panjang penghuni statistik di bawah garis kemiskinan tanpa akses terhadap kesehatan, pendidikan dan pemukiman yang layak. Angka kematian ibu dan anak tetap berada dalam posisi tertinggi di kawasan dan anak-anak kita adalah generasi yang harus bekerja dalam waktu yang lebih panjang dengan bayaran yang tak sepadan. Ojek online memberi ilusi bagi jutaan orang bahwa masih banyak pekerjaan bagi mereka yang mau bekerja dan tak henti berharap. Kenyataan bahwa mereka harus bekerja lebih panjang tanpa jaminan apapun bukan lagi sebuah persoalan.

***

Kegelapan dalam bayangan kelam membawa pula sisi terang di dalamnya. Sekarang kita hidup dalam sebuah era ketika angka harapan hidup banyak orang Indonesia meningkat. Penyakit yang dahulu mematikan sekarang berhasil dijinakkan. Kita pun semakin terhubung dengan dunia luar melebihi apa yang dapat dibayangkan generasi sebelumnya. Ringkasnya, dalam beberapa hal kita menjalani kehidupan yang jauh lebih baik dibanding para pendahulu kita.

Pertanyaannya adalah apa proposisi-proposisi baru yang lahir dari situasi zaman kehidupan kita sendiri? Apakah kebahagian bersama dalam kehidupan publik di sebuah republik? Apakah menjadi sebuah bangsa yang membayangkan diri membuat segala sesuatu menjadi emas seperti sentuhan raja Midas? Apakah juga sebuah bayangan keangkuhan tentang keunggulan yang menjulang tinggi di antara bangsa-bangsa lain di dunia seperti bangunan Menara Babel?

Saya sendiri lebih suka untuk melihat sesuatu yang lebih sederhana saja. Saya mengharapkan anak-anak saya hidup dalam masyarakat yang suka membaca dan menjadikan kebaikan bersama di ruang publik sebagai prioritas utama kesehariannya. Sementara yang lainnya sekedar bonus saja. Begitu saja.*

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi

Merindukan Ruang Untuk Anak

Dy Murwaningrum

Pendiri & Editor RI2030.com

 

Tahun 2030, jika waktunya datang, siapa yang berdiri paling tegap? Tentu saja generasi yang hari ini masih sibuk bermain dengan keceriaannya. Atau, remaja yang berkejaran dengan cinta monyet di balik seragam putih birunya.

Apa yang sempat kita bekalkan untuk generasi yang suatu hari nanti akan menyangga dunia kita? Membekalinya dengan pengetahuan, mental yang tak gampang remuk, kreativitas, kepatuhan pada agama, semua itu bukan tanggung jawab satu atau dua lembaga namun seluruh masyarakat.

Setelah kita puas mengais-ngais berita tentang tahun-tahun runtuhnya sebuah Negara atau malah tentang kiamat, akhirnya 2030 tetap menjadi angka penasaran setelah 1999 atau 2012, bukan?

Ada pertanyaan di lintasan pikiran kita tentang tahun 2030. Di mana kita? Bagaimana anak-anak kita? Amunisi kecakapan bagi generasi kecil ini, tentu perlu dipersiapkan dari sekarang. Melalui media, ataupun interaksi langsung.

Jika menilik kembali media-media kita baik radio, televisi, ataupun koran, dominasi kepentingan dewasa memang jauh lebih banyak daripada urusan anak-anak. Orang dewasa punya banyak kolom-kolom di koran yang bicara tentang kepentingannya.

Politik, harga saham, perceraian artis, TTS, iklan kecik, dan lain-lain. Begitu juga dengan televisi yang bertabur sinetron pada malam hari, gosip di pagi dan sore hari. Radio juga dipenuhi oleh koleksi lagu-lagu dewasa atau komunikasi dua arah melalui telepon antara penyiar dan pendengar dewasa.

Sedikitnya tontonan yang mendidik bagi anak-anak, mungkin memang dimaksudkan agar anak-anak fokus belajar. Namun, kenyataannya banyak sekali anak-anak yang super aktif mengikuti gosip atau sinetron yang minim muatan edukasi bagi anak.

Majalah untuk anak-anak terlebih majalah dan bacaan berbahasa lokal seolah tak pernah disarankan oleh orangtua bagi anak-anaknya. Anak-anak lebih suka membeli komik horor bermuatan agak dewasa, yang dijual oleh penjaja mainan seharga Rp 1500 tiap eksemplarnya.

Cerita atau dongeng lokal yang bertujuan mengangkat imajinasi kanak-kanak, akhir-akhir ini justru sering terbentur dengan berbagai dogma. Cerita khayal tak disarankan, namun cerita horor mendapat respon yang berbeda.

Media hiburan untuk anak rasanya tak sebanyak dulu di era 90-an, saat marak boneka tangan, boneka yang digerakkan dengan benang, atau belajar menggambar bersama pak Tino Sidin. Ketika itu televisi menjadi corong informasi dan pengetahuan, pengantar gambar bergerak terluas dalam format elektronik.

Televisi sudah bukan lagi menjadi sahabat anak hari-hari ini, khususnya anak-anak desa yang masih terengah-engah untuk mendapatkan koneksi internet. Atau sebaliknya, anak desa yang justru tergagap-gagap dengan teknologi, duduk seharian di warung wifi hingga bolos sekolah.

Tak jauh juga nasib anak-anak dan musiknya. Agaknya artis cilik Indonesia tidak lagi dikenal secara nasional. Musik anak di televisi atau radio, proporsinya makin mengikis. Kita hanya bisa berharap, pada tukang Odong-odong yang lewat setiap sore atau mangkal pagi hari di pasar kaget, menanti anak-anak menikmati Odong-odong yang dikayuhnya sambil manggut-manggut mendengar lagu anak Nusantara.

Pesimis memang jika melihat minimnya perhatian kita pada generasi yang nantinya akan kita titipi berlangsungnya masa depan. Namun, optimisme juga timbul seketika kita melihat laju literasi telah menjangkau pelosok tanah air akhir-akhir ini.

Informasi dan pengetahuan bisa kita hantarkan melalui buku-buku bersayap. Kesadaran mulai tumbuh justru bukan dari lembaga-lembaga besar, namun dari individu-individu, komunitas bebas di masyarakat. Gejala ini menjadi harapan baru, menyala dan menguat karena benar tumbuh dari kesadaran, bukan anjuran pemerintah.

Memang, tak mudah meminta ruang-ruang hiburan atau informasi yang dikelola oleh industri yang bicara laba melulu. Namun kita bisa bicara langsung dari interaksi atau lewat karya di bidang masing-masing.

Geliat film anak, animasi edukatif makin banyak di akun media online. Meski belum meluas namun ada harapan. Komik, cerita bergambar dan novel yang sarat edukasi anak mulai muncul dengan harga yang relatif terjangkau. Hal lain, ternyata banyak juga teman-teman yang menyelenggarakan nonton film bareng di pelosok.

Komunitas-komuntas kecil yang bekerja dalam senyap maupun lantang, makin menjamur dan bergerak serentak. Inilah cahaya dan harapan bagi generasi kecil kita. Kesadaran dan bergerak adalah bahan bakar jangka panjang bagi nyala optimisme ini. Semoga pemerintah dapat memuluskan jalan yang telah dibuka oleh banyak pihak ini.*

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi