Kerinduan akan Sosok Perkasa di Dunia Iptek

Hendra Gunawan

Pendiri dan Pengelola Program RI2030.com

 

Baru-baru ini, nama Zohri tiba-tiba menjadi terkenal. Lalu Muhammad Zohri, demikian nama lengkapnya, adalah pelari muda asal Nusa Tenggara Barat yang menjadi juara lomba lari 100 meter putra dalam kejuaraan atletik IAAF World U20 di Tampere, Finlandia, pada 11 Juli 2018. Sebagai pelari yang tidak diunggulkan, Zohri berlari di lintasan 8. Secara mengejutkan, ia berhasil mengungguli tujuh pelari lainnya, termasuk dua pelari Amerika Serikat yang semula diprediksi akan tampil sebagai juara. Karena prestasinya itulah nama Zohri menghiasi halaman depan berbagai media nasional. “Oase Saat Kering Prestasi”, demikian judul berita di halaman depan Kompas edisi 13 Juli 2018.

Beberapa hari sebelumnya, dalam bidang iptek, Sapuangin ITS tampil sebagai juara dunia dalam lomba mobil hemat energi Shell Eco-Marathon Driver’s World Championship, yang digelar di London pada 8 Juli 2018. Pada waktu yang hampir bersamaan, media nasional juga ramai memberitakan keberhasilan Tim Indonesia meraih 1 medali emas dan 5 medali perak dalam International Mathematical Olympiad yang diselenggarakan di Cluj-Napoca, Rumania, pada 9-10 Juli 2018.

Prestasi gemilang semacam itu memang masih merupakan peristiwa langka bagi insan Indonesia, dan karenanya menjadi berita baik yang sangat dinantikan oleh masyarakat. Bahkan, pada bulan Juni 2018, beberapa media nasional kita juga memberitakan Rose Amal, wanita ilmuwan asal Indonesia yang telah menjadi warga negara Australia, yang mendapat anugerah Companion of the Order of Australia dari kepala negara Australia, Ratu Elizabeth II. Anugerah ini merupakan anugerah tertinggi yang diberikan oleh kepala negara Australia kepada warga sipil. Harian Kompas edisi 29 Juni 2018 menggambarkan sosok Rose Amal sebagai “Perempuan Perkasa di Dunia Sains”.

Liputan media tentang Rose Amal memberi sinyal kerinduan masyarakat kita akan prestasi ilmuwan Indonesia. Sejak 2013, setidaknya, saya sebetulnya telah merasakan kerinduan tersebut. Dengan terbukanya informasi tentang kiprah ilmuwan dalam berbagai bidang, saya mengumpulkan nama-nama ilmuwan asal Indonesia yang produktif dalam menghasilkan karya ilmiah yang dipublikasikan di jurnal-jurnal bereputasi internasional. Nama Rose Amal telah muncul sejak tahun 2014 dalam daftar ilmuwan asal Indonesia yang saya kumpulkan dari situs pengindeks karya ilmiah Scopus.com.

Sejak tahun itu juga, saya ‘berjumpa’ dengan Rahmat, seorang fisikawan yang saat ini berafiliasi dengan University of Mississippi, Amerika Serikat. Jumlah publikasinya melampaui 680 dan masih bertambah dari bulan ke bulan. Rahmat adalah lulusan SMAN 29 Jakarta dan meraih gelar sarjana Fisika dari Universitas Indonesia pada tahun 2000. Gelar master dan doktornya dalam bidang Fisika diperoleh dari University of Oregon, Amerika Serikat. Bila di antara pembaca ada yang ingat tentang partikel Higgs atau partikel Tuhan yang menghebohkan itu, Rahmat merupakan salah seorang fisikawan yang terlibat dalam penemuan partikel tersebut.

Selain Rahmat, saya juga ‘berkenalan’ dengan sosok Yudi Pawitan, seorang Biostatistikawan yang saat ini bekerja di Karolinska Institutet, Swedia. Ia adalah lulusan SMA Regina Pacis Bogor dan meraih gelar sarjana dari Institut Pertanian Bogor pada tahun 1982. Gelar master dan doktornya ia peroleh dari University of California – Davis, Amerika Serikat. Sejak tahun 1990-an, ia bergabung dengan Karolinska Institutet. Selama kariernya, ia mengembangkan metode statistika untuk menganalisis data high-troughput dan pemodelan statistika untuk data biomedis. Jumlah publikasinya yang tercatat di Scopus.com hingga hari ini telah melampaui 180.

Hingga bulan Juli 2018, saya telah berhasil mengumpulkan sebanyak 222 nama ilmuwan Indonesia yang berkiprah dalam berbagai bidang, 76 di antaranya bekerja di luar negeri. Nama-nama mereka dapat ditemukan di laman https://indonesia2045.com/sosok-panutan-dalam-pengembangan-ilmu-pengetahuan/ yang saya perbaharui dari waktu ke waktu. Dari 222 nama tersebut, beberapa di antaranya telah mendapat anugerah seperti Habibie Award dan Bakrie Award. Namun, lebih banyak ilmuwan yang hingga hari ini belum mendapat penghargaan, sekalipun prestasi mereka memukau.

Apakah media nasional tidak tertarik untuk mengangkat sosok para ilmuwan ini, atau masih menunggu mereka meraih anugerah bergengsi, seperti yang terjadi pada Rose Amal?*

Ilustrasi: HG

Advertisements