Kemerdekaan Perempuan Meningkatkan Produktivitasnya Menghadapi Tantangan Bonus Demografi

Bernard M

Ketua Peduli Bonus Demografi Riau

 

Kemerdekaan perempuan memilih peran aktifnya di tengah masyarakat dalam meningkatkan taraf hidup cenderung memiliki tantangan streotip tersendiri di tengah masyarakat. Terlebih jika dikaitkan dalam peran gandanya ketika akhirnya ia berkeluarga. Padahal, perempuan semakin memiliki peran penting dalam pembangunan nasional, khususnya dalam memaksimalkan potensi bonus demografi yang sebentar lagi akan merata di Indonesia. Peran yang dimaksud adalah terjunnya perempuan ke dalam dunia kerja.

Riset International Labour Organization (ILO) pada tahun 2015 memperlihatkan indikator bahwa jumlah perempuan yang menjadi pengangguran mencapai sekitar 6,2 persen, lebih besar dibandingkan dengan jumlah pria menganggur yang hanya sekitar 5,5 persen. Mirisnya lagi, pekerjaan perempuan cenderung lebih rendah kualitasnya dibandingkan dengan pekerjaan pria. Ini menjadi sebuah pekerjaan rumah besar bagi dunia kerja Indonesia.

Kabar baiknya, potensi perempuan dalam berkarier menunjukkan hal yang berbeda. Perempuan di Asia Tenggara justru diberikan kesempatan posisi strategis dalam sebuah perusahaan, yaitu sebesar 34 persen (Hasil Survei Grand Thorthon, 2015), sehingga ragam posisi penting perusahaan yang dapat diisi cenderung lebih terbuka terhadap perempuan.

Kedua hal diatas jelas memberikan suatu indikator bahwa peran krusial perempuan sebenarnya bisa lebih dimaksimalkan jika ruang kesempatan dibuka lebar. Pertanyaannya sekarang, bagaimana perempuan menjadi lebih memiliki kesempatan yang lebih baik dalam bursa kerja? Atau lebih tepatnya, bagaimana perempuan menjadi produktif?

Menjadi produktif dengan mandiri berwirausaha tentu saja menjadi solusi yang efektif. Berwirausaha tentu saja pilihan yang tepat apalagi gelombang penjualan dalam jaringan (daring) semakin terlihat deras saat ini dengan semakin bertebarannya atribut kanal-kanal seperti laman, media sosial, youtube, blog, dan berbagai market place gratis sebagai katalisator infomasi yang murah, mudah, efisien dan memiliki daya jangkau sosial dan pasar yang luas. Potensi ini juga semakin diperkuat dengan penetrasi Internet sekitar 143 juta jiwa, yang semakin besar setiap tahun di Indonesia berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII, 2017).

Menjadikan atribut kanal-kanal inovasi teknologi tersebut dalam berwirausaha lebih memungkinkan perempuan memiliki pendapatan yang lebih besar karena kontrol atas manajemen usaha dan alternatif segmen produk dan jasa yang memiliki variabel lebih dari satu jenis. Dalam hal ini pekerjaan yang cenderung berkualitas rendah dapat dihindari. Apalagi dalam memahami dan proses bagaimana mengembangkan model bisnis daring ini relatif cukup mudah dan tidak membutuhkan biaya yang terlalu besar. Informasinya juga tersebar di Internet dan kebanyakan tidak berbayar.

Hanya saja, untuk lebih memaksimalkan model ekonomi penjualan daring ini, jelas dibutuhkan sosialisasi dan edukasi dari pemerintah pusat dan perangkat daerah dalam melatih serta memaparkan peluang tersebut. Merinci potensi-potensi daerah yang bisa dijadikan objek usaha agar lebih jitu dan menyerap banyak minat kaum perempuan. Sebagai ilustrasi, potensi daerah yang lebih memiliki keistimewaan seni kriya, desain atau busana, lebih relevan jika mengutamakan penjualan hasil karya tersebut.

Dengan semakin banyaknya daerah-daerah yang memanfaatkan momentum pemasaran digital saat ini yang telah merambah ke banyak sektor ekonomi, akan tercipta banyak pengusaha srikandi yang tidak hanya memprioritaskan hidupnya untuk bekerja tapi juga produktif dengan berwirausaha. Partisipasi perempuan juga secara langsung akan meningkatkan pendapatan jika perempuan telah berkeluarga sehingga kualitas pendidikan dan kesehatan dapat lebih meningkat.

Menelisik rasio kewirausahaan terhadap total penduduk di Indonesia tahun 2017 sekarang memang sudah cukup tinggi, sekitar 3,1 persen. Namun kita masih kalah jauh dari Malaysia dan Singapura yang masing-masing memiliki rasio wirausahawan 5 persen dan 7 persen. Dari paparan data ini tersibak sebuah kesempatan, peran perempuan jika terjun dalam dunia usaha akan memaksimalkan rasio kewirausahaan menjadi lebih besar sehingga pertumbuhan ekonomi nasional jelas akan semakin signifikan.

Manifestasi perempuan dengan menempatkan dirinya menjadi mandiri dengan berwirausaha di era digital akan menimbulkan pemahaman serta dampak baru. Selain bekerja, ternyata terbuka sebuah peluang dalam berwirausaha yang memiliki fleksibilitas waktu dalam menjalankannya. Perempuan tidak lagi terkungkung dalam sebuah paradigma tradisional yaitu cukup bekerja dengan baik dan puas dengan karier tapi juga kepekaan mengaktualisasikan diri dalam meningkatkan peran gandanya dalam masyarakat dengan ikut menggerakkan ekonomi akar rumput karena ragam sektor ekonomi yang tersedia sangat variatif.

Produktivitas peran perempuan seperti inilah nantinya yang menjadi salah satu kunci memajukan pertumbuhan ekonomi di masa depan saat Indonesia diproyeksikan konsultan ternama dunia, salah satunya Mckinsey, menjadi kekuatan ekonomi terbesar ke-7 di dunia, yang akan semakin memiliki pengaruh besar di dunia internasional.

Apakah terang kesejahteraan ekonomi menjadi cahaya yang akhirnya melunturkan kegelapan dari kemiskinan akan dapat terwujud? Ini hanya bisa dijawab dengan “mata elang” para policy maker yang memiliki kepekaan dan fokus pada strategi progresif membaca dinamika zaman. Semoga.*

Advertisements

2030 Menjelang Akhir Bonus Demografi, Lalu…

Mayling Oey-Gardiner

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia & Ketua Komisi Ilmu Sosial, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

 

Heboh reaksi terhadap pernyataan ketua Gerindra Prabowo Subianto pada acara partai 19 Maret 2018: Indonesia bubar tahun 2030, tanpa menyebut penyebabnya. Pernyataan sensasional tersebut diambilnya dari novel karya P.W. Singer dan August Cole, Ghost Fleet: A Novel of the Next World War (24 Mei 2016).

Dengan harapan Indonesia tidak terlibat dalam perang dunia, diperkirakan penduduk Indonesia akan tetap berjaya dengan dinamikanya yang terus bergerak. Menurut proyeksi penduduk BPS terakhir, tahun 2030 Indonesia mencapai titik terendah periode Bonus Demografi, bukan akhir keberadaan bangsa. Semoga bangsa ini dapat menikmati keuntungan struktur umur penduduk karena proporsi kelompok usia produktif pada tingkat tertinggi.

Bonus Demografi

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan Bonus Demografi (BD)? Di Indonesia konsep ini pertama kali dikemukakan oleh Adioetomo[1] (2005). Pada dasarnya BD merupakan penggambaran struktur umur suatu penduduk. Pengurangan proporsi anak (0-14 tahun) akan mengurangi beban pembiayaan yang harus ditanggung penduduk usia kerja atau produktif (15-64 tahun), yang juga akan bertanggung jawab atas keberadaan penduduk lanjut usia atau lansia (65 tahun ke atas).

Poto Distribusi Umur Penduduk Hasil Sensus dan Proyeksi Penduduk

Catatan: ABK=Angka Beban Ketergantungan=Rasio (Anak 0-14 + Lansia 65+)/Penduduk Usia Produktif 15-64

Biasanya ahli kependudukan mengandalkan Angka Beban Ketergantungan (ABK) sebagai petunjuk terjadinya jendela kesempatan untuk menjadi bonus demografi. Keadaan ini ditandai ketika ABK bernilai di bawah 50, yang berarti ada kurang dari 50 penduduk tergantung (anak 0-14 dan lansia 65+) untuk setiap 100 penduduk usia produktif (15-64 tahun). Berdasarkan proyeksi penduduk 2010-2035, keadaan tersebut dimulai tahun 2020 dan masih berlanjut hingga akhir tahun proyeksi yaitu tahun 2035. Berdasarkan perhitungan tersebut, periode bonus demografi akan berakhir pada sekitar 2040an ketika ABK melebihi 50 lagi.

Banyak anak tidak membawa banyak rezeki. Bahkan sebaliknya. Umumnya mereka yang memiliki banyak anak cenderung miskin. Tumbuh kembang anak menjadi sehat dan pintar memerlukan banyak biaya. Pada tingkat makro anak menjadi beban penduduk usia produktif, menghambat pembangunan dan pengurangan kemiskinan. Karenanya Orde Baru melaksanakan Program Keluarga Berencana sejak awal 1970an, bersama berbagai program pembangunan sosial-ekonomi dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan pembukaan kesempatan kerja dengan imbalan layak hingga tinggi bagi sebanyak mungkin penduduk usia kerja, juga bagi perempuan.

Berbagai kebijakan mendukung pembangunan telah berakibat pada peningkatan usia perkawinan dan mendorong ibu-ibu mengurangi jumlah anak yang dilahirkannya. Akibatnya terjadi penciutan kelompok anak – dari 44% tahun 1971 menjadi 30% tahun 2000 dan terus berlanjut hingga 23% tahun 2030 dan setelah itu penciutan melambat menjadi 22% tahun 2035.

Ketika kelompok anak menciut, kelompok usia produktif 15-64 tahun membengkak. Namun, gejala pembengkakan tidak berlaku selamanya, bahkan akan berhenti dan pada suatu waktu juga akan menciut, mendorong kelompok usia berikutnya membengkak. Gejala ini diperkirakan akan terjadi setelah tahun 2030, bahkan kemungkinan setelah 2040. Tahun 1971 kelompok ini merupakan lebih dari separuh penduduk Indonesia, yaitu 54%; membengkak hingga mencapai 65% tahun 2000 dan terus mencapai titik tertinggi pada 68.1% tahun 2030 sebagai titik balik ke penciutan kelompok umur ini. Besarnya kelompok usia produktif ini diharapkan dapat menjadi tulang punggung bangsa, memungkinkan bangsa menjadi kaya dan tidak terperangkap dalam jebakan kelas menengah rendah.

Adalah kelompok lansia yang menjadi penentu hari depan bangsa. Secara proporsional kelompok ini tumbuh makin pesat. Tahun 1971 penduduk lansia baru berjumlah 3 juta orang, yang merupakan 2,5% dari total penduduk Indonesia. Antara 1971 dan 2010 penduduk lansia bertambah hanya sekitar 2 juta orang setiap dasawarsa. Namun setelah itu kelompok penduduk lansia itu akan ‘mbludak’.  Diperkirakan dalam dasawarsa berikut 2010-2020 penduduk lansia diperkirakan akan bertambah 5 juta orang, namun setelah itu 2020-2030 pertambahannya menjadi dua kali lipat sebesar 10 juta orang. Ketika itu, tahun 2030 penduduk lansia berjumlah 27 juta orang (9 kali 1971) merupakan 9% total penduduk, mendekati penamaan suatu penduduk sebagai menua/aging, tantangan yang membebani perekonomian kita karena peningkatan penderita penyakit penuaan, yang penanganannya memerlukan pendanaan yang besar dan makin besar. Kehidupan dan pengurusan generasi lansia itu juga menjadi beban kelompok usia produktif.

Setelah 2030?

Tahun 2030 akan datang dalam waktu tidak terlalu lama, hanya tinggal 12 tahun dari sekarang. Kecuali anak di bawah 12 tahun, penduduk lainnya kini sudah dilahirkan. Mereka akan terus bertambah umur. Semoga sebagian besar, dan makin banyak, tidak lagi terpaksa hidup dalam keterbatasanan dan kemiskinan. Diharapkan perubahan mendasar dalam program pembangunan dilakukan demi meningkatkan kesejahteraan rakyat, untuk menghadapi dan mengelola penuaan penduduk Indonesia.*

Jakarta, 14 April 2018

[1] Sri Moertiningsih Setyo Adioetomo, 2005. Bonus Demografi Menjelaskan Hubungan Antara Pertumbuhan Penduduk Dengan Pertumbuhan Ekonomi. Pidato pada upacara pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi