Merebut Pembaca Sastra

Rena Asyari

Pendiri & Pengelola Konten RI2030.com

 

Mangkatnya Danarto dengan tiba-tiba tentu saja membuat kaget setiap penikmat karyanya. Siapa Danarto? Tanya anak-anak muda belia dalam akun IG-nya yang lebih banyak memfollow akun travelling dan selebgram. Untuk mendekat pada mereka rupanya Danarto harus bersaing dengan K-POP, Youtube, segala yang enteng dan instan.

Dunia alternatif yang Danarto tawarkan pada pembaca muda tak cukup menarik bagi mereka. Apa gunanya berbicara kematian bahkan mengakrabinya? Membaca tulisan yang absurd buang waktu, hanya khayal yang tak masuk akal, lagi-lagi.

Satu setengah abad yang lalu, Karel Frederik Holle mungkin tak akan pernah menyangka dirinya akan banyak disebut di dunia sastra Sunda. Usahanya untuk memajukan sastra di daerah Priangan menjadi catatan sejarah tersendiri. Penasehat pemerintahan Hindia Belanda dan pengusaha perkebunan teh itu tak sendiri. Ia mengajak intelektual pribumi Moehamad Moesa sebagai rekan menulisnya.

Penelitian Mikihiro Moriyama mencatat buku-buku Holle dan Moesa dicetak dan disebarluaskan oleh Penerbit Landsdrukkerij, Misionaris, Bumiputra dan Indo-Eropa pada rentang waktu 1850 – 1908. Ada 222 buku dalam bahasa Sunda yang berisi fabel, pantun, terjemahan dongeng, wawacan, dan cerita anak.

Buku-buku tersebut menjadi bacaan wajib bagi anak Sekolah Dasar kala itu. Tak main-main setiap bukunya hampir dicetak 2000 bahkan hingga 6000 eksemplar. Siapa yang mengira abad ke-19 ternyata di bagian barat Pulau Jawa telah ada gerakan “melek aksara”.

Memasuki awal abad ke-20, Balai Pustaka menjadi salah satu penerbit yang bisa menerbitkan 350 judul buku per tahun. Dari Balai Pustaka inilah kita mengenal nama-nama besar seperti Marah Rusli, Hamka, Abdoel Moeis, Sutan Takdir Alisyahbana, Armin Pane, dan nama lainnya. Pada Sebuah Kapal, Tenggelamnya Kapal Van Der Wick, Siti Nurbaya, Salah Asuhan menyuguhkan ragam kehidupan. Konflik dan intrik, duka dan harapan menjadi jamuan dalam bacaan karya para penulis Balai Pustaka.

Di era Orde Baru sastra dibungkam. Banyak buku dibakar dan dihilangkan. Beruntung, reformasi membuat karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Umar Kayam, Putu Wijaya, Budi Darma, YB Mangunwijaya diterbitkan dan dicetak ulang hingga bebas dibaca hari ini.

Merebut Pembaca Sastra

Bagaimana kini? Di era teknologi buku-buku sastra harus bersaing dengan media sosial. Pertengkaran selebtwit dan kisah cinta para artis rupanya lebih memikat kaum muda ketimbang melahap rentetan kata-kata sarat filosopi kehidupan seperti yang disuguhkan Shindunata dalam Anak Bajang Menggiring Angin.

Teringat sebuah pertemuan dengan Ahmad Tohari pada 2013 lalu. Tohari yang sudah renta datang dari Banyumas menggunakan kereta api bersama istrinya. Ia terlihat semangat membagikan cerita dalam peluncuran buku terbarunya “Mata Yang Enak Dipandang” di sebuah kampus di Bandung. Wajahnya terlihat berbinar melihat peserta bedah buku membludak memenuhi ruang aula.

Di kursi pembicaranya pasti ia menghitung berapa banyak kepala yang hadir, lebih daripada 100 orang. Tohari tak basa-basi, ia menceritakan kegelisahannya “hanya 17 lembar per tahun rata-rata anak-anak kita membaca”, ujarnya berapi-api.

Sayang, Tohari tak tahu, bahwa peserta yang datang bukan karena keingintahuaannya atas peluncuran novel terbaru Tohari. Kebanyakan dari mereka bahkan tak mengenal satupun karyanya. Beberapa dari mereka menggeleng ketika moderator menyebutkan judul novel sastra Tohari yang sangat terkenal Ronggeng Dukuh Paruk.

Mengapa karya sastra penting untuk dibaca? Okky Madasari, penulis dan co-founder ASEAN Literary Festival, dalam orasi budayanya 2013 lalu bertutur, “Sastra adalah kegelisahan. Sastra adalah gugatan. Sastra adalah keberanian dan kejujuran. Sastra lahir dari kesadaran-kesadaran baru. Ketika kesadaran itu sudah tumbuh, saat itulah kita harus berpihak dan mengambil sikap. Berpihak pada keadilan, berpihak pada kemanusiaan.”

Melihat sejarah sastra yang cukup panjang, seharusnya kita sudah ada di tahap mapan membaca, apalagi buku-buku penulis Indonesia sudah banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Artinya, apresiasi masyarakat dunia terhadap sastra Indonesia mulai terlihat. Rasanya, tak adil pula jika ketidaksukaan generasi muda membaca karya sastra adalah murni kesalahan mereka.

Sastra, dalam kata dan kesunyiannya, memberikan ruang hidup yang lebih kaya kepada pembacanya. Salah satu penerbit besar mengenalkan sastra pada generasi muda dengan pendekatan visual. Buku-buku Ayu Utami dan Oka Rusmini dicetak ulang dengan cover baru yang lebih memikat. Musisi-musisi muda mengenalkan sastra lewat lagu dan musik. Musikalisasi puisi. Perlahan, cara-cara baru seperti ini menarik perhatian mereka.

Sudah seharusnya teknologi mengambil peran, mendekatkan sastra pada semua generasi. Para penulis dan penikmat sastra harus mau beranjak ke ruang-ruang sosial media. Mengemasnya dengan lebih menarik, memberikan warna yang baru, muda dan segar.*

Ilustrasi: RA

Advertisements