K-Pop, Star Wars, dan Jagoan Perempuan

 

Venny Tania

Pendiri & Editor RI2030.com

 

Ribut-ribut tidak pernah surut di dunia maya. Capekkah Anda menonton atau justru senang mengompori fan war, twit war, dan cyber bullying?

Sekelompok manusia yang disebut penggemar, atau anti-fan atau haters (konon merupakan penggemar terselubung) biasa menimbulkan kegaduhan. Menurut filsuf John Fiske, penggemar adalah penikmat budaya (pop) yang berlebihan.

Di antara 3 milyar pengguna internet, bermukimlah jutaan penggemar yang membangun dunia sendiri karena pengaruh produk budaya pop seperti musik, film, film seri, komik, dan lain-lain. Di tengah usaha meningkatkan kesadaran persamaan hak dan perlawanan kekerasan seksual, beberapa penggemar ini malah merebakkan keributan dan aksi kontra.

Contoh kasus di Korea Selatan, beberapa selebritis tengah merekomendasikan sebuah buku berjudul ‘Kim Jin Young, Lahir 1982’. Nama-nama tenar k-pop seperti Sooyoung SNSD, Rap Monster BTS, dan Irene Red Velvet mengaku membaca buku tersebut. Bukunya konon bercerita mengenai perjuangan perempuan dan mengangkat isu diskriminasi gender yang terjadi setiap hari.

Bagi masyarakat Korea penghayat tradisi Konfusianisme yang menganggap perempuan sebagai rakyat pengabdi laki-laki yang diibaratkan negara, feminisme banyak dipandang sebagai pembangkangan. Setelah Irene Red Velvet mengaku membaca buku Kim Jin Young dalam sebuah acara, segelintir penggemarnya melakukan aksi boikot di forum internet. Mereka menggunting dan membakar foto serta pernak-pernik sang artis.

Bermula dari Amerika Serikat, sekelompok penggemar kebakaran jenggot dan merasa ‘racun feminisme’ telah merenggut kesayangan mereka. Star Wars adalah ikon klasik untuk dunia geek dan nerd, sekelompok orang yang sering diidentikkan sebagai kutu buku, canggung, hingga berpengetahuan luas di bidang tertentu. 3 film perdananya yaitu Star Wars: Episode IV – A New Hope (1977), The Empire Strikes Back (1980), dan Return of The Jedi (1983) dianggap sebagai kanon penginspirasi berbagai film lanjutan, serial, animasi, pernak-pernik, fan fiction, dan lain-lain. Namun regenerasi resmi salah satu waralaba terlaris dunia tersebut direspons cukup beragam.

Sebagian pembela kesetaraan, humanis, dan liberalis memuji film Star Wars terbaru yaitu The Last Jedi (2017) dan Rogue One: A Star Wars Story (2016). Dilansir Guardian, sineas dan psikolog Annalise Ophelian menyebut The Last Jedi (yang menampilkan protagonis generasi baru dari Rey, perempuan yatim piatu dari negeri antah berantah, yang diperankan Daisy Ridley) adalah puncak pencapaian kefeminisan Star Wars. Ada banyak peran pekerjaan, jabatan, generasi, ras, dan pemikiran berbeda untuk perempuan di film The Last Jedi. 1

Sebagian orang menyatakan kekecewaan karena peran jagoan laki-laki (dalam hal ini dibandingkan dengan dominasi peran utama klasik Luke Skywalker dan Han Solo) menjadi berkurang. Di media sosial, para fanboys merisak Kelly Marie Tran, aktris berdarah Vietnam yang mendapat screen time cukup banyak dalam film The Last Jedi. Akun Instagram Kelly diisi komentar-komentar yang mencela ras, fisik, dan perannya. Kelly menghapus akun instagramnya pasca perisakan tersebut.

Jurnalis Noam Cohen menulis di The New York Times mengenai kebangkitan kaum geek dan nerd ini, sehingga apa yang dulu diasosiasikan khas dengan mereka, kini menjadi komersial dan obsesi khalayak di arus utama. Cohen mengutip profesor seni, Thomas Dolby dari Johns Hopkins University, menyebutkan bahwa mewabahnya geek culture di dunia menciptakan dua pilihan : menjadi geek atau gaptek.2 Simak saja 30 film terlaris dunia sepanjang masa, Star Wars dan superhero adaptasi komik paling mendominasi. The Big Bang Theory jadi salah satu serial televisi paling digemari 10 tahun ke belakang (31 juta penyuka di Facebook). Rasakan betapa pengaruh produk geek dan nerd itu juga sudah memasuki kamar Anda dan generasi muda saat ini.

Kartunis Randall Munroe menyimpulkan bahwa situasi ini cenderung membentuk ekslusivitas dan elitisme modern. Setelah puluhan  tahun digambarkan culun dan aneh, kini yang berbau geek dan nerds dianggap umum dan trendi. Situasi ini cenderung membangkitkan komunitas yang lebih homogen dan eksklusif, dengan sikap merasa lebih keren dari kebanyakan, sehingga selalu muncul reaksi besar dan massal terhadap sesuatu yang berbeda. Kecenderungan mengotakkan sesuatu dengan aturan tertentu membuat budaya geek menjadi seksis dan kurang beragam.2

Mantan profesor Cultural Studies, John Storey, mengutip Joli Jensen (profesor Universitas Tulsa dan penulis) menyebutkan bahwa kelompok penggemar merupakan simtom atau patologis tak terhindarkan dari masyarakat urban. Penggemar suka memamerkan kesenangannya sehingga menimbulkan ekses emosional. Berbeda dengan lingkup resmi dan akademis yang lebih terkendali secara estetika dan berjarak, penggemar aktif mengembangkan kegiatan berburu (kesenangan) menjadi sebentuk seni (Michel de Certeau). Jensen juga menegaskan bahwa penggemar sebagai pemburu ingin menggunakan barang-barang rampasan mereka sebagai fondasi membangun sebuah komunitas kultural alternatif, melibatkan intensifikasi emosional. 3

Sebetulnya masih ada produk populer yang sukses menyisipkan pesan mengenai kesetaraan gender. Ambil contoh film The Incredibles 2 yang baru saja menjadi film animasi berpenghasilan hampir 700 juta dolar dari seluruh dunia, dipuja-puji oleh kritikus maupun penonton sebagai film yang lengkap: menghibur, lucu, menerobos stigma dan stereotip gender, dan setia pada ciri khasnya sebagai film animasi superhero.

Internet memfasilitasi anonimitas menjadi pahlawan sesaat, melambungkan ilusi untuk orang-orang yang dalam keseharian tidak mampu berbicara banyak. Tidak heran, banyak orang menghabiskan waktu membela atau menyerang sesuatu yang dianggap mengancam keamanan dan stabilitas dunianya. Bahkan beberapa orang menyelubungkan kebencian terhadap perempuan yang tidak memenuhi kaidah ilusi mereka dan melahirkan nuansa atau pemikiran berbeda, dengan alasan ‘mengkritik’. Jika perempuan menjadi ‘jagoan’ seolah-olah melanggar kodrat. Kodrat mana yang kamu maksud?

Fenomena seksisme dan perisakkan karena perempuan dianggap ‘merusak kenikmatan berpatriarki’ dan aturan lama adalah cermin betapa mengakarnya diskriminasi gender ke dalam ketidaksadaran manusia; Mungkin ini merupakan warisan kolektif pemikiran berabad sebelumnya, bahwa perempuan adalah makhluk kelas dua. Alergi terhadap interpretasi dan bentuk berbeda adalah gejala diskriminasi akut.

  1. https://www.theguardian.com/film/2017/dec/18/star-wars-the-last-jedi-women-bechdel-test
  2. https://www.nytimes.com/2014/09/14/sunday-review/were-all-nerds-now.html
  3. John Storey, Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop (terjemahan), Jalasutra, 2006.

Ilustrasi : Flickr

Advertisements