Oh, Generasi

Venny Tania

Pendiri dan Editor RI2030.com

 

Waktu jenaka membentuk manusia. Mereka yang terikat satu kepingan era tertentu, berkelindan dengan berbagai peristiwa yang sama menjadi satu generasi. Ketika internet seolah mendekatkan yang jauh, persoalan generasi terangkat lebih masif.

Para ahli ingin lebih mudah membaca pergerakkan manusia. Memang parameter buatan manusia untuk mengukur kawanannya seringkali meleset. Cara kerja alam masih belum terselami. Apakah orang yang lahir di tahun yang sama memiliki sifat sama semua? Belum tentu. Parameter lain seperti zodiac, shio, psikologi, dan lain-lain sama saja. Tapi variabel seperti peristiwa, geografis, sosial, ekonomi, dan budaya pasti mempengaruhi.

Perbedaan perilaku antar generasi sering jadi sumber benturan dan ketidakcocokkan interaksi. Pertentangan generasi adalah resep membuat cerita lezat. Generasi tua kerap diposisikan benar dan paling tahu, sehingga generasi muda yang membangkang disudutpandangkan sebagai naif dan salah.

Coba nikmati kesenjangan pemikiran di film Eat, Drink, Man Woman (Ang Lee, 1994). Film ini menyajikan kehandalan seorang ayah sekaligus koki mengolah berbagai makanan tradisi. Selain memamerkan indahnya tampilan kuliner, keahlian tangan sang koki adalah penjara untuk tiga putrinya setiap pekan.

Menganut tradisi menikmati makanan secara kolektif, agenda terstruktur keluarga Taiwan saat itu adalah setiap anak harus ‘melaporkan’ perkembangan hidup di meja makan. Satu per satu anak meninggalkan rumah dan rutinitas feodalisme, memasuki fase baru yang lebih bebas. Di antara keputusan dan perubahan, makanan menjadi penyambung lidah, ilmu, dan filosofi hidup dua generasi.

Sudah banyak studi mengenai generasi manusia setelah abad ke-19. Bagi saya sebagai anggota klan milenial tua, ada yang kurang dalam komunikasi antar generasi saat ini, dan sulit diselesaikan melalui makanan saja. Apalagi milenial atau generasi Y (singkatan dari Youth) seolah menjadi isi roti antara generasi X (kelahiran tahun 1966-1980) dan generasi Z (kelahiran setelah tahun 2000).

Menurut sosiolog Karl Manheim, sebuah generasi di rentang tahun kelahiran tertentu terbentuk dari proses sejarah dan sosial yang serupa, sehingga memiliki cakupan pengalaman spesifik, karakteristik tertentu, serta cara merespon yang khas dan relevan [1].

Penelitian Bencsik, Csikos, dan Juhez menyebutkan generasi milenial takut menjadi dewasa dan bertanggung jawab, serta merasa dunia kejam dan menolak mereka [2]. Kemajuan teknologi membentuk mental Y menjadi mudah menerima perubahan dan asyik dengan habitatnya sendiri, walaupun singkat dan menghabiskan uang mereka. Milenial bertoleransi tinggi pada perbedaan budaya, kecuali nilai-nilai keluarga dan tradisional. Milenial hanya mau mengerjakan yang mereka sukai dan nikmati. Jika mulai terbatasi, Y akan segera menjauh.

Kami generasi milenial lebih mengikuti suara hati (yang kadang suka menipu ini), bukan tuntutan dan aturan. Memang terlihat egois dan semaunya, tapi itu karena kami melihat bagaimana generasi orang tua kami (baby boomers) diperbudak oleh pekerjaan dan diombang-ambing nasib. Waktu habis untuk dedikasi pekerjaan, yang hanya memberi secuil dana pensiun (kecuali golongan PNS). Tapi kalau semua bergantung menjadi PNS, dimana letak kemajuan Indonesia? Bukankah dulu kolonial Belanda juga membangun sekolah untuk mengisi tenaga kasar murah namun terdidik dan patuh?

Sebagian dari Y beruntung menempuh pendidikan tinggi bahkan sampai ke luar negeri. Berwirausaha bahkan mendirikan partai bukan hal mustahil bagi kami, meskipun dijuluki alay, sok tahu, ‘bocah kemarin sore’, serta dicaci ketika salah berpendapat. Meskipun masih dangkal pengetahuan dan pengalaman, tapi milenial terinspirasi oleh berbagai tokoh untuk mengubah dunia.

Karena media terus berevolusi, milenial makin mudah mengakses informasi dan memahami. Banyak generasi sebelumnya, yaitu generasi X (yang saat ini memegang posisi-posisi tinggi dan penting di berbagai sektor) terjangkit korupsi, kemunafikan, dan kemunduran pemikiran.

Seperti adik-adik generasi Z, milenial cukup defensif ketika berhadapan dengan generasi X, karena kami melihat dulu siapa, apa karyanya, serta kapabilitas dari orang yang berbicara. Apakah Anda generasi X yang cuma bisa ngebos tanpa menyadari keterbatasan sendiri? Apa betul Anda sehebat yang dicitrakan ke orang-orang? Apa Anda layak menduduki posisi saat ini? Kenapa Anda memaksakan tuntutan efisiensi yang tidak fleksibel dalam dinamika keseharian?

Menurut penelitian lain (Durbák, I, 2013), generasi milenial mengalami penolakan dan penghakiman sejak muda. Milenial melihat generasi X masih memaksakan kehendak pada anak-anaknya, si generasi Z; Semua pilihan hidup anak harus sesuai arahan otoriter orang tua yang merasa sudah makan asam garam. Saking gencarnya pemaksakan kehendak, buyarlah fungsi lembaga pendidikan sebagai pencetak generasi cerdas, kritis, dan manusiawi. Generasi Y dan Z dipaksa jadi penerus kapitalisme yang makin fasis dan materialistis.

Karena kenyataan tidak ramah, banyak milenial dan generasi Z membangun hidup di maya. Keduanya juga cukup menghindari generasi tua di internet, karena kemajuan teknologi tidak berbarengan dengan kebijaksanaan penggunanya.

Generasi X menunjukkan bahwa lulusan perguruan tinggi bukan jaminan cerdas berdigital. Setinggi apapun pendidikannya, generasi X kenyang berbagi info pemuas sepihak saja, termasuk hoax, gosip, dan propaganda.

Gara-gara perang dingin, Gen X Indonesia memilih profesi-profesi aman yang realistis dan meninggalkan kebiasaan intelektualisme kritis [3]. Ada kelebihan insinyur dan sarjana ekonomi terlahir di generasi X akibat doktrin pembangunan. Pendidikan di era milenial masih sulit mengubah pola pikir yang menganakemaskan eksakta. Sedangkan penganut eksakta, menurut beberapa pakar, lebih rentan menjadi pelaku fundamentalisme dan ekstrimisme [4].

Kekeraskepalaan dan glorifikasi masa lalu juga terlihat dari menurunnya keterbacaan jurnalisme kertas. Sebagian tetua media cetak membatasi diri dengan alasan media daring membuat pemikiran manusia jadi terpecah dan tidak linear [5]. Padahal memajukan literasi daring seharusnya tetap dilakukan, dengan strategi khusus yang mengefektifkan kemasan dan pesan,

Jika semua produk milenial dianggap dangkal, naif, manja, sok tahu, apatis, dan serba instan, maka tamatlah riwayat peradaban. Saya saja kecewa kala tidak mampu menikmati roti dari toko tua yang cuma menyediakan stok terbatas (sampai 2 jam setelah buka).

Jika pewarisan ilmu, pemikiran, dan inovasi tidak terakses luas dalam bahasa dan gaya yang relevan, maka 2030 akan menjadi tahun kebodohan massal, seperti film Idiocracy (2006). Tak mau kan kalau generasi penguasa jagat masa depan fasih berteknologi, namun makin kehilangan fungsi dasar kemanusiaannya?

Kami milenial sadar, banyak yang harus dibenahi. Dari penggemar yang menganggap Paul McCartney bakal terkenal karena Kanye West, sampai yang bilang Pramoedya Ananta Toer adalah penulis baru, semua karena keabsenan tanggung jawab di generasi sebelumnya. Perbedaan wilayah geografis kini bukan pemisah. Antar benua sudah seperti rukun warga. Keterbukaan informasi diharapkan jadi jalan melawan dampak represi dan buah-buahnya.*

Daftar Pustaka:

[1] Karl Mannheim, The Sociological Problem of Generations, 1952

[2] Bencsik Andrea, Horváth-Csikós Gabriella, Juhász Tímea, Y and Z Generations at Workplaces, 2016

[3] https://www.vice.com/id_id/article/pakmpn/gestapu-menghapus-satu-generasi-intelektual-indonesia

[4] https://www.liputan6.com/news/read/3100315/syafii-maarif-banyak-perguruan-tinggi-kebobolan-radikalisme

[5] http://yellowcabin.com/penjelasan-bre-redana-tentang-senjakala-media-cetak/

 

Ilustrasi: VT

Advertisements