Pendidikan Bukan Sekolah

Antri Jayadi

Pendiri PKBM Lallatassisara

 

Bagiku pendidikan adalah upaya manusia dalam memanusiakan setiap mahluk yang berakal bukan malah mengakali setiap mahluk. Tak ada lagi pendidikan tinggi, pendidikan menengah, ataupun pendidikan dasar sebab jika setiap yang berakal paham akan dasar dari pendidikan maka saya yakin tak perlu ada sekolah.

Berlandaskan pengalaman saya mengamati bahwa dasar dan akar dari keterbelakangan pendidikan bangsa kita adalah sistem. Yah, bagi saya sistem kita hari ini terlalu berpendidikan sehingga yang diutamakan adalah matematika dan logika. Karena itu orientasi pendidikan mengarah pada kehidupan layak, sementara tidak semua siswa mau mengerti bagaimana sebenarnya kehidupan yang layak itu.

Sistem pendidikan mengarahkan sekolah menjadi mesin grading yang mampu memilah antara siswa yang pintar dan siswa yang bodoh, sehingga pendidikan terkesan hanya diperuntukkan bagi mereka yang pintar. Kupikir bukan menggeneralisir, tetapi fakta tentang seleksi-seleksi memasuki sekolah yang berkualitas baik (unggulan), sudah cukup mengubur mimpi anak-anak yang berniat menjadi orang yang pintar.

Tes-tes (UN) ketidakpercayaan atas bakat dan minat siswa sudah cukup menghabiskan anggaran setiap tahunnya yang output-nya pun sama sekali tidak menjamin bahwa yang lulus adalah mereka yang pintar. Dari sistem seleksi masuk dan seleksi keluar sudah terjadi kesenjangan atas tujuan dari pendidikan kita. Bagi saya hanya ada satu tes untuk pendidikan, yaitu denyut nadi (hidup).

Berikutnya adalah sistem pembelajaran (kurikulum) hari ini. Masih banyak sekolah yang jika ditanya menggunakan kurikulum apa, jawabannya adalah kurikulum campuran. Yah, alangkah kreatifnya guru-guru kita hari ini. Penyebabnya bukan pada kurikulumnya melainkan pelaksana kurikulum tersebut.

Fakta di daerah saya, sekitar 80% sekolah, baik dasar maupun menengah, tenaga pengajar atau gurunya berstatus sebagai tenaga kontrak dan honorer yang akrab disapa sebagai sukarelawan. Artinya orang-orang yang menjalankan kurikulum adalah mereka yang suka dan rela dalam artian tidak ada tanggung jawab moril secara administratif dalam menjalankan kewajibannya sebagai guru. Sebut saja mereka kalau suka dijalankan kalau tidak yah dihiraukan. Bahkan tak ada satupun dari mereka yang takut atau keberatan ketika diberhentikan (dipecat) sebab mereka tak pernah merasakan keadilan dalam menjalankan tugasnya. Sebagai saksi perih keadilan bagi mereka adalah pemberian THR dan gaji ke-13 di hari raya islam. Mereka hanya menjadi penoton atas kerja ikhlas mereka.

Berkiblat pada negara dengan sistem pendidikan terbaik sebut saja Finlandia, yang menerapkan upah guru dan dokter disetarakan (sama) sebab mereka tahu betul bahwa manusia yang baik adalah mereka yang terdidik dan sehat. Berkaca pada Nawacita, pemerintah kita sebenarnya sudah sejalan dalam pembangunan bangsa Indonesia terbukti menjadikan pendidikan dan kesehatan sebagai program prioritas. Tinggal bagaimana program ini sampai pada level terbawah, anggap saja pelaksana (guru/dokter). Pertanyaanya gaji guru dan dokter sudah setara atau belum? Silakan di jawab.

Di Negara Finlandia, profesi guru adalah profesi yang dianggap mahal atau mulia sebab tidak mudah menjadi seorang guru disana. Menjadi guru harus melalui serangkaian seleksi dan wajib bergelar Magister (S2). Mereka tahu betul bahwa nasib bangsanya terletak di tangan para guru yang akan mendidik generasi penerus mereka. Sementara di Indonesia siapa saja bisa menjadi seorang guru selama mereka memiliki keinginan bahkan berjiwa relawan. Artinya, masa depan generasi kita terletak di tangan mereka yang mau mendidik dengan ikhlas, bukan mendidik dengan tanggung jawab masa depan. Buktinya adalah guru-guru yang mengajar di pelosok-pelosok negeri ini. Silakan ditanya ijasahnya apa dan gajinya berapa?

Dari beberapa sistem yang saya kemukakan tersebut adalah berdasarkan keresahan pribadi akan bagaimana masyarakat kita hari ini melihat dan mendefinisikan pendidikan sebagai hal yang tidak begitu penting. Saya tidak melihat pendidikan dasar atau pendidikan menengah. Tetapi bagaimana kita mengubah paradigma masyarakat, khususnya orangtua, bahwa yang terpenting bukan pada tahap pendidikan dasarnya ataupun pendidikan menengahnya atau bahkan pendidikan di dalam keluarga, tetapi bagaimana para orangtua paham akan dasar dari pendidikan, bukan pendidikan sebagai dasar. Yang tak kalah pentingnya adalah pendidikan bukan saja sekolah.

Kalaupun ditanya bagaimana seharusnya sistem pendidikan yang baik untuk sekolah dasar dan menengah, saya ingin menantang Kementerian Pendidikan Tinggi bertukar peran dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Artinya, para dosen diposisikan mengajari anak usia dini sampai SMA/SMK dan sebaliknya para guru SD sampai SMA/SMK diposisikan sebagai dosen di perguruan tinggi. Setelah itu kita akan mendengar testimoni dari para guru dan dosen, begitupun testimoni dari para siswa dan mahasiswa.

Dari hasil evaluasi tersebut, saya yakin bahwa para guru akan mendapatkan komentar dan perhatian yang lebih banyak. Saya siap bekerja untuk membuktikan bahwa yang terpenting bukanlah pendidikan dasar ataupun pendidikan tinggi melainkan bagaimana menyampaikan dasar (roh/arwah) dari pendidikan yang sebenar-benarnya sejak dini. Kita belum terlambat.

Saya bermimpi pada tahun 2030 yang mengajar di sekolah mulai dari level PAUD dan SD hingga SMP dan SMA/SMK adalah para profesor dan doktor, bukan lagi apa kurikulumnya.*

 

Ilustrasi: PBI

Advertisements

Masih Ada Gelap di Antara Nyala Terang Kartini

Rena Asyari

Pendiri & Pengelola Konten RI2030.com

 

Hampir saja buku berjudul Door Duisternis Tot Licht terjatuh dari tangannya. Turbulensi pesawat membuat Sinta berkali-kali menegakkan duduknya, ia harus sabar setidaknya lima jam lagi untuk mendarat di Bandara Amsterdam.

Sinta kembali mengingat rentetan peristiwa yang menguras emosi. Ia tak pernah menduga ibunya menjadi salah satu dari sekian banyak TKW ilegal yang pulang tanpa nyawa.

Lima tahun lalu, dengan alasan ekonomi ibunya meninggalkan seluruh kehidupannya di tanah air. Pergi ke Suriah. Negeri dengan konflik agama yang tak kunjung usai.

Dua tahun berlangsung tanpa kabar, membuat Sinta tak banyak berharap, hingga ia mendapati kenyataan bahwa ibunya mengalami kekerasan dari majikannya.

Mayat ibunya datang dengan banyak luka lebam di sekujur tubuh, tepatnya 2015 lalu. Seluruh impian ibunya untuk dapat hidup lebih baik, ikut terkubur dalam tempurung kepalanya yang lembek karena berkali-kali terkena hantaman benda tumpul.

Para pejabat memenuhi rumahnya yang sempit di sebuah desa kecil di Jawa Barat. Kakaknya, Sumiyati datang tergopoh-gopoh. Tangisnya pecah ketika melihat mayat ibunya. Sumiyati susah payah meminta izin kepada kepala pabrik tempat ia bekerja untuk cuti satu hari, karena ingin melihat ibunya di kali terakhir.

Sumiyati menjadi bagian dari ratusan ribu perempuan yang menggantungkan harapan di pabrik. Sumiyati tak pernah tahu kapan ia harus mengakhiri seluruh ritme hidupnya yang monoton.

Kerja delapan jam dengan satu posisi, yaitu mencabuti benang dari pakaian-pakaian setengah jadi. Aktivitas yang telah dilakoninya empat tahun terakhir. Ia dan teman-temannya kadang bertekad untuk keluar dari pabrik, tetapi selalu saja niat itu urung. Entah karena kebutuhan atau karena tiadanya pilihan.

Kebebasan yang didengung-dengungkan di gedung-gedung parlemen tak pernah berlaku untuk orang-orang macam Sumiyati. 21 April yang ditandai dengan gegap gempita atas bangkitnya hak-hak perempuan tak benar-benar ia nikmati. Ia dan ribuan temannya masih saja menjadi buruh, menghamba, harus seragam dan tak pernah mendapat ruang untuk bertanya.

Sinta menghela nafas panjang. Dua orang perempuan terdekatnya hidup penuh ketidakadilan. Ia kembali membuka buku Door Duisternis Tot Licht, kumpulan surat-surat gadis Jawa di penghujung abad ke-19.

Panggil aku Kartini saja begitulah gadis Jawa itu mengenalkan namanya. Seratus sembilan tahun lalu, untuk pertama kalinya pemikiran dan kegelisahan perempuan muda asal Jepara itu terdokumentasi.

Dalam suratnya tertanggal 25 Mei 1899 yang ditujukan kepada karibnya E.H Zeehandelaar, ia menulis: Sejak saya masih kanak-kanak, kata “emansipasi” belum ada bunyinya, belum ada artinya bagi telinga saya, dan tulisan serta karangan mengenai hal itu jauh dari jangkauan saya, timbul dalam diri saya keinginan yang makin lama menjadi makin kuat, yaitu keinginan akan kebebasan, kemerdekaan, berdiri sendiri”.

Kartini berumur dua puluh tahun kala itu. Hari-harinya dipenuhi dengan membaca dan menyimpan banyak pertanyaan. Budaya dan lingkungannya masih sangat feodal. Ia heran mengapa kakaknya Raden Mas Sosrokartono boleh bersekolah, sedangkan ia dan dua adik perempuannya harus dipingit. Mengapa pula berjalan harus dengan berjinjit dan menggunakan bahasa Jawa kromo inggil kepada yang lebih tua darinya.

Suratnya kepada Stella 18 Agustus 1899 mempertanyakan tentang etiket Jawa yang menurutnya tidak masuk akal tersebut. “…. akan kami ceritakan beberapa kisah nyata. Adik saya tidak boleh mendahului saya, kecuali dengan merangkak di tanah. Kalau adik duduk di kursi dan saya lewat, maka ia harus segera turun dan duduk di bawah dengan kepala tunduk, sampai saya jauh melewatinya….. Sinta bergidik membayangkan kehidupan Kartini. Tiba-tiba ia merasa beruntung.

Selain memperjuangkan kemerdekaan dan kesetaraan, Kartini pun ingin anak-anak perempuan Bumiputera mendapatkan pengajaran. Suratnya tertanggal 19 april 1903 untuk pemerintah Hindia Belanda terdengar sangat lantang, “Perempuan sebagai pendukung peradaban, juga di tanah matahari!” Perempuan Jawa harus dididik, harus diberi pelajaran, harus turut serta dalam pekerjaan raksasa: “pendidikan bangsa yang berjuta-juta!”.

Betapa besarnya perhatian Kartini pada pendidikan perempuan. Di suratnya yang lain tak luput ia menceritakan kegembiraanya tentang berdirinya sekolah Belanda swasta di pedalaman Priangan. Sekolah bersubsidi khusus untuk anak-anak bangsawan Bumiputera dan mempunyai murid gadis berjumlah dua puluh orang.

Ada bulir bening di sudut matanya, Sinta berterima kasih pada Kartini. Ia sudah tiga tahun mendapat beasiswa sekolah di Universitas Leiden, Belanda. Sinta teringat Kartini yang mengantongi surat lulus permohonan beasiswa dari pemerintah Hindia Belanda. Mengingat ayahnya Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara sudah memasuki usia senja dan sakit-sakitan, Kartini pun urung pergi.

Kartini dihantarkan pada pilihan untuk mewujudkan mimpinya bersekolah atau memenuhi baktinya pada orang tua di ujung waktunya. Kartini pun menyerahkan surat beasiswa itu kepada karibnya Agus Salim, seorang yang sangat cerdas.

Sejak surat-suratnya dikumpulkan dan diterbitkan tahun 1911 oleh Mr. J. H. Abendanon, suara-suara Kartini tak lagi membisu dalam kertas. Raganya boleh berumur pendek tetapi semangat dan pemikirannya terus hidup, menginspirasi setiap perempuan.

Kartini tak sendiri. Di lain tempat, beratus mill jarak darinya, dengan suara yang hampir tak terdengar ke pelosok negeri. Lasminingrat yang tinggal di Garut pun sudah berbicara tentang kesetaraan dan kebebasan di tahun 1875. Bukunya Hikayat Erman dan Warnasari menjadi tumpahan pemikirannya.

Langkahnya disusul Dewi Sartika tahun 1904 dengan mendirikan Sakola Istri di Bandung. Sekolah yang diperuntukkan untuk perempuan, agar perempuan mempunyai ragam keahlian, seperti menjahit, memasak, memotong rambut dan lainnya.

Di Bandung pula, Emma Poeradireja tahun 1927 mendirikan Dameskring. Organisasi yang diperuntukkan bagi perempuan muda terpelajar yang berasal dari beragam suku bangsa.

Emma juga menjadi salah satu dari tiga perempuan yang mengikuti Kongres Pemuda II tahun 1928. Nama Emma Poeradireja kini dikenal sebagai salah satu Rumah Sakit Bersalin di Bandung yang terletak di jalan Sumatera.

Melalui buku-bukunya Soewarsih Djojopuspito pun turut andil memberikan pandangan yang terbuka tentang bagaimana perempuan harus menghargai dirinya sendiri. Buku Soewarsih berjudul “Manusia Bebas” yang ditulisnya tahun 1939, berhasil memotret pergolakan batin perempuan di kala itu.

Sinta mendengar kiprah Lasminingrat, Kartini, Dewi Sartika, Emma Poeradiredja dan Soewarsih dari dosennya di Leiden. Mereka adalah sedikit dari banyak perempuan yang berjuang untuk memerdekaan dirinya. Pergerakan mereka tak main-main. Perempuan Indonesia hari ini, tinggal menikmati perjuangannya.

Mereka adalah para pelopor yang telah memberikan jalan sekaligus pilihan. Akankah kita terus bergerak menuju peradaban yang lebih baik dengan cara menghargai diri sendiri dan sesama? Memilih berdiam diri, abai dan cenderung bersembunyi dari ketidakadilan asalkan diri dan keluarga aman? Atau, malah beradu mulut yang tak kunjung henti dan menghakimi sesama perempuan?

Tak terasa, pesawat yang ditumpangi Sinta hampir mendarat di Bandara Amsterdam. Kenangan akan ibunya ia simpan rapat-rapat. Ia melihat layar smartphonenya, 21 April 2018. Udara sejuk mulai menyapa, bunga-bunga tulip yang bermekaran nampak dari kejauhan.*

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi

Tinggal 27 Jam Lagi

Hendra Gunawan

Pendiri & Pengelola Program RI2030.com

 

Pagi hari itu saya tiba di kantor untuk mengambil beberapa barang pribadi. Masih ada dua dus berisi buku yang tertinggal, dan beberapa foto, piagam, plakat, serta pernak-pernik lainnya yang belum saya bawa pulang.

Ya, hari itu adalah hari terakhir saya ke kantor. Setahun sebelumnya, saya telah memutuskan untuk pensiun lebih awal daripada batas usia pensiun. Alasannya sederhana, saya ingin menikmati sisa hidup saya untuk membaca buku-buku yang saya miliki (yang saya beli sejak lama tetapi tak pernah tuntas saya baca). Selain itu, saya juga ingin berkeliling Indonesia. Walau saya pernah ke beberapa kota di Sumatera, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua, masih banyak tempat di Indonesia yang belum pernah saya kunjungi.

Sambil menyortir barang-barang yang tersisa di kantor, saya mengamati foto-foto, piagam, dan plakat yang tersimpan di rak. Ingatan saya pun kembali ke masa-masa lampau. Ada sebuah foto bersama para mahasiswa tahun pertama. Foto bersama seusai kuliah terakhir di Gedung TVST.

Saya mencoba mengingat beberapa wajah di antara mereka. Dua orang di antaranya saya ingat persis. Yang pertama menjadi dosen di ITB, karenanya dengan mudah saya mengingatnya. Yang kedua adalah mahasiswa yang kemudian mengambil Tugas Akhir dengan saya, karenanya saya juga tidak pernah lupa dia. Belakangan, dia melanjutkan studi ke Australia, dan setelah mendapatkan gelar doktornya dia bekerja sebagai peneliti di Afrika Selatan, dan akhirnya menjadi dosen tetap di sana.

Di antara piagam yang ada di rak, salah satunya adalah piagam yang saya terima dari Himpunan Mahasiswa Matematika ITB pada tahun 2011. Mereka memberi saya piagam tersebut atas partisipasi saya sebagai pembicara dalam acara Latihan Kepemimpinan dan Organisasi Himatika ITB. Sebuah acara tahunan yang diadakan bagi para anggota baru Himatika ITB. Tertulis di piagam tersebut: “Leadership is action, not position.” (Mohon dimaklumi bahasa Inggrisnya.)

Beberapa poster masih menempel di pintu lemari dan di kaca jendela. Sambil mencopot poster-poster tersebut, saya pun tersenyum dan ingatan saya tersibak kembali ke masa-masa indah ketika saya bercengkerama dengan anak-anak SD dan menyaksikan mata mereka berbinar-binar mendengarkan cerita saya tentang bagaimana caranya mengukur jari-jari Bumi.

Tepatnya sejak 2011, saya banyak menyisihkan waktu untuk anak-anak. Saat itu, saya menyadari bahwa masa depan Indonesia ada di tangan anak-anak. Setiap saat saya menatap anak-anak, saya merasa sedang menatap Indonesia masa depan. Banyak yang mengatakan bahwa pada tahun 2030 Indonesia akan menikmati ‘bonus demografi’.

Ketika ada pro-kontra Kurikulum 2013, saya memutuskan untuk membuat blog anakbertanya.com, sebuah ruang tempat anak-anak bertanya tentang berbagai hal. Sebagai pengelola blog, saya kemudian mencarikan orang yang sesuai bidangnya untuk menjawab pertanyaan mereka.

Bukan sekadar blog, saya dan kawan-kawan juga mengadakan banyak acara khusus bagi anak-anak. Setiap tahun sejak 2015, saya dan kawan-kawan menggelar festival untuk anak-anak yang haus akan pengetahuan. Misi saya dan kawan-kawan adalah menginspirasi anak-anak Indonesia agar bercita-cita tinggi dan bekerja keras mewujudkan cita-citanya.

Pada awal semester lalu, ada seorang mahasiswa baru datang ke kantor saya. Ditanya apa keperluannya, dia bercerita bahwa dia hanya ingin menyapa saya. Ketika kecil, dia membaca buku Anak Bertanya Pakar Menjawab yang saya sunting. Sejak itu dia bertekad untuk belajar dengan rajin, dan akhirnya dia pun diterima di ITB di program studi yang diminatinya, yaitu Astronomi.

Tak terasa sudah setengah harian saya berada di kantor. Semua barang yang saya putuskan untuk dibawa pulang ke rumah telah berada dalam dus. Dibantu oleh seorang karyawan, barang-barang tersebut dibawa ke mobil. Kunci kantor pun saya titipkan kepadanya, karena hari itu hari libur — tidak ada dosen atau karyawan lain yang masuk. Tidak ada acara perpisahan khusus di FMIPA-ITB di hari terakhir seseorang bekerja, apalagi di waktu libur.

Malam harinya di rumah, saya menatap kalender — yang hanya tinggal satu lembar terakhir. Hari itu merupakan dua hari terakhir di tahun 2029. Di balik kalender itu, sudah terpasang kalender baru, kalender tahun 2030. Ada perasaan tak sabar menanti datangnya tahun baru yang tinggal 27 jam lagi.*

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi