Peran Sejarah dari Mahasiswa Sejarah Menuju Sejarawan

Athif Thitah Amithuhu

Mahasiswa Ilmu Sejarah

 

“Sejarawan adalah penulis sejarah. Titik. Tanggalkan anggapan bahwa hanya mereka yang bekerja sebagai dosen universitas dan institusi-institusi ilmiah yang berhak disebut sejarawan!”

Kalimat dari Kuntowijoyo, Guru Besar Ilmu Sejarah UGM, memberikan pengertian bahwa semua orang bisa menjadi sejarawan. Kalimat tersebut tidak mengurangi kepercayaan kita sebagai generasi muda, terutama kepada mereka yang telah mendapatkan kesempatan mendalami sejarah di kampus.

Banyak dari mereka yang berada dalam kampus tidak terbentur dengan dunia luar kampus. Mereka enggan mengikuti komunitas-komunitas, organisasi maupun kegiatan-kegiatan yang dapat mengasah dan mengembangkan diri. Modal apa lagi yang dapat menggerakkan peradaban menuju masa depan selain kesempatan-kesempatan tersebut?

Pemuda adalah tokoh di setiap siklus peradaban manusia. Masa muda ialah waktu pencarian jati diri. Pemuda ataupun mahasiswa sebenarnya sama, keduanya memiliki gairah jiwa muda. Berani mencoba, mencari pengalaman, berinovasi dan peka terhadap lingkungan sekitar.

Mendalami sejarah melalui kampus berarti membuka pandangan dari luar dunia kampus dengan pendidikan penalaran ilmiah. Kita mendapatkan kesempatan untuk mengenal dan merekontruksi kembali sejarah melalui karya tulis. Pengenalan metode sejarah, menulis hasil praktik penelitian, sampai dengan laporan tulisan dari kunjungan-kunjungan ke berbagai tempat dilakukan oleh mahasiwa sejarah.

Modal inilah yang perlu disadari kembali untuk melangkah setelah terjun di luar kampus. Sudah banyak kita ketahui pilihan jurusan sejarah di dalam kampus berbeda dengan pekerjaan atau profesi yang ditekuni. Namun, bekal dan pengalaman selama masa perkuliahan tidak dapat terpisahkan dalam membentuk diri mahasiswa sejarah. Tidak ada salahnya, berbeda dengan jurusan kampus saat bekerja. Toh, dunia kampus juga tidak sepenuhnya memberikan solusi bagi pekerjaan mahasiswanya setelah kelulusan.

Peran sejarawan dalam suatu negara sangat penting, jika tetap ingin peradaban berjalan maju. Sejarah ialah ilmu yang mempelajari tentang masa lalu. Mahasiswa sejarah adalah para pemuda yang memiliki bekal pandangan luas dan mendalam tentang masa lalu. Mereka adalah kunci melihat masa depan karena menuliskan dan merekontruksi peristiwa sejarah.

Belajar dari sejarah berarti berani berubah, tidak ingin mengulang kesalahan yang pernah dilakukan dan lebih bijak dalam mengambil keputusan. Bekal dan peran inilah yang perlu dipahami untuk terjun dalam kegiatan-kegiatan komunitas, organisasi-organisasi, bahkan di masyarakat. Apapun pekerjaannya dan latar belakang yang “menghidupi” mahasiswa sejarah di masa depan, setidaknya nafas dan jati diri sejarah masih tetap ada melalui terus membaca dan terus menuliskannya.

Mahasiswa sejarah yang masuk dalam berbagai profesi pekerjaan berperan menjadi sejarawan dalam lingkungan pekerjaannya. Alangkah kuatnya peradaban bangsa Indonesia jika mereka muncul menjadi polisi yang paham menuliskan sejarah terorisme, kritikus film yang ahli menulis sejarah film, koki yang menulis dan mengerti sejarah makanan hingga ahli otomotif (bengkel) yang dapat menulis sejarah transportasi.

Apapun yang sudah dicapai saat ini, setidaknya, kita yang belajar sejarah berani dan memiliki kepercayaan diri untuk kembali bersuara. Bahwa peran sejarawan penting untuk menguatkan tradisi lingkungan sekitar (masing-masing daerah) juga untuk menjaga berjalannya peradaban bangsa dan negara Indonesia supaya tetap maju.*

Tulisan ini dibuat untuk memperingati ulang tahun HIMA ILMU SEJARAH UNY ke 15 pada tanggal 6 Juni 2018.

Ilustrasi: pixabay.com

Advertisements