Ketika Sains Melangkah ke Arah yang Berbeda: Sebuah Kilasan dari Masa Depan

Dasapta Erwin Irawan

Periset Hidrogeologi ITB,  Ambassador Open Science Framework (OSF)

 

Prolog

Nama saya Erwin, profesor bidang hidrogeologi. Cerita ini saya tulis tanggal 17 April 2030, dengan laptop konvensional saya, menggunakan piranti zaman urdu bernama Emacs.

Ini sebenarnya bukan cerita tentang mesin waktu. Sebuah mesin yang berasal dari chasis Peugeot tua saya. Ya, Pug tua saya yang 12 tahun lalu masih mengisi halaman-halaman Facebook saya, sekarang sudah dimodifikasi menjadi mesin waktu. Mesin dan perangkat lainnya memang sudah lama tidak berfungsi. Tapi masih saya pertahankan, sampai kira-kira 5 tahun lalu ada perusahaan multinasional di Maluku yang memproduksi kit mesin waktu jinjing, mereknya “Re-Play”.

Berbeda dengan alat-alat sejenis yang dulu sering menjadi ide dasar sebuah film seperti “Back to the Future” (yang sampai sekarang alat itu masih fiksi), Re-play adalah alat augmented reality yang tidak akan memindahkan Anda ke masa lalu, tapi mampu menghadirkan kembali suasana secara menyeluruh seolah Anda ada di waktu itu. Uniknya, Replay menyediakan fitur pencarian berdasarkan topik, bukan hanya waktu. Jadi anda bisa saja kembali ke suatu pertandingan bola pada topik olahraga, atau pemilihan Presiden di era 2000-an misalnya, atau tentang sains terbuka.

Kita kembali ke topik. Artikel ini tidak menceritakan tentang mesin waktu saya. Mesin waktu ini akan menjadi alat pemutar ulang saja beberapa kejadian yang akan menjadi pembanding kondisi dulu dan sekarang, era penelitian di tahun 2030-an yang sedang saya alami sekarang. Yang akan saya ceritakan di sini adalah tentang riset dan publikasi, same old story :). Semoga tidak bosan.

2030: dampak dari letupan teknologi baru di era 2020

Saya menulis artikel ini di satu pagi di bulan April 2030. Saya baru saja masuk ke Pug-Replay (Replay in my Pug). Tak sengaja saya menemukan arsip berita oleh Dyna Rochmaningsih tanggal 22 Mei 2018. Isinya tentang rencana peraturan baru dari Pemerintah RI untuk memperketat aktivitas riset peneliti luar negeri di Indonesia. Kurang lebih bersamaan dengan itu, ada Lisa Matthias dari OpenAire, yang menulis artikel tentang Sains Terbuka di Indonesia.

Saat ini, mungkin anda tidak percaya, bahasa bukan lagi kendala. Peneliti dari negara-negara selatan (global south) tidak lagi minder saat menggunakan bahasanya, dan peneliti dan Eropa dan Amerika tidak lagi menganggap bahwa mereka adalah satu-satunya yang mengendalikan perkembangan sains. Itu semua berawal dari inisiatif bernama SpeakoScience (SoS) yang mempromosikan piranti lunak penerjemah yang berhasil membuat algoritma machine learning yang mampu menerjemahkan ribuan bahasa secara real time. Gerakan ini berawal dari jejaring sosial jutaan relawan yang mau membantu menerjemahkan bahasa dalam suatu riset. Setiap terjemahan kemudian direkam dan dicari polanya, agar di masa mendatang tidak perlu lagi ada peran serta translator.

Anda bisa bicara via Skype atau Zoom (ya mereka berdua bertahan), dengan bahasa asli Anda, dan SoS akan menerjemahkannya dengan tingkat kesalahan kurang dari 3%. Kalau komunikasi surel (juga masih bertahan), jangan ditanya lagi. Saya bahkan bisa berkirim surel dengan mitra warga asli Ethiopia menggunakan SoS.

Anatomycal technology | Sumber: Commons/Wikimedia

Sebentar saya perlu menjawab panggilan telepon. Saya akan lanjutkan nanti.

30 menit kemudian.

OK, kita lanjutkan ya.

Model publikasi riset

Dulu saya membayangkan bahwa publikasi dalam jurnal hanyalah salah satu upaya pelaporan hasil riset. Lebih luas dari itu, laporan riset sendiri saya bayangkan sebagai sesuatu yang dinamis, bahkan di saat riset itu sendiri telah selesai. Tentunya ini bukan bayangan saya saja, tapi bayangan jutaan saintis muda (saya juga pernah muda) atau pemula yang melihat ada dalam model implementasi sains saat itu. Dan saat ini, semua itu telah terlihat. Dimulai dengan berubahnya model bisnis mayoritas jurnal besar menjadi lebih berpihak kepada sains lima tahun lalu, juga dengan perubahan model penilaian kinerja riset dan staf yang lebih inklusif.

Kembali ke dua artikel di atas. Saat ini riset bersama sudah bisa berjalan lancar, berbasis kepercayaan. Salah satu penyebabnya yang saya tahu adalah berubahnya cara publikasi riset. Publikasi jurnal sudah bukan lagi satu-satunya cara mempublikasikan hasil telaah saintifik. Para peneliti memilih untuk mengurangi komponen kepemilikan (ownership) dalam authorship dan menambah komponen kolaborasi.

Ya betul, authorship konvensional zaman dulu telah berhenti digunakan sejak tahun 2025, karena dianggap kental dengan komponen prestise dan kepemilikan. Sementara sains dan data itu sendiri adalah barang milik publik (public goods). Jadi bagaimana bisa barang milik semua, kemudian menjadi barang milik penulis.

Satu hal lagi, sering kali dulu, urusan authorship muncul karena kurangnya inisiatif dari pihak peneliti Indonesia. Kenapa begitu? Mungkin karena kurang percaya diri, karena sudah punya stigma bahwa “semua terserah yand bawa uang’ (funder takes all). Kondisi seperti ini akan menambah tebal dan tinggi dinding psikologis dalam komunikasi riset.

Sumber: PhDComics

Tapi itu semua masa lalu, saat bahasa bukan lagi kendala, ada SoS.

Dulu banyak saintis menolak sains terbuka, karena itu akan mengurangi nilai kepemilikan dan prestise, individu, atau institusi. Peneliti yang benar masa kini, siapapun itu dan darimanapun, akan mencari kawan, bukan kepemilikan atas data atau informasi. Saat ini riset bersama adalah suatu kegiatan beberapa ilmuwan yang bergabung yang penuh ketidaktahuan dan kemudian mengakhirinya bersama dengan pengetahuan baru.

Mengenai metrik

Nah sekarang mengenai metrik. Anda semua pasti ingat, ada saatnya, Indonesia bergulat dengan metrik untuk meningkatkan peringkat. Tapi itu semua adalah masa lalu. Anda yang sudah menjadi dosen di era 2000an, pasti ingat, saya pernah menyebut-nyebut DORA dan Leiden Manifesto. Di era sekarang ini, seleksi memang lebih capek. Komunikasi dua pihak dan dua arah selalu dilakukan saat menilai suatu riset atau kepakaran seseorang. Beda dengan dulu, tinggal lihat angka h-index dan Impact Factor, maka semua beres. Dua metrik itu meredup sejak 2020, karena makin banyak pihak percaya bahwa angka itu rentan manipulasi.

Sumber: Flickr/dasaptaerwin, CC-0

Penutup

Begitulah sekilas refleksi saya. Saya tahu artikel ini akan terlihat aneh di tahun 2018, tapi percayalah itu akan terjadi. Usia saya sekarang 54 tahun, tidak ada gunanya saya berbohong. O ya, mungkin ada yang jeli. Ya saya mendapatkan gelar Guru Besar di tahun 2023. Sebuah gelar yang tidak pernah saya bayangkan akan saya dapatkan, melihat kondisi saat itu. Saya teringat stiker buatan kawan saya Jon Tennant. Dia pernah membuat stiker “Open science is just science done right”. Semoga Anda terinspirasi.*

 

Ilustrasi: DEI

Advertisements

Perpustakaan 2030

Rena Asyari

Pendiri & Pengelola Konten RI2030.com

 

Perpustakaan Nasional RI. Tahun 2030. Anak perempuan berusia sepuluh tahun menyebutkan judul buku yang ia ingini. “Hansen dan Gretel” buku dongeng anak yang berusia hampir 250 tahun yang lalu. Ada jeda untuk menunggu kira-kira lima menit, kemudian mesin pencari mengeluarkan buku Hansel dan Gretel. Mesinnya persis seperti mesin penjual minuman kaleng di pinggir jalan.

Pemandangan tersebut kerap kita jumpai di perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Pemerintah telah mempunyai mesin pencari khusus untuk buku. Pembaca tinggal menyebutkan judul buku, lalu tak sampai lima menit mencari mesin pencari buku akan menemukannya. Tentu saja, jika mesin pencari kewalahan, pembaca harus sabar dan menyebutkan beberapa keyword tambahan seperti penulis dan penerbit buku tersebut. Selain itu, perpustakaan telah berubah wujud, bukan lagi menjadi tempat “horor” tapi menjadi tempat yang menyenangkan untuk melakukan ragam kegiatan.

Ruang-ruang diskusi, seminar, kuliah umum penuh. Di salah satu sudut halaman perpustakaan ada taman bermain anak yang penuh dengan sarana edukasi, sudut lainnya dipenuhi oleh muda-mudi yang sedang belajar. Dengan konsep perpustakaan yang modern, kini mendatangi perpustakaan menjadi semacam kebutuhan, bukan lagi keterpaksaan.

Selain perpustakaan besar yang ada di kota, banyak perpustakaan-perpustakaan kecil di daerah, dari Sabang sampai Merauke yang berdiri hampir lima belas tahun lalu ketika ada gerakan literasi yang didukung penuh oleh pemerintah pada saat itu. Perpustakaan di daerah pun turut berubah wajah. Selain mendapatkan sumbangan berupa mesin pencari buku dari pemerintah, perpustakaan yang ada di daerah kini makin terawat, bangunannya layak huni, manajemennya perpustakaannya sudah dikelola baik, profesi pustakawan pun menjadi rebutan.

Di perpustakaan daerah, selain buku, di ruangan ada tambahan meja panjang yang di atasnya berjejer layar berukuran 5cm kali 10cm.  Ada ribuan buku yang bisa kita akses pada alat kecil tersebut. Buku-buku berubah menjadi bentuk digital. Layar berukuran mini tersebut tak membuat mata lelah membaca, bentuknya kecil dan ringan sehingga gampang dibawa kemana saja.

Jikalau ingin meminjam beberapa judul buku, pustakawan akan mengeluarkan sebuah benda bentuknya mirip telepon genggam. Kita tinggal menyebutkan buku apa yang ingin kita pinjam, lalu pustakawan dengan cekatan akan menambahkan judul buku pada alat yang akan kita bawa. Tak perlu khawatir barang tak kembali, perilaku para pembaca sudah berubah, mereka bertanggung jawab pada barang yang ia pinjam.

Indonesia, tahun 2030. Adalah sebuah negara yang maju, anak-anak mudanya menaruh minat yang tinggi pada literasi. Tempat-tempat komersil menjadi tempat yang sangat ramah literasi, mesin-mesin pencari buku ada di setiap kafe dan supermarket.

Anak perempuan tadi sudah berhasil mendapatkan buku yang ia ingini, buku “Hansel and Gretel” di tentengnya. Ia menuju kafe terdekat, matanya sibuk melihat anak-anak sebayanya juga menenteng buku dan membacanya di kafe, ya kafe! Ia kemudian hanyut dalam cerita “Hansel dan Gretel”. Di usianya yang masih belia ia tak perlu paham bagaimana negeri ini telah bertumbuh.*

 

Ilustrasi: HG

Mencapai Sasaran Pembangunan Berkelanjutan: Mungkinkah?

Hendra Gunawan

Pendiri & Pengelola Program RI2030.com

 

Berbicara tentang masa depan, ada buku “Physics of the Future” karangan Michio Kaku yang memprediksi peradaban hingga tahun 2100, dari sudut pandang kemajuan sains. Kaku adalah seorang fisikawan, namun ia tidak hanya berbicara tentang kemajuan dalam bidang fisika. Dalam bukunya, ia juga meramalkan apa yang akan terjadi dalam bidang komputer, robotika, kedokteran, dan perjalanan luar angkasa.

Selain buku Kaku, ada juga buku “The Next 100 Years” karangan George Friedman. Berbeda dengan Kaku, Friedman meramalkan apa yang akan terjadi pada negara-negara di berbagai belahan Bumi. Selain masalah geopolitik, Friedman juga menyoroti masalah ekonomi dan sosial, serta arah perkembangan teknologi di abad ke-21.

Membaca buku-buku seperti itu serasa membaca buku fiksi, walau kedua buku di atas bukan novel techno-thriller seperti “Ghost Fleet” karangan P.W. Singer. Pikiran kita bisa mengawang-awang, seolah sedang berada di masa depan.

Berada di Indonesia, yang statusnya saat ini masih merupakan “negara berkembang”, ramalan masa depan versi Kaku ataupun Friedman bak khayalan atau dongeng fiktif. Jangankan membayangkan apa yang akan terjadi 50 hingga 100 tahun ke depan, memikirkan apa yang akan terjadi pada pemilu yang akan datang pun sudah bikin puyeng.

Sialnya, pikiran kita di negeri tercinta ini seolah tak pernah lepas dari pemilu ke pemilu, dari pilpres ke pilpres, bahkan dari pilkada ke pilkada, dengan berbagai dramanya. Padahal, di luar sana, perubahan terjadi dengan amat cepat. Sejujurnya, berbicara perihal apa yang akan terjadi sepuluh tahun ke depan saja mungkin sulit.

Tengoklah misalnya Sasaran Pembangunan Berkelanjutan 2030 (SPB 2030) yang terdiri atas 17 sasaran dengan 169 indikator capaian yang terukur dan tenggat waktu tertentu, hingga tahun 2030. SPB tahun 2030 ditetapkan oleh PBB sebagai agenda pembangunan dunia untuk kesejahteraan manusia dan keberlanjutan planet Bumi.

Sebagai gambaran, di antara 17 sasaran tersebut, ada sasaran terhapusnya kemiskinan dan kelaparan di seluruh negara (Sasaran ke-1 dan ke-2). Kemudian ada sasaran tersedianya air bersih dan sanitasi layak, serta energi bersih dan terjangkau (Sasaran ke-6 dan ke-7). Terkait dengan lingkungan, ada sasaran penanganan perubahan iklim, ekosistem laut, dan ekosistem daratan (Sasaran ke-13, 14, dan 15).

Salah satu sasaran dalam SPB tahun 2030 yang menarik perhatian saya adalah terwujudnya pendidikan berkualitas dan kesempatan belajar seumur hidup bagi semua orang (Sasaran ke-4). Sebagaimana kita ketahui, rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia saat ini masih tergolong rendah, yakni 7,95 tahun (data BPS tahun 2016). Ini berarti bahwa siswa kita pada umumnya putus sekolah di jenjang SMP. Di beberapa provinsi, keadaannya lebih parah. Sila intip statistik rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah per provinsi yang telah dirangkum di

https://lokadata.beritagar.id/chart/preview/harapan-lama-sekolah-hls-dan-rata-rata-lama-sekolah-rls-menurut-provinsi

Pertanyaannya kemudian: Dapatkah, pada tahun 2030 nanti, rata-rata lama sekolah menjadi setidaknya 12 tahun dan para lulusan pendidikan menengah memiliki pengetahuan umum yang memadai, sehingga mereka dapat bekerja dan menghidupi dirinya sendiri? Lebih jauh, dapatkah para pemuda kita, setidaknya separuhnya, mengenyam pendidikan tinggi dan memiliki kemampuan yang cukup sehingga mereka dapat bersaing di era yang semakin ganas nanti?

Sebagai insan yang berkecimpung di dunia pendidikan, saya tentunya berharap hal itu dapat terwujud. Namun, saya tidak bisa duduk manis membayangkan hal itu terjadi dengan sendirinya. Sejak tahun 2013, saya membuat blog anakbertanya.com, untuk memperkenalkan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan keprofesian serta sosok-sosok anutan kepada anak-anak. Harapannya anak-anak akan terinspirasi, tetap sekolah, dan tidak berhenti belajar.

Dua belas tahun lagi, tahun 2030 itu tiba. Pada saat itu, nasib bangsa berada di tangan para pemuda yang akan menakhodai kapal Indonesia mengarungi masa, menuju era baru.

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi

Sejarah Masa Depan Yang Saya Bayangkan

Andi Achdian

Sejarawan

 

Ketika Sukarno mengucapkan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB di teras kediamannya, ia secara tidak langsung telah membuka pengalaman baru bagi orang-orang Indonesia, yang bergerak dalam sejarah linear sesuai peredaran waktu kalender Gregorian, berurutan dan tak dapat diubah, mortal dan historis, menggantikan roda waktu yang berputar siklis dalam kesadaran sejarah tradisional masyarakat tempatnya tinggal.

Sejak awal abad ke-20 dengan kemunculan kaum intelijensia dalam politik, kemerdekaan Indonesia telah melahirkan sebuah impian yang membentuk fitrah ganda antara sesuatu yang diharapkan pasti datang dan ketika kedatangannya menjadi pasti, ia tetap menjadi teka-teki tentang bagaimana dinamikanya bergerak bagi orang-orang yang hidup di dalamnya.

Masa depan tidak dapat disangkal adalah lautan misteri. Ia tidak pernah ada dalam kenyataan, tetapi bayang-bayangnya hadir dalam jiwa setiap orang dengan beragam keyakinan melalui proposisi-proposisi yang mereka tawarkan tentang bagaimana masa depan itu seharusnya, dan kesetiaan mereka menghidupi proposisi yang diajukan dalam membentuk masa depan itu.

***

Kita yang hidup di masa kini memiliki kemewahan untuk menilai sejauh mana kesetiaan setiap orang terhadap proposisi yang mereka ajukan, dan bagaimana akhir “sejarah masa depan” yang mereka jalani.

Sepanjang empat tahun setelah revolusi Indonesia, kita menyaksikan tidak seluruhnya proposisi dan harapan setiap orang terpenuhi. Bahkan kegagalannya menyiratkan pula kehancuran individu dan kelompok tempat seseorang menjadi bagian dari sebuah keyakinan bersama. Secara berturut-turut mereka yang terlempar dari panggung revolusi Indonesia jatuh terpuruk, terpanggang dalam bara api revolusi yang terus ‘memakan anak-anaknya sendiri’, meminjam istilah Vergnaun dalam menggambarkan drama revolusi Perancis abad ke-18.

Parade peristiwa dan juga nasib tak terelakan dari mereka yang menghidupi jalannya revolusi kemerdekaan menegaskan bahwa ‘masa depan adalah sebuah ladang hamparan tanpa arahan peta’ bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Sejumlah nama seperti Amir Sjarifuddin, Musso, dan Sjahrir yang sejak usia muda menjalani keyakinan tentang sebuah negara republik yang merdeka, tetapi akhirnya mendapatkan diri terlempar dari arena utama. Sukarno dan Muhammad Hatta akhirnya menjadi sosok yang kukuh sebagai tokoh utama dalam penciptaan masa depan “masyarakat yang terbayangkan” bernama Indonesia menjadi sebuah negara republik yang merdeka.

Bayangan tentang “sejarah masa depan” Indonesia sebagai tempat kita hidup bersama bagaimanapun tidak berhenti setelah terbentuknya negara republik yang merdeka, dan tak lekang oleh pergerakan perubahan zaman memasuki abad ke-21 ini. Diktum lama bahwa manusia adalah mahluk sejarah, tetapi juga senantiasa menciptakan sejarah baru menjadi aksioma yang menentukan laku zaman.

Berbeda dengan periode kapitalisme cetak yang melahirkan “masyarakat terbayangkan”, kita menghidupi laku zaman dengan kapitalisme digital yang mengisi aspek terdalam sejak pagi buta sampai kembali lelap di peraduan. Media sosial menjadi salah satu platform dari era kapitalisme digital yang melemparkan kehidupan paling intim dan rahasia pribadi-pribadi setiap orang Indonesia dalam kehidupan publik. Ia memberikan imaji semu bagi banyak orang untuk membayangkan diri sebagai siapa-siapa, meski dalam kenyataan mereka bukan siapa-siapa. Merasakan diri sebagai bagian dari sebuah proyek besar di luar kehidupan pribadi, tetapi pada saat bersamaan mampus dalam kesepian dan isolasi diri.

Akhir sejarah seolah menjadi keniscayaan yang membentuk takdir manusia abad ke-21, meski ini adalah akhir sejarah yang semu. Jutaan orang tetap terhuyung dalam antrian panjang penghuni statistik di bawah garis kemiskinan tanpa akses terhadap kesehatan, pendidikan dan pemukiman yang layak. Angka kematian ibu dan anak tetap berada dalam posisi tertinggi di kawasan dan anak-anak kita adalah generasi yang harus bekerja dalam waktu yang lebih panjang dengan bayaran yang tak sepadan. Ojek online memberi ilusi bagi jutaan orang bahwa masih banyak pekerjaan bagi mereka yang mau bekerja dan tak henti berharap. Kenyataan bahwa mereka harus bekerja lebih panjang tanpa jaminan apapun bukan lagi sebuah persoalan.

***

Kegelapan dalam bayangan kelam membawa pula sisi terang di dalamnya. Sekarang kita hidup dalam sebuah era ketika angka harapan hidup banyak orang Indonesia meningkat. Penyakit yang dahulu mematikan sekarang berhasil dijinakkan. Kita pun semakin terhubung dengan dunia luar melebihi apa yang dapat dibayangkan generasi sebelumnya. Ringkasnya, dalam beberapa hal kita menjalani kehidupan yang jauh lebih baik dibanding para pendahulu kita.

Pertanyaannya adalah apa proposisi-proposisi baru yang lahir dari situasi zaman kehidupan kita sendiri? Apakah kebahagian bersama dalam kehidupan publik di sebuah republik? Apakah menjadi sebuah bangsa yang membayangkan diri membuat segala sesuatu menjadi emas seperti sentuhan raja Midas? Apakah juga sebuah bayangan keangkuhan tentang keunggulan yang menjulang tinggi di antara bangsa-bangsa lain di dunia seperti bangunan Menara Babel?

Saya sendiri lebih suka untuk melihat sesuatu yang lebih sederhana saja. Saya mengharapkan anak-anak saya hidup dalam masyarakat yang suka membaca dan menjadikan kebaikan bersama di ruang publik sebagai prioritas utama kesehariannya. Sementara yang lainnya sekedar bonus saja. Begitu saja.*

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi

Merindukan Ruang Untuk Anak

Dy Murwaningrum

Pendiri & Editor RI2030.com

 

Tahun 2030, jika waktunya datang, siapa yang berdiri paling tegap? Tentu saja generasi yang hari ini masih sibuk bermain dengan keceriaannya. Atau, remaja yang berkejaran dengan cinta monyet di balik seragam putih birunya.

Apa yang sempat kita bekalkan untuk generasi yang suatu hari nanti akan menyangga dunia kita? Membekalinya dengan pengetahuan, mental yang tak gampang remuk, kreativitas, kepatuhan pada agama, semua itu bukan tanggung jawab satu atau dua lembaga namun seluruh masyarakat.

Setelah kita puas mengais-ngais berita tentang tahun-tahun runtuhnya sebuah Negara atau malah tentang kiamat, akhirnya 2030 tetap menjadi angka penasaran setelah 1999 atau 2012, bukan?

Ada pertanyaan di lintasan pikiran kita tentang tahun 2030. Di mana kita? Bagaimana anak-anak kita? Amunisi kecakapan bagi generasi kecil ini, tentu perlu dipersiapkan dari sekarang. Melalui media, ataupun interaksi langsung.

Jika menilik kembali media-media kita baik radio, televisi, ataupun koran, dominasi kepentingan dewasa memang jauh lebih banyak daripada urusan anak-anak. Orang dewasa punya banyak kolom-kolom di koran yang bicara tentang kepentingannya.

Politik, harga saham, perceraian artis, TTS, iklan kecik, dan lain-lain. Begitu juga dengan televisi yang bertabur sinetron pada malam hari, gosip di pagi dan sore hari. Radio juga dipenuhi oleh koleksi lagu-lagu dewasa atau komunikasi dua arah melalui telepon antara penyiar dan pendengar dewasa.

Sedikitnya tontonan yang mendidik bagi anak-anak, mungkin memang dimaksudkan agar anak-anak fokus belajar. Namun, kenyataannya banyak sekali anak-anak yang super aktif mengikuti gosip atau sinetron yang minim muatan edukasi bagi anak.

Majalah untuk anak-anak terlebih majalah dan bacaan berbahasa lokal seolah tak pernah disarankan oleh orangtua bagi anak-anaknya. Anak-anak lebih suka membeli komik horor bermuatan agak dewasa, yang dijual oleh penjaja mainan seharga Rp 1500 tiap eksemplarnya.

Cerita atau dongeng lokal yang bertujuan mengangkat imajinasi kanak-kanak, akhir-akhir ini justru sering terbentur dengan berbagai dogma. Cerita khayal tak disarankan, namun cerita horor mendapat respon yang berbeda.

Media hiburan untuk anak rasanya tak sebanyak dulu di era 90-an, saat marak boneka tangan, boneka yang digerakkan dengan benang, atau belajar menggambar bersama pak Tino Sidin. Ketika itu televisi menjadi corong informasi dan pengetahuan, pengantar gambar bergerak terluas dalam format elektronik.

Televisi sudah bukan lagi menjadi sahabat anak hari-hari ini, khususnya anak-anak desa yang masih terengah-engah untuk mendapatkan koneksi internet. Atau sebaliknya, anak desa yang justru tergagap-gagap dengan teknologi, duduk seharian di warung wifi hingga bolos sekolah.

Tak jauh juga nasib anak-anak dan musiknya. Agaknya artis cilik Indonesia tidak lagi dikenal secara nasional. Musik anak di televisi atau radio, proporsinya makin mengikis. Kita hanya bisa berharap, pada tukang Odong-odong yang lewat setiap sore atau mangkal pagi hari di pasar kaget, menanti anak-anak menikmati Odong-odong yang dikayuhnya sambil manggut-manggut mendengar lagu anak Nusantara.

Pesimis memang jika melihat minimnya perhatian kita pada generasi yang nantinya akan kita titipi berlangsungnya masa depan. Namun, optimisme juga timbul seketika kita melihat laju literasi telah menjangkau pelosok tanah air akhir-akhir ini.

Informasi dan pengetahuan bisa kita hantarkan melalui buku-buku bersayap. Kesadaran mulai tumbuh justru bukan dari lembaga-lembaga besar, namun dari individu-individu, komunitas bebas di masyarakat. Gejala ini menjadi harapan baru, menyala dan menguat karena benar tumbuh dari kesadaran, bukan anjuran pemerintah.

Memang, tak mudah meminta ruang-ruang hiburan atau informasi yang dikelola oleh industri yang bicara laba melulu. Namun kita bisa bicara langsung dari interaksi atau lewat karya di bidang masing-masing.

Geliat film anak, animasi edukatif makin banyak di akun media online. Meski belum meluas namun ada harapan. Komik, cerita bergambar dan novel yang sarat edukasi anak mulai muncul dengan harga yang relatif terjangkau. Hal lain, ternyata banyak juga teman-teman yang menyelenggarakan nonton film bareng di pelosok.

Komunitas-komuntas kecil yang bekerja dalam senyap maupun lantang, makin menjamur dan bergerak serentak. Inilah cahaya dan harapan bagi generasi kecil kita. Kesadaran dan bergerak adalah bahan bakar jangka panjang bagi nyala optimisme ini. Semoga pemerintah dapat memuluskan jalan yang telah dibuka oleh banyak pihak ini.*

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi

Tinggal 27 Jam Lagi

Hendra Gunawan

Pendiri & Pengelola Program RI2030.com

 

Pagi hari itu saya tiba di kantor untuk mengambil beberapa barang pribadi. Masih ada dua dus berisi buku yang tertinggal, dan beberapa foto, piagam, plakat, serta pernak-pernik lainnya yang belum saya bawa pulang.

Ya, hari itu adalah hari terakhir saya ke kantor. Setahun sebelumnya, saya telah memutuskan untuk pensiun lebih awal daripada batas usia pensiun. Alasannya sederhana, saya ingin menikmati sisa hidup saya untuk membaca buku-buku yang saya miliki (yang saya beli sejak lama tetapi tak pernah tuntas saya baca). Selain itu, saya juga ingin berkeliling Indonesia. Walau saya pernah ke beberapa kota di Sumatera, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua, masih banyak tempat di Indonesia yang belum pernah saya kunjungi.

Sambil menyortir barang-barang yang tersisa di kantor, saya mengamati foto-foto, piagam, dan plakat yang tersimpan di rak. Ingatan saya pun kembali ke masa-masa lampau. Ada sebuah foto bersama para mahasiswa tahun pertama. Foto bersama seusai kuliah terakhir di Gedung TVST.

Saya mencoba mengingat beberapa wajah di antara mereka. Dua orang di antaranya saya ingat persis. Yang pertama menjadi dosen di ITB, karenanya dengan mudah saya mengingatnya. Yang kedua adalah mahasiswa yang kemudian mengambil Tugas Akhir dengan saya, karenanya saya juga tidak pernah lupa dia. Belakangan, dia melanjutkan studi ke Australia, dan setelah mendapatkan gelar doktornya dia bekerja sebagai peneliti di Afrika Selatan, dan akhirnya menjadi dosen tetap di sana.

Di antara piagam yang ada di rak, salah satunya adalah piagam yang saya terima dari Himpunan Mahasiswa Matematika ITB pada tahun 2011. Mereka memberi saya piagam tersebut atas partisipasi saya sebagai pembicara dalam acara Latihan Kepemimpinan dan Organisasi Himatika ITB. Sebuah acara tahunan yang diadakan bagi para anggota baru Himatika ITB. Tertulis di piagam tersebut: “Leadership is action, not position.” (Mohon dimaklumi bahasa Inggrisnya.)

Beberapa poster masih menempel di pintu lemari dan di kaca jendela. Sambil mencopot poster-poster tersebut, saya pun tersenyum dan ingatan saya tersibak kembali ke masa-masa indah ketika saya bercengkerama dengan anak-anak SD dan menyaksikan mata mereka berbinar-binar mendengarkan cerita saya tentang bagaimana caranya mengukur jari-jari Bumi.

Tepatnya sejak 2011, saya banyak menyisihkan waktu untuk anak-anak. Saat itu, saya menyadari bahwa masa depan Indonesia ada di tangan anak-anak. Setiap saat saya menatap anak-anak, saya merasa sedang menatap Indonesia masa depan. Banyak yang mengatakan bahwa pada tahun 2030 Indonesia akan menikmati ‘bonus demografi’.

Ketika ada pro-kontra Kurikulum 2013, saya memutuskan untuk membuat blog anakbertanya.com, sebuah ruang tempat anak-anak bertanya tentang berbagai hal. Sebagai pengelola blog, saya kemudian mencarikan orang yang sesuai bidangnya untuk menjawab pertanyaan mereka.

Bukan sekadar blog, saya dan kawan-kawan juga mengadakan banyak acara khusus bagi anak-anak. Setiap tahun sejak 2015, saya dan kawan-kawan menggelar festival untuk anak-anak yang haus akan pengetahuan. Misi saya dan kawan-kawan adalah menginspirasi anak-anak Indonesia agar bercita-cita tinggi dan bekerja keras mewujudkan cita-citanya.

Pada awal semester lalu, ada seorang mahasiswa baru datang ke kantor saya. Ditanya apa keperluannya, dia bercerita bahwa dia hanya ingin menyapa saya. Ketika kecil, dia membaca buku Anak Bertanya Pakar Menjawab yang saya sunting. Sejak itu dia bertekad untuk belajar dengan rajin, dan akhirnya dia pun diterima di ITB di program studi yang diminatinya, yaitu Astronomi.

Tak terasa sudah setengah harian saya berada di kantor. Semua barang yang saya putuskan untuk dibawa pulang ke rumah telah berada dalam dus. Dibantu oleh seorang karyawan, barang-barang tersebut dibawa ke mobil. Kunci kantor pun saya titipkan kepadanya, karena hari itu hari libur — tidak ada dosen atau karyawan lain yang masuk. Tidak ada acara perpisahan khusus di FMIPA-ITB di hari terakhir seseorang bekerja, apalagi di waktu libur.

Malam harinya di rumah, saya menatap kalender — yang hanya tinggal satu lembar terakhir. Hari itu merupakan dua hari terakhir di tahun 2029. Di balik kalender itu, sudah terpasang kalender baru, kalender tahun 2030. Ada perasaan tak sabar menanti datangnya tahun baru yang tinggal 27 jam lagi.*

 

Ilustrasi: Agatha Pratiwi